MOJOK.CO – Meski salah satu tahun paling blangsak, namun ada 20 lagu favorit yang patut kamu dengar sebelum meninggalkan tahun 2020.

Akui saja, tahun 2020 itu bangsat. Semua makian layak kamu lempar ke tahun ini. Kamu tak bisa ke mana-mana. Teman-temanmu, dan mungkin kamu, mengalami pemotongan gaji, atau yang lebih buruk: dipecat.

Orang yang kamu kenal kena virus, lalu ada sanak saudara yang meninggal dan kamu tak bisa mengantarnya ke persemayaman terakhir. Kamu boleh ngamuk dan memaki. Jancok.

Tapi, sekeras apapun usahamu untuk menghidari klise, memang benar: selalu ada hal-hal menyenangkan dari kondisi paling blangsak sekalipun.

Dalam kasus saya, ada banyak lagu-lagu Indonesia yang amat menggembirakan dirilis di tahun 2020 ini. Mungkin, sebagaimana banyak orang lain, nostalgia terasa amat menyenangkan di masa seperti ini.

Kita diajak menelusuri lagi masa lalu yang jelas terasa lebih menyenangkan ketimbang apapun yang kita kerjakan tahun ini. Karenanya saya semakin banyak mendengarkan musik dari masa lalu, sebagai penanda hidup pernah baik-baik saja, dan semoga akan selalu begitu.

Di tengah-tengah napak tilas itu, saya juga satu dua kali mencatat lagu-lagu dari aneka macam album baru. Sumbernya banyak. Yang paling umum: algoritma. Yang juga tak lantas terlupakan: algoritma cangkem, alias rekomendasi dari teman.

Banyak yang baru saya dengar namanya, ada yang sudah saya kenal sejak bertahun lalu, dan sebagian lagi bikin saya bengong karena tak menyangka bisa doyan musik seperti itu. Yah namanya juga hidup.

Mungkin tak ada album yang benar-benar menjulang sendirian di tahun ini. Karenanya saya lebih memilih bikin daftar lagu favorit yang saya dengar tahun ini. Lagu-lagu ini lumayan sering saya putar di masa kelabu seperti sekarang. Beberapa bikin kita bersemangat dan optimis, sebagiannya bikin kita mikir, sebagiannya lagi malah bikin pengin ngeplaki ndasku dewe.

Apapun itu, 2020 bakal berakhir. Dan sejarah akan mencatat tahun ini sebagai tahun paling blangsak dalam hidup manusia abad 21. Eh, atau jangan-jangan pandemi ini malah awal mula dari hal-hal yang lebih buruk masa depan? Haish mbuh.

Seluruh lagu ini bisa didengar di playlist yang saya buat di Spotify, kecuali “Fidelitas Cinta” milik Harlan Boer:

Lorjhu feat Rifan: “Nemor”

Lorjhu adalah musisi paling menyegarkan dari Madura saat ini. Lagu-lagunya banyak bercerita tentang kultur orang Madura, dari melaut, bercocok tanam, hingga telasan alias mudik. “Nemor” adalah lagu terkuat Lorjhu. Suara fuzz malu-malu dan seruling di sana-sini bikin ketagihan.

Cocok didengar: sambil makan siang di saung tengah kebun.

Sajama Cut: “Lautan yang Memeluk Cermin”

Lagu ini datang dari album Godsigma yang mengejutkan karena dua hal. Pertama, semua lagunya memakai Bahasa Indonesia, seperti bukan Sajama Cut. Kedua, liriknya bagus dan tak kaku. Dan lagu ini adalah favorit saya dari keseluruhan album di 2020.

Cocok didengar: sambil mengerjakan tumpukan tugas akhir tahun.

Garuntang Genk: “Live in Decay”

Terima kasih pada Mas Wendi Putranto yang mengundang saya menonton Emerging Showcase Vol. 5, jadi saya kenal duo dari Lampung ini.

