MOJOK.COTeman saya yang bernama Riyan punya sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan seumur hidup: menjadi korban penculikan kalong wewe!

Saat itu menjelang magrib, anak-anak di kampung hendak pergi mengaji ke masjid. Meskipun di Jakarta, saat itu jalanan masih jelek dan banyak kebun bambu lebat. Maklum, saat itu masih pertengahan 1990. Daerah pinggiran Jakarta juga masih terlihat sangat (((countryside))), dan tidak ada bedanya dengan kampung-kampung lain di luar Jakarta.

Seperti anak-anak kecil pada umumnya, Riyan ikut rombongan anak-anak yang hendak mengaji. Mereka berjalan melewati kebun bambu lebat yang memanjang 200 meter. Riyan dan teman-teman terpaksa melewati jalan itu, sebab jalan utama kampung sedang diaspal.

Riyan sebetulnya enggan melewati jalan itu karena peringatan mamangnya sebelum berangkat. “Jangan ngomongin kalong wewe sama teman-teman lu itu. Pamali.” Namun, dia tidak punya pilihan lain. Kalau membolos ngaji pasti kena omel. 

Jalanan memutar itu gelap karena tidak ada lampu penerangan. Oleh sebab itu,  Riyan dan teman-temannya membawa obor.

Awal masuk jalan itu sebenarnya tidak ada apa-apa. Ketika langit mulai redup obor mulai dinyalakan satu per satu. Walaupun tidak terlalu terang-terang amat, setidaknya penglihatan sedikit terbantu.

Saat itu Riyan berjalan di barisan paling belakang. Dia memang suka berjalan paling belakang karena merasa aman kalau teman-temannya yang berjalan di depan. Sekali lagi, peringatan soal kalong wewe terngiang.

Di pertengahan jalan, angin mulai bertiup kencang dan suara pohon bambu yang bergesekan terdengar aneh. Srekkk, srekkk, srekkk. Bagi mereka, situasi seperti itu masih biasa saja. Riyan dan teman-temannya masih berjalan santai. Sedikit lagi mereka sampai, tidak perlu terburu-buru.

Sembari berjalan, mereka saling menimpali cerita temannya dengan cerita lain. Dan entah bagaimana, percakapan bergeser ke soal mistis, padahal awalnya tentang acara televisi. Obrolan yang ingin dihindari Riyan.

Obrolan soal mistis memang seru ketika dibahas ramai-ramai. Yang mereka bicarakan mulai dari yang nasional sampai mistis lokal di kampung. Riyan tidak ikut bicara. Sebenarnya, dia memang parnoan. Bukan takut berlebihan. Tapi jika disuruh memilih, dia akan menghindari topik semacam itu.

Hingga akhirnya salah satu temannya membicarakan setan yang belakangan sedang ramai diperbincangkan di kampung mereka, kalong wewe. Riyan langsung mengernyitkan dahi dan langsung “konek” pembicaraan teman-temannya itu.

“Ehhh, ngobrolin yang lain aja ngapa, kayak kagak ada topik lain aja lu pada,” tegur Riyan kepada teman-temannya itu.

Riyan menegur temannya karena sudah diperingatkan mamangnya. “Jangan sebut kalong wewe itu. Pokoknya jangan.”

“Berisik, lagi seru nih,” balas teman-teman Riyan

“Udahlah, yang lain aja. Lagian, dikit lagi sampai masjid,” Riyan masih coba membujuk teman-temannya itu.

“Emang napa sih, ett. Takut tiba-tiba datang kalong wewe….” 

Suasana tiba-tiba hening. Riyan merasa tubuhnya terangkat tinggi. Semuanya terjadi begitu cepat. Yang Riyan lihat terakhir adalah muka teman-temannya yang bergidik ngeri, melemparkan obor yang digenggam, lalu lari meninggalkan dirinya yang tiba-tiba terangkat tinggi.

Setelah itu, ingatannya samar-samar….

Riyan merasa berada di dalam “dekapan” sesuatu atau seseorang. Dia belum sadar tengah berada dalam dekapan kalong wewe. Ingatannya samar. Dia mulai tersadar sesaat sebelum azan subuh menggema. Riyan baru mulai “ngeh” sudah tidak lagi di dalam “dekapan” kalong wewe.

Riyan melihat sekelilingnya. Dia merasa asing. Riyan melihat banyak angkutan umum lalu-lalang. Pandangannya sampai ke sebuah papan penunjuk arah dan membacanya: 

“TERMINAL BEKASI”

Riyan akhirnya berhasil pulang diantarkan aparat setempat yang menemukannya. Bagaimana bisa ditemukan? Sebab, setelah tahu berada jauh dari rumah, dia menangis sejadi-jadinya sampai ngompol.

Setelah ditenangkan banyak orang, Riyan diantar ke kantor polisi di dekat terminal. Polisi mengajukan banyak pertanyaan. Riyan menceritakan kejadian yang “baru saja” dia alami. Tentu saja, polisi ragu dengan cerita diculik kalong wewe.

Riyan, yang akhirnya kembali ke kampung disambut tangis orang tuanya. Orang-orang kampung ramai melihatnya, polisi kebingungan melihat keramaian itu. Mereka akhirnya menanyakan soal kejadian yang terjadi.

Teman-teman Riyan yang saat itu juga ada bercerita kepada polisi. Teman-teman Riyan melihat Riyan dibawa oleh kalong wewe, sosok perempuan besar yang payudaranya bergelayutan. Rasa takut membuat mereka tidak berkutik saat melihat Riyan dibawa dari belakang. Saat bisa bergerak, mereka berlari karena takut bernasib sama.

“Kejadian itu kapan, dik?” Tanya salah satu polisi yang mengantarkan Riyan.

“Seminggu yang lalu, pak”

Para polisi itu terdiam. Sebab, Riyan bercerita kalau dia merasa bahwa itu baru kemarin. Sepertinya mereka sadar, walaupun seorang penegak hukum, sepertinya ini di luar ranah mereka. Mereka pergi dan hanya berpesan agar menjaga anak di rumah. Jangan dibiarkan pergi saat waktu menjelang magrib. Mereka akhirnya pamit pulang.

Kejadian yang menghebohkan itu lama-lama lenyap ditelan waktu. Meski memang sempat ramai selama beberapa tahun, lama-lama “mitos” tersebut makin uzur. Apalagi, jalanan yang menjadi saksi bisu juga sudah tidak berisi kebun bambu, sudah terganti dengan kavling perumahan yang baru dibangun.

Riyan, kini dirinya sudah menginjak kepala tiga dan berkeluarga. Sampai saat ini, kisah itu menjadi pengalaman dirinya yang pernah (((teleportasi))) dari Jakarta ke Bekasi karena diangkut kalong wewe.

*Cerita ini berdasarkan kisah nyata. Nama tokoh bukan sebenarnya. Dituturkan ulang berdasarkan izin “korban” kalong wewe.

BACA JUGA Foto Misterius dari Langit-Langit Kamar dengan Hape Baru dan pengalaman bersama setan lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Baca juga:  Mesin Jahit Misterius di Rumah Nenek Setelah Tahlilan Tujuh Hari