MOJOK.COAda beberapa kebiasaan yang dilakukan orang-orang di Sudan jangan dibawa ke Indonesia. Bahaya betulan, Bosque. Bahaya.

Setiap negara punya kebudayaan atau kebiasaan unik masing-masing. Misalnya, suatu hari nanti kamu hidup lama di Afrika wabilkhusus di Sudan kayak saya, tolong jangan bawa kebiasaan-kebiasaan di Sudan ke daerah asalmu. Plis jangan. BAHAYA.

Percaya sama saya, kamu bisa jadi bahan ghibah tetangga satu kecamatan, apalagi kalau kebiasaan-kebiasaan masyarakat Sudan seperti di bawah ini yang kamu bawa.

Wudu pakai air dari botol Aqua 250 ml

Kamu jelas tahu kalau iklim Sudan itu sangat panas karena daerahnya dikepung gurun pasir. Negeri di Afrika ini benar-benar antonim paling paripurna dari Indonesia yang airnya melimpah ruah.

Air menjadi salah satu harta—mungkin satu-satunya—yang paling berharga di Sudan, nggak kayak di Indonesia yang harta paling berharganya adalah keluarga (terutama kalau keluarganya pejabat atau politisi, eh).

Di Sudan, sumber utama airnya berasal dari Sungai Nil, yang panjangnya melewati beberapa negara di Afrika dan Timur Tengah. Andai saja Ethiopia (posisinya ada di utaranya Sudan) mau membuat bendungan raksasa buat nampung air Sungai Nil, orang-orang Sudan bisa mati perlahan karena tak punya sumber air lagi.

Nah, karena sumber utama air dari Sungai Nil, maka mayoritas masyarakat Sudan kehidupannya sangat tergantung dengan sungai ini. Kalau pun ada sumur, itu pun tidak banyak dan barangkali perlu menggali sangat dalam sampai menggali nyaris ke inti bumi. Eh, nggak ding, yang itu tadi berlebihan, bukannya air yang keluar malah magma kan ya remoook, Bos.

Ini tadi saya cerita kalau belum musim panas lho ya. Jadi kalau musim panas keparat sudah datang, dari pagi sampai malam bisa benar-benar nggak ada air. Jika hal itu terjadi, ya siap-siap aja merasakan hawa panas ala sauna gratisan yang uwu sekali tanpa air sama sekali.

Nah, problem dari air langka selain untuk minum adalah persediaan untuk bersuci. Pemakaiannya harus ngirit banget. Misalnya mau pakai buat wudu, air satu botol Aqua 250 ml harus cukup buat wudu. Nggak boleh lebih.

Untungnya negeri ini adalah penganut mazhab Maliki yang dalam beberapa hal berbeda dengan mazhab Syafi’I di Indonesia. Seperti penggunaan air wudu dengan sedikit air memang diperbolehkan dan sudah dianggap sah. Asal jangan satu botol Aqua buat mandi junub aja sih, kalau itu sih ya jelas nggak sah lah. Mending situ tayamum aja, toh debu ada banyak kok di Sudan.

Masalahnya, sebagian orang Indonesia yang baru pertama ke Sudan cukup sulit menerapkan kebiasaan tersebut. Terutama karena orang muslim Indonesia udah kadung terbiasa wudu pakai air berlimpah. Jika hal itu sampai kamu lakukan di Sudan, kamu bisa ditegur orang setempat karena dianggap mubazir menggunakan air.

Sebaliknya, kebiasaan wudu model begini juga sebaiknya jangan kamu lakukan di Indonesia, bisa jadi bahan bully-an netizen maha-benar. Masih ingat kan kayak kasus Sandiaga Uno yang wudu cuma pakai air segayung?

Baca juga:  Indonesia Jauh Lampaui Target dan Berjaya di Asian Para Games 2018

Sebenarnya, nggak apa-apa juga kalau mau wudu kayak Sandiaga Uno, asal bener-bener tahu niat dan tata cara ibadah ala mazhab Maliki. Atau sekalian, saran saya, belajar aja ke Sudan biar kaffah penderitaannya. Anu, sekalian biar bisa paham bagaimana caranya menghargai air kayak orang-orang Sudan.

Salat di sembarang tempat

Perlu saya jelasin dulu, masyarakat Sudan adalah masyarakat yang taat beribadah pada awal waktu. Hal ini bisa kamu ketahui kalau kebetulan kamu nyasar sampai Sudan. Di sana, orang-orang cukup terbiasa melaksanakan salat di mana saja, kecuali tempat-tempat yang memang dilarang digunakan untuk salat.

Jadi, ketika kita berkunjung ke Sudan. Salah satu pemandang yang menarik adalah ketika tiba waktu salat, masyarakat Sudan akan sesegera mungkin melaksanakan salat sak-dek-sak-nyet. Entah itu mau berjamaah atau salat sendiri.

Tidak jarang banyak orang yang salat di pinggir jalan, di pom bensin bagian antre bensin itu, di pasar atau di depan toko mereka. Kalau tukang sayur ya salat di samping gerobaknya. Walaupun panasnya naudzubillah setan, mereka nggak peduli. Mungkin mereka lebih takut panasnya api neraka ketimbang panasnya udara di Sudan (ceilah pesan moral).

Lalu wudunya gimana dong kalau salat di sembarang tempat gitu?

Ya kayak di atas tadi cara wudunya. Pakai botol kecil doang. Asal mengusap anggota tubuh yang wajib kena air wudu. Udah.

