kantong plastik kantong ramah lingkungan kantong kain emisi pencemaran jakarta mojok.co
kantong plastik kantong ramah lingkungan kantong kain emisi pencemaran jakarta mojok.co

Setelah Kantong Plastik Dilarang: Emang Kantong Ramah Lingkungan tuh Kayak Apa?

MOJOK.COKantong plastik dilarang dan diganti kantong ramah lingkungan. Tapi kayak gimana kantong ramah lingkungan itu? Apakah itu jenis kantong yang suka menyapa pohon-pohon sekitar?

Pada Selasa pekan lalu (7/1), Gubernur Indonesia eh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengeluarkan Pergub 142/2019 berisi larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai. Sebagai gantinya, warga Indonesia, eh DKI Jakarta (aduh maaf lupa terus) wajib menggunakan kantong belanja ramah lingkungan. Peraturan ini disebutkan baru akan resmi dijalankan per Juni 2020.

Waaah, akhirnya pemerintah kita (hah, kita??) punya regulasi untuk mengurangi sampah plastik. Tadinya, baru Bali yang mengatur larangan serupa. Semoga dua provinsi ini disusul provinsi lain terus Indonesia bisa turun peringkatnya sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia!!1!!

Sampah plastik selama ini punya reputasi yang buruk sekali. Mereka terbang dan berceceran di mana-mana, menyumbat saluran air, dan mencemari lautan, termasuk nyolok hidung penyu dan ada di perut paus yang mati terdampar.


Aturan pelarangan ini terdengar indah, masuk akal, dan akan jadi solusi bagi permasalahan lingkungan kita. Hanya saja, ada satu hal penting yang kita lupakan. Itu entar kantong plastiknya diganti apa, ya? Kantong belanja ramah lingkungan tuh yang kayak apa, ya? Kantong kain kayak totebag, tas katun, atau tas flanel, gitu?

Hmm???

Emang mereka lebih ramah lingkungan?

KEJUTAAAAN. Jawabannya, salah. Kantong kain tidak lebih ramah lingkungan, malah punya dampak lingkungan yang lebih parah 🙂

Sebuah penelitian di Australia mengatakan bahwa kantong kain punya dampak lingkungannya sendiri 🙂 Kantong kain dari katun misalnya, kapasnya ditanam pake pestisida yang mencemari tanah, dan untuk bisa dipanen, kapas itu butuh dialiri ribuan galon air yang mana tentu saja mengancam persediaan air yang makin tipis karena krisis iklim sudah membuat banyak tempat kekeringan.

Baca juga:  Tidak Bercita-cita Masuk Harvard Saat SD Seperti Maudy Ayunda Itu Wajar

FYI juga, untuk punya dampak yang lebih baik bagi lingkungan dibanding plastik, kantong kain ini harus dipakai 20.000 kali dulu. Nah ini masalah lainnya, gimana mau dipakai 20.000 kali kalau salah satu kelemahan kantong kain ini adalah mudah kotor dan harus sering dicuci. Kotorannya bisa nempel ke makanan, yang tentu menambahkan vitamin J alias jorok kalau dipake jadi kantong makanan. Dan nyucinya, lagi-lagi harus pakai air, dan bikin boros apalagi kalau satu kota nyuci kantong kain di hari yang bersamaan.

Jangan lupakan juga harganya yang lebih mahal dari kantong plastik yang artinya menambah ongkos produksi. Karena produsen tidak mau rugi, tentu saja konsumen yang harus bayar, jadi kita harus mengeluarkan biaya tambahan setiap berbelanja atau pas lupa bawa kantong kain sendiri.

Dan karena tidak semua orang kaya dan baik-baik saja untuk bayar biaya tambahan, untuk keluarga miskin yang punya penghasilan rendah, beli kantong kain bikin mereka mengurangi jumlah makanan yang mereka beli.

Dan salah satu hal paling esensial, yang HANYA bisa dilakukan kantong plastik, bukan kantong-kantong lainnya adalah…

Bisa dipakai sebagai tempat sampah dan buang kotoran!

Ini jadi kocak karena (yang terjadi di kota-kota yang udah menerapkan pelarangan ini), mengurangi plastik sekali pakai–yang sebenarnya sering kita gunakan lagi untuk membuang sampah–bikin pembelian trash bag naik drastis! Padahal trash bag itu kan plastik yang lebih tebel dan besar dari plastik biasa, jadinya, sebenarnya kita nggak mengurangi jumlah penggunaan plastik, tapi memindahkan plastik kecil-kecil jadi plastik besar alias sama aja pake plastik.

