“Hellloooooow, ladiesss! Kamu yang cantik berbaju kuning, ayo boleh dicoba es gorengnya. Beli satu cuma tiga ribu, khusus buat kamu yang cantik, tak kasih lima ribu dapat dua!”

Suaranya menggelegar dari pengeras suara, memecah keramaian dan mengundang tawa, tanya, serta kucuran dana. Saya yang saat itu sedang bersama teman-teman SMA di titik nol kilometer Jogja tersentak begitu tahu bahwa yang cantik berbaju kuning itu adalah teman kami. Bergegaslah kami menuju sumber suara, membeli es goreng sembari mengingat masa kecil ketika menikmati es yang sama. Sejuk dan dinginnya es melempar saya kembali ke romansa masa SD ketika masih doyan bongkar-bongkar lemari sekadar mencari recehan demi membeli es goreng.

Sebagai orang yang besar dan tinggal di Kabupaten Bantul, bukan hal mengherankan bila saya telah mengenal penjual es goreng satu ini. Mungkin dia satu-satunya penjual es goreng di Provinsi Yogyakarta. Mungkin dia bukan satu-satunya penjual es goreng di Provinsi Yogyakarta, tetapi pengeras suaranya yang khas, mulutnya yang tak bisa diam mempromosikan dagangannya sembari tangannya meracik es goreng—sampai saya heran sendiri, kok bisa orang ngomong berjam-jam nonstop begitu, dan kemunculannya di mana-mana membuat ia jadi penjual es goreng paling legendaris di seantero Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Jika Famili 100 berkenan menyurvei popularitas penjual es goreng satu ini, saya berani pasang taruhan, 9 dari 10 mahasiswa di Yogya pernah menemukannya dan mengingatnya. Nyaris di setiap keramaian ia muncul. Di pasar tumpah Sunday Morning di sekitaran UGM, saat pasar malam menjelang Maulid Nabi, dan tentu saja di tempat mangkalnya, Alun-Alun Selatan Yogyakarta.

Sekian tahun setelah pertemuan semasa SMA itu, yang melemparkan saya pada nostalgia pertemuan demi pertemuan kami saat saya masih SD, situs bedebah yang mati tapi tidak kuat di akhirat lama-lama ini meminta saya untuk menulis tentang es goreng. Dengan didanai doa dan harapan oleh Mojok Institute, saya pun terjun langsung ke lapangan mengamati pedagang dan dagangannya yang legendaris ini. Bersama Pak Gatot, demikian saya akhirnya mendapatkan namanya, interogasi berlangsung selama 2,4 jam tanpa menghasilkan sebuah cerita detektif.

BACA JUGA:  Bapak Dia Manager Pom Bensin

***

Pak Gatot tengah meracik es goreng. (© Oktavolama ABS)

Pertama kali mendengar nama “es goreng”, mungkin akan timbul kerutan di dahi Anda. Makanan macam apa ini? Es tapi digoreng. Enggak masuk nalar, ra mashoook.

Ada baiknya persoalan nama ini jangan dipikir terlalu rumit. Kalau Indomie goreng saja tidak perlu digoreng, es goreng sebenarnya hampir sama.

Es goreng adalah es potong yang dicelup dalam cokelat cair panas. Cokelat yang titik bekunya sekira 25 derajat Celcius itu seketika membeku ketika bertemu es yang bersuhu di bawah nol derajat. Memang cokelat panas ini tidak seperti netizen yang baru coba-coba debat, sulit didinginkan. Pertemuan ini kemudian membentuk lapisan tipis nan crunchy. Ada berbagai varian rasa es yang Pak Gatot jual, yakni original, kacang hijau, blackberry, bahkan durian. Sajian satu ini sejatinya adalah versi asli dari Maknum milik Woles itu. Kalau kamu sukanya Maknum, berarti seleramu selera KW.

Rasa es goreng jangan ditanya, endes bin maknyes bineka tunggal ika. Variasi dingin, renyah, empuk, manis, gurih menyatu tanpa harus menimbulkan perpecahan. Begitu menyentuh lidah, perpaduan es dan kriuknya cokelat akan memijit-mijit indra perasa dengan dinamika lembut dan keras yang mendayu-dayu.

Es goreng yang melegenda tak bisa dilepas dari nama peraciknya, Pak Gatot. Mohon dimengerti bahwa Gatot disini adalah nama asli, bukan singkatan “Gagal Total”. Kalaupun memang sebuah singkatan, “Gagah Total” lebih cocok disematkan kepada pria yang tinggal di Wirobrajan ini.

Mengawali bisnis es potong pada ‘80-an, ia sempat jatuh di tahun 1987, tapi kembali gagah pada 1992 karena mendapat wangsit untuk mengawinkan es potongnya dengan cokelat. Ia mendaku bahwa ini resep temuannya sendiri. Awalnya, kudapan baru barupa es potong yang dicelup dalam cokelat cair ini ia namakan es garing, tetapi kemudian ia memilih menggantinya menjadi es goreng. Waktu membuktikan es goreng lebih punya potensi viral daripada nama sebelumnya.

BACA JUGA:  Menjadi Non-Kafir yang Menempatkan Kafir pada Tempatnya

Yang membuat rasa es ini semakin enak ialah metode penjualannya. Berbekal TOA, Pak Gatot dengan nada khasnya akan memanggil orang-orang yang lewat. “Hellooow, ladies” atau “Hai, bro, mari dicoba esnya” merupakan sapaan andalannya. Pembeli biasanya akan mengerubungi dan aksi selanjutnya dilancarkan. Kalau yang membeli sepasang kekasih, pasti akan diberi bonus.

Jangan pikir bonusnya gasing plastik macam snack Gulai Ayam kegemaran Agus Mulyadi itu. Bonus dari Pak Gatot lebih berfaedah. Kepada mereka Pak Gatot akan memberi doa agar tetap langgeng dan bisa menikah jika masih berpacaran. Tak hanya itu, Pak Gatot juga menambahkan wejangan-wejangan bagi pasangan kekasih tersebut. Pak Gatot selalu menekankan bahwa pacaran cukup dua tahun saja—“Jangan lama-lama!”—lalu menikah. (Gus Mul, Cik Prim, Mas Bana, ingat! Dua tahun saja!)

Sedangkan pembeli yang jomblo sendiri macam saya ini biasanya malah dapat bonus berlebih. Pertama, doa dilancarkan jodoh. Kedua, kalau masih kuliah didoakan agar skripsi lancar, kalau sudah bekerja ya didoakan selalu semangat bekerja. Sering pula ketika pembeli ramai, Pak Gatot akan mengisahkan cerita yang menghibur. Dengan bonus seperti ini, secercah senyum tak pernah terlewatkan dari setiap pembelinya.

Jadi, kalau ada yang mau menikah tapi kok ragu atau sulit jodoh, susah skripsi, kurang penyemangat, silakan beli es goreng Pak Gatot. Ia bisa ditemui di Alun-Alun Selatan tiap sore dan di Sunday Morning UGM tiap Minggu pagi. Setelah es goreng ada di tangan Anda, nikmati sambil resapi setiap memori yang akan muncul ketika lidah sudah menyentuh sejuknya es goreng ini. Ingatlah bahwa tak semua di masa lalu adalah sebuah hal yang buruk. Ingat dan kenanglah, karena itulah salah satu cara agar hidup tetap bahagia. Atau dalam kata-kata Pak Gatot, “Mari kita mengenang yang hampir terlupakan.”

Kenapa makan es goreng bisa jadi semellow ini sih T_T

Komentar
Add Friend
No more articles