Ketika Saya Divaksin

Dari sekian banyak isu penting dalam menghadapi pandemi Covid-19, isu vaksin termasuk isu penting dan strategis, namun tidak begitu saya perhatikan. Bahkan jenis-jenisnya, yang sepertinya mudah dihapalkan oleh teman-teman di sekitar saya, tak mudah saya hapalkan.

Saya hanya bisa mengambil kesimpulan sementara dan pragmatis. Kesimpulan sementara saya adalah perkara vaksin bukanlah perkara sederhana, baik dari sisi riset, produksi, pembelian, maupun pendistribusian. Pragmatisme saya adalah jika saya memang dapat kesempatan divaksin, saya akan ikut. Jika tidak, saya akan dengan sabar menunggunya hingga dapat giliran. Dan kesimpulan saya yang lain, sekalipun kelak saya dapat kesempatan divaksin, itu tidak akan mengubah banyak kehidupan saya, terutama dalam hal memakai masker, menjaga jarak, dan sebisa mungkin menghindari kerumunan.

Sepertinya saya bijak? Mungkin iya. Tapi untuk sampai pada sikap mental seperti ini, saya telah melalui sekian kesedihan. Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup saya sekaligus dalam rentang pandemi adalah, saya kehilangan ibu saya.

Ibu dan bapak saya termasuk orang yang sangat ketat menjalankan protokol kesehatan. Karena sakit jantung yang dideritanya, ibu harus sebulan sekali pergi ke Semarang untuk kontrol. Ketika pandemi terjadi, ibu tetap pergi kontrol dengan diantar bapak dan sopir yang biasa mengantar keluarga kami. Cuma karena pandemi, kontrol tidak bisa msksimal. Covid-19 menghantam siapa saja. Termasuk tentu saja para dokter dan nakes. Suatu hari, bapak memberi pesan lewat sms. Bunyinya kira-kira, saya diminta banyak melakukan salat malam dan puasa. Kondisi kesehatan ibu tidak baik.

Saya memutuskan untuk pulang ke Rembang, kampung halaman saya di mana kedua orang tua saya tinggal. Tapi ibu melarang. “Kondisi Covid,” kata beliau, “jangan ambil risiko untuk dirimu dan keluargamu.”

Saya sempat menyanggah, saya akan pulang sendirian. Tanpa membawa anak dan istri. “Iya, tapi kamu tulang punggung keluarga. Apa yang membahayakan kamu, pasti membahayakan Diajeng dan Kali.” Diajeng adalah nama istri saya, Kali adalah nama anak laki-laki saya yang berumur 8 tahun.

Dari situ, saya sebetulnya sudah punya perasaan tidak enak. Anehnya, saya yang biasanya membangkang jika dilarang, apalagi soal ibu dan kesehatannya, saat itu saya hanya manut saja. Hanya bisa memperbanyak berdoa. Singkat cerita, saya mendengar kabar bahwa ibu dirawat di Puskesmas. Detik itu pula, saya memutuskan pulang. Tapi ibu menelepon lewat video call. Dia memperlihatkan dirinya yang tampak sehat, di situ ada bapak, dan ada sahabat yang saya percayai di kampung. Saya menangis seperti anak kecil. Minta pulang. Diajeng yang akhirnya memegang hape saya. Ibu tetap meminta saya pulang. Dan lagi-lagi, anehnya, saya menurut saja.

Kesehatan Ibu memburuk. Ibu dibawa ke RSUD Rembang. Sesuai protokol, ibu dipindai, dan ternyata berdasarkan serangkaian tes yang harus dilalui, diputuskan ibu kena Covid. Jadi sebelum persoalan jantungnya ditangani, ibu mesti menuntaskan urusan Covid dulu. Saat itu pula, mental kami sekeluarga ambruk. Saya bergegas pulang ke Rembang. Saya memang tidak bisa masuk rumah sakit, tapi setidaknya saya ada di kota itu, ada untuk ibu.