Meski duo, penampilan mereka terasa penuh, dengan distorsi Gibson SG dan drum yang rapat. Riff lagu ini juga berpotensial mengundang koor massal, makian anjeng, dan stage diving.

Cocok didengar: sambil naik motor menyusuri jalan kosong, tarik tuas gas penuh. Awas polisi.

Nadin Amizah: “Bertaut”

Keinginan dengar musik bisa datang dari mana saja. Termasuk dari ejekan netizen asu. Setelah para netizen-paling-iyes-sediri mengejek Nadin habis-habisan di Twitter karena dianggap sok puitis, dan Nadin minta maaf (padahal buat apa sih minta maaf?), saya malah tertarik mendengarkannya.

Dan album Selamat Ulang Tahun adalah sebuah album yang solid. “Bertaut”, adalah lagu favorit saya di tahun 2020. Ini adalah surat cinta yang manis untuk ibunya, walau perumpamaan “bagai landak yang tak punya teman” cukup bikin saya mengernyitkan dahi.

Cocok didengar: sambil nangis memandangi foto ibu. Cok. Aku kangen Mamakku.

Fstvlst: “Syarat”

Cara menyanyi Farid, begitu pula lirik yang dia tulis, sudah jadi karakter khas sendiri. Dengar teriakan di bait “…hanya butuh satu saja, satu alasan…” yang diiringi liukan synth, sungguh sangat menyenangkan.

Cocok didengar: sambil rebahan setelah kerja seharian, jangan lupa mantra, “…rawat harapan.”

Morfem: “Binar Wajah Sebaya”

Sebuah lagu power pop berbalut suara fuzz yang sederhana tapi oke punya. Reff tentu saja mengandung power chord tiga jari. Cara menyanyi Jimi Multhazam datar, tak ada belokan-belokan, ya seperti Jimi yang kita kenal.

Lirik yang dia tulis juga selalu asoy, bisa menggambarkan binar bocah-bocah jatuh hati dan berbahagia.

Cocok didengar: sambil kencan bareng pasangan di pasar malam terdekat. Nonton tong setan sambil makan arum manis juga oke.

SK Triolekso: “Martua Goes to America”

Kenaifan paling mengasyikkan tahun ini, dan juga tahun-tahun ke depan. Sebuah persembahan bagi penggemar rock 1980-an. Jika nadi Ricky dialiri tequila, maka Martua dialiri tuak. Dengan semangat menaklukkan dunia, Martua pergi ke Los Angeles dan “main gitar bagai halilintar” di Sunset Strip.

Cocok didengar: sambil kencangkan volume speaker dan lupakan kerjaan serta dunia. Waktunya ngerock bareng Martua!

Rendy Pandugo: “Mr. Sun”

Ini sebuah lagu balada-akustik yang mengingatkan saya pada atmosfer Born and Raised-nya John Mayer. Hangat. Sendu. Bagian paling saya suka adalah solo gitar di tengah, dan masuknya piano jelang lagu habis. Menjadikannya layak jadi lagu favorit 2020.

Cocok didengar: sambil membayangkan cinta-cinta yang gagal kamu selamatkan.

The SIGIT: “Another Day”

Tiga puluh detik pertama, saya pikir lagunya bakal mirip Jethro Tull, hingga kuping dihajar distorsi. Meski tak sekuat banyak lagu sebelumnya, tapi lagu band asal Bandung ini masih tetap punya jejak kuat yang sukar dilupakan.

Lirik terbaiknya: “the death will smile at every man. All one can do is to smile back.” Seperti tepukan di punggung pada masa sulit ini.

Cocok didengar: sambil merutuk dan mengutuk pemerintah yang tak bisa menangani pandemi dengan baik.

‌The Brandals: “The Truth is Coming Out”

Persembahan terakhir yang manis dari Tony, gitaris asli terakhir di grup berandalan ibu kota ini. Beberapa saat setelah lagu ini keluar, Tony memutuskan keluar dan belum banyak bercerita soal keputusannya.

