Yang Mulia, saya bicara di sini untuk menyampaikan satu persoalan besar. Ini tentang pohon-pohon yang ditanam tiga puluh satu tahun lalu.

Mohon tidak senyum-senyum dulu, Yang Mulia, ini kami serius.

Begini, Yang Mulia. Penduduk di dua desa, (… dan …), sekarang sangat susah karena kekurangan air. Mereka menderita karena pohon-pohon yang ditanam pemerintahan dulu. Pasti Yang Mulia tahu program reboisasi. Sekarang pohon-pohon itu sudah tinggi menjulang melebihi pohon kelapa, batangnya besar-besar. Pokoknya, tujuan pemerintah masa itu sudah tercapai, bahkan melebihi harapan, karena pohon itu sangat kejam.

Pohon-pohon itu berhasil menyingkirkan pohon-pohon lain di hutan.

Izinkan kami meneruskan, Yang Mulia.

Jadi, pohon-pohon itu bisa menjatuhkan buah di mana-mana, Yang Mulia, di dekat mereka atau diterbangkan angin, lalu tumbuh begitu saja dengan gampangnya, bahkan di lahan kritis, sehingga menghisap semua makanan yang juga menghidupi pohon-pohon lain. Istilahnya, ini pohon perintis yang ekspansif.

Baik, baik, Yang Mulia, kami tidak akan muter-muter. Namanya Pinus, tepatnya Pinus Merkusii jung et de vriesee. Sering diringkas Pinus Merkusii. Ini pinus endemik di Sumatera, lalu dibawa ke Sulawesi, tempat desa yang kami ceritakan, dalam proyek penghijauan. Pinus ini warna kulitnya…

Baik, mohon maaf, Yang Mulia. Kami langsung ke persoalannya saja.

Begini, sejak pohon-pohon itu tumbuh besar, banyak mata air penduduk yang lenyap—seperti ubi petani yang habis digondol rombongan celeng tengah malam. Pohon ini memang kejam, Yang Mulia, juga terhadap manusia, mirip celeng.

Maaf, Yang Mulia, ini masih dalam konteks. Maksud kami, pohon-pohon ini kejam sama manusia karena: pertama-tama, mereka memotong rezeki mahluk hidup lain yang turun dari langit. Pohon ini mencegat air hujan sangat banyak, karena bentuk tajuknya yang kerucut—apalagi jarak antar pohon sudah sangat rapat. Tingkat intersepsi-nya tinggi sekali. Jahatnya lagi, tingkat intersepsi itu semakin tinggi ketika curah hujan sedang rendah. Semakin sedikit rezeki dari langit, semakin rakus mereka mencegatnya.

Kedua, karena sifat daunnya yang cacat, tidak punya jaringan yang bisa menyimpan dan mengolah makanan, mereka jadinya harus menghisap air setiap saat. Mereka penghisap air yang rakus, Yang Mulia. Akarnya pun begitu, cacat juga. Pembuluh akar yang bertugas menghisap dan mengangkut air lebih banyak ketimbang pembuluh yang mengantar makanan. Sehingga mereka bisa menghisap air sampai 7 kali lipat lebih banyak dibandingkan pohon-pohon tinggi lainnya. Intinya, air lolos yang sempat jatuh ke tanah pun mereka hisap habis. Kejam sekali kan?

Terakhir, sisa rezeki yang jatuh dari langit itu, tidak mereka bagikan, tidak seperti pohon-pohon asli Sulawesi. Mereka tidak menyimpan air lalu mengalirkan sebagian ke tanah—menjadi air tanah. Sebagian besar air yang mereka hisap dengan rakus, mereka terbangkan ke langit. Itu namanya evapotranspirasi, Yang Mulia. Kalau evaporasi, air menguap dari genangan air seperti laut atau danau. Nah, evapotranspirasi ini artinya air melayang ke udara dari tumbuhan atau tanaman.

Menurut beberapa penelitian yang kami baca, dibandingkan dengan pohoh-pohon lain di hutan, Pinus Merkusii ini selalu menempati peringkat teratas dalam hal mengirim air ke langit.

Mohon izin, Yang Mulia, ini dokumen hasil-hasil penelitian itu…

Apa dampaknya? Ini pertanyaan bagus, karena itulah kami datang, Yang Mulia. Di musim kemarau yang panjang, sepeti yang baru lewat, banyak petani yang tidak bisa menyiram tanaman. Pohon-pohon meranggas, sawah gagal panen, sayur-sayuran di pekarangan semua mati. Anak-anak dan orang dewasa, laki perempuan, harus naik turun lereng untuk ambil air, sekitar satu kilometer bolak-balik. Itu pun mereka harus menunggu berjam-jam agar bisa mendapatkan air, setiap pagi dan sore. Sebagian petani, yang agak rajin, harus menunggu sampai tengah malam untuk beberapa ember air, agar bisa menyiram tanaman.

Iya, kami tahu, Yang Mulia, persoalan itu dirasakan banyak orang desa di tempat lain. Kami juga tahu bahwa ini bukan soal tambang besar. Meskipun kami melihat ada kemiripannya.

Apakah Yang Mulia bisa melihat kesamaannya? Pohon itu menghisap banyak air lalu mengirim sebagian besarnya ke langit. Tambang besar itu…

Maaf, Yang Mulia, kami melantur. Kami kembali lagi ke persoalan. Kami membawanya ke sidang yang terhormat ini karena kami berpandangan bahwa hanya sidang ini yang bisa memutuskan apakah persoalan ini bisa diselesaikan atau tidak. Gerombolan perampok air itu tumbuh dan terus meluas di dalam hutan negara. Karena itu tidak ada yang berani menebang untuk menggantinya dengan pohon lain…

[Yang Mulia berdiri, menunjuk-nunjuk anunya]

Mohon, Yang Mulia, duduklah sebentar lagi.

Sebentar lagi mungkin akan ada perang antar-desa karena memperebutkan air yang kian berkurang. Dua bulan lalu, satu desa di hilir sudah mengirim polisi ke desa anu dengan tuduhan kriminal bahwa warga desa anu telah mencuri air. Padahal debit air memang sudah berkurang. Desa-desa di lereng bukit itu sendiri sudah kekurangan air. Sangat kekurangan. Bayangkan kalau semua desa-desa di hilir melakukan hal yang sama?

[Yang Mulia berdiri sambil menggenggam anunya]

Kami mohon, Yang Mulia, tinggallah sebentar lagi…

Satu penelitian terpadu diadakan beberapa tim universitas sekaligus di beberapa hutan berbeda sudah menyarankan bahwa Pinus hanya bisa ditanam di wilayah dengan tingkat curah hujan tinggi, di atas 2000 milimeter kubik per tahun. Di bawah itu tidak boleh ditanami Pinus sama sekali. Nah, di dua desa di Sulawesi yang kami sebutkan ini, curah hujannya tidak sampai 1100 milimeter kubik per tahun.

Yang Mulia… Yang Mulia!

[Yang Mulia sudah kabur ke toilet]

No more articles