Lagipula, najisnya mazhab Maliki kan beda dengan najisnya mazhab Syafi’i. Asalkan sudah betul-betul kering, Maliki tidak menganggap hal yang tadinya najis jadi tidak lagi najis. Artinya hamparan bumi di Sudan itu adalah tempat suci yang layak dipakai untuk salat.

Meski begitu, saya tidak rekomendasikan hal ini kamu lakukan di Indonesia. Bukan apa-apa, kamu bisa aja dianggap sebagai penganut aliran baru kalau melakukan ini. Apalagi kalau kebetulan direkam lalu diposting orang yang lagi lewat.

Netizen bisa aja ngamuk kalau lihat postingan itu. Salat kok di sembarang tempat? Di pinggir jalan lagi? Kan itu tempat orang-orang lewat, emang bisa khusyu’? Memangnya suci? Dan pertanyaan-pertanyaan penghakiman lainnya.

Keajaiban boker tanpa disentor

Kamar mandi adalah salah satu representasi bagaimana penghuninya peduli atau tidak dengan kebersihan. Jika kamar mandi kotor tak terawat, maka bisa diasumsikan bahwa orang yang tinggal di situ adalah orang yang jorok. Itu adalah kredo yang dipahami di Indonesia, tapi tidak di Sudan.

Di Sudan, kamar mandi adalah tempat yang sangat menyeramkan. Tidak seperti di Indonesia yang biasa ketemu serangga, tikus, atau demit, di Sudan kamu akan ditemani kotoran manusia yang berserakan.

(((kotoran manusia yang berserakan)))

Bagaimana saya bisa tahu? Hayaaa karena itulah yang terjadi dengan asrama tempat tinggal saya selama 4 tahun tinggal di Sudan. Haryokonoooh, ambyar banget kan, Bosque?

Baca juga:  Indonesia Lebih Butuh Program Ex Amnesty daripada Tax Amnesty

Entah ini kebiasaan dari mana asalnya, orang-orang Afrika yang merantau di Sudan itu punya kebiasaan kalau boker nggak pernah mau disentor. Bagi mereka yang penting itu cebok. Udah titik.

Tanggung jawab menyentor tokai adalah orang selanjutnya yang mau berak. Ini kesepakatan bangsat yang sudah jadi kultur bersama di Sudan, dan sebagai pendatang, saya mau nggak mau harus beradaptasi dengan itu.

Masalahnya, bukan cuma itu problem peliknya. Kan kamu tadi tahu bahwa di Sudan itu air sangat sulit didapat, artinya akan ada sebuah peristiwa nggatheli di mana orang yang mau pakai WC pun ogah menyentor tokai orang sebelum dia.

Lantas yang terjadi bijimana, Setaaan?

Ya bukan suatu pengalaman menyenangkan kalau kamu menemukan tumpukan tokai manusia yang bertumpuk-tumpuk di lubang WC, bahkan kadang sampai kecer ke mana-mana. Meski kadang ada yang bentuknya kayak piramida juga sih.

Saya itu bukan masalah jijik atau gimana, saya itu cuma khawatir kalau saya yang kebetulan lagi ngerokok terus kebelet boker dan buru-buru masuk ke WC, sampai lupa dengan adat istiadat orang-orang Afrika di Sudan itu.

Ya kan kamu tahu sendiri kalau tokai bisa mengeluarkan gas yang mudah kesulut api, terutama dari api rokok di ruangan sempit kayak kamar mandi begitu. Bisa-bisa bakal ada berita bahwa seorang mahasiswa Indonesia tewas terkena ledakan gas tai manusia di Sudan.

Kecelakaan macam apa itu? Modar karena tai orang Sudaaan, Cuuuuk. Nggak keren babar blas.

Hal lain yang bikin saya heran itu adalah, itu orang-orang Afrika di Sudan gimana ya, kok bisa gitu berak di tempat yang jelas-jelas masih ada tainya? Heran saya, kok tetep bisa boker santai gitu lho!

Apalagi, ketika saya masih di Sudan dan tinggal bersama orang-orang Afrika, saya pernah tahu bagaimana WC asrama kami penuh tai manusia. Dan gara-gara itu, meski sudah berusaha dibersihkan sekalipun WC-nya tetep mampet. Kata temen satu asrama saya, ini karena tainya orang-orang afrika itu keras luar biasa. Buseeet, itu tai apa Semen Tiga Roda?

Masalahnya kebiasaan ini tidak hanya terjadi di Sudan saja, di negara-negara yang ada orang Afrikanya juga sering ada kasus begini. Berak nggak disentor, yang penting cebok. Tentu saja ini bukan berarti semua orang Afrika atau orang Sudan begitu ya, kebetulan saja saya sering menemukan oknum orang-orang Afrika yang eksistensinya kelewatan sampai urusan tainya kepengin dilihat orang lain segala.

Satu pesan yang bisa saya sampaikan di sini, plis jangan lakukan kebiasaan ini di Indonesia. Soalnya, selain kamu bakal jadi bahan ghibah tetangga satu kecamatan, kamu bisa dirajam sama Pak Camatnya sekalian kalau sampai melakukan kebiasan ini.

Dan satu lagi, nggak usah sok-sokan bilang keblabasan adaptasi! Kuwi ramashoook!!1!1

BACA JUGA Cara Brutal Menikmati Indomie ala Orang Sudan dan tulisan Nur Hasan lainnya.