Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota

Kenia Intan oleh Kenia Intan
14 Februari 2026
A A
Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota Mojok.co

Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau ke Ibu Kota (commons.wikimedia.org)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Terima kasih Rawa Belong sudah bikin betah hidup di Jakarta.

Bagi saya, Jakarta tidak menakutkan seperti yang banyak orang bilang. Awal merantau dari Sleman ke Ibu Kota untuk bekerja, jujur saja rasa takut itu ada. Wajar, saya belum pernah pergi dari kampung halaman sebelumnya, perasaan deg-degan pun menghantui. Tapi, lama kelamaan, Jakarta terasa biasa saja dan tidak menakutkan. 

Selain teman-teman yang memudahkan adaptasi, saya sangat terbantu dengan lokasi ngekos pertama kali yakni di Rawa Belong, Jakarta Barat. Di sana semua serba ada, harga berbagai kebutuhan kos relatif terjangkau, dan lokasinya strategis. Setelah tinggal beberapa saat, saya menyadari daerah ini sangat cocok untuk mereka yang baru pertama kali merantau ke Jakarta.

Bagi yang belum tahu, Rawa Belong adalah kawasan yang terletak di Jakarta Barat yang sebagian besar wilayahnya masuk Kelurahan Sukabumi Utara, Kecamatan Kebon Jeruk. Orang-orang biasanya mengenali Rawa Belong karena pasar bunga di sana jadi pusat perdagangan bunga di Jakarta, bahkan Pulau Jawa. Sebagian lain mengenalnya sebagai daerah yang Betawi banget karena disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Si Pitung.

Begitulah Rawa Belong, kawasan yang berkarakter dan punya cerita panjang. Dan, selama hampir 4 tahun saya tinggal di sana. 

Kawasan “humble” yang bikin pengalaman merantau jadi lebih mudah

Meminjam istilah gaul di kalangan anak muda zaman sekarang, humble adalah kata yang pas untuk Rawa Belong. Humble di sini berarti Rawa Belong punya banyak hal, tapi tidak sombong atau tidak tampil berlebihan agar dikenal banyak orang. 

Rawa Belong memang punya segalanya. Selain cerita panjang Si Pitung dan pasar bunga, daerah ini jadi penghubung titik-titik penting di Jakarta Barat seperti Palmerah dan Kemanggisan. Di dua daerah itu berdiri berbagai kantor media, perguruan tinggi, sekolah, dan masih banyak lagi. 

Tidak heran kalau Rawa Belong berkembang jadi daerah padat yang jalanannya selalu ramai. Bagi warlok, sisi perkembangan ini mungkin mengesalkan. Namun, bagi perantau, kawasan yang ramai adalah anugerah. Artinya, saya jadi punya banyak pilihan tempat tinggal, makanan, dan berbagai kebutuhan ngekos lain dengan harga terjangkau. 

Biaya hidup di Rawa Belong lebih mending daripada daerah lain

Dibandingkan daerah-daerah Jakarta yang lain, biaya hidup di Rawa Belong jauh lebih terjangkau. Setidaknya memungkinkan untuk diakali. Kalian masih bisa  menemukan kos-kosan dengan berbagai fasilitas dan harga di sana. Begitu pula dengan makanan. Nah, tugas para perantau tinggal memilih tempat tinggal dan makanan yang sesuai budget.

Biaya hidup makin bisa “diakali” karena kehadiran transportasi umum. Ada banyak angkot mengaspal di jalanandi Rawa Belong. Kalau ingin bepergian agak jauh, kalian bisa memanfaatkan KRL, Transjakarta, atau MRT yang semua stasiun atau haltenya bisa dijangkau dengan angkot. Bagi perantau yang tidak membawa kendaraan pribadi seperti saya, kehadiran transportasi umum yang mudah dan murah itu penyelamat. 

Hal lain yang bikin saya senang tinggal di Rawa Belong adalah lokasinya yang strategis. Ke mana-mana mudah sehingga nggak capek di Jalan. Mau ikut demo di depan DPR, olahraga di GBK, hingga nongkrong di tempat kalcer Blok M semuanya bisa dijangkau nggak sampai 30 menit perjalanan. Enak kan? 

Dekat dengan bakmi Jawa enak

Alasan yang terakhir ini agak personal. Saya senang tinggal di Rawa Belong karena dekat dengan Bakmi Jawa Jogja Mas Kus. Dari segi rasa, bakmi satu ini mendekati dengan warung-warung yang ada di Jogja. Walau memang, dari segi harga, saya perlu menyiapkan budget lebih sih. 

Bakmi Jawa Jogja Mas Kus selalu berhasil mengobati rasa kangen akan rumah. Selain rasanya yang enak, suasana warungnya Jogja banget. Kadang, sambil menyeruput bakmi Jawa godog ekstra kulit dan swiwi (sayap ayam), sayup-sayup terdengar meja sebelah ngobrol dalam Bahasa Jawa. Seketika saya merasa tidak seperti di pusatnya Betawi. Suasananya lebih mirip seperti warung bakmi Jawa langganan di dekat rumah. 

Setiap pulang dari tempat ini, tidak hanya perut yang kenyang, hati juga terasa penuh. Rasa kangen yang tadinya memenuhi sudut-sudut hati tergantikan dengan kehangatan bakmi Jawa dan suasana Jogja. Mungkin di kuping kalian ini terdengar berlebihan, tapi begitulah adanya. Bakmi Jawa Jogja Mas Kus jadi salah satu siasat saya bisa bertahan hampir 4 tahun di Ibu Kota. 

Iklan

Kini saya sudah kembali tinggal di Sleman, tapi Rawa Belong selalu punya tempat di hati dan memori. Bahkan, saya selalu sempatkan mampir ke sana kalau ke Jakarta. Terakhir ke sana, Rawa Belong masih sama saja dengan gang-gangnya yang sempit, rumah-rumah berdempetan, dan kabel-kabel yang semrawut. Tapi, anehnya, semua itu malah bikin kangen dan nggak bikin kapok. 

Begitulah Rawa Belong. Ia berhasil membuat orang kabupaten yang nggak pernah merantau ini nggak takut akan hidup Ibu Kota.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jakarta Itu Menyebalkan dan Toxic, tapi Perantau Sulit Meninggalkannya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2026 oleh

Tags: ibu kotajakartaJakarta BaratJogjaperantaurawa belongrawa belong jakarta baratsleman
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perasaan duka

Duka Dianggap Hanya Terjadi saat Menangis, padahal Perasaan Sedih Bisa Muncul secara Random dan Absurd

10 Maret 2026
Mendambakan seperti suami Sheila Dara, Vidi Aldiano. Cara hidup dan perginya bikin iri banyak orang MOJOK.CO

Mendambakan Menjadi Seperti Vidi Aldiano, Cara Hidup dan Pergi bikin “Iri” Banyak Orang

9 Maret 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Mudik Lebaran dengan travel mobil

Niat Ingin Lebih Cepat Naik Travel Malah Bikin Trauma, Sopir Tak Tahu Aturan dan Penumpang Tidak Tahu Diri

12 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Saya Orang Jogja yang Iri pada Klaten yang Keberadaannya Makin Diperhitungkan Mojok.co

Klaten Daerah Tertinggal yang Perlahan Berubah Menjadi Surga, Dulu Diremehkan dan Dianggap Kecil Kini Sukses Bikin Iri Warga Jogja

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.