Saya nyaris tidak punya kenangan baik tentang Habibie, kecuali namanya mudah diingat untuk menjawab soal tentang nama-nama menteri waktu saya duduk di bangku SD. Saya kira waktu itu, kata “Ing” adalah satu kesatuan dengan nama lengkapnya.

Selebihnya, Habibie adalah nama yang tak mengenakkan hati. Saya tumbuh sebagai anak yang lemah dalam urusan ilmu pasti. Sementara, Habibie adalah patokan lazim tentang cerdasnya manusia Indonesia.

Bapak saya kalau memotivasi—sebagaimana kebanyakan para pendidik di era itu—senantiasa menjadikan Habibie sebagai patokan. Sebagai anak yang lemah dalam ilmu berhitung, kacau dalam ilmu fisika, merasa diri sangat inferior, seakan tidak ada tempat bagi orang seperti saya. Sastrawan atau penulis kala itu, tidak pernah ada dalam daftar profesi yang bisa jadi rujukan seorang anak.

Ketika saya menjadi mahasiswa dan berposisi sebagai salah satu pimpinan organisasi perlawanan terhadap rezim Soeharto sampai Habibie menggantikannya, saya dan kawan-kawan memutuskan untuk melawannya.

Secara politik, waktu itu jelas, saya berhadap-hadapan dengan kepemimpinan Habibie. Saya bahkan masih ingat slogan kami saat itu: Tolak Rezim Boneka Habibie! Demonstrasi berjilid-jilid pun kami lakukan di seluruh Indonesia.

Kalau dibaca di era sekarang, sepertinya itu manuver politik yang cenderung konyol. Tapi bagi kami, wajar sekali. Dalam strategi politik, masa transisi Habibie adalah “ruang antara” yang jika tidak didesak kuat, ia bakal bisa direbut kembali oleh komponen kekuatan Soeharto.

Ringkas cerita, badai penolakan Habibie berujung pada ditolaknya pertanggungjawaban Habibie pada Sidang Istimewa MPR tahun 1999. Salah satu buntut dari insiden politik itu, Habibie yang kala itu masih merupakan figur yang kuat, tidak bersedia lagi dicalonkan menjadi Presiden.

Tidak lama kemudian, pemilu pun digelar. Dan setelah melewati sekian drama, Gus Dur menjadi Presiden. Kelak, sidang yang sama pada tahun 2001, memaksa Gus Dur pun lengser dari kursi kepresidenan diganti Megawati.

Tapi anehnya, jatuhnya Habibie kala itu justru karena faktor yang sama dengan perjuangan mayoritas gerakan mahasiswa. Pertanggungjawaban Habibie ditolak musuh-musuh politiknya (baca: elite politik) karena memutuskan referendum di bumi Timor Leste.

Sementara, sebagian besar gerakan mahasiswa progresif waktu itu, termasuk lembaga yang saya terlibat di dalamnya, mendukung referendum yang berujung merdekanya Timor Leste. Hal ini menunjukkan bahwa fase itu, politik cukup sengkarut dan komplek. Tidak sederhana.

Tapi harus diakui, dalam masa kepemimpinannya yang singkat, Habibie membuat tonggak-tonggak penting perjalanan bangsa ini. Walaupun tidak serta merta itu datang tanpa pijakan dan atmosfer yang kuat.

Ambil contoh soal pelepasan para tahanan politik seperti Sri Bintang Pamungkas, Muchtar Pakpahan, Budiman Sudjatmiko, dll. Pelepasan itu memang pada era Habibie, tapi juga karena tekanan publik yang kuat. Demikian juga soal kebebasan berserikat dan munculnya era multi-partai di Indonesia.

Benar bahwa itu terjadi pada era Habibie, tapi dua isu itu memang jadi isu politik yang kuat. Arus itu tak bakal bisa ditahan oleh siapa saja yang memimpin, termasuk Habibie.

Tapi ada beberapa hal yang luar biasa yang dilakukan Habibie. Salah satunya adalah dalam situasi genting secara politik dan gawat dalam bidang ekonomi, Habibie berhasil menurunkan nilai tukar uang yang saat itu sangat fluktuatif dalam kisaran 10.000 sampai 15.000 rupiah per dolar menjadi sekitar 6.500 sampai 10.000 rupiah. Ini bahkan tidak pernah bisa dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia selanjutnya sampai pada era kepemimpinan Jokowi.

Habibie pula yang berhasil menghelat pemilu pertama kalinya dalam masa persiapan yang singkat, dan berhasil dilaksanakan secara demokratis dengan sistem multi-partai. Tentu ini bukan perkara sepele.

Segala hal yang fundamental bagi tersibaknya tirai demokrasi di kala itu, tidak lepas dari dihasilkannya dengan cepat tiga buah Undang-undang penting:

Membentuk tiga undang-undang yang demokratis yaitu: Pertama, UU No. 2 tahun 1999 tentang Partai Politik. Kedua, UU No. 3 tahun 1999 tentang Pemilu. Ketiga, UU No. 4 tahun 1999 tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR.

Dan pada era singkat itu pula, Habibie mencabut 12 Tap MPR yang tidak sejalan dengan Reformasi. Dua hal yang sangat penting adalah soal Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No. II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai asas tunggal, dan Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden maksimal hanya dua kali periode.

Setelah masa kepemimpinan Habibie berlalu, sepertinya hanya Gus Dur yang membuat politik Indonesia makin sehat dan dinamis. Tapi nasib Gus Dur pun serupa dengan Habibie, kalah melawan musuh-musuh politiknya.

Kelak, setelah saya makin dewasa, bukan lagi sebagai mahasiswa, saya terpukau dengan rekam kerja Habibie yang tertuang dalam buku yang ditulisnya pada tahun 2006, Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Dari situ saya belajar, betapa tidak mudahnya menjadi pemimpin negara, dalam situasi yang kurang stabil secara politik, ekonomi, dan sosial.

Semalam, bakda salat Magrib, pukul 18.05 WIB, Habibie mangkat. Istri saya menangis tersedu. Ketika saya tanya kenapa menangis, dia menjawab karena Habibie dikenal sebagai orang yang setia pada istrinya.

Film Habibie & Ainun menguras air matanya, sementara saya menonton separuh pun tidak kelar. Itu pun saya lakukan di atas pesawat terbang untuk membunuh waktu dan mengalihkan perhatian karena saya takut naik pesawat terbang.

Salah satu dialog yang pas secara psikologis waktu itu adalah saat Ainun takut ketika mereka naik pesawat terbang dan berguncang. Kata Habibie, kalau tidak berguncang justru bahaya. Saya sedikit merasa nyaman.

Dalam masa kecil saya, Habibie tidak pernah menjadi idola. Karena dia identik dengan matematika sementara saya lemah soal itu. Pada masa muda saya, Habibie pernah menjadi musuh politik saya karena konteksnya waktu itu, dia merupakan pelanjut kepemimpinan Soeharto yang telah berhasil kami gulung. Tapi di masa dewasa saya, Habibie saya pandang dengan rasa hormat.

Dia menjadi Presiden yang paling kontroversial namun manuver politiknya berhasil membangun demokrasi penting di negeri ini secara fundamental, dalam masa kepemimpinan yang singkat. Mirip dengan Gus Dur. Keduanya orang hebat. Berani mengambil risiko, dan tidak terlalu terpikat dengan jabatan presiden.

Selamat jalan, Pak Habibie. Salam buat Gus Dur.



Tirto.ID
Loading...

No more articles