MOJOK.COPerasaan I don’t belong anywhere ini sungguh menyiksa dan menyakitkan. Setiap hari kita akan mencari apa yang salah dan apa yang hilang dalam hidup kita sehingga kita merasa berjarak dari sekitar.

Seorang teman pernah bercerita kepada saya tentang dirinya yang merasa berbeda dari kebanyakan orang. Gara-gara itu, dia merasa tidak pernah dimengerti dan tidak diterima oleh orang-orang di sekitarnya.

“Aku tuh kayaknya lahir di waktu yang keliru, atau malah di planet yang salah. Selama ini, supaya diterima aku cuma bisa pura-pura suka apa yang orang lain suka. Sebisa mungkin meniru orang lain untuk bisa disebut normal. Soalnya kalau aku jadi diriku, aku pasti dianggap aneh, freak”, gitu katanya.

Secara psikologis semua orang pernah merasakan perasaan seperti ini. Entah itu karena punya selera, pendapat, hingga kepercayaan yang berbeda dari kebanyakan orang. Perbedaan ini membuat seseorang menjadi tidak satu “frekuensi” dengan orang-orang di lingkungannya. Lalu merasa tidak “normal” dan tidak pernah dimengerti oleh orang lain. Perasaan I don’t belong anywhere seperti ini disebut “misfit”

Menjadi seseorang yang misfit jelas sungguh menyiksa dan menyakitkan. Setiap hari kita akan mencari apa yang salah dan apa yang hilang dalam hidup kita sehingga kita merasa berjarak dari sekitar padahal kita tuh pengin sekali dirangkul dan diterima kayak orang lain. Hiks.

Oh iya, ada alasan logis kenapa kita selalu ingin diterima seperti itu, lho. Ini semua berawal dari jaman nenek moyangnya nenek moyang hidup, Insting kesukuan mereka adalah sesuatu yang sangat kuat karena kalau nggak menjadi bagian dari suatu suku (dibuang, ditinggalkan), artinya adalah kematian.

Seseorang yang hidup sendirian di hutan tahun 50.000 sebelum masehi akan menjalani kehidupan seperti neraka ketika harus melakukan semua hal: memburu-mengumpulkan makanan-membuat api-memasak-berpindah tempat sendirian. Kalau misal dia entah bagaimana bisa bertahan dalam beberapa waktu dengan itu semua, dia tetap akan jadi target mudah untuk hewan predator atau suku lain yang pengin ngebegal harta bendanya.

Lalu, meskipun si manusia puba ini ternyata kuat sekali hingga berhasil selamat dari ancaman itu semua, dia akan tetap mati. Karena apa? Ya, karena kesepian. Kesepian tuh yaa, lebih menyakitkan dari mati dimakan hewan purba, tauuu!

Baca juga:  Mengapa Seseorang Suka dengan Ramalan?

Artinya, karena manusia purba masa itu tidak bisa hidup sendirian, mereka nggak punya pilihan lain selain menggantungkan hidupnya kepada sukunya.

Kebanyakan dari kita (hah, kita?) mungkin masih beruntung karena merasa misfit gara-gara sesuatu yang minor seperti “hanya” punya perbedaan soal selera. Perbedaan jenis ini masih bisa dikompromi karena tidak akan menyakiti siapa-siapa.

Yang jadi dilema adalah, jika kita merasa misfit karena punya pendapat atau bahkan kepercayaan yang berbeda. Misfit jenis ini bukan hanya membuat orang merasa berjarak dengan lingkungannya, baik itu dengan keluarga, atau teman; tapi juga dengan kenyataan.

Penyebab itu semua adalah, sejak lahir, kita sudah diikat oleh berbagai aturan dan norma yang dibentuk oleh lingkungan kita (keluarga dan masyarakat). Dan entah kenapa kita berkewajiban mengikuti itu semua.

