MOJOK.COHari ini hari berpisah dengan cita-cita nasional. Mari rayakan sambil mengenang perpisahan kita dengan cita-cita yang tak pernah kita sempat perjuangkan karena paksaan keadaan.

Hari ini, 25 Februari adalah hari berpisah dengan cita-cita nasional. Peringatan ini diambil dari hari di mana Ayah Nobita berpisah dengan cita-citanya sebagai pelukis, dan memutuskan untuk menjadi pegawai seperti yang kita tahu sekarang.

Pengalaman berpisah dengan cita-cita jelas bukan Ayah Nobita saja yang punya. Bisa jadi ayah saya, ayah kamu, dan ayah kita semua pernah mengalaminya. Atau mungkin bukan cuma ayah. Ibu, kakak, tetangga atau bahkan…

…kita sendiri juga menjadi korbannya. Kita nggak pernah tahu saja karena memang tidak ada lagi orang dewasa yang membicarakan cita-cita mereka.

Berbicara mengenai cita-cita saya pikir selalu bisa membuat kita sentimental. Apalagi, membicarakannya sambil sadar kalau sekarang kita nggak bisa mewujudkannya.

Ketika dewasa, kita sadar bahwasanya dunia ternyata bukan taman bunga. Hidup tidak mudah dan tidak seperti apa yang selalu kita bayangkan ketika kecil bahwa kita bisa menjadi apa saja, dan akan selalu baik-baik saja. Realitas ini memukul kita dengan sangat keras.

Mengejar cita-cita ternyata sulit. Bukan karena jalannya yang terjal, tapi terkadang ada keadaan-keadaan tertentu yang memaksa kita untuk melepas cita-cita kita. Hanya di buku motivasi saja rasanya cita-cita itu tampak sederhana. Mungkin karena itu mereka bisa laku.

Baca juga:  Merayakan Ulang Tahun Nobita, Bucin Pemalas Nomor Satu di Jagat Raya

Aslinya saya pikir lebih banyak cerita tentang orang yang gagal mengejar cita-citanya dibandingkan yang berhasil melakukannya. Saya menyaksikan sendiri banyak orang di sekitar saya menyerah pada cita-cita mereka. Bukan, bukan karena mereka malas atau cita-citanya dianggap terlalu sulit untuk bisa diwujudkan. Tapi karena mereka tidak pernah punya kesempatan. Keadaan memaksa menyerah begitu saja.

Saya punya teman yang pengin sekali jadi arsitek. Dia adalah orang yang sangat brilian. Saya pikir, akan mudah untuk dia mewujudkan cita-citanya. Tapi di tahun ke tiga dia kuliah, ayahnya meninggal. Dia terpaksa berhenti kuliah karena itu. Dia menyerah pada mimpinya karena harus bekerja apa saja untuk bisa membiayai kehidupan dia, ibunya dan adik-adiknya.

Teman saya yang lain, punya cita-cita ingin menjadi seorang illustrator. Dia punya kemampuan menggambar yang bagus, tapi orang tuanya tidak mengizinkan dia untuk mengambil kuliah desain. Akhirnya, dia menyerah pada cita-citanya dan memilih menuruti keinginan orang tuanya semata-mata untuk membuat mereka Bahagia. Ya, ironi memang, hidup di dunia di mana orang-orang selalu menasehati kita untuk mengejar mimpi dan cita-cita, tapi mereka juga lah yang mengubur dalam-dalam cita-cita kita.

Tapi yang paling menyedihkan tentu orang-orang yang bahkan tidak punya kesempatan untuk bercita-cita sama sekali. Mereka yang sejak lahir dihadapkan pada kesulitan sehingga mereka nggak punya waktu untuk memikirkan cita-cita karena harus terus menerus memutar otak bagaimana caranya besok mereka masih bisa mengisi perutnya.

Realitas ini membuat kita sadar kalau bertahan hidup bukan lagi memilih apa yang kita suka dan tidak kita suka. Seringkali, kita harus menelan semua yang tidak kita suka, lalu dipaksa belajar untuk menyukainya.

Baca juga:  3 Jenis Teman yang Pasti Kamu Temui dalam Hidup

Pada akhirnya, kita selalu dipaksa untuk menjadi realistis karena dunia tidak selalu menawarkan banyak pilihan. Kita sendirilah yang harus berkompromi dan melakukan banyak penyesuaian.

Huhuhu kenapa jadi orang dewasa itu sedih sekali. Kalau begini, rasanya pengin kembali ke masa kecil saja. Masa di mana kita bisa berbahagia oleh hal-hal sederhana. Kita nggak punya ekspektasi apa-apa tentang hidup, dan kita tidak merasa perlu untuk menjadi sesuatu.

Saya jadi pengin protes, siapa sih orang yang pertama kali mengajarkan kalau bercita-cita itu harus merujuk pada sebuah pekerjaan? Kenapa nggak merujuk pada keadaan di mana kita, jadi siapa saja, tidak jadi masalah, karena yang paling penting itu kita bisa tetap berbahagia?

Tapi sudahlah, marah dan menyesal juga nggak bisa merubah apa-apa karena semua sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya menerima dan berusaha melanjutkan kehidupan sebaik yang kita bisa.

Angkat gelasmu kawan, hari ini, mari sama-sama kita kenang bayangan diri kita di masa lalu sebelum kita mengenal kejamnya realita—bayangan tentang diri kita yang berhasil mencapai semua cita-cita itu. Kalau kamu mau, kamu bisa juga bercerita mengenai cita-cita apa yang terpaksa kamu tinggalkan di kolom komentar biar kita bisa saling menghibur dan meyakinkan diri kalau realita bukan jahat kepada diri kita sendiri saja.

BACA JUGA Cita-Cita Masa Kecil Seharusnya Bukan Jadi Dokter, Tapi… dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.