Nabi yang dikisahkan pertama kali dalam Al-Quran adalah Yunus, yang juga disebut dengan nama Dzun Nun atau Sahibul Hut.

Kisahnya diturunkan kepada Nabi saw. dalam wahyu kedelapan, ketika dakwah Nabi saw. masih dalam tahap-tahap awal dan banyak mengalami persekusi dari penduduk Quraisy.

Yunus adalah seorang nabi Israel yang diutus ke daerah Ninawa (sekarang Mosul, Irak). Lama Nabi Yunus mengajak penduduk Niwana ke jalan kebenaran, percaya pada satu Tuhan, meninggalkan penyembahan berhala dan menahan diri dari praktik yang zalim.

Tapi tidak banyak yang menanggapi seruan Nabi Yunus. Alih-alih menerima, sebagian besar dari mereka justru menantang. Ketika Nabi Yunus mengingatkan mereka tentang siksa yang timpakan kepada kaum Ad dan Tsamud akibat kecongkakan mereka, penduduk Niwana hanya tertawa.

Akhirnya, Nabi Yunus menyerah dan berdoa kepada Tuhan agar menghukum orang Ninawa. Ia kemudian menerima wahyu bahwa kaumnya akan dihancurkan dalam tiga hari. Ketika warta ini disampaikan kepada kaumnya, mereka menanggapinya dengan ejekan.

“Silakan saja,” kata mereka. Siapa takut.

Karena kesal, Nabi Yunus meninggalkan Ninawa. Ia berjalan menuju pantai lalu menumpang kapal, dan pergi. Sepeninggal Nabi Yunus, langit di Ninawa berubah warna menjadi merah darah. Penduduk ketakutan. Mereka teringat dengan perkataan Nabi Yunus tentang siksa yang akan tiba.

Mereka panik. Mereka berusaha mencari Yunus tapi tidak menemukannya. Oleh pengikut Yunus yang di sana, mereka akhirnya diajak bertobat dan berdoa meminta agar Allah memaafkan mereka. Permohonan mereka dikabulkan, tidak ada bencana yang terjadi.

Baca juga:  Keluarga Ideal Baim Wong dan Raffi Ahmad untuk Kaum Melarat Indonesia

Sementara itu, kapal yang ditumpangi Nabi Yunus telah sampai di tengah laut. Malam gelap. Angin yang semula tenang, di malam itu bergelora. Kapal terombang-ambing dalam amukan badai. Mengikuti tradisi yang dipercayai para pelaut kala itu, prahara itu terjadi karena penguasa laut sedang meminta korban.

Kapten kapal pun mengumpulkan nama-nama penumpang kapal untuk diundi. Nama Yunus keluar. Ketika pertama kali nama itu muncul kapten kapal dan awak merasa iba, sebab mereka tahu orang yang namanya berkali-kali muncul ini adalah orang terhormat.

Undian diulang. Nama yang sama muncul kembali, dan begitu lagi pada kali berikutnya. Akhirnya mereka memutuskan, Nabi Yunus memang yang diminta oleh laut. Peristiwa mengerikan itu pun terjadi. Di malam yang gelap, di tengah gelombang, tubuh pria sepuh itu dilemparkan ke dalam lautan.

Byuuuur.

Nabi Yunus tenggelam. Ia menyangka dirinya segera mati. Tapi ketika ia merasa bisa bergerak, ia menyadari bahwa Allah masih menyelamatkan dirinya. Ia kini berada di tempat yang begitu gelap. Al-Quran menyebutnya sebagai kegelapan tiga lapis. Ia berada di dalam perut ikan besar, di kedalaman samudra, dan di tengah malam buta.

Yunus berada di dalam perut ikan besar selama beberapa waktu. Ada yang menyebut tiga hari, mufasir lain menyebut 40 hari.

Di kegelapan yang menyiksa itulah Nabi Yunus lalu membuat pengakuan. Sebuah pengakuan yang diabadikan dalam al-Quran, “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu min ad-dhalimin.” (Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).

Baca juga:  Poligami karena Merasa Selevel dengan Nabi Adalah Sikap Sombong dan Bodoh

Ikan besar itu lantas memuntahkan Nabi Yunus ke pantai. Tubuhnya lemah dan kulitnya konon mengalami luka akibat cairan di lambung ikan. Nabi Yunus terdampar di bawah pohon ara yang menjadi pelindungnya selama sakit.

Ketika akhirnya ia sehat dan kembali ke Ninawa, Nabi Yunus tidak hanya menemukan penduduk di sana yang diselamatkan oleh Allah dari azab, tetapi kebanyakan dari mereka sekarang mengikuti pesan-pesan yang selama ini ia dakwahkan kepada mereka.

Kezaliman apa yang diperbuat Nabi Yunus, seperti dalam pengakuannya? Keputusasaan.

Nabi Yunus mungkin lelah dan merasa bahwa penduk Ninawa sudah tidak mungkin diperbaiki lagi. Sudah sepantasnya mereka dijatuhi hukuman. Bertahun-tahun ia berdakwah dan gagal. Ia merasa akan sia-sia saja mengajak mereka bertobat di tenggat waktu yang begitu pendek untuk menghindari azab.

Maka ia pergi sebelum hari diturunkannya azab itu tiba. Ia kecewa dengan kaumnya. Ia putus asa. Dan keputusasaan inilah yang merupakan tindakan zalim. Sebab di sana ia meminggirkan Tuhan dalam kemungkinan dan harapan. Campur tangan Tuhan ditiadakan.

Karena itu, kita bisa mengerti mengapa kisah Nabi Yunus diceritakan kepada Nabi saw. di awal kariernya sebagai seorang utusan. Kisah ini diberikan untuk meneguhkan semangatnya menghadapi tantangan dakwah.

Dan semangat inilah yang terlihat dalam peristiwa Thaif. Ketika kehadirannya disambut dengan cacian, hinaan, dan bahkan serangan fisik. Beliau terluka dan berdarah oleh lemparan batu. Nabi yang kelelahan itu harus menyelamatkan diri dan bersembunyi.

Baca juga:  Mengapresiasi Kericuhan yang Terjadi pada Kongres HMI

Ada satu hal yang menarik dari peristiwa Thaif, yang diceritakan oleh Khaled Abou El-Fadl. Pada saat Nabi bersembunyi dari kejaran penduduk Thaif, ada seorang budak laki-laki melihat Nabi. Budak itu merasa kasihan dan bersimpati kepada beliau. Ia lalu membawakan anggur kepada beliau.

Nabi kemudian mengetahui bahwa budak laki-laki ini berasal dari Ninawa; kota Nabi Yunus ratusan tahun yang lalu. Pertemuan ‘kebetulan’ itu, seolah menghubungkan kembali Nabi saw. dengan pelajaran dari kisah Nabi Yunus.

Perlakuan penduduk Thaif tersebut Nabi saw. tidak mendoakan agar mereka dikutuk atau semacamnya. Bahkan ketika Malaikat Jibril geram atas kekurangajaran mereka dan meminta izin kepada beliau agar diperbolehkan menimpakan gunung kepada mereka, sebagaimana dikisahkan dalam kitab-kitab sirah, Nabi mencegahnya.

Untuk mereka Nabi saw. berdoa, “Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku, sesungguhnya mereka belum mengerti.”


Sepanjang Ramadan, MOJOK menerbitkan KOLOM RAMADAN yang diisi bergiliran oleh Fahruddin FaizMuh. Zaid Su’di, dan Husein Ja’far Al-Hadar. Tayang setiap waktu sahur.