MOJOK.CO Setelah sempat yakin akan maju, arah angin mengindikasikan bahwa Prabowo bimbang untuk menjadi capres 2018. Benar bimbang atau menunggu waktu untuk bermanuver?

Kalau ada banyak orang yang berpikir Prabowo bimbang untuk mencalonkan diri sebagai capres, mungkin itu benar. Tapi, mungkin juga tidak.

Setidaknya ada beberapa hal pokok untuk melihat itu. Pertama, seperti yang berulang kali dikatakan Prabowo, dia belum memegang tiket. Gerindra membutuhkan partai lain untuk maju mencalonkan capres dan cawapres. Tapi, bukankah sudah ada PKS yang siap mengusung Prabowo juga?

Kalau iya, berarti kemungkinannya ada dua. Salah satunya, belum ada keputusan resmi dan bulat dari PKS untuk mengusung Prabowo. Atau kemungkinan lain: PKS mengusulkan nama-nama calon yang mendampingi Prabowo, namun dari deretan nama-nama tersebut, belum ada yang dianggap memadai untuk menjadi cawapres Prabowo.

Kedua, siapa pun pengamat politik pasti paham bahwa majunya Prabowo akan menentukan besaran perolehan suara Gerindra di parlemen kelak. Pada titik inilah sebetulnya pernyataan bahwa Prabowo bimbang perlu diuji lagi.

Prabowo, baik menang atau kalah, dampak elektoralnya terhadap Gerindra tetap positif. Kalau Prabowo tidak maju, dampak perolehan suara Gerindra justru bisa negatif.

Ketiga, suara-suara yang menyatakan bahwa Prabowo tidak perlu mencapreskan diri disadari oleh elite Gerindra sebagai pembentukan opini dari kubu lawan politiknya. Pendapat itu saya kira tepat.

Baca juga:  Jika Prabowo Gandeng Salim Segaf, Tiga Nama Ini Makin Berpeluang Jadi Cawapres Jokowi

Sejauh ini, pernyataan tidak perlunya Prabowo maju belum bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Semua hanya asumsi politik yang argumennya rapuh. Lawan politik di sini juga bukan berarti hanya kubu Jokowi karena ada kubu lain seperti Demokrat, PAN, dan PKB yang belum menentukan sikap.

Semua survei menetapkan bahwa Prabowo memiliki ranking elektabilitas kedua setelah Jokowi. Itu pun dengan satu catatan, Prabowo belum mendeklarasikan diri. Jadi, kampanye bahwa Prabowo sebaiknya cukup menjadi “king maker” hanyalah jurus politik biasa saja.

Jadi, pernyataan Prabowo bimbang untuk maju sebetulnya hanyalah masalah aturan main dan tarik ulur yang belum kelar antara Gerindra dan PKS.

Situasi seperti inilah yang menimbulkan “jeda panas” bagi semua kubu. Secara strategi politik, kubu Jokowi memang seyogianya menunggu Prabowo memastikan diri mendapatkan tiket untuk berlaga. Syukur pas pengumuman itu sekalian mengumumkan pasangan Prabowo.

Mengapa? Karena pasangan Jokowi paling pas ditentukan setelah melihat siapa yang menjadi cawapres Prabowo. Kalau kubu Jokowi mengumumkan dulu siapa cawapresnya, kubu Prabowo akan lebih mudah membaca bagaimana cara menghadapinya. Demikian juga sebaliknya.

Makin cepat kartu cawapres kedua kubu dibuka, makin mudah tim lawan menentukan strategi yang paling tepat.

Jeda panas ini juga akan membuat Demokrat, PAN, dan PKB makin berat melakukan manuver. Ruang manuver dijaga ketat oleh waktu. Makin mepet kedua kubu ini mengumumkan diri, makin sempit ruang manuver tiga partai tersebut. Mau maju bertiga ragu, mau ikut salah satu kubu kena hukum “gerbong terakhir tak punya daya tawar tinggi”.

Baca juga:  Anies Baswedan Lebih Punya Etika, Tidak Akan Seperti Jokowi Jilid Dua

Jeda panas, saling tunggu, dan waktu yang kian mepet hanya akan membuat situasi makin panas. Dalam situasi seperti inilah kematangan politik seseorang akan diuji. Prabowo, saya kira, sangat matang. Apakah Prabowo bimbang?

Prabowo tidak sedang bimbang. Dia seperti ahli strategi yang menjelma sepasang mata garuda, mencoba tajam melihat pergerakan politik dari sebuah batu cadas di atas gunung untuk kemudian melesat melakukan manuver cepat.

Sialnya, lawannya mungkin juga sadar untuk tak perlu membuat gerakan apa pun yang mudah dilihat. Kalau ada, hanya gerakan palsu sehingga sang garuda terkecoh. Mari kita lihat siapa yang bergerak duluan. Dan apakah itu kecohan atau gerak betulan.

Selamat menikmati pertunjukan.