Setelah masalah Covid tuntas, dan ibu dinyatakan negatif, beliau boleh pulang. Saya saat itu berada di Yogya. Saya bersujud syukur. Kami sekeluarga menelepon ibu, suaranya tampak riang di perjalanan. Namun di luar dugaan saya, bapak kembali menelpon dua hari kemudian, lewat Diajeng. Saya harus pulang. Saya masih ingat persis itu terjadi di hari Jumat. Menjelang saya salat Jumat, Diajeng memberitahu. Raut mukanya tampak sedih seperti habis menangis. Oke, saya pulang. Kali itu, Diajeng ngotot untuk ikut. Termasuk Kali.

Sesampai di kampung, saya melihat kondisi ibu memburuk. Bernapas pun beliau tersengal. Saya memutuskan untuk segera membawanya ke rumah sakit. Tuhan punya kehendak lain. Ibu wafat pada hari Minggunya.

Proses menemani ibu sakit, pulang ke rumah, menunggui selama di IGD, mengikuti satu per satu upacara penguburan dan doa bersama, tidak memberi kesempatan saya untuk berlama-lama dalam sedih. Diajeng terpukul sekali. Apalagi bapak. Kalau saya ikut terpukul, siapa yang menjaga dan mengatur semuanya?

Baca juga:  Bahagialah Laki-Laki Yang Hidup di Indonesia

Tapi percayalah, begitu seorang anak laki-laki kehilangan ibunya, ada sesuatu yang berubah besar dalam caranya memandang hidup. Setidaknya, itu terjadi pada saya.

Banyak wartawan dan peneliti yang meminta wawancara, terutama soal penanganan Covid di rumah sakit. Saya bilang kepada mereka, mungkin cara mereka menangani tidak sempurna. Tapi tidak adil kalau mereka dipersalahkan. Mereka gantian kena Covid, stres, kena Covid hanya soal giliran saja bagi mereka. Semua hal lalu ditimpakan kepada mereka.

Saya tahu persis, banyak keluarga pasien Covid yang marah-marah dan emosional, dan mereka yang mesti menerimanya juga. Belum lagi pihak rumah sakit dituduh me-mark up angka agar mendapatkan uang. Itu pikiran gila. Pasti pikiran seperti itu hanya bisa dipikir oleh orang yang dalam situasi Covid tidak pernah datang ke rumah sakit. Tidak ada yang benar-benar siap menghadapi Covid. Termasuk rumah sakit, dokter, dan nakes. Mereka butuh waktu.

Undangan tiba

Beberapa hari lalu, saya dikontak Pak Butet Kartaredjasa, ditanya apakah saya bersedia ikut disuntik vaksin Covid? Tanpa pikir panjang, saya menjawab bersedia. Saya lalu dikirimi blangko digital yang mesti saya isi. Menit itu juga saya isi, dan saya kirim.

Tidak lama kemudian, Pak Butet mengontak saya lagi. Isinya, apakah saya mau datang pagi hari atau siang. Kalau pagi, mesti ada protokol yang dilalui karena akan dihadiri oleh Presiden Jokowi. Tentu saja saya memilih siang hari.

Malam sebelum vaksin, saya ada rapat. Dan berakhir menjelang Subuh. Saya lanjutkan dengan menulis. Tapi masih ada satu pekerjaan lagi yang mesti saya tunaikan sehingga saya baru bisa berbaring menjelang pukul 09.00. Padahal pukul 11.00, saya sudah berjanji sama Irul, salah satu teman saya yang akan mengantar saya melakukan vaksinasi. Karena menurut beberapa testimoni yang saya baca, ada rasa pegal di tangan, saya memutuskan tidak menyetir mobil sendiri. Kebetulan Irul sedang longgar. Sekalian kami mau makan sate di daerah Bantul.

