Sukses adalah salah satu mantra penting di hidup ini. Ia diucapkan di mana-mana.

Di sekolah, di rumah, saat Lebaran, di berbagai ruang seminar dan motivasi hidup, dll., tapi kita semua tahu, hanya sedikit dari kita yang sebetulnya bisa benar-benar sukses. Apalagi jika definisi sukses itu adalah sukses dalam bidang ekonomi.

Kalau kita perhatikan, sebetulnya sukses yang selalu dimaksud di banyak kesempatan itu memang sukses secara ekonomi. Baik yang diucapkan secara langsung maupun yang diucapkan sembari muter-muter. Karena sebetulnya itulah definisi tunggal sukses, maka itulah yang tertanam di kepala kita sejak kecil.

Coba kalau kita sedang di kampung halaman atau sedang reunian, kalau ada teman atau tetangga kita menempelkan kata “sukses” pada orang lain, maka pasti tak jauh-jauh dari definisi itu. 

Sukses lebih sering diartikan punya rumah besar, punya mobil lebih dari dua, bisa keliling ke berbagai tempat di belahan dunia. Mungkin dikasih tempelan lain, semacam menaikkan haji orangtua, menyumbang masjid puluhan bahkan ratusan juta, berderma kepada fakir dan miskin sampai ratusan juta pula. 

Pada intinya, semua keterangan itu kalau kita ambil kesimpulan, mustahil dilaksanakan jika seseorang tidak kaya.

Dalam berbagai doa dan usaha manusia pun sesungguhnya kita tak bisa jauh-jauh dari persoalan sukses secara ekonomi. Jika seseorang diharapkan pintar dalam segi pendidikan. Itu maksudnya, kalau dia pintar, berarti nanti diharapkan mudah mendapatkan pekerjaan. Kalau mudah mendapatkan pekerjaan diharapkan bisa mendapatkan banyak uang.

Demikian juga kalau kita meletakkan kesuksesan orang dengan sifat ulet-dalam-bekerja, misalnya. Itu juga tidak jauh-jauh dari jika dia punya sifat itu maka akan tidak malu mengambil pekerjaan apa saja, memulai dari bawah, tabah dalam meniti karier, lalu suatu saat jenjangnya akan naik, akan jadi pejabat, dan ujung-ujungnya tentu saja: kaya.

Sementara kita tahu, dunia yang sekarang ini kita tinggali, punya mekanisme yang memastikan bahwa orang yang kaya hanya sedikit persentasenya. Piramida ekonomi itu niscaya. 

Artinya, benar bahwa selalu terbuka kesempatan bahwa setiap manusia bisa naik kelas, naik kasta, menerobos bangunan piramida, tapi yang hidupnya miskin dan kekurangan akan selalu jauh lebih banyak. 

Artinya, tingkat kompetisinya sangat keras. Artinya juga, selain seseorang bisa menaiki jenjang piramida, bisa juga seseorang akan turun dan terperosok ke bangunan bawah piramida.

Dulu, sekolah menjadi bagian dari tiket untuk berkompetisi. Tapi semenjak teknologi informasi dan dunia digital berkembang, sekolah sudah bukan satu-satunya tiket eksklusif. Terlebih, ketika sekolah sudah menjadi bagian yang lazim bahkan berlebihan. 

Semua orang, misalnya, ingin menjadi master, padahal yang dibutuhkan dunia kerja kita sesungguhnya adalah lulusan SMK dan atau D3. 

Itu sebabnya ada yang agak lucu, ketika anak SMK sekarang ini jauh lebih mudah mencari kerja dibanding mahasiswa lulusan S2 bahkan dari universitas ternama sekalipun. Apalagi jika lulusan SMK-nya dari jurusan yang sedang banyak dicari, seperti otomotif, animasi, dan tata boga.

