Jadi pemimpin itu tak enak. Menjadi Ketua Kelas waktu SMA, misalnya, adalah nasib apes. Serba salah. Kalau ada anak buah sering bolos, Ketua Kelas duluan yang kena semprot guru; dianggap tidak bisa mengatur anak buah. Kalau bertindak “benar” dengan melaporkan anak buah yang bandel, jelas dia akan dibenci; dianggap pengkhianat kawan dan penjilat guru.

Itu baru Ketua Kelas, lho. Bagaimana kalau levelnya sudah “Imam Besar Umat”? Pasti bebannya amat sangat berat. Nah, itulah beban di pundak Rizieq Shihab.

Namanya sejak lama dikenal sebagai salah satu petinggi Front Pembela Islam. Dan sejak geger Pilkada DKI 2017, namanya jadi semakin mentereng. Ia ditasbihkan sebagai “Imam Besar Umat Islam” oleh sebagian orang. Sebagian ini tak main-main, konon mencapai 7 juta orang—walaupun sebagian orang meragukan kebenarannya. Itu jumlah yang banyak.

Kalau kamu berkeliling ke pelosok-pelosok Jakarta, tak susah menemukan wajah Rizieq memegang mikrofon di berbagai baliho ukuran besar atau poster yang ditempel di tembok. Ia dikriminalisasi, katanya. Karena sang pemimpin diserang, para makmumnya siap membelanya.

Waktu ribut-ribut, suasananya sudah mirip perang. Tak ada kubu abu-abu. Yang tak setuju dengan Rizieq, bakal dianggap sebagai musuh Islam. Sang calon Gubernur yang sekarang sudah menang, karena didukung Rizieq, berkali-kali menggemakan Pilkada DKI adalah Perang Badar.

Kita harus mengakui kemampuan Rizieq dalam menggalang masa. Ia punya kharisma seorang pemimpin. Seorang imam. Intonasinya ketika berpidato tak kalah dengan Sukarno atau Mussolini, bisa sangat membakar. Dengan kemampuan itu, tentu Rizieq jadi jenderal, panglima garis depan.

Jenderal yang baik selalu bersedia berada di garis depan bersama para anak buahnya. Jenderal yang seperti itu akan dicintai oleh anak buahnya, dikenang dengan baik, disanjung hingga kapan pun. Jenderal yang mau maju berperang akan lebih tinggi derajatnya ketimbang jenderal yang berada di balik meja. Ada banyak jenderal pemberani seperti itu, mulai Umar Bin Khattab, Guan Yu, hingga Douglas Mc Arthur.

Rizieq pun dianggap seperti penjelmaan Umar Bin Khattab karena keberaniannya turun ke lapangan. Ia memimpin langsung anak buahnya. Karena itu, banyak orang menaruh harap pada Rizieq yang digadang-gadang sebagai jenderal “Umat Islam”.

Tapi ternyata semua gegeran Pilkada DKI ini berakhir anti klimaks. Rizieq yang dicari Kepolisian karena beberapa kasus, ternyata pergi dari Indonesia. Sang jenderal kabur ke Arab Saudi, Malaysia, lalu ke Arab Saudi lagi. Di media sosial, para musuhnya menyebut Rizieq sebagai pengecut, macan kertas, pecundang.

Apa boleh buat, sejarah hanya milik para berani. Fortune favors the bold. Kabur bukanlah sifat pemberani. Nama Rizieq semakin melemah seiring makin lamanya ia mangkir dari panggilan Kepolisian.

Maka saran saya kepada Rizieq, segeralah pulang ke Indonesia. Tak ada tempat lain yang seindah rumah. Kalaupun ternyata engkau dipenjara, umatmu akan tetap menghargai keberanianmu. Semakin lama kau melanglang dan tak ingat rumah, orang-orang akan melupakanmu. Apa yang lebih menyedihkan ketimbang dilupakan?

Baca juga:  Keributan Terkait Rencana Umrah Bareng Prabowo, Amien Rais, dan Sohibul Iman

Seperti biasa, saya menyusun beberapa lagu yang cocok untuk membujuk Rizieq supaya pulang. Atau cocok untuk menemaninya selama di pelarian. Siapa tahu setelah mendengarkan lagu ini, Rizieq terinspirasi untuk pulang. Akan gagah kalau Rizieq mengutip kalimat Douglas Mc Arthur.

“I shall return!”

  1. Black Sabbath – Paranoid

Sudah jadi pengetahuan umum kalau orang yang ketakutan akan merasa paranoid. Menjelang kepergiannya dari Indonesia, Rizieq berkali-kali mengungkapkan paranoianya. Termasuk mengatakan bahwa ia diincar sniper. Tak ada lagu lain yang pas untuk menggambarkan perasaan ini selain lagu milik Sabbath.

I need someone to show me the things in life that I can’t find

I can’t see the things that make true happiness, I must be blind

  1. Loudness – Soldier of Fortune

Lagu dari band metal Jepang ini rasa-rasanya amat pas menggambarkan umat Rizieq. Jumlahnya jutaan. Selalu bersama-sama ke mana pun pergi. Walaupun banyak orang menyebut mereka sebagai soldier of fortune, alias tentara bayaran.

