MOJOK.COJangan percaya kalau ada orang bilang kalau santri Gontor itu setengahnya Muhammadiyah, setengahnya NU. Tidak, tidak kayak gitu.

Kalau kamu menyempatkan main ke Pesantren Gontor, hal pertama yang bakal bikin kamu notice adalah keberadaan tulisan gede terpampang: “Ke Gontor Apa yang Kau Cari?”

Sebuah tulisan yang saya rasa bakal membekas di memori terdalam bagi siapa saja yang pernah jadi santri di Pesantren Gontor.

Begitu filosofis, sekaligus sulit dijawab. Mungkin karena sulit dijawab, pertanyaan itu pun akhirnya jadi begitu membekas di setiap alumni Gontor (baik yang lulus baik-baik maupun yang tidak).

Saya kadang bertanya-tanya, apa jangan-jangan justru karena pertanyaan itulah Pesantren Gontor banyak melahirkan orang-orang yang telah mewarnai Indonesia?

Sebut saja Idham Chalid, Hasyim Muzadi, Hidayat Nur Wahid, Din Syamsuddin, Amin Abdullah, bahkan sampai Abu Bakar Ba’asyir.

Soal nama terakhir, kamu tak perlu protes. Blio kan ya tetep itungannya “mewarnai” Indonesia juga. Hehe.

Dari tokoh-tokoh di atas, saya kadang mikir, bagaimana sebuah pesantren bisa melahirkan alumni yang plural begitu? Beda-beda haluan. Punya kecenderungan Islam yang tak jarang berseberangan. Bahkan berasal dari golongan ormas yang berbeda.

Oleh sebab itu, jangan percaya kalau ada orang bilang kalau Gontor itu anteknya Wahabi, isinya Muhammadiyah, ajarannya NU, simpatisan Persis, atau apapun. Tidak, tidak ada yang seperti itu.

Baca juga:  Belajar dari Joko Susilo: Wibawa Guru dan Humor Slapstik yang Krik-Krik

Pesantren Gontor itu—setidaknya sesuai pengalaman saya bertahun-tahun nyantri di sana belasan tahun lalu—netral di atas dan untuk semua golongan. Semua dipelajari, semua dikritik, semua dibahas, semua dirembug.

Barangkali penetralisir itu hadir karena para pendiri Gontor tak pernah muluk-muluk berharap pada santri-santrinya.

“Kalian saya anggap menjadi alumni sukses jika mau mengajar di surau-surau kecil di pelosok negeri.” Begitu pesannya.

Simpel banget, tak kelihatan mewah sama sekali. Meski begitu, bagi alumni, efek dari pesan sederhana itu begitu luar biasa. Sebab, setinggi apapun jabatanmu di dunia, kamu tak akan berarti jika tak memberi manfaat kepada lingkunganmu.

Oh, iya sebelum saya lanjut nyerocos soal Gontor, ada baiknya saya memperkenalkan latar belakang saya dulu. Anu, saya kebetulan lahir procot dari rahim NU.

Maksudnya, ibu saya NU, bapak saya NU, kampung saya NU, masjid saya NU, bahkan mungkin ikan lele saya juga NU.

Itu yang jadi sebab sebelum menyandang status sebagai santri Gontor, saya pernah nyantri juga di pesantren NU di daerah Jawa Tengah. Intinya, NU banget lah saya ini.

Maka dari itu, ketika akhirnya saya akan “dipindah” mondok dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, saya tak punya ekspetasi apa-apa selain.. wah, bakal diajarin klenik ini saya, kayaknya.

Maklum, ketika masih kinyis-kinyis, dalam bayangan saya, orang kalau mau mondok ke Jawa Timur itu pasti pulang-pulang bakalan jadug, bakal sakti, punya ilmu kanuragan, bisa terbang, bisa ngilang, wah sangar pokoknya.

Baca juga:  Abah Hasyim dan Kelakarnya

Lingkungan saya yang NU, sedikit banyak memberi “bekal” untuk mikir klenik-klenik begitu. Maklum, irisan masyarakat Nahdliyin dengan masyarakat yang klenik kan tipis sekali. Kadang-kadang suka sulit dibedakan. Kadang.

Ditambah dengan citra pesantren di Jawa Timur yang terkenal dengan kisah pesilat-pesilat zaman dulu, adu ilmu kesaktian antar-kiainya. Beneran udah kayak dunia persilatan yang melegenda lah pokoknya.

Makanya, ketika dipaksa Bapak untuk pindah pondok, saya langsung kepikiran punya ilmu-ilmu begitu. Pengin aja rasanya, kalau setiap buka pintu bisa salat jumat di Mekah, salat asar di Turki, salat magrib di Madinah, salat isya di Kongo.

Sampai kemudian, ketika saya datang kali pertama ke Gontor, hal-hal seperti itu nggak ada sama sekali. Boro-boro kesaktian, di Gontor itu kamu memiliki cincin akik saja dilarang sangat keras.

Jangankan ngurusi masalah jin, keris, atau kesaktian lainnya, santri makan sepiring berdua saja bisa digundul, pakai sandal diseret digundul, ngomong bahasa jawa digundul. Jadi mana mungkin santri Gontor punya waktu ngurusin hal-hal seperti itu?

Ngurusin aturan duniawi di dalem pondok aja kerepotannya setengah modiyar kok, hakok mau ngurusin kesaktian.

Jika pun ada santri Gontor yang memaksakan diri untuk ngurusin hal aneh itu, hampir bisa dipastikan dia nggak akan betah lama-lama. Lah gimana? Kegiatan sudah sudah super-sibuk.

Urusan kelas, pramuka, sampai klub-klub khusus. Belum dengan belajar bahasa Arab dan Inggris setiap waktu. Bahkan konon, ketika sudah mimpi sekalipun, santri Gontor itu sebenarnya masih berkegiatan.

Baca juga:  Prediksi Jalan Cerita Eiffel… I’m in Love 2

Itulah kenapa, sejak awal masuk, ustaz pembimbing sudah mewanti-wanti dengan keras. Yang bawa hal-hal yang berbau gaib segera dibuang. Atau kalau kalau itu pusaka keluarga, bawa pulang. Karena itu semua akan menghambat.

Prinsipnya sederhana: percayalah kepada kemampuan sendiri. Di atas hanya Allah di bawah hanya tanah. Gitu.

Kalaupun ada jimat yang diizinkan oleh santri Gontor sih, mungkin cuma satu. Jimat dalam bentuk mantra. Mantra itu bunyinya gini, “man jadda wa jada“, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.

Jadi jika awal ekspektasi awal mondok ke Gontor bisa sakti, pada kenyataannya saya malah dapat ilmu yang lebih dan sangat kurang jika hanya dituntut selama 5 tahun. Ibaratnya seperti minum air laut, semakin minum semakin haus.

Semakin tahu banyak hal, malah merasa semakin bodoh. Begitu kenyataan yang saya dapat begitu jadi santri Gontor.

BACA JUGA Seberapa Gereget sih Kamu Ketika Jadi Santri? dan tulisan Munir Abdillah lainnya.