Apa yang langsung terlintas di kepala Anda, ketika seorang presiden melintas di area persawahan, berpayung hitam, di saat hujan deras, dan sendirian? Sendirian? Sebetulnya semua orang tahu, beliau tidak sendirian. Ada banyak orang di sekitarnya. Ada yang merekamnya, ada banyak warga, tentu saja ada pejabat setempat dan ada tim pengawal presiden.

Tentu ini bukan kali pertama Sang Presiden melakukan hal semacam itu. Sebelum menjadi presiden, beliau pernah meninjau gorong-gorong dengan dikelilingi wartawan dan para ajudan. Ketika sudah menjadi presiden, beliau pernah berada di lahan gambut yang berasap karena kebakaran, berjalan seorang diri, lalu cekrak-cekrek diabadikan oleh kamera. Kemudian di saat pandemi berlangsung, tengah malam, beliau masuk perkampungan padat penduduk, sendirian, dengan wajah masygul, lalu memberi bantuan kepada warga. Sendirian? Tentu tidak. Setidaknya ada yang merekam kegiatan itu, ada pengawal, dan ada warga yang ditemui dan diberi bantuan. Mungkin ada kegiatan semacam itu yang dilakukan oleh Pak Presiden, tapi saya lupa.

Sebagai warga negara yang baik, saya mencoba berpikiran positif. Pak Presiden dilekati dengan atribusi sederhana, mau bekerja, dan merakyat. Sederhana, mungkin diterjemahkan dengan berpayung saja. Mau bekerja, diterjemahkan dengan berjalan sendirian di tengah sawah. Merakyat, diterjemahkan dengan berjalan seolah lepas dari kawalan petugas. Tapi, yang ahli benar menafsirkan ini tentu saja para pengamat komunikasi politik. Sebagai warganegara biasa, ada banyak cerita yang berkelindan di kepala saya….

Mungkin saat itu rombongan Pak Presiden sedang menuju ke suatu tempat, lalu hati beliau tertarik untuk meninjau lahan food estate.

 

Baca juga:  Kenapa Kebaikan Selalu Kalah Melawan Kejahatan?

“Saya mau meninjau sendirian ke sana, tolong siapkan payung.”

Kepala pengawal segera bertanya dengan nada heran, “Sendirian, Pak?”

“Iya, sendirian.”

“Tapi, sedang hujan, Pak….”

“Makanya saya pakai payung….”

“Tapi, sedang banyak petir menyambar, Pak.”

 

“Pemimpin harus siap menghadapi marabahaya di depan, dan sendirian.”

“Lha nanti kalau dipatuk ular gimana, Pak?”

“Kamu pikir, saya nggak awas terhadap ular?”

“Apa tidak seyogianya didampingi ahli pertanian atau pejabat proyek food estate, Pak?”

“Untuk apa?”

“Siapa tahu Bapak mau bertanya tentang beberapa hal selama meninjau di sana?”

“Hidup itu tidak perlu banyak bertanya, hidup itu kerja, kerja, dan kerja!”

“Siap, Pak!”

 

Atau mungkin dialognya bukan begitu. Sebab di sekitar presiden, ada banyak pejabat, dialognya akan semacam ini….

“Tolong mobil berhenti dulu, saya mau berjalan kaki sendirian.”

Pejabat terkait langsung merespons, “Saya siapkan tim dan akan saya temani Bapak.”

“Nggak usah, gitu saja kok pakai ditemani.”

“Biar nanti bisa saya bantu jelaskan kepada Bapak.”

“Kamu pikir saya ini nggak tahu soal sawah? Lha wong meninjau sawah saja kok pakai dijelaskan segala….”

“Siap, Pak!”

 

Atau bisa juga dialognya seperti ini. Dari mobil yang lain, seorang pakar komunikasi politik yang sedang bekerja di Istana, yang juga ikut dalam rombongan, menelepon ajudan presiden, minta dihubungkan langsung dengan Pak Presiden.

“Halo, Pak Presiden….”

“Ya, kenapa, Dik?”

“Apakah Bapak berkenan jika mobil berhenti sejenak?”
“Kenapa? Apakah ada marabahaya yang sedang mengintai?”

