Saya pernah menghabiskan enam tahun yang sangat berwarna di kampus Universitas Jember (UNEJ). Masuk tahun 2005, mentas 2011.

Masa kuliah itu termasuk masa yang paling menyenangkan. Ada banyak sekali kenangan. Apalagi Unej termasuk kampus yang unik. Bagi kalian yang pernah ke Unej, pasti takjub dengan banyaknya pohon besar dan ruang hijau. Konon, kalau dilihat melalui satelit, Unej tampak sebagai rimbunan kehijauan. Ini karena pohon besar menutupi gedungnya.

Apa hanya itu keunikan Unej? Tentu tidak. Ada banyak sekali kisah di kampus yang berdiri pada 1957 ini. Saya mencoba membongkar memori tentang apa yang paling diingat dari kampus ini.

Kambing di Dalam Kampus

Unej kerap disebut sebagai kampus rakyat. Ini bukan slogan belaka. Sampai saya lulus tahun 2011, SPP hanya Rp 500 ribu saja untuk jurusan non eksakta, dan Rp 600 ribu untuk eksakta. Tanpa biaya lain. Tentu tarif SPP berbeda bagi jurusan spesial seperti Kedokteran.

Sebagai kampus “kerakyatan”, Unej tidak ingin membatasi diri dengan kehidupan di luar kampus. Memang ada tembok yang mengelilingi kampus. Tapi tetap ada banyak pintu yang menghubungkan dengan pemukiman warga. Karena itu, para mahasiswa Unej tidak asing dengan kambing-kambing warga yang berkeliaran di dalam kampus.

Gerombolan kambing itu biasa dilepas memamah rumput di lapangan sepak bola depan Perpustakaan Unej, tempat yang paling dekat dengan pemukiman warga. Kadang gerombolan kambing mengambil tur keliling kampus. Menuju jurusan Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan. Lalu di perempatan jalan, sebagian pergi ke Fakultas Hukum. Sebagian lagi pergi ke kampus Ekonomi. Lainnya berputar-putar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, atau ke Fakultas Sastra.

Jadi, bagi mahasiswa baru Unej yang berasal dari luar kota, jangan kaget kalau sedang khusyuk mengerjakan ujian, tiba-tiba ada teriakan, “Mbbeeeekkkk!”

Kadang, kalau para mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiwa sedang tak punya uang, mereka kepikiran untuk mencuri kambing. “Lumayan jeh nek digawe sate,” kata mereka.

Tapi gak ada yang berani mencuri kambing itu. Kalian curi itu kambing, wah bisa panjang urusannya, celurit warga yang akan bicara.

Ayam Krispi dan McDono

Makanan kebangsaan mahasiswa Jember adalah ayam krispi. Nyaris di setiap sudut jalan ada penjual ayam krispi. Di lajur Jalan Jawa saja, ada puluhan penjual ayam krispi.

Mewabahnya ayam krispi ini terjadi, seingat saya, sejak ada Mc Dono. Ini tentu plesetan dari McDonald. Pendirinya adalah seorang lulusan kampus lain yang mencoba peruntungan jadi wirausahawan ayam goreng krispi. Masakannya memang sederhana: ayam krispi, nasi, timun, kacang panjang, lalu diberi sambal tomat. Ternyata dagangannya laris manis.

Sejak saat itu, ayam krispi jadi makanan wajib mahasiswa Jember. Apalagi Unej, di mana lajur jalannya diisi oleh banyak sekali penjual ayam krispi. Sebelum jadi selebtwit dengan penghasilan puluhan juta setiap bulan, Arman Dhani hampir setiap hari beli ayam krispi karena murah meriah.

Oh ya, Mc Dono sebagai pelopor ayam krispi ini, sampai sekarang masih mangkal di Jalan Jawa, di depan Fakultas Sastra. Tapi kalau makan ayam krispi di Jember, jangan kaget, lebih besar tepungnya ketimbang potongan ayamnya. Jangan lupa minta gur gur. Ini sebutan untuk remahan tepung garing. Lumayan sebagai penambah tekstur dan pengganti kerupuk.

Triumviraat

Kalau Negeri Tiongkok punya Tiga Kerajaan, Unej punya Tiga Pendiri: R. Achmad, Soengedi, dan M. Soerachman. Mereka ini trio pendiri Universitas Tawang Alun yang lantas berubah nama jadi Universitas Jember. Jasa tiga pendiri ini lantas diabadikan jadi patung Triumviraat yang berdiri gagah di depan kantor rektorat. Tak jauh dari gerbang masuk.

Karena bentuknya yang gagah itu lah, patung ini jadi tetenger Unej. Rasa-rasanya belum lengkap jadi mahasiswa Unej kalau belum foto di depan patung ini. Ya, walau sebenarnya saya juga belum pernah foto di depan patung ini sih.

Kalau sedang musim wisuda, wah ada banyak sekali antrian orang yang mau berfoto di depan patung ini. Kalian termasuk salah satunya, pasti?

Dari Bulek hingga Cak Wang 

Dari dunia kampus, ada dua warung kopi yang berkembang pesat. Awalnya kecil hingga kemudian besar, yang lantas jadi jujugan banyak orang, tak hanya dari Unej saja.

Yang pertama adalah Bulek. Rasa-rasanya orang yang hidup di wilayah kampus Jember, pasti tahu tempat ngopi yang satu ini. Lokasinya bisa dibilang ada di dalam kampus. Tepatnya di samping kampus Fakultas Teknik Pertanian. Semua pasti kenal Warung Bulek.

Warung ini menyediakan kopi murah. Juga makanan yang murah. Yang bikin asyik, disediakan bangku-bangku panjang dan meja yang lebar. Bisa bikin kamu betah. Beberapa teman saya malah sering nginap di warung ini. Oh ya, kalau kalian jago main catur, Bulek menyediakan beberapa set catur. Bisa main sepuasnya.

Warung kopi kedua adalah Cak Wang. Awalnya warung ini didirikan Cak Rahmad di dalam kampus FISIP. Bisa dibilang ini adalah salah satu warung kopi pertama yang mengenalkan cara ngopi yang berbeda. Tak sekedar tubruk. Tapi juga drip, dan mengenalkan specialty coffee.

Warung Cak Wang kemudian berkembang jadi besar. Dikunjungi tak hanya oleh mahasiswa Unej. Tapi juga banyak mahasiswa dari kampus lain. Akhirnya Cak Wang migrasi ke tempat yang lebih besar. Bahkan hingga sekarang warung kopi ini buka cabang di banyak kota.

Mahasiswi Ekonomi Itu Paling Modis

Mungkin ini terjadi hampir di semua kampus: mahasiswi Ekonomi adalah yang paling modis dan cakep. Entah kenapa selalu seperti ini.

Begitu pula di Unej. Ada banyak sekali mahasiswi manis yang kuliah di jurusan Ekonomi. Beberapa orang kawan dari Fakultas Sastra, termasuk saya, betah sekali ngopi di kantin Ekonomi. Harganya memang sedikit lebih mahal ketimbang kantin Sastra. Tapi pemandangannya sukar ditandingi, jeh.

Pantas saja, kawan saya yang mantan Pemimpin Redaksi Ecpose, Nody Arizona, betah sekali menginap di sekretariat. Pagi menjelang, masih belum cuci muka dan sikat gigi, ia sudah mejeng di kantin. Dengan buku filsafat agar tampak gagah, secangkir kopi hitam, dan sebatang kretek, ia sudah siap untuk menaklukan dunia. Juga menaklukan gadis-gadis manis calon Sarjana Ekonomi.

Sayang ia bernasib buruk. Hingga sekarang.

No more articles