• 252
    Shares

Kalau tidak ada aral, besok senja (17/4), sebelum beduk Magrib bertalu, lewat mekanisme hitung cepat, kita sudah akan tahu siapa yang akan menjadi Presiden terpilih untuk masa jabatan 2019-2024.

Saya mungkin punya perasaan yang hampir sama dengan Anda semua, kita ingin pemilu segera berlalu. Cepat selesai. Agar hidup kita kembali normal.

Berbulan-bulan, apapun yang terjadi, apapun yang kita katakan, selalu hanya dibelokkan, dipandang, dan dicurigai sebagai kampanye 01 atau 02. Sebagai salah satu orang yang atas nama profesi dan jabatan sebagai pemimpin media kecil-saja-belum ini, saya juga sudah lama menahan diri untuk tidak menulis sembarangan. Dan itu tidak mengenakkan. Saya kira hampir semua kru Mojok juga merasakan hal ini, para insan media lain juga mengalami hal ini.

Tapi di sisi lain, kehidupan orang-orang yang kita hormati yang sementara ini berjuang di kedua kubu, kembali ke ‘khittah’ mereka. Saya kira, ada pergerakan zaman yang kurang baik. Di berbagai fase politik di Indonesia, utamanya setelah rezim Soeharto berkuasa, ulama, seniman, intelektual, jurnalis, dan profesi semacam itu, merupakan pengambung hati nurani rakyat. Mereka menyuarakan apa yang tidak bisa disuarakan masyarakat. Mereka berkarya karena punya kemampuan memindai gejolak perasaan publik. Tentu kemudian agak aneh kalau di era seperti ini, profesi tersebut justru untuk menyerukan dukungan kepada elite politik.

Baca juga:  5 Alasan Rahasia Kenapa Piala Dunia Diselenggarakan 4 Tahun Sekali

Profesi yang begitu bermartabat itu, sudah bukan lagi untuk menyebarkan suara arus bawah. Malah dipakai untuk dukung-mendukung dan berkarya sebagai corong elite politik.

Dengan usainya hajatan ini, semoga mereka bisa kembali bekerja dan berkarya untuk kemaslahatan masyarakat. Untuk kebaikan umat. Semoga mereka cepat sadar bahwa profesi yang melekat di persona mereka itu memiliki tanggungjawab moral dan sosial.

Saya, juga Anda, mungkin sudah capek dengan hiruk-pikuk ini. Sudah letih dengan pertikaian ini. Lalu kembali memikirkan persoalan-persoalan diri dan sosial kita. Persoalan lingkungan, kemanusiaan, kesejahteraan, dll. Kita harus kembali menanami hutan yang gundul, membersihkan laut, mengurangi sampah plastik, dan sekian persoalan yang memang menjadi urusan bersama. Tidak peduli apakah Anda mencoblos 01 atau 02, atau bahkan Golput. Sebab kita tetap hidup di bumi yang sama, di bawah langit yang sama, di negeri yang sama.

Semua hal yang telah retak karena hajatan ini, harus segera ditambal. Diperbaiki. Karena perpecahan ini sudah sangat destruktif terhadap kebersamaan warganegara. Kehangatan dan keramahtamahan antar-warga yang renggang, kembali dipertautkan.

Kita rindu hal ini seperti pertandingan sepakbola antar-kampung saat peringatan Tujuhbelasan. Mungkin ada suara keras, ada tekel, ada perkelahian. Tapi begitu acara berakhir, begitu lapangan ditinggalkan, lalu didirikan di sana panggung resepsi rakyat, semua orang kembali berkumpul. Berjoget jika saatnya berjoget. Berdoa jika saatnya berdoa. Berlinang airmata jika saatny ada renungan kemerdekaan. Keakraban kembali merekat. Berbagi kopi, berbagi rokok, berbagi tikar, dan berbagi senyum.

Baca juga:  Orang Baik Pilih Orang Baik, Ah Kata Siapa?

Besok sebelum azan Magrib berkumandang, dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita sudah akan tahu siapa yang akan memimpin negeri ini. Tetapi tetangga kita tak berganti. Teman di sekeliling kita masih sama. Lingkungan yang kita tinggali masih serupa.

Kita ingin agar orang-orang hebat itu, para ulama, seniman, intelektual, kembali hadir. Kembali menyadari bahwa Tuhan mengaruniai kemampuan itu untuk menegakkan timbangan keadilan, merawat kemanusiaan, dan menumbuhkan kemaslahatan umat.

Pemilu, segeralah berlalu. Biar kami bisa kembali tersenyum hangat, berteriak, berekspresi, memprotes, mengkritisi, tanpa perlu diberi cap pendukung ini dan itu. Pemilu, aku uwuwu kepadamu.

  • 252
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles