Hal utama yang pasti dan mesti disadari oleh Eusebio Di Franscesco atau biasa dipanggil Difra dalam menghadapi skuat Barca adalah kenyataan bahwa bagaimanapun Roma berada satu level di bawah Barca. Dan itu terjadi di semua lini.

Pada lini depan, jelas para pemain Roma tidak sehebat Barca. Di lini tengah pun demikian. Apalagi lini belakang. Satu-satunya yang mungkin setara dengan Barca hanyalah di bawah mistar gawang. Alisson terbukti sedang dalam performa terbaiknya sebagai benteng yang tangguh dan kokoh menjaga serbuan tendangan para penyerang lawan.

Namun Difra punya pengalaman yang nisbi baik dalam hal ini, terutama saat membuktikan bisa membalikkan keadaan ketika tandang ke kandang Chelsea. Roma saat itu tertinggal terlebih dahulu 2 gol, namun bisa menyamakan kedudukan, bahkan bisa unggul 2-3, sebelum kemudian Chelsea menyamakan menjadi 3-3. Saat melawat ke kandang Napoli yang lumayan angker pun, Roma bisa membalas gol Napoli, bahkan di atas angin dengan hasil akhir 2-4 untuk Roma.

Dengan demikian, secara mental, Roma memiliki bekal yang cukup dalam hal laga tandang. Tapi untuk hal lain, Roma mesti berhati-hati. Sekali lagi, Barca bukan Chelsea dan bukan Napoli.

Dalam situasi seperti itu, racikan tim dan strategi yang dimainkan menjadi faktor dominan kedua setelah mental. Menurut saya, komposisi terbaik Roma saat bertandang ke Barca memakai 4-2-3-1.

Baca juga:  Justin Kluivert: Madrasah Bernama AS Roma

Berikut susunan pemainnya: Alisson sebagai penjaga gawang tentu saja. Komposisi bek: Perez, Manolas, Fazio, dan Kolarov. Persis di depan mereka berempat: De Rossi dan Strootman. Kemudian tiga gelandang depan: Cengiz, Nainggolan, dan Perotti.

Lalu bagaimana dengan Florenzi? Florenzi pemain yang hebat. Dia punya kecepatan tinggi, ngotot, punya akurasi dan manuver yang baik. Hanya saja, ketika bermain, dia sering telat mundur. Bahkan dalam laga melawan Shakhtar Donetsk, pemain lawan mudah melewati dan mengeksploitasi kelemahan Florenzi. Intinya adalah Florenzi bisa dicadangkan bermain sebagai pengganti Perez jika performa Perez kurang bagus.

Bagaimana dengan El Shaarawy? Saya kira, El Shaarawy bisa dicadangkan untuk mengganti Perotti, atau kalau memang dengan komposisi seperti itu Roma terlalu kuwalahan, tidak ada salahnya, Dzeko dikorbankan diganti oleh El Shaa. Dalam berbagai pertandingan, pergantian Dzeko oleh El Shaa cukup baik. El Shaa punya insting menyerang, tapi juga bisa cepat membantu turun ke tengah zona tengah membantu Nainggolan.

Hal yang jadi masalah tentu saja bagaimana mengawal Messi, yang selalu mampu melakukan jelajah dari kiri ke tengah, juga sebaliknya. Dan kebetulan sisi itu adalah sisi terlemah Roma. Terlebih, De Rossi sudah cukup berumur, dan Cengiz masih belum memiliki jam terbang tinggi. Inilah pekerjaan terbesar bagi Difra.

Memang De Rossi jika bermain kurang bagus, bisa saja diganti oleh Pelligrini. Masalahnya, pemain muda kesayangan Difra itu pun kurang stabil. Bahkan masih sering kehilangan bola. Walaupun harus diakui, dari sisi fisik dan keuletan, pemain ini mirip dengan Florenzi.

Baca juga:  Begini Cara Barcelona Memoles Malcom Seperti Lionel Messi

Pekerjaan besar Difra tentu saja masih di soal Manolas dan Fazio. Dengan gedoran intensitas tinggi para pemain Barca, kedisiplinan kedua pemain ini harus ditekankan. Terutama pula, supaya tidak melakukan pelanggaran di kotak penalti.

Berat memang beban Difra dan Tim Serigala. Tapi saya kira, komposisi dan kemungkinan yang saya paparkan punya potensi Roma bermain imbang di kandang Barca. Kalau menang ya beruntung. Itu saja.