• 10
    Shares

MOJOK.COSemua orang akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Tuhan. Berat, namun tetap banyak orang di luar sana yang ingin punya urusan panjang dengan Tuhan.

Saya dekat sekali dengan ibu dan bapak saya. Banyak cara pandang dalam hidup ini yang dipengaruhi oleh mereka berdua.

Bapak, sejak saya kecil, mendidik saya untuk tidak salah mikir. Kelak, ajaran ini sangat berguna dalam hidup saya. Sampai sekarang.

Misal, seorang manusia itu tidak tahu apakah akan masuk surga atau neraka. Karena belum tahu, maka dia salah mikir kalau sampai memikirkan orang lain bakal masuk neraka. Kalau itu dipraktikkan dan ditanamkan sejak kecil, yang ada adalah upaya memperbaiki diri, bukan memikirkan nasib orang, apalagi nyukurin agar orang lain masuk neraka.

Contoh lain, kalau orang punya sepeda motor atau mobil, kita tidak boleh mikir kenapa mereka punya, dari mana uangnya, dan lain sebagainya. Kalau kita ingin punya sepeda motor atau mobil, pikirkan cara untuk mendapatkannya. Tentu dengan cara yang baik.

Cara berpikir seperti itu, ditanamkan betul oleh Bapak. Saya ingat persis waktu remaja, Bapak bilang, “Ini kelihatannya sederhana, Thut. Tapi kalau kamu sampai salah mikir, hidup ini bakal berat.”

Kita boleh mikir orang lain kalau konteksnya dalam menolong. Ada orang tidak bisa makan, maka harus dipikirkan. Tidak punya pekerjaan, harus dipikirkan. Sedang sakit, wajib ditolong. Kalau ada orang sedang sedih, wajib dihibur.

Baca juga:  Kafir yang Baik dan Benar

Bapak saya ini boleh dibilang pejabat kecil-kecilan. Sebelum pensiun, dia kepala guru kecamatan. Jadi dia membawahkan puluhan sekolah dan ratusan guru. Ketika Bapak pensiun, saya tidak melihat sedikit pun mental post power syndrome. Kalau waktu ibu saya pensiun (ibu saya juga pejabat kecil-kecilan sebagai penilik TK/SD tingkat kecamatan), saya masih melihat dia mengalami itu. Walaupun tidak lama. Mungkin setahunan.

Bapak saya mau pensiun malah terlihat bahagia. Dia bilang, pensiun itu enak. Pertama, karena dia sudah merasa cukup mengabdi pada negara dan masyarakat. Kedua, harus ada sirkulasi kepemimpinan. Dan yang ketiga ini yang menarik, dia punya makin banyak waktu untuk memperdalam agama, beribadah, dan aktif di masjid.

Bapak saya juga mengajarkan saya untuk hormat pada pemimpin. Beban pemimpin itu berat. Bapak saya selalu terlihat sedih kalau ngomong, “Panjang urusan saya nanti sama Gusti Allah, Thut. Karena saya pernah jadi pemimpin dari mulai enam sampai ratusan orang. Semua akan di-hisab. Dihitung. Dimintai pertanggungjawaban.”

Jadi kalau misalnya saya mengkritik pemimpin, baik bupati, gubernur, sampai menteri atau presiden, ya saya kritik seperlunya. Karena masyarakat sipil itu bukan hanya punya hak mengkritik, bahkan punya kewajiban mengkritik. Tapi kritik itu ya seperlunya saja. Secukupnya. Sesuai kadar kepentingannya. Sebab di kepala saya, perhitungan mereka itu kepada Tuhan berat sekali. Presiden Indonesia akan di-hisab pertanggunjawabannya atas 240 juta orang. Apa nggak ngeri itu…

Baca juga:  Nostalgia TPA di Masa Kecil, Kamu Masih Ingat yang Mana?

Saya ini juga punya anak buah atau lebih enak bagi bagi saya, disebut rekan kerja. Jumlahnya tidak banyak, hanya 50an orang saja. Tapi itu sudah membuat saya ngeri kalau nanti harus tiba saatnya saya pertanggungjawabkan di depan Tuhan.

Saya kayaknya bingung juga kalau nanti ditanya, “Thut, kamu dulu memimpin Agus Mulyadi. Bagaimana tanggungjawabmu?” Pasti ruwet itu nanti. Apalagi kalau Tuhan tanya soal Nody. Tambah ruwet.

Jauh di dalam hati saya, sebetulnya mirip dengan Bapak. Bapak saya paling susah mengerti bagaimana bisa orang berebut jadi kepala desa, bupati, anggota dewan, sampai presiden. “Orang kok berebut punya urusan yang panjang dengan Gusti Allah…”