In the streets, broken dreams

Don’t matter, we’ll find the means

Fighting to win, never look down

  1. The Clash – I Fought The Law

Perginya Rizieq dari Indonesia dan mangkirnya dari panggilan Kepolisian, adalah tindakan melawan hukum. Perkara melanggar hukum, personel The Clash adalah dedengkotnya.

I left my baby and it feels so bad

Guess my race is run

She’s the best girl that I ever had

I fought the law and the law won

I fought the law and the law won.

  1. Koes Plus – Kembali ke Jakarta

Jakarta adalah separuh Rizieq. Ia lahir di Jakarta, menghirup udara Jakarta nyaris sepanjang umurnya. Siapa yang menyangka kalau di masa tuanya, ia terpaksa pergi dari kampung halamannya? Tak ada orang rantau yang tak sedih saat meninggalkan kampung halaman. Semoga lagu ini bisa menginspirasi Rizieq untuk kembali.

Di sana rumahku

Dalam kabut biru

Hatiku sedih

Di hari minggu

Di sana kasihku

Berdiri menunggu

Di batas waktu

Yang telah tertentu

Ke Jakarta aku kan kembali

Walaupun apa yang kan terjadi

  1. Tora-Tora – Guilty

Kata orang bijak zaman dulu, ciri-ciri orang yang salah adalah kabur dari sangkaan. Kalau tak salah, buat apa minggat? Band hard rock 80-an ini paham betul frasa melarikan diri dari kejaran rasa bersalah. Video klipnya pun demikian, menggambarkan seorang buronan yang kabur. “Mudah untuk cari tahu penyebab para polisi itu mencariku, karena aku bersalah,” kata mereka.

Runnin’ for my life

It’s hangin’ by a thread

I can’t get any closer to you yet

Hard luck knockin’ on my back door

It’s easy to see why they’re comin’ for me

Cause I’m guilty, guilty

Guilty in the first degree

  1. Bruce Springsteen – Born to Run

Rizieq dan para pendukungnya menganggap dakwaan terhadapnya adalah jebakan. Maka ia lari dari itu. Boleh juga, sih. Mirip seperti yang ditulis oleh Bruce Springsteen. Masalahnya, Om Bruce ini bukanlah pemimpin umat. Melarikan diri adalah hal biasa saja. Tapi tentu berbeda kalau kamu adalah pemimpin, dan melarikan diri. Meninggalkan para pengikutmu dalam kegamangan dan kesendirian.

Baca juga:  Menyambut Kepulangan Habib Rizieq Shihab di Tanggal Cantik 212

Together we could break this trap

We’ll run till we drop, baby we’ll never go back

H-Oh, Will you walk with me out on the wire

`Cause baby I’m just a scared and lonely rider

  1. Alanis Morisette – Ironic

Jadi pemimpin berarti harus siap menjadi kompas moral. Apalagi kalau kamu seorang pemimpin agama. Makanya agak ironis ketika Rizieq, yang selama ini menganggap diri sebagai patron agama, tersandung kasus pornografi. Tentu saya sepakat, ranah privat seperti seks itu bukan urusan kita, tapi, ya itu tadi …. ironis.

Well life has a funny way of sneaking up on you

When you think everything’s okay and everything’s going right

And life has a funny way of helping you out when

You think everything’s gone wrong and everything blows up

In your face

  1. Blondie – One Way or Another

Konon, Debbie Harry sang vokalis Blondie punya penggemar (atau mantan pacar, saya lupa) yang psikopat. Ia sering meneror Debbie. Entah lewat telepon, atau menguntitnya. Debbie menuliskan pengalaman itu lewat lagu “One Way or Another”. Ini sih cocok untuk para Polisi yang menanti Rizieq. Percayalah, polisi akan lebih tabah menunggu, menanti buruannya lengah, baru nanti disergap. Kalau tidak hari ini, bisa esok, bisa juga minggu depan.

One way or another I’m gonna find ya

I’m gonna getcha getcha getcha getcha

One way or another I’m gonna win ya

I’m gonna getcha getcha getcha getcha

One way or another I’m gonna see ya

I’m gonna meetcha meetcha meetcha meetcha

One day, maybe next week

I’m gonna meetcha, I’m gonna meetcha, I’ll meetcha

  1. U2 – Stuck In A Moment You Can’t Get Out Of

Posisi Rizieq sangatlah dilematis. Saya yakin ia sadar kalau ia punya banyak massa yang kebingungan. Tapi ia juga sadar; kalau ia pulang, musuh politiknya akan menghantamnya sedemikian rupa. Ini harga yang harus dibayar, memang. Jadi jenderal berarti harus siap menerima peluru pertama yang dilepas musuh. Menghadapi kenyataan seperti ini, Rizieq jadi terasa seperti Bono yang berdendang pilu: Aku terjepit dan enggak bisa keluar.

You’ve got to get yourself together

You’ve got stuck in a moment

And now you can’t get out of it

Don’t say that later will be better

Now you’re stuck in a moment

And you can’t get out of it

  1. Collective Soul – Run

There’s nothing left here to insure

I long to find the messenger.

Have I got a long way to run

Have I got a long way to run

Yeah, I run

Is there a cure among us?

From this processed sanity?

 

Lari-lari apa yang tak ada garis finishnya?

Lari dari kenyataan.

Hhe hhe hhe.

 

Komentar
Kirim Artikel
No more articles