Bagi pendengar lawas, tentu ini bukan The Brandals yang kamu kenal. Produksinya makin matang dan terdengar mulus. Bahkan mungkin bagi sebagian besar orang, lagu ini terlalu dipoles buat band yang punya citra pinggiran Jakarta. Tapi ini sekaligus menebalkan keyakinan bahwa The Brandals bukan band nostalgia, dan mereka akan terus jalan.

Cocok didengar: sambil jalan melewati tengah kota lewat pukul 24. Pendar lampu kota amat pas kawin dengan lagu ini

Stars and Rabbit: “Little Mischievous”

Jujur, alasan pertama mendengarkan album ini adalah karena Didit Saad. Meski musiknya jelas mengagetkan karena mengambil titik tolak 180 derajat dari pondasi Stars and Rabbit yang sudah lama terbangun, album baru mereka asyik benar.

Didit seperti menemukan taman bermain yang luas dan membebaskan. Dari semua lagu, “Little Mischievous” memang yang paling bertenaga buat saya. Album ini adalah awal mula yang baik bagi jalan baru Stars and Rabbit.

Cocok didengar: sambil mengumpulkan nyawa usai bangun tidur, dan segera bikin kopi buat memulai hari.

Rollfast: “Garatuba”

Semenit lebih pembukanya bikin mengawang, sebelum gitar berisik menggodam gendang telinga. Bajingan. Ini nomor psikedelik rock teranyar dari kugiran asal Bali, Rollfast. Mendengar lagu ini seperti naik bis dari Gilimanuk menuju Denpasar.

Di awal, ombang-ambing seperti naik kapal, lalu hard and heavy jalan lurus seperti jalan di Taman Nasional Bali Barat, kemudian naik turun dan berbelok-belok seperti jalan di Negara sebelum akhirnya muntah karena mabuk darat.

Cocok didengar: sambil minum Antimo dua biji seperti yang dulu saya lakukan, belasan tahun silam, ketika terkapar mabuk darat dari Badung menuju Gilimanuk. Dua hari ngambang. Asu.

The Panturas Feat Adipati The Kuda: “Balada Semburan Naga”

Lagu jari tengah pada calon mertua, terbaik setelah “Cukup Siti Nurbaya”. Ia bertenaga, sekaligus masih punya daya guna buat menertawakan hidup —dan memaki orang tua kolot, tentu saja.

Sebagaimana trademark The Panturas, lagu ini cepat, bakalan bisa membuat perahu karet berlayar dengan kencang di antara penonton konser mereka.

Cocok didengar: sambil misuhi bekas calon mertua (dalam hati) yang menjodohkan kekasihmu dengan lelaki berseragam. Kapokmu kapan.

Oslo Ibrahim: “I Don’t Belong to Love Her”

Bagi saya, Oslo Ibrahim adalah PhD di bidang membuat patah hati terdengar indah. Lagu favorit saya di 2020 ini adalah satu dari sembilan simfoni kehilangan-dan-hati-remuk-redam di album penuh perdana Oslo, I Only Dance When I’m Sad.

Coba dengar beat-nya, yang seolah menganggap kehilangan adalah hal riang belaka, dan karenanya boleh saja kita nyanyikan dengan langgam ceria. Keseluruhan album Oslo adalah sebuah ode indah bagi kaum nelangsa.

Cocok didengar: sambil tertawa pahit menyesali masa lalu dan orang yang mungkin sudah menghapus namamu dari daftar kontak di ponselnya.

Kelompok Penerbang Roket: “Roda Gila”

Sebenarnya tak ada yang baru di lagu ini. Ya seperti yang kita bayangkan kalau kita mendengarkan Kelompok Penerbang Roket.