“Kita sedang di tengah food estate, Pak… dan hari sedang hujan, juga petir menyambar.”

“Lha kan kita sedang dalam satu area, apa yang Anda saksikan ya pasti saya saksikan, Dik….”

“Maksud saya begini, Pak. Bapak nanti meninjau lokasi dengan berjalan kaki, sendirian, pakai payung. Tentu ini akan memberi pesan dan kesan yang baik kepada masyarakat, Pak….”

 

Baca juga:  Surat Protes dari PNS untuk Jokowi dan Pendukung Garis Keras Salam Dua Periode

Presiden diam sesaat. Berpikir.

Sang Pakar kembali menyerocos. “Hari hujan, dengan warna hijau lahan pertanian, Bapak memakai baju putih dengan payung hitam, tentu itu menghasilkan visual yang menarik, Pak….”

Presiden masih diam. Mencoba berpikir.

 

“Mohon maaf, Pak. Apakah Bapak takut pada petir?”

Presiden langsung menyanggah. “Petir kok takut, leluhur saya ini penakluk petir…”

“Siap, salah! Mohon maaf, apakah Bapak takut tergelincir?”

“Kamu itu lho, sudah cukup lama kan bekerja dengan saya? Saya ini kan gesit. Masak berjalan di pematang saja tergelincir….”

“Siap, salah! Lalu kira-kira apa pertimbangan Bapak?”

“Saya ini diam kan berpikir. Saya memikirkan apakah langkah saya ini baik buat masyarakat, maslahat atau tidak, menimbulkan pro-kontra dan polemik atau tidak. Saya ini presiden. Saya mesti memikirkan banyak hal dari sekian sisi.”

“Siap salah, Pak!”

“Ya sudah, persiapkan…”

“Siap!”

Lalu terjadilah apa yang kemudian bisa kita saksikan bersama, baik penggalan video maupun beritanya. Viral tentu saja. Presiden, je….

 

Di sebuah warung kopi, Marwoto dan Darsono yang sedang ngopi, menyaksikan apa yang terjadi di atas, dari layar televisi yang terpajang di warung kopi tersebut.

Marwoto yang biasa celemongan terhadap banyak hal, langsung nyeletuk, “Sebetulnya Pak Presiden itu sedang ngapain, sih? Hujan-hujan, ada banyak petir, kok malah jalan kaki sendirian. Apa ya sawahnya terus bertambah subur atau lebih cepat panen jika ditinjau Pak Presiden?”

Darsono yang memang pendukung setia dan pemilih loyal Pak Presiden, langsung menjawab, “Kamu itu punya seorang Presiden yang mau bekerja, mbok ya jangan sinis begitu…”

 

Baca juga:  Ketika AS Roma Mengalahkan Barcelona: Sebuah Pengakuan

“Lho sinis gimana? Saya itu justru perhatian. Kalau Pak Presiden tersambar petir, bagaimana? Kalau Pak Presiden masuk angin, bagaimana? Manusia hidup itu mbok empan-papan. Tidak usah terlalu banyak drama.”

“Kok kamu tambah sembarangan? Presiden kita itu ya begitu. Dengan melakukan hal seperti itu, orang-orang yang mengerjakan proyek tersebut merasa disemangati. Merasa dihargai. Sehingga apa yang dilakukan Presiden memompa jiwa kerja mereka agar lebih semangat lagi.”

“Ya nggak harus begitu. Kan bisa saja mereka dikumpulkan oleh Pak Presiden, diajak ngopi sambil makan pisang goreng, kan lebih nyamleng. Apalagi di saat hujan turun dan petir menyambar.”

“Itu kan pikiranmu sebagai orang awam….”

“Lho, lha aku itu memang orang awam. Ngapain presiden melakukan begituan, kan kayak kurang kerjaan….”

 

“Omonganmu kok makin lama makin nyelekit, ya.” Darsono langsung menghabiskan sisa kopi di cangkirnya. Lalu kelepat, keluar dari warung.

“Pergi ya pergi, tapi jangan lupa bayar….” celetuk Marwoto sambil mengulum senyum.

BACA JUGA Apa Itu Sukses dan esai-esai Puthut EA lainnya di rubrik Kepala Suku.