fbpx

MOJOK.COKatanya, untuk mengetahui seseorang itu aslinya kayak gimana, ada tiga hal yang bisa kamu lakukan. Pertama, ajak dia mabuk (tapi dosa). Kedua, tinggal bareng sama orangnya (waduh belum muhrim). Ketiga, ajak dia bicara jam 3 pagi!

Pembicaraan jam 3 pagi, lebih populer dengan sebutan 3 AM conversation adalah jam-jam bego di mana orang suka tiba-tiba membicarakan sesuatu yang biasanya secara normal tidak mereka bicarakan. Mungkin karena udah capek jadi ngomongnya nggak pakai mikir atau apa.

Saya nggak tahu sih pembicaraan jam 3 pagi ini jadi “sesuatu” apa nggak kalau di Indonesia. Kalau di luar negeri, 3 AM conversation ini sering terjadi soalnya di sana kan umum ya orang masih berkeliaran sampai pagi buta terus ngomongin kehidupan sambil diselimuti angin malam dan lihat bintang-bintang.

Tapi di Indonesia yang kayak gitu kan nggak umum, boro-boro bisa kelayapan sampai pagi buta, lha wong habis magrib aja kita mah udah diteriakin disuruh pulang.

Dulu saya juga sempat mikir kalau pembicaraan jam 3 pagi itu overrated dan cuman romantisasi dari kaum-kaum pencinta sastra dan puisi-puisi senja aja. Tapi eh tapi, setelah mengalami “magic-nya” sendiri, saya jadi percaya kalau sepertinya memang ada sesuatu yang membuat jam 3 pagi itu begitu istimewa.

Jadi gini ceritanya.

Waktu masih PDKT sama mas pacar, chat kami isinya diskusi hal yang ndakik-ndakik. Pernah kami bahas tentang definisi keadilan, penculikan aktivis ’98, masa depan demokrasi, sampai ngomongin Tuhan dan agama (ini pas saya inget-inget lagi kok ruwet men bahasannya wqwq, maklum namanya juga PDKT, suka pengin berusaha terlalu keras biar keliatan pinter di depan satu sama lain).

Pembicaraan kami ini seru, tapi rasanya sangat kering. Dan meskipun sudah cukup lama intens chattingan, saya merasa masih tidak tahu apa-apa tentang masnya, selain pandangan dia soal isu sosial politik terkini. Saya jadi mikir kalau ini mah bukan PDKT, tapi pindah forum diskusi dari warung kopi ke dalam wasap, hadeeeh. Saya hampir menyerah juga sih, soalnya kok ya pengin chattingan lama aja usahanya harus baca buku/jurnal dulu hahaha.

Lalu suatu ketika, karena dia lagi nunggu telepon dari neneknya yang ada di Texas, dan saya lagi streamingan bola, pembicaraan kami terus berlanjut hingga jam 1, 2 dan 3 pagi. Kami lalu kehabisan topik, dan otak kami sepertinya sudah tidak mau diajak berpikir serius lagi. Di sinilah tiba-tiba kami saling bercerita tentang sesuatu yang sangat personal. Kami mendapati diri kami berbicara tentang keluarganya, cita-cita, harapan, dan ketakutan yang selama ini kami miliki.

Wow, ajaib sekali ya jam 3 pagi ini, batin saya.

Sebelumnya, saya mau pancing dia biar cerita masih ngerokok apa nggak aja saya harus panjang lebar bahas perdebatan kaum perokok dan antirokok dulu, eh ini cerita tentang rahasia yang selama ini dia punya, nggak perlu dipancing udah keluar sendiri di jam 3 pagi ini.

Sejak saat itu saya jadi penasaran kira-kira apa sih yang bikin jam 3 pagi itu begitu istimewa hingga dia bisa membuka (((tabir))) dan meruntuhkan dinding dan pertahanan yang dibuat seseorang hingga dia bisa menjadi begitu rapuh, terbuka, dan apa adanya, hingga membuat pembicaraan kita dengan seseorang itu menjadi lebih hidup dan (((bermakna))).

Apa karena jam segitu suasana masih sunyi dan gelap? Dan kegelapan, juga kesunyian dikenal memanggil jiwa-jiwa pemberontak yang selama ini tidur dalam diri kita… (edan gini bahasanya).

Nggak deng, penjelasannya bukan gitu. Karena jam 3 pagi itu sepi dan gelap (ini tergantung kamu diem di tempat yang ada lampunya apa nggak sih), pikiran dan perhatian kita nggak banyak terdistraksi oleh hal-hal di sekeliling kita, baik itu bunyi-bunyian, aktivitas orang lain, dll. Karena nggak terdistraksi, isi otak kita tuh murni hal-hal yang kita anggap penting aja.

Penjelasan lainnya, sebagai mahkluk yang jam biologisnya tidur di jam 3 pagi, kita akan merasa terlalu bersemangat karena bisa melek jam 3 pagi. Akhirnya, kita pengin menyalurkan rasa semangat itu dengan meracau sana-sini. Apalagii, kebetulan ada orang di samping kita. Dan dengan tahu ada orang bela-belain ikut melek sama kita, kita jadi super percaya dan mau menceritakan apa saja sama dia karena kita tahu dia benar-benar peduli sama kita.

Atau sebaliknya, karena melek sampai jam 3 pagi, kita lalu merasa capek secara fisik dan mental, jadinya kita nggak pengin lagi merumitkan sesuatu. Jadi kita cenderung ngomong hal pertama yang ada di dalam otak kita. Makanya kita bisa jujur banget kalau ditanya apa aja soalnya males mikir lagi. Kita juga jadi bisa ngomongin hal-hal yang selama ini kita pendam karena kita pikir bakal bikin orang nggak nyaman–karena ya jam segitu mana kuat otak dipakai mikir perasaan orang lain hahaha.

Terakhir, karena ceritanya udah nggak pakai mikir, kita akan melampiaskan keinginan kita untuk berbicara tentang diri kita yang selama ini ditahan-tahan karena takut dibilang narsis atau apalah apalah, makanya kita jadi bisa tahu seseorang menyukai apa, takut apa, cemas soal apa, dst. dst.

Ingat, manusia aslinya suka sekali berbicara soal dirinya sendiri, tapi di masyarakat yang semua orang suka berbicara tentang dirinya sendiri, seringnya kita nggak dapat kesempatan atau giliran untuk membicarakan diri kita karena harus mendengarkan mereka. Di sinilah kita harus luapkan!!1!!

Jadi saya setuju sih, kalau mau tahu orang itu seperti apa, ajak dia bicara jam 3 pagi. Jam 3 pagi ini jadi sejenis waktu untuk saling menemukan tentang diri kita dan orang lain, ini yang kemudian terjadi antara saya dan mas pacar tadi.

Eh sebentar deh, setelah saya pikir-pikir lagi, ini jadi masuk akal kenapa Tuhan meminta umatnya berdoa di sepertiga malam alias jam 3 pagi! Itu pasti karena di jam itu, umatnya lagi jujur-jujurnya….

BACA JUGA Meninjau Alasan Cewek Kalau Dipuji Cantik Sering Balas ‘Ah, Kamu Lebih Cantik!’ atau artikel lainnya di POJOKAN.



Tirto.ID
Loading...

No more articles