Secara judul, lagu ini mirip lagu The Flowers, “Roda-Roda Gila” yang dirilis tahun lalu, temanya pun sama. Meski terkesan jumud, lagu dengan napas rock 70-an ini tetap masih punya sedikit bensin buat menarik motor kencang-kencang.

Cocok didengar: sambil kerja di depan laptop, tapi membayangkan touring di Ladakh atau menyusuri Sulawesi dengan Honda CB.

Sasan Fai feat Maria Josefina: “Jakarta’s Not That Bad”

Jika mendengarkan lagu ini tujuh tahun silam, saya tentu tak percaya. Sekarang, setelah hampir satu windu tinggal d Jakarta, saya bisa mengamini apa yang dibilang oleh Sasan Fai.

Kota yang lebih kejam ketimbang ibu tiri ini menyimpan pesona, percik kesenangan di sana-sini. Mungkin saya sudah resmi jadi Jakartans, orang-orang yang menyimpan rasa benci tapi cinta pada kota ini. Lagu in terasa ringan dan fun, cocok dengan tema lagunya. Cocok jadi lagu favorit sepanjang 2020.

Cocok didengar: sambil jalan kaki menyusuri Glodok, makan bakmi kucai, menyeruput kuah kari lam, mengudap kuotie, minum kopi di Tak Kie, dan dipungkasi dengan potong rambut di Ko Tang.

Figura Renata: “Di Balik Huru Hara”

Ini lagu penutup dengan atmosfer berbeda dibanding lagu-lagu lain di album Hara milik duo pop asal Semarang, Figura Renata. Dengar lagu ini, sedikit demi sedikit kamu bisa lepas dari hawa nglangut dari 11 lagu sebelumnya.

Walau tak yang terang-terang sekali, meletakkan lagu ini di akhir album mungkin adalah pertanda bahwa selalu ada cahaya ujung sana.

Cocok didengar: sambil mikir hidup ini buat apa sih. Tentu saja tengah malam.

Fleur: “Lagu Lama”

Trio rock penerus Dara Puspita ini memainkan ngak ngik ngok 1960-an, lengkap dengan ketukan drum yang rancak dan tiga kunci yang jauh dari kata monoton. Kalau lagu ini dimainkan di zaman “Amerika Kita Setrika, Inggris Kita Linggis”, bisa jadi Fleur ikut digelandang ke penjara bareng Koes Plus.

Cocok didengar: sambil ajojing di dalam rumah. Ingat, lockdown woi.

Harlan Boer: “Fidelitas Cinta”

Harlan, bagi saya, adalah perwujudan musisi yang berkarya dengan rasa senang. Ia mungkin agak kurang peduli dengan medium, apalagi promosi. Karena itu, karakter lagu-lagunya sederhana, lo-fi, direkam seadanya dan selayaknya.

Mungkin di sana-sini kamu akan mendengar nada sumbang Harlan. Tapi masa kamu melarang seorang bernyanyi karena ia fals satu dua nada? “Fidelitas Cinta” adalah sebuah lagu cinta manis yang mengingatkan kita pada perasaan jatuh cinta ketika usia belasan: naif, polos, semuanya terasa baik-baik saja.

Cocok didengar: sambil mengingat cinta monyetmu. Di mana ya dia sekarang?

Mocca feat Rekti Yoewono: “There’s Light in the End of Tunnel”

Mocca mungkin band yang paling cocok didengar kalau kamu masih tetap ingin optimis dan ceria menghadapi masa sulit. DNA musik mereka erat dengan warna-warni, ceria, dan hal-hal yang bikin senyum.

Lagu ini adalah salah satu contoh terbaiknya. Meski pesan yang dibawakannya klise, tapi mungkin itu yang kita butuhkan sekarang.

Cocok didengar: sambil video call bareng kawan-kawan lawas yang hidupnya tersebar di seluruh Indonesia.


BACA JUGA Rekomendasi Musik yang Mungkin Belum Pernah Kamu Dengar dan tulisan Nuran Wibisono lainnya.