MOJOK.COApa sih yang terjadi di Palestina? Apa bener ini konflik agama antara Yahudi versus Islam? Bisa nggak sih Indonesia nyerang Israel aja?

Karena kegilaan Israel yang menyerbu Masjid Al-Aqsa dan serangan balik dari Hamas di Yerusalem Timur baru-baru ini, banyak orang tiba-tiba ngasih perhatian ke Palestina.

Selain muncul solidaritas dan protes di seluruh dunia, artis-artis, selebgram, tiktokers sampai anggota karang taruna RT 05 Baleendah yang kerjaannya cuma gitaran di depan gang—tapi pada kabur pas disuruh azan—ikut-ikutan bahas Palestina.

Saya curi dengar mereka bertanya-tanya, “Apa sih yang terjadi di sana?”; “Apa benar konflik agama?”; “Mana ini negara Islam lain kok nggak ada yang bantuin?”; sampai pertanyaan, “Indonesia bisa nggak ngalahin Israel?”

Saya pikir bukan hanya pemuda karang taruna RT 05 yang punya pertanyaan kayak gitu. Banyak orang yang awam tentang apa yang terjadi di antara Palestina dan Israel sebenarnya ikut kepo juga.

Nah, biar bisa fa-fi-fu ngomongin Palestina tanpa blunder kayak Gal Gadot, saya bantu sarikan sejarah konflik Palestina-Israel dan apa saja yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Disclaimer: tulisan 1000-an kata tentu tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi secara lengkap, jadi, ini mah panduan singkat memahami konflik aja, yah.

Apa yang terjadi di Palestina? Apa ini Perang Agama?

Daripada konflik agama, Palestina-Israel ini lebih cocok disebut konflik persaingan nasionalisme karena yang diperebutkan itu wilayah, bukan klaim soal kebenaran ajaran agama. Biar jelas, kita mundur juauuh ke belakang untuk bisa dapat gambaran kenapa nasionalisme dan bukan agama yang jadi masalah utama.

Jadi gini.

Palestina itu nama wilayah yang diduduki orang Palestin. Orang Palestin macem-macem, sukunya ada arab, ada yang bukan, agamanya ada yang Islam, Kristen, Yahudi. Pada akhir abad ke-19, Palestina ini wilayah kekuasaan Ottoman. Di sana orang-orang hidup setara dan damai meskipun suku dan agamanya beda-beda.

Kebetulan, akhir abad ke-19 lagi rame banget gelombang nasionalisme di Eropa. Wilayah-wilayah yang asalnya manut sama empire besar mendadak pada pengin punya negara sendiri. Orang Yahudi yang mayoritas tinggal di Eropa ikut terpelatuk pingin punya negara sendiri juga. Mereka kemudian bikin perkumpulan yang dinamakan zionisme.

Baca juga:  Zaman Ketika Ulama Dikit dan Banyak Tukang Ceramah

Naaah, tahun 1917, Inggris ngejanjiin pendirian wilayah nasional untuk orang Yahudi di Palestina lewat Balfour Declaration, dengan balasan Yahudi harus ngasih dukungan ke Inggris.

Ini dia nih pangkal masalahnya.

Kok bisa-bisanya Inggris ngejanjiin wilayah Palestina buat orang-orang Yahudi padahal Inggris bukan siapa-siapanya Palestina??? Lha wong Palestina masih di bawah kekuasaan Ottoman.

Masalah selanjutnya, Inggris bukan cuma ngejanjiin Palestina ke Israel, tapi juga ke pemimpin wilayah Arab lain dengan syarat pemimpin Arab bantuin Inggris ngelawan Ottoman.

Karena semangat nasionalisme sampai juga ke wilayah Arab, para pemimpin bangsa Arab ini pengin dong bikin negara yang isinya orang Arab semua (ini namanya pan arabisme), jadinya mereka sepakat dengan tawaran Inggris.

Singkat cerita, Perang Dunia I terjadi. Ottoman kalah, Inggris akhirnya bikin koloni mereka di Palestina sambil bilang ke orang Palestin kalo mereka juga bakal jadi negara kalo misal dianggap udah siap. Nah, pada saat yang bersamaan Inggris juga menepati janji untuk memfasilitasi imigrasi yahudi ke Palestina.

Pada tahun 1920-1939 jumlah orang Yahudi di Palestina naik sampai lebih dari 320 ribu orang, itu sekitar 30 persen dari populasi Palestin. Orang Yahudi kan butuh tempat tinggal ya, nah, mereka beli-beli tanah sama orang Arab yang sebenarnya bukan orang Palestin, orang Palestin asli khususnya petani yang nggak tahu apa-apa tiba digusur dan lahannya diganti jadi tempat pemukiman orang Yahudi.

Orang Yahudi tiba-tiba mengontrol wilayah dan tenaga kerja di Palestina. Tentu itu penting bagi mereka agar bisa membuat komunitas Yahudi yang stabil. Tapiii, hal ini malah memperberat tensi antara orang Yahudi dengan orang asli Palestin antara tahun 1920-1930.

Akhirnya orang Palestin mulai mikir kalau mereka itu sebuah bangsa yang juga berhak punya negara. Mereka akhirnya muak dan memberontak ke Pemerintah Inggris tahun 1936.

Sayangnya pemberontakan itu berhasil diredam aparat bersenjata Inggris yang dibantu milisi Yahudi. Karena Inggris mikir kalau kejadian kayak gini pasti terjadi lagi. Mereka membatasi dulu kedatangan orang Yahudi dan menawarkan pendirian negara Arab dan Yahudi di Palestina dalam waktu 10 tahun.