Sebagai orang yang sudah lama skeptis dengan kebijakan anti plastik-plastik klub karena bagi saya itu hanya solusi jangka pendek, saya sih melihat pelarangan kantong plastik ini sebagai bentuk malas dan upaya kabur untuk membuat kebijakan yang bisa menyelesaikan masalah lingkungan sepenuhnya.

Baca juga:  Paus Sperma Tidak Minum Es Kopi Susu

Sama kayak ganti sedotan stainless yang menurut saya sia-sia karena bikin orang ngerasa udah menyelamatkan lingkungan hanya dengan langkah kecil seperti itu dan melupakan permasalahan besar yang sebenarnya.

Saya jadi ingat dulu pernah ngambil mata kuliah Global Governance. Di matkul itu, ada bahasan tentang sustainable development alias agenda pembangunan yang berkelanjutan. Agenda ini diprakarsai oleh negara-negara maju.

Di sebuah presentasi matkul itu saya pernah nanya, “Emang nggak bisa ya melakukan pembangunan tapi sejalan dengan kelestarian lingkungan alias nggak harus ngerusak alam gitu?”

Teman saya yang presentasi waktu itu jawab, “Bisa kok, apalagi di sistem kapitalisme yang ada saat ini. Kita cuman perlu biarkan pasar bekerja, kalau misal permintaan terhadap barang-barang ramah lingkungan naik, pasar pasti produksi barang itu.”


Terus saya nanya balik dong, “Emang yang dikasih pasar udah pasti jadi solusi?” Teman saya belum sempat menjawab tapi bel kelas sudah berbunyi dan pertanyaan saya tidak dijawab lagi.

Dari kasus sedotan stainless, saya tahu bahwa apa yang diberikan pasar bukan solusi! Dalam kasus sedotan plastik yang diganti sedotan stainless misal, gara-gara tren ini, kita jadi harus membli sedotan stainless agar dicap peduli lingkungan, padahal produksi sedotan stainless ini lebih membahayakan lingkungan dibanding produksi plastik! Belum lagi kita jadi konsumtif karena ingin mengikuti tren sebagai pecinta lingkungan.

Ini terjadi juga di bisnis-bisnis eco friendly yang lain, mulai dari suvenir pernikahan sampai tren pakai tote bag yang sekarang akan mulai digalakkan. Semuanya aja dilabeli ramah lingkungan biar mengikuti tuntutan pasar.

Baca juga:  Freckles Make-Up: Semakin Natural, Semakin Cucok

Pasar dengan segala produk ramah lingkungan dan tren eco friendly lagi-lagi hanya mementingkan profit bukan permasalahan lingkungan. Jelas, kapitalisme tidak bisa menyelesaikan masalah lingkungan.

Makanya lagi-lagi saya mengambil posisi skeptis dengan kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik ini. Jika kita mengembalikan plastik ke dalam khitahnya, alias tujuan awal dia dibentuk yaitu menyelamatkan lingkungan yang waktu itu darurat pemotongan pohon gara-gara pakai kantong kertas, maka kita sudah memilih pilihan yang dampaknya paling kecil ke lingkungan (ini berdasarkan penelitian lho).

Plastik tuh sebenarnya sudah hampir sempurna. Dia murah secara harga, nyaman, fungsional, anti-air, ringan, dan kuat. Saya sih melihat plastik itu kayak Indomie: Enak, murah, mudah, rasanya banyak, bikin kenyang. Cuman satu aja dosanya, kalau dimakan keseringan bisa bikin mati.

Plastik juga demikian, kalau digunakan keseringan, baru deh dia membahayakan. Saya pikir daripada melarang penggunaan plastik lalu beralih ke kantong lain yang nyatanya sama-sama membahayakan lingkungan, yang kita butuhkan sekarang sebenarnya pemahaman tentang bagaimana menggunakan plastik tidak sekali pakai, dan membiasakan melakukan daur ulang. Jadi, sampahnya bisa ditekan.

Lagian, saya pikir terlalu naif kita bisa menyelamatkan lingkungan hanya dengan menghilangkan penggunaan plastik. Padahal masih ada masalah emisi karbon, punahnya satwa, dan krisis iklim yang mana butuh kebijakan yang jauh lebih radikal dari sekadar menghilangkan plastik.

Tapi tentu saja kebijakan yang radikal nggak laku karena susah, makanya kebanyakan orang ngerasa nyaman dengan ngelarang plastik aja karena gampang dan populer.

BACA JUGA Nggak Usah Ganti Sedotan Stainless, Pilih Kasih Sama Sedotan Plastik itu Sia-sia atau artikel lainnya di POJOKAN.