Saya sampai di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK), pukul 12.35. Saya kira, saya sedikit terlambat. Ada ratusan orang saya lihat di sana. Ramai sekali. Saya duduk di kursi antrean. Sekira setengah jam, saya belum juga dipanggil. Dan entah kenapa, saya tidak bertanya kepada petugas relawan. Mungkin karena kecapekan, otak saya tidak terlalu bisa berpikir tajam. Hingga saya disamperi oleh Wimo Ambala Bayang, seorang seniman foto yang sangat sohor. “Thut, kowe oleh giliran jam pira?”

Mendengar pertanyaan itu, saya bingung. “Memange ana jam-e, Wim?”

Ana. Lha kowe entuk WA seka PSBK ora?”

Ora je, aku entuk WA seka Pak Butet.

Nganu, kowe mending takon wae karo petugase. Yo, tak anter…

Wih, baik banget Wimo. Tapi saya menolah halus. “Mengko wae, Wim. Aku tak takon Pak Butet sikik…”

Saya pun bertanya di sebuah grup WA, di mana ada Pak Butet di sana, dan semua teman di grup itu ikut program vaksinasi. Intinya, saya bertanya, mestinya saya dapat WA dari PSBK, di WA tersebut, saya diuberitahu mesti datang jam berapa. Karena digilir. Pak Ong Harry Wahyu memberi saya kepceran data, nama saya ada di sana. Sementara Pak Butet bilang, saya diminta ke petugas dan bilang rombongan Pak Butet.

Seniman mengantre divaksin di PSBK. Foto oleh Puthut EA/Mojok.co

Seniman mengantre divaksin di PSBK. Foto oleh Puthut EA/Mojok.co

Saya mendatangi petugas relawan. Saya menjelaskan apa yang mesti saya jelaskan. Si perempuan relawan tersebut mengecek data di komputernya. Dia agak bingung. Mungkin, ini dugaan saya, data saya tidak ada di sana. Oleh si relawan, saya diminta duduk lagi dulu, akan dikonsultasikan dengan temannya. “Nanti saya panggil ya, Mas…”

Baca juga:  Kiai Nyentrik dari Madura

Saya kembali duduk. Setengah jam kemudian, saya belum juga dipanggil. Saya kembali menemui relawan yang tadi saya temui. Si relawan terlihat tergopoh-gopoh, lalu berkoordinasi dengan teman-temannya. Slah satu relawan perempuan yang lain, yang sepertinya pimpinannya, menemui saya. “Gini saja, Mas. Nanti Mas-e datang lagi ke sini jam 14.30. Dari pada menunggu di sini.”

Itu keputusan yang bijak. Saya kelelahan. Dan saya butuh seger-seger minum es teh dan makan siang, sambil merokok. Saya mengiyakan.

Di grup WA yang ada Pak Butet dan Pak Ong, saya memberitahu kalau saya pergi dulu ke sate Nanang, di Nitiprayan. Itu salah satu tempat sate yang sering dipakai ngumpul Pak Butet dkk. Andy Eswe, salah satu seniman pantomim yang ada di grup itu langsung mau gabung ikut makan. Demikian juga Pak Ong.

Saya duluan sampai di sate Nanang bersama Irul. Andy menyusul. Baru kemudian Pak Ong. Di sepeda motor mereka ada tas besar berisi tulisan: Istana Kepresidenan Republik Indonesia; Bantuan Presiden Republik Indonesia. “Kuwi tas apa je, Ndy?”

“Ha yang dah divaksin, dapat itu, Gus…” Andy memanggil saya dengan panggilan Gus, maksudnya ‘cah bagus’. “Isine apa?”

Ha ya sembako, dong…”

Kami berempat makan sate dan tongseng telap-telep sambil ngobrol ngalor-ngidul. Tak terasa menjelang pukul 15.00. “Wis gek ndang budhal maneh, kowe…” Pak Ong meminta saya berangkat lagi ke PSBK. Saya dan Irul pun cabut dari tempat tersebut.

