Peradaban, kata para filsuf, dimulai dari rasa takjub kepada dunia. Tapi pada perkembangan lebih lanjut, karena kemampuan manusia mengatasi rasa bosan. Masalahnya, bosan adalah watak manusia. Sehingga kita mesti mendudukkan rasa bosan pada porsi yang pas dan akurat.

Hal yang mesti dijernihkan adalah rasa bosan bukanlah sikap malas. Walaupun rasa bosan jika disalahpahami, maka bisa menjadi awal dari kemalasan. Bosan juga tidak diposisikan secara dikotomis dengan kreativitas. Justru kemampuan manusia meletakkan rasa bosan pada tempatnya, menyikapi dengan bijaksana, bisa mendorong kreativitas. 

Kita bisa membayangkan bagaimana dunia ini bergerak jika rasa bosan diakomodasi sebagai bentuk perhentian permanen atas suatu aktivitas. Kalau seorang prajurit merasa bosan dengan latihan perang, kedisiplinan, tata-tertib, sekolah kepemimpinan, maka tidak akan lahir para jenderal. Tidak ada yang bisa mencapai jenjang tertinggi dalam karier militer. 

Kalau seorang pengajar mudah dihinggapi rasa bosan kemudian menghentikan kegiatannya karena rasa itu, maka tidak ada orang yang pensiun menjadi guru. Bahkan tidak ada gelar profesor. Butuh berpuluh tahun konsistensi dan persistensi untuk pensiun menjadi guru atau meraih gelar profesor. 

Di dunia sepakbola, tidak ada Maradona, Francesco Totti, Ibrahimovic, Cristiano Ronaldo, atau Lionel Messi. Sejak muda belia, mereka berlatih dan bertanding sepakbola. Berganti dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Kadang kalah dan kadang menang. Kadang gembira dan kadang bersedih. Tapi mereka tetap bermain sepakbola. 

Jika para pelaku seni dan sastra permisif terhadap rasa bosan, tentu tidak ada para sastrawan yang mesti bernafas panjang dalam berkarya. 

Untuk membuat satu novel, mereka mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikannya. Itu baru satu novel. Bagaimana jika 5 novel atau 10 novel? Belum latihan menulisnya. 

Kalau rasa bosan menghinggapi WS Rendra, maka apakah beliau bisa menjadi maestro teater di Indonesia? Kalau Sapardi Djoko Damono atau Joko Pinurbo bosan menulis puisi, apakah nama mereka bisa abadi? Kalau Iwan Fals, Rhoma Irama, Didi Kempot bosan bermain musik, bagaimana mereka bisa menghasilkan ratusan karya, dan karena itu dihormati sebagai musisi?

Rasa bosan sangat manusiawi. Semua nama di atas, pasti pernah bosan dalam rutinitas mereka. Tapi bukan berarti meninggalkannya. Di titik itulah, kadang kita sering keliru menempatkan rasa bosan pada diri kita, keliru menyikapinya, dan kemudian keliru mengambil tindakan.

Banyak orang hebat dan orang berbakat di berbagai bidang, yang karena luput merenungi kebosanan, justru menjadikan hidup seperti kutukan. Kerja belum selesai dan ditinggalkan. Belum jadi apa-apa, dan menyerah pada rasa bosan. Sekali dua kali hal itu terjadi, maka makin besar kemungkinan itu akan terjadi selamanya dalam hidup ini. 

Coba lihat sekeliling kita, anak-anak muda hebat, penuh potensi dan bakat, tidak bisa mengatasi rasa bosan, permisif kepada rasa itu, lalu pontang-panting dalam hidup, dan kemudian lebih sering menyalahkan dunia hanya karena tak bisa mengatasi kebosanan.

Cak Nun pernah ditanya oleh salah satu jamaahnya tentang rasa bosan. Jawabannya menarik. Itu soal seni mengatur irama hidup. Sebagai orang yang sudah ribuan kali menulis esai, pentas ribuan kali juga bersama Kiai Kanjeng, tentu tahu bagaimana memainkan irama hidup. 

Ada saatnya kendor, ada saatnya kencang. Dalam istilahnya yang khas, tahu kapan ngerem dan tahu kapan ngegas. Tapi ngerem dan ngegas itu artinya tetap bersetia pada perjalanan yang telah dipilih.

Jadi urusan bosan sebetulnya adalah urusan mental dan sikap. Bosan, mungkin bisa mengambil jeda, bisa mengambil jarak, tapi tidak meninggalkan dunia yang telah kita pilih sebagai modus eksistensi kita dan peran kita di kehidupan ini. 

Kalau aspirasi bosan diterima dengan rasa kanak-kanak, alangkah bahaya hidup ini. Suami bosan sama istri. Istri bosan sama suami. Anak bosan sama orangtuanya. Juga sebaliknya. Lalu solusinya ganti suami atau ganti istri, lalu ganti orangtua atau ganti anak? 

Mungkin rasa bosan bisa kita nikmati sebagaimana kita mencoba menikmati rasa sakit. Sesekali tentu kita masuk angin, atau flu, atau demam. Itu saatnya istirahat. Dengan sakit, kita bisa merenungi betapa enaknya jadi orang sehat. Menyadari bahwa manusia punya saat untuk sakit. Menyadari bahwa kita punya batas. 

Sembuh dari sakit, kita bisa kembali beraktivitas. Lebih sadar untuk tidak boleh terlalu capek. Tidak lupa makan supaya tidak mudah masuk angin. Kembali semangat berolahraga agar tubuh makin bugar.

Makin bijak jika kita melihat orang sekeliling saat kita bosan. Mungkin sudah berkeluarga, punya anak buah, punya rekan kerja, punya pimpinan, punya ekosistem kerja. 

Coba bayangkan jika seorang anak yang sedang butuh biaya, lalu bapaknya yang seorang sopir dengan egonya bilang dia berhenti nyopir karena bosan, atau seorang pimpinan lembaga bisnis, di suatu pagi memanggil karyawannya lalu bilang begini.

“Saudara-saudara, mulai pagi ini, bisnis kita akan saya tutup.”

“Kenapa, Pak?”

“Saya bosan….”

Rasa bosan itu datang untuk diatasi. Caranya tentu bermacam-macam, dan itu bagian dari seni melakoni hidup. Karena dari sana mungkin ada kreasi baru dan kesegaran. Bukan diakomodasi. Lalu berujung pada hal yang centang-perenang. 

Kalau kita tidak punya rasa bosan, rasanya kita tidak manusia pada lazimnya. Tapi kalau kita tidak sanggup mengatasi rasa bosan, berarti kita tidak sedang berproses menuju manusia yang bijaksana.

BACA JUGA 6 Investasi yang Sering Dilupakan Banyak Orang  dan esai-esai Puthut EA lainnya di rubrik Kepala Suku.

Baca juga:  Pilpres Belum Dimulai, tapi Rasanya Sudah Selesai