MOJOK.CO Bagi Fans AS Roma yang optimistis, perempat final Liga Champions akan menjadi kuburan Barcelona. Yaaa, Barcelona memang pernah membantai AS Roma dengan skor memalukan 6-1. Tapi, itu kan duluuu.

AS Roma bakal berhadapan dengan Barcelona di babak 8 besar Liga Champions. Pendukung Tim Serigala ini setidaknya terbelah menjadi 3.

Pertama, kaum optimistis. Bagi pendukung seperti ini, siapa pun lawan yang akan dihadapi, tidak ada yang perlu ditakuti.

Apalagi, rekor pertemuan dengan Barcelona tak jelek-jelek amat. Memang, i Giallorossi pernah digilas 6-1 dari tim Katalunya itu. Tapi, Roma juga pernah melibas Barca 3-0. Apalagi tim yang sekarang, sekalipun tidak satu level dengan Barca, jelas bukan tim yang dulu saat dipecundangi Barca dengan selisih gol memalukan.

Kedua, kaum pesimistis. Bagi pendukung jenis ini, pertemuan dengan Barca jelas tidak dikehendaki. Mereka lebih memilih bertemu dengan Liverpool dan Sevilla karena di atas kertas, kedua kesebelasan ini berada satu level dengan Roma sehingga peluang kesebelasan ibu kota Italia untuk lolos ke babak semifinal makin besar. Menang melawan Barca adalah sesuatu yang nyaris mustahil.

Ketiga, kaum realistis. Bagi kaum ini, mau bertemu dengan tim mana saja ya tetap berat. Mereka sadar diri bahwa sebetulnya klub yang berdiri pada tahun 1927 ini bukan kesebelasan yang berada pada level kompetitif untuk ajang sekelas Liga Champions. Lolos ke babak 8 besar sudah bagus. Sudah keberuntungan. Selebihnya ya dinikmati saja.

Rasanya tulisan ini tidak terlalu penting untuk menyorot poin kedua dan ketiga. Rasanya tidak perlu banyak alasan untuk punya perasaan seperti itu. Tapi, untuk kaum optimistis, tentu mereka punya argumen. Setidaknya inilah 5 alasan mereka.

Baca juga:  Prediksi Liverpool vs AS Roma: Tuan Rumah Lebih Potensial Menang

1. Ada Alisson Becker

Setidaknya hampir 15 tahun Roma tidak memiliki dua hal yang pantas dimiliki oleh tim yang secara prestasi dan keuangan tidak jelek-jelek amat: kiper dan striker yang bagus.

Fans il Lupi boleh berdebat apakah Francesco Totti itu seorang striker atau playmaker, atau apakah Edin Dzeko sudah dianggap layak sebagai striker yang pas, tetapi setidaknya, mereka pasti bersepakat Alisson Becker adalah kiper terbaik yang pernah dimiliki Roma. Dengan Alisson sebagai pengawal gawang, Roma memang bukan tim yang selalu menang, tapi bukan tim yang mudah ditaklukkan juga.

2. Cengiz Ünder, Si Pemberi Harapan

Selepas kepergian Mohamed Salah, sisi kanan Roma seakan miskin kreasi. Butuh waktu cukup lama hingga tim di bawah asuhan Eusebio Di Francesco ini menemukan harapan baru.

Harapan itu terletak pada kaki pemain muda dari Turki: Cengiz Ünder. Memang, performa Ünder tak selamanya mengilap, namun pemain berusia 20 tahun itu memberikan daya gedor yang serius dari sisi kanan. Siapa pun lawannya, tentu akan membagi perhatian pada wilayah ini, yang itu berarti membelah konsentrasi tim lawan, termasuk Barca.

3. Tren Positif AS Roma

Jelas, di liga domestik nasib Roma tidak begitu baik. Duduk di rangking ketiga klasemen sementara, terpaut jauh dari Juventus dan Napoli, tapi dipepet rangking keempat dan kelima yang diduduki Lazio dan Inter Milan.

Hanya saja, Roma berhasil merangkaki rangking itu dengan jalan yang tidak mudah. Dua kemenangan termutakhir di laga domestik saat tandang ke Napoli dan menjamu Torino, plus saat menang melawan Shakhtar Donetsk, baik secara psikilogis.

Baca juga:  Katalunya Bersiap Merdeka Melalui Referendum

Dan tentu saja, kemenangan demi kemenangan di liga domestik ini dibutuhkan oleh Roma untuk semakin percaya diri saat tandang ke kandang Barca awal 4 April nanti.

4. Akhir Eksperimen Difra

Sejauh ini, Difra, nama ringkas Eusebio Di Francesco, belum menunjukkan kapasitas terbaiknya. Dia masih sering melakukan serangkaian kekeliruan yang tidak perlu ketika memasang skuat dan melakukan pergantian pemain.

Difra memang tidak punya banyak pilihan. Stok pemain Roma sangat terbatas. Namun, 8 bulan melatih rasanya sudah cukup buat Difra melakukan serangkaian eksperimen. Dia cukup tahu cara membuat Roma yang tak diunggulkan saat melawan Napoli justru menang dengan selisih dua gol.

Bahkan Difra cukup bisa melakukan manajemen taktik ketika harus menjamu Shakhtar dalam posisi kalah ketika melakukan pertandingan tandang.

5. Barca Tak Seperti Dulu

Siapa pun pengamat sepakbola pasti sepakat bahwa Barca yang sekarang bukan Barca yang sama saat memecundangi Roma 6-1.

Saat melawan Chelsea yang berakhir dengan skor 3-0, terlihat bahwa kekalahan Chelsea lebih pada lemahnya klub ini, bukan pada hebatnya permainan Barca. Dan ingat, Roma juga menekuk Chelsea dengan skor yang sama pada liga yang sama.

Dengan 5 poin di atas, wajar jika banyak fans Roma yang optimistis. Bahwa nanti hasilnya mungkin mengecewakan mereka, ya biasa saja. Fans Roma adalah barisan orang yang biasa dikecewakan. Tapi bukan cinta namanya kalau cuma karena dikecewakan lalu patah hati selamanya.



Tirto.ID
Loading...

No more articles