Sesampai di sana, saya kembali duduk di bagian depan. Para relawan terlihat sudah sangat capek. Pastilah. Mereka mengurus sesuatu yang tidak mudah. Di ruang tunggu berupa pendopo itu, tinggal beberapa puluh orang saja. Salah satu relawan kemudian mengumumkan, sepertinya yang ada di daftar mereka sudah habis, kini giliran yang di daftar tunggu. Mereka yang didaftar tunggu, diminta datang ke petugas administratif untuk mendaftar sambil membawa kartu KTP. Sebagai orang yang sudah merasa mendaftar lewat blangko digital, saya agak bingung. Di detik itu pula saya berpikir, sepertinya saya tidak akan divaksin hari itu. Dan saya memaklumi. Mungkin belum takdir saya divaksin.

Saya pun menunggu hingga semua peserta di daftar tunggu selesai mendaftar. Tinggal saya seorang diri. Hujan mulai turun.

Akhirnya saya memutuskan untuk mendatangi lagi meja administratir yang sudah mulai sepi. Begitu saya datang, mereka seperti kaget. Seperti ingat lagi bahwa ada makhluk seperti saya yang tertinggal. Bergerombol mereka merubungi saya. “Begini saja, Mas. Saya minta KTP Mas-e…” ucap salah satu di antara mereka. Saya pun menyodorkan KTP saya. Mereka memotret KTP saya, lalu mengetik di salah satu laptop di depan mereka. “Sudah, Mas. Nanti ambil blangko di meja sebelah.”

Saya mengikuti saran mereka. Di blangko sebelah, saya mendapatkan stiker, juga beberapa kertas. Saya pun diminta berjalan ke arah dalam, ke tempat yang berbeda untuk menjalani proses selanjutnya. Persis ketika saya berjalan meninggalkan tempat tersebut, hujan turun makin deras. Saya mempercepat jalan kaki. Lamat saya dengar para relawan itu ngobrol…

Kae ki Mas Puthut EA Kepala Suku Mojok, to?”

Ho’oh, po?”

Ho’oh. Lha iki jenenge: Puthut Eko Aryanto.”

Ooo EA ki jebul Eko Aryanto…”

Saya menahan tawa mendengar obrolan itu.

Tahap demi tahap

Saya memasuki tenda dengan kipas angin berpendingin, lengkap dengan petugas memakai baju APD (alat pelindung diri). Begitu saya duduk mengantre, hujan turun deras sekali. Sampai petugas dibantu orang yang sedang mengantre, memindah meja. Kembali seorang relawan yang terlihat sudah sangat capek wajahnya, menghampiri saya. Dengan senyum ramah dia bertanya, “Bapak silakan pilih Puskesmas terdekat…”

Baca juga:  Kenapa yang Menyerang Golput Hanya dari Satu Kubu Capres Saja?

“Mbak, semua Puskesmas pasti jauh dari saya, karena saya orang Sleman.”

Si relawan perempuan itu tertawa. “Ya dipilih saja, Pak…”

Saya pun memilih Puskesmas Sewon 1. Kenapa saya memilih itu, karena saya pikir pasti yang lebih mudah dicari, sebab kampus ISI kan di daerah Sewon.

Tiba giliran saya. Beberapa kertas yang saya bawa diminta, termasuk KTP saya. Lalu dengan baik hati petugas nakes tersebut mengisi data diri saya. Setelah selesai, petugas nakes memberikan kembali beberapa kertas yang keluar dari mesin printer. “Bapak nanti pergi ke meja sana, ya…” ujarnya sambil menunjuk ruangan yang lain. Saya menganggukkan kepala sambil mengucapkan terimakasih.

