Pada tanggal 10 Juni 1963, sebuah kejadian yang menggetarkan terjadi di Saigon, Vietnam Selatan. Saat itu wilayah tersebut dipimpin oleh seorang tiran yang disepakati para pemimpin dunia Barat, untuk memberi batas yang jelas dengan Vietnam Utara yang saat itu dipimpin oleh sosok kuat bernama Ho Chi Minh. Vietnam Utara dianggap akan segera menjadi negara komunis dan harus ada penandingnya di Vietnam Selatan sebagai calon negara kapitalis. Ditunjuklah Ngo Dinh Diem untuk memerintah Vietnam Selatan.

Paragraf di atas sengaja saya buat pendek untuk masuk ke sebuah peristiwa yang kemudian menggegerkan dunia, dan Mark Manson menulis cukup panjang di buku terbarunya yang telah diterbitkan di Indonesia dengan judul Segala-galanya Ambyar (Everything Is F*ucked). Buku ini memang tidak sebagus karya pertama Manson yang juga sudah diterbitkan dan sangat terkenal di Indonesia yakni Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (The Subtle Art of Not Giving a F*ck). Tapi Manson bagi saya tetap penulis yang jenuin, dengan gaya tutur yang terorganisir dengan baik. Soal buku keduanya tidak begitu laku di Indonesia, ya anggap itu nasib sajalah.

Balik cerita awal. Perang saudara kembali pecah di Vietnam, tapi bukan itu saja,  Ngo Dinh Diem pun bersikap brutal kepada para warga, termasuk para biksu. Gelombang protes pecah di mana-mana hingga tiba titimangsa 10 Juni 1963 itu. Seorang biksu duduk bermeditasi di sebuah perempatan jalan. Lalu kawannya menyiram bensin, dan sang petapa, dideskripsikan begitu tenang menyalakan korek lalu membakar dirinya. Quang Duc, nama biksu itu, dengan segera mendunia. Kisahnya memantik rasa marah semua orang di dunia pada Diem. Jutaan orang turun di jalanan di seluruh dunia mengecam Diem dan ribuan orang di Vietnam Selatan turun ke jalan dengan lebih berani lagi. Tidak lama kemudian  Ngo Dinh Diem dan keluarganya terbunuh.

Baca juga:  Hidup Tanpa Rencana

Manson hanya menulis itu sebagai sebuah latar untuk masuk ke intisari dari apa yang ingin dia bahas, yakni kekuatan meditasi. Ketenangan Quac Duc dalam mengambil posisi lotus, lalu membakar dirinya, dan dia tidak menjerit atau meronta menghadapi api yang membakar dirinya. Sampai sekarang, peristiwa itu dianggap sebagai salah satu peristiwa yang bisa menunjukkan bagaimana kekuatan meditasi.

Saya pernah menyaksikan film dokumentasi tentang meditasi di National Geographic, yang diambil di berbagai negara. Di India dan di Tibet, orang melakukan meditasi selama bertahun-tahun bukanlah peristiwa aneh. Bertahun-tahun ya. Bukan berjam-jam atau berhari-hari. Saya tidak tahu kekuatan macam apa yang bisa membuat orang bisa setangguh itu, dalam posisi duduk yang sama, tidak makan dan tidak minum, tidak bergerak, dan dilakukan bertahun-tahun. Seandainya ada teman saya yang melakukannya selama sehari-semalam saja, sudah pasti akan membuat saya kagum.

Saya orang Jawa. Di Jawa, lelaku atau bentuk tirakat begitu banyak. Walaupun menurut saya tidak seekstrem meditasi yang dilakukan selama bertahun-tahun. Di Jawa ada berbagai macam cara orang bertapa, ada yang patigeni, ngalong, mutih, dll. Saya beragama Islam, di Islam pun ada ibadah semacam itu seperti berpuasa dan beri’tikaf. Puasa paling berat dilakukan adalah puasa Daud. Sehari puasa, sehari tidak. Ada juga berkhalwat dan beruzlah. Khalwat itu sendiri artinya menyendiri, sedangkan uzlah artinya mengasingkan diri dari keramaian. Itu semua dilakukan dalam kontek mendekatkan diri dengan Tuhan dan membersihkan hati.

Baca juga:  Ketika Corona Memberi Jeda

Dalam banyak analisis, meditasi, tirakat, uzlah, khalwat, dan kegiatan serupa itu adalah latihan sikap mental agar bisa menaklukkan diri sendiri. Melewati serangkaian pertempuran terhadap diri sendiri, termasuk kebosanan. Dalam deskripsi Manson, meditasi adalah berlatih mengatasi kebosanan sampai bosan, sekaligus menerima kebosanan, memeluk kebosanan, hingga sampai pada tahap mencintai kebosanan.

Pandemi corona, yang membuat kita “uzlah” di rumah, menuai kebosanan. Ada yang seminggu sudah bosan. Sedangkan per hari ini, rata-rata orang sudah melakukan hampir sebulan di rumah. Sebagian sudah bosan, sebagian lain sudah sangat bosan. Masalahnya hampir sebagian besar orang di dunia sudah tidak akrab lagi dengan tradisi meditasi yang lama, tirakat yang keras, dan melakukan khalwat serta uzlah. Artinya, hampir semua orang di dunia yang melakukan swakarantina di rumah punya problem yang sama: bosan.

Masalah yang lebih pelik lagi, semua tidak tahu sampai kapan ini terjadi. Sampai kapan ini berakhir. Kapan prosesi mengurung diri ini selesai. Sampai kapan kita bisa tahan secara mental melakukan ini, tentu saja tanpa bermaksud menafikan implikasi ekonomi jika kita terus berada di rumah sekalipun ada istilah “work from home“.

Dan jika semua orang sudah sampai batas ketidaksanggupan mengatasi kebosanan, apa ekspresi yang akan mereka lakukan? Itu masih menjadi misteri. Tapi saya kira misteri ini tak lama lagi bakal kita ketahui. Mungkin proses menunggu hal itu bisa kita jadikan sebagai sikap meditasi. Kalau kata salah satu teman saya, kita seperti disuruh puasa, tanpa tahu kapan Lebaran akan tiba.

Baca juga:  Jika Bosan dengan Barcelona atau Real Madrid, Ini Empat Alasan Beralih ke American Football

Selamat memeluk kebosanan.

BACA JUGA Hindari Corona, Tetaplah Hidup Walau Tidak Berguna dan esai Puthut EA lainnya di KEPALA SUKU.