Kebijakan ini bikin orang Yahudi dan Palestin marah. Yahudi marah karena dibatasi padahal mereka lagi butuh-butuhnya pergi dari Eropa soalnya ada kenaikan sentimen anti-Yahudi di Eropa. Orang Palestin marah karena… masak iya harus nunggu 10 tahun baru bisa punya negara?

Baca juga:  Mintanya sih Diseriusin, tapi Kenapa Perempuan Jual Mahal Melulu?

Setelah Perang Dunia II meletus, Inggris sadar kalau koloni mereka di Palestina ini kayaknya bakal lebih banyak ngerepotinnya daripada ngasih untung. Makanya mereka menyerahkan sengketa wilayah ini ke PBB (kabur ni ye).

November 1947, PBB membagi Palestina ke dalam negara Palestin dan Yahudi (jadi Israel) secara terpisah. Pembagian wilayah yang dilakukan PBB secara ukuran hampir sama, tetapi terpisah-pisah.

Negara-negara Arab nggak terima dengan pembagian yang diberikan PBB ini karena merasa kalau harusnya semua wilayah untuk orang Palestin. Maka terjadilah perang Arab-israel tahun 1948—yang menang Israel tapi, wqwq.

Perang ini malah bikin makin ruwet karena Israel jadi berhasil memperluas wilayah mereka dengan mencaplok 3 wilayah Palestina yang ditentukan PBB sebelumnya.

Sejak gencatan senjata tahun 1949, Israel mulai serius menjadi negara, sementara orang-orang Palestina sendiri semakin menderita karena wilayah mereka diambil. Mereka jadi pengungsi dan nggak ada tanda-tanda Palestina bakal jadi negara.

Tahun 1967 beberapa negara Arab ngajak perang Israel lagi, dalam perang 6 hari yang terjadi, Israel menang lagi, dan seperti yang terjadi sebelumnya, Israel mendapatkan kontrol di wilayah yang bukan punya mereka. Akhirnya, semua wilayah Palestina dikuasai Israel, deh.

Selanjutnya, seperti yang kita lihat sampai sekarang. Israel mulai bikin perkampungan di wilayah yang harusnya punya Palestina kayak Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Pas dikritik dan dibilangin kalo apa yang mereka lakukan itu ilegal, Israel bilang, “Ah masa illegal? Kan Palestina bukan negara?” SONGONG AMATTT.

Israel tuh punya masalah apa sih?

Ibarat orang yang menjadi jahat setelah disakiti orang lain, itu lah yang kayaknya terjadi ke orang Yahudi.

Pada masa lalu mereka kan jadi bangsa yang tertindas, budak, dimusuhi, diburu, dibunuh, dan berusaha untuk dimusnahkan. Makanya bagi orang Yahudi, cara apa pun akan dilakukan untuk bisa membuat negara zionis independen yang jadi satu-satunya cara bagi mereka untuk bertahan dari gelombang anti-Yahudi yang ada.

Apa Palestina pernah melawan?

Tahun 1930, terjadi sebuah peristiwa yang dinamai “intifada”, dalam Bahasa Indonesia intifada artinya artinya “menggoyang”.

Baca juga:  Menghabiskan Malam Tahun Baru dengan Menonton Film-Film Berikut

Orang Palestina berusaha menggoyang kekuasaan Israel dengan cara memboikot produk Israel, menolak bayar pajak, melakukan protes, dll. Yang sayangnya dibalas Israel dengan serangan brutal oleh angkatan bersenjata hingga menimbulkan banyak korban jiwa.

Tahun 2000 juga terjadi intifada kedua yang disebabkan oleh kandidat Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, membawa 1.000 pasukan bersenjata ke kota Yerusalem yang menimbulkan protes masif dan membuat lebih dari 3.000 orang Palestin, dan 1.000 orang Israel meninggal.

Orang Palestin sampai sekarang secara konsisten selalu melawan dengan cara apa pun yang bisa dilakukan…

…tapi ujung-ujungnya ya dipukul mundur dengan cara yang jauh lebih mengerikan.

Apa yang bikin konfliknya awet?

Kalau melihat secara objektif, apa yang terjadi di Palestina ini udah nggak cocok disebut konflik. Lebih tepat disebut opresi atau penjajahan karena sangat asimetris. Palestina hampir nggak punya power apa-apa.

Hamas cuma punya roket sementara Israel terus-menerus memperbarui peralatan militer mereka. Israel membangun tembok yang tinggi dan membuat sistem pencegahan roket yang bikin serangan roket dari Hamas kadang-kadang cuma jadi kayak kembang api tok.

PIYE NEGARA-NEGARA ARAB? MANA OKI?? SOLIDARITAS ISLAM???

Ya kan udah perang dua kali. Kalah. Dan bikin makin parah keadaan… Lagipula pemimpin negara-negara Arab nggak bisa diharapkan juga… pada sibuk sama kepentingan mereka sendiri.

Apa seluruh dunia diam saja?

Intifada pertama sebenarnya menghasilkan perjanjian OSLO dan resolusi 242 PBB yang intinya Israel diminta untuk mundur dari teritori yang bukan milik mereka dan semua negara harus mengakui hak Palestina dan Israel sebagai sebuah negara—tapi ya… ini jadi sesuatu yang tidak terjadi.

Piye peluang Indonesia bantu Palestina? Bisa nggak Indonesia ngalahin Israel?

Sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945, “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,” Indonesia sih harusnya fardu ain membantu Palestina. Tapi… bukan dengan perang ngelawan Israel (negara-negara Arab aja kalah dua kali, apalagi kita).

Daripada perang sih mending ngerahin netizen Indonesia buat buli Inggris aja. Ini semua kan gara-gara mereka yang mulai semuanya.

BACA JUGA Pengalaman Ketemu Hamas di Palestina dan Bekal Kamu untuk Debat dengan Akun Pro-Israel dan tulisan Nia Livinia lainnya.