Bangkit dari sana, hendak menuju ruang lain, seorang relawan sudah menyodorkan payung kepada saya. Seorang laki-laki. Dengan senyumnya yang ramah, sekalipun lagi-lagi, tampak lelah. Luarbiasa ini dedikasi para relawan…

Saya pun menuju ruang yang lain. Dan dengan cepat sudah berada di depan dua petugas medis. “Bapak, kami tensi dulu ya…” ucap petugas nakes perempuan. Di sampingnya, petugas nakes laki-laki berkata, “Sambil ditensi, saya akan bertanya beberapa hal ya, Pak…”

Saya mengangguk. Saya ditanya macam-macam. Pertanyaan yang persis ditanyakan di blangko digital yang saya isi. Selesai. Lalu saya dipersilakan menuju ruang yang lain, ruang vaksin.

Saya berjalan ke sana, dan tanpa antre. Sepertinya saya memang yang terakhir, jadi ya tidak antre tentu saja. Petugasnya nakesnya perempuan. Ada laki-laki yang membawa kamera. Si petugas bertanya beberapa hal, si dokumentator menawari apakah saya perlu foto memakai hape, jika iya, dia bersedia memfotokan. Saya pun mengulungkan hape saya.

“Bapak seniman apa?” tanya petugas nakes sambil mengoser-oseri lengan kiri saya dengan cairan dingin.

“Mbak-e tahu Mojok ndak? Mas-e ini Kepala Suku Mojok…” ucap si relawan sambil motret saya. Petugas nakes tidak menjawab pertanyaan itu, yang keluar dari mulutnya, “Sudah, Pak. Sudah selesai. Tinggal satu tahap lagi. Bapak pergi ke ruangan sebelah sana, di meja Puskesmas yang telah Bapak pilih…”

Kembali saya mengucapkan terimakasih. Lalu menuju ruang setelah itu. Di ruang tersebut, saya langsung menuju meja Puskesmas Sewon 1. Singkat sekali di sana. Kartu vaksin saya diisi. Lalu petugasnya bilang, saya harus ke Puskesmas Sewon untuk dapat vaksin tahap kedua, dua minggu lagi. Saya kembali mengangguk. Selesai sudah. Ternyata saya divaksin juga.

Hujan makin deras. Saya dijemput Irul dengan payung, lalu kami berdua menuju ke mobil. Sesaat sebelum saya masuk mobil, seorang perempuan berteriak, “Mas Puthut EAAAA!”

Bingkisan untuk seniman yang divaksin dari presiden. Foto oleh Puthut EA

Bingkisan untuk seniman yang divaksin dari presiden. Foto oleh Puthut EA

Saya menoleh ke arahnya. Orang-orang yang masih berada di pendopo awal tempat registrasi pun menengok ke arah saya. “Ini bingkisannyaaaaa!”

Saya tertawa. Saya pun berjalan ke arah perempuan relawan itu, mengambil tas dengan tulisan yang sama yang didapat oleh Andy dan Pak Ong. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih.

Dalam perjalanan pulang, saya mengirim foto saya ketika divaksin kepada Diajeng, Bapak, grup perumahan tempat saya tinggal, dan grup Mojok.

“Lho, yang daftar kita kok yang vaksin duluan Mas Puthut?” celetuk Prima, Redpel Mojok.

“Mas Puthut kan divaksin bukan dari jalur orang media, tapi dari jalur seniman dan budayawan…,” sahut Aditya, web-developer Mojok.

Saya sampai di rumah menjelang pukul 17.00. Segera membersihkan diri sesuai protokol kesehatan jika baru datang dari luar rumah. Rasanya saya capek sekali. Dan tiba-tiba saya ingat, ada satu kerjaan lagi yang belum saya kerjakan, kibor Ipad saya rusak sehingga tidak biss dipakai untuk menulis. Itu hal yang tidak bisa ditunda.

Diajeng tahu itu. “Habis Magrib, aku antar beli kibor. Aku yang nyetir….”

Lagi-lagi, saya hanya bisa mengangguk lemas sambil bersuara lirih mengucapkan terima kasih.

BACA JUGA Tak Ada Lagi Racikan Cindil Tikus di Toko Obat Cina di Jogja dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.