Dengan teknologi informasi yang main canggih, orang bisa belajar sendiri, dan punya peranti untuk berkompetisi. Sialnya, teknologi informasi yang canggih, belum terbukti bisa mengubah bangunan piramida perekonomian manusia. Itu artinya, tetap saja yang miskin dan nestapa akan tetap yang paling banyak.

Bedanya adalah, mungkin, jika dulu yang miskin adalah yang tidak punya akses terhadap pendidikan, sistem sosial, dan berbagai sistem lain yang memungkinkan mereka punya tiket untuk berkompetisi, maka ke depan yang berada di bangunan bawah adalah orang-orang yang sudah punya tiket semuanya, namun dunia memastikan mereka tidak kuat berkompetisi lalu jatuh.

Dulu, orang miskin misalnya adalah identik dengan orang yang tidak sekolah tinggi, tinggal di desa atau di pulau terpencil yang susah mendapatkan akses informasi dan tetesan kue pembangunan, maka ke depan sangat mungkin yang miskin itu adalah sarjana, tinggal di kota, dan punya beragam keterampilan hidup. 

Mereka rata-rata bekerja di perusahaan dengan gaji tinggi, tapi karena perusahaan tempat mereka bekerja kalah berkompetisi dengan perusahaan lain, maka perusahaannya bangkrut.

Mau mendaftar bekerja di tempat lain, kebanyakan perusahaan juga bangkrut karena juga kalah dalam berkompetisi, maka jadilah piramida dengan catatan yang berbeda dengan piramida terdahulu.

Menarik sebetulnya mencermati gejala sosial tersebut. Perlahan tapi pasti itu mulai terjadi, dan kira-kira akan punya implikasi seperti apa pada sistem sosial kita.

Kembali ke soal mantra hidup sukses yang pada dasarnya sebetulnya adalah hidup kaya. Saya hampir tidak pernah mendengar, konsepsi sukses itu misalnya, baik dengan tetangga. Atau baik dengan teman. 

“O, Si A itu Sekarang sudah sukses, lho….”

“O, ya? Sukses bagaimana?”

“Dia itu luar biasa baik dengan teman, setia kawan, dengan tetangga pun baik…”

Dialog seperti itu, saya yakin bakal menjadi dialog ganjil tentang konsepsi kesuksesan. Saya belum pernah mendengar ada orang mendefinisikan sukses karena misalnya rajin membayar iuran siskamling dan rajin ikut gotong-royong. 

Kalau pun toh ada hubungan dengan sistem nilai, misal berbakti kepada orangtua, selalu pasti yang dilihat hanya pada pola pemberian materi. Bukan misalnya, rajin mendoakan orangtua.

Artinya, jumbuh sudah apa yang ada dalam pikiran dan mental kita dengan sistem sosial yang sedang terjadi. Dan kalau sudah jumbuh, maka punya implikasi sosial pada segala bidang. 

Itu yang membuat orang tidak malu menjadi koruptor, sekaligus masyarakat juga permisif terhadap koruptor karena mereka sering bagi-bagi rezeki kepada orang lain. 

Tanpa pernah menyadari bahwa korupsi orang tersebut berarti sedang memiskinkan orang lain. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Maka untuk mencoba mengguncang itu semua, rasanya, kita memang tidak harus sukses dalam menjalankan hidup ini. 

Kedua, secara faktual, kita semua juga harus siap bahwa dengan sistem yang sekarang ini berjalan, sebagian besar dari kita akan masuk dalam kategori tidak sukses. Suka atau tidak suka begitulah. 

Karena yang tidak sukses akan selalu jauh lebih banyak dibandingkan yang tidak sukses. Cuma karena sebagian dari kita sedang dalam proses berkompetisi, belum ketahuan kalau kalah, maka kita masih belum merasakan tidak sukses alias gagal. 

Ya, begitulah…. 

BACA JUGA Kita Boleh Menyerah Kalah dan esai Puthut EA lainnya.  

Baca juga:  Isu Penggulingan Jokowi di Tengah Pandemi Corona