_atrk_opts = { atrk_acct:"3c3Os1rcy520uW", domain:"mojok.co",dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();
Rubrik: Esai

Sentilan Fahri Hamzah ke Nadiem Makarim Adalah Ancaman bagi Dunia Rasan-rasan Kita

/mzs/esai/sentilan-fahri-hamzah-ke-nadiem-makarim-adalah-ancaman-bagi-dunia-rasan-rasan-kita/amp/

MOJOK.COSentilan Fahri Hamzah soal program yang digagas Nadiem Makarim itu bahaya sekali. Dunia rasan-rasan rakyat bisa dirampas ini!

Di sebuah toko buku yang masih sepi, beberapa karyawan duduk mengobrol. Satu orang bertindak sebagai keynote speaker, sementara yang lain menyimak dengan tekun. Dari jarak yang agak dekat saya dapat mendengar obrolan mereka. Topiknya nggak main-main, soal perseteruan antara Krisdayanti (KD) dengan anaknya, Aurel.

Sesekali terdengar ada timpalan atau sanggahan dari para pendengar tapi dengan cekatan dibantah atau diluruskan oleh si keynote speaker. Penguasaan si keynote atas masalah keluarga KD itu membuat saya menduga, jangan-jangan karyawan ini masih kerabat atau tinggal serumah dengan KD atau Anang. Jadi pekerjaan di toko buku ini kedok saja.

Akan tetapi dugaan saya itu patut diragukan ketika saya ingat lagi betapa banyaknya acara televisi yang menayangkan aktivitas keluarga artis. Infotainment dengan aneka ragam gaya diputar saban hari plus berjibunnya kanal pribadi artis.

Dari sana, saya jadi maklum jika semua orang kini mengenal sangat dekat dengan semua artis. Hampir seperti bagian keluarga sendiri.

Kita, misalnya, jadi tahu rupa dapur Ruben Onsu, merek kulkasnya, kamar tidurnya, jumlah koleksi sepatu istrinya, nama kuda anaknya, tagihan listriknya, nama para asistennya, dan juga hampir semua masalah yang menimpanya.

KD sendiri memang tidak punya acara di televisi seperti halnya Diary Onsu, Keluarga Bosque, atau Janji Suci Raffi dan Gigi, tapi konfliknya dengan Aurel sempat jadi berita yang setiap hari nongol di acara gosip atau beranda media sosial.

Setiap perkembangan kecil dari kehidupan KD dan Aurel pun jadi berita baru saat itu. Siapa saja yang sudah siap menyanyi di acara pernikahan Aurel nanti, sikap KD yang dingin atas album solo anaknya yang viral, sampai terawangan paranormal tentang Aurel.

Gila, informasi yang detail sekali. Bahkan jauh lebih detail daripada laporan harta pejabat.

Berita-berita itu bisa menjadi bahan gosip yang renyah di warung, tempat kerja atau di mana saja ketika sedang kumpul-kumpul. Barangkali faktor inilah yang bikin infotainment jadi candu.

Masalahnya, candu itu agaknya tidak bisa dirasakan oleh Fahri Hamzah. Sosok yang belum lama menerima medali penghargaan dari Presiden Jokowi. Setelah mendapat penghargaan itu, Fahri Hamzah melempar sentilan ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Dalam tweet-nya, selain mengkritik kebijakan Menteri Nadiem Makarim, blio juga terlihat menyesalkan konten-konten televisi kita selama ini.

Menurut Fahri Hamzah, ketimbang Pak Menteri Nadiem Makarim membuat kebijakan membagikan pulsa kepada siswa yang tentu akan menyedot banyak anggaran dan belum tentu efektif, Fahri Hamzah mengusulkan agar lebih baik memaksimalkan fungsi televisi sebagai media pembelajaran.

Di tengah sejumlah kendala sekolah online yang kerap diberitakan, usulan ini menjadi kabar baik. Televisi hampir ada di setiap rumah, tidak perlu mencari sinyal ke atas gunung atau pinggir jurang, dan tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam untuk beli paket data. Begitu ide besar dari Fahri Hamzah.

Oke deh, Pak Fahri Hamzah, usulan sampean ini memang brilian. Hanya saja Pak Fahri harus tahu, infotainment telah sukses memberi ruang untuk melupakan barang sejenak masalah rakyat selama ini.

Siaran-siaran tak mendidik sudah menjadi pelarian dari kegelisahan utang di toko tetangga, angsuran KPR, pertengkaran dengan pasangan, atau jeda dari hiruk pikuk perdebatan politik dalam menangani pandemi.

Lebih-lebih jika berita tersebut berkaitan dengan figur publik, terutama kalau figurnya lagi kena nasib buruk. Mulai dari soal-soal sepele seperti baju Nikita Mirzani yang keserimpet hingga terjerat narkoba, perselingkuhan, perceraian, bahkan sampai gosip-gosip pejabat korupsi.

Eskapisme yang ditawarkan oleh berita-berita para pesohor itu mendorong rakyat Indonesia untuk terus menantikan babak-babak baru dari kasusnya. Spekulasi apakah pernikahan Aurel dan Atta jadi digelar di Gelora Bung Karno atau apakah KD dan Raul Lemos akan datang di pernikahan Aurel kelak juga jadi berita yang ditunggu-tunggu.

Jauh lebih ditunggu ketimbang harus mengelus dada melihat pemerintah menangani pandemi dengan cara nekat. Tetap mau menggelar pilkada, misalnya. Benar-benar kayak dagelan yang lebih menjemukan daripada striping sinetron. Itu lagi, itu lagi tokoh antagonisnya.

Karena itu, meskipun berita-berita politik dan kabar soal pandemi menggelegar, banyak masyarakat lebih doyan untuk tetap mengikuti gosip artis. Tak masalah kalau terus diulang di beberapa acara gosip. Nyatanya gosip artis jauh lebih mudah dimengerti ketimbang gosip kebijakan pemerintah.

Apalagi infotainment terbukti sukses memanjakan kita dengan menyuguhkan semuanya. Transparansinya terasa begitu nyata. Seperti kita bisa tahu data berapa isi rekening KD misalnya. Hal yang berbanding terbalik dengan isi rekening pejabat negara yang penuh rahasia.

Oleh karena itu, saya waswas sekali dengan sentilan Fahri Hamzah ke Nadiem Makarim ini. Usulan yang berisiko jadi kabar buruk bagi dunia rasan-rasan kita, netizen Indonesia yang sudah expert dalam dunia perghibahan dunia akhirat.

Lebih-lebih kalau tujuan sesungguhnya dari kritik Fahri Hamzah itu bukan ke Nadiem Makarim, tapi justru upaya untuk menggusur acara-acara ajaib gosip artis. Lantas dengan memanfaatkan momentum pandemi ini, acara-acara itu diganti dengan acara yang lebih edukatif.

Bila rencana itu benar-benar berjalan, bakal ada banyak program kasak-kusuk yang akan dipangkas. Artinya, sumber rasan-rasan masyarakat otomatis akan berkurang.

Lalu saya jadi membayangkan ketika duduk lagi di toko buku yang sama esok hari, saya mendengar karyawannya bicara soal restorasi Meiji, gosipin Perang Diponegoro, sampai debat kusir cara menghitung luas jajar genjang.

Tentu sambil diselingi rasan-rasan jalannya pemerintahan Presiden Jokowi karena acara gosip artis sudah tidak punya jatah tayangan lagi.

BACA JUGA Menghitung Kekayaan Krisdayanti dan tulisan Muhammad Zaid Sudi lainnya.

Leave a Comment