Saat kita tumbuh, kita menyaksikan orang-orang yang tunduk patuh, tidak pernah mempertanyakan apa-apa ini lah yang menyatu dan jadi bagian dari masyarakat.

Ketika kita jadi satu-satunya orang yang merasa ada sesuatu yang salah soal itu. Dan menanyakan “kenapa?”, kenapa harus melakukan A, kenapa tidak boleh B. Tidak pernah ada yang bisa menjelaskan jawabannya kepada kita karena satu-satunya penjelasan yang mereka punya adalah, “semua orang melakukan itu, jadi lakukan sajalah”.

Kalau kita rebel malah melakukan B, kitalah yang salah. Kita akan dianggap menista. Lalu dijauhi dari lingkungan karena dianggap sumber kekacauan karena tidak seharusnya kepercayaan dan keyakinan–sesuatu yang jelas sangat tabu, dibawa ke ranah perdebatan.

Urusan kepercayaan dan keyakinan ini sifatnya zero-sum. Hitam-putih. Salah-benarnya tidak bisa ditawar-tawar. Kalau kamu yang beda, kamu yang salah. Karena kamilah yang “sudah pasti benar”. Tidak akan pernah ada kompromi soal hal ini.

Ketika orang sudah mempertanyakan itu, secara otomatis dia akan menginterogasi kembali apa yang percayai. Dia lalu meragukan segalanya, dan masuk ke dalam lubang krisis eksistensial. Kalau sudah gitu, yang akan dia lakukan hanya mencari dan terus mencari tempat yang bisa menerima kepercayaan dan keyakinan yang dia punya.

Baca juga:  Dedy Susanto, Doktor Psikologi Kontroversial dan Awamnya Kita Soal Kesehatan Mental

Yah, nggak semua orang mengalami perjalanan misfit yang seperti itu. Umumnya, itu hanya terjadi kepada filsuf atau pemikir-pemikir revolusioner yang selama ini pernah hidup.

Kalau kita sih, misfit-nya masih level ecek-ecek. Saya misalnya, kadang suka ngerasa misfit di Mojok karena di sini tuh ya ampuun, receh sekaliii. Padahal saya lebih suka berdiskusi tentang yang ndakik-ndakik.

Tapi ya nggak apa-apa, selama bisa dikompromikan–antara saya mengalah jadi receh juga, atau mereka mau nggak mau harus dengerin ocehan ndakik-ndakik saya. Tidak ada di antara kami yang harus berubah. Saya masih boleh menjadi diri sendiri.

Meskipun ya kadang-kadang saya tetap berharap dunia pararel itu betulan ada. Dunia di mana saya bisa membicarakan pemikiran neo-marxis sambil ketawa-ketawa bersama mereka.

Yang penting untuk dipahami adalah, tetaplah menjadi diri sendiri. Kalau kamu merasa “I don’t belong to anywhere” karena misfit di lingkungan yang tidak menerima dirimu, dan mau bagaimanapun usaha yang kamu lakukan dan kamu masih merasa tidak cocok dengan mereka, mungkin sudah saatnya kamu harus cari lingkungan baru.

Tapi kalau tidak mau pergi, kamu mungkin harus lebih keras mengkomunikasikan apa yang kamu inginkan jadinya, orang lain di sekitarmu bisa lebih mengerti kamu.

Yang jelas, kalau kata Nora Roberts, kita lah yang paling mengerti diri kita sendiri. Jadi, selama kita nggak mengejar apa yang kita inginkan, sampai kapan pun, kita nggak akan pernah memilikinya. Kalau kita nggak pernah nanya, jawaban yang kita dapat adalah “tidak”. Dan kalau kita nggak melangkah maju, mau sampai Indonesia bebas korupsi (yang kemungkinan membutuhkan waktu setidaknya 29.085 tahun) kita akan selalu berada di tempat yang sama.

BACA JUGA Alasan Kenapa Kita Harus Berhenti Mikirin Pendapat Orang Lain atau artikel lainnya di POJOKAN.