“Kristen kok ikut puasa”, itulah komentar yang sering saya dengar dari kawan atau kerabat ketika bulan puasa tiba.

Ya, saya memang seorang kristiani yang terbiasa ikut menjalankan puasa di bulan Ramadhan ini. Ini bukan untuk mensabotase jatah amal ibadah dari agama lain lho ya, ini murni karena saya memang sudah terbiasa berpuasa. Kebiasaan ini bermula dari kebiasaan masa kecil, di mana saat itu, saya sering ikut berpuasa untuk menemani puasa nenek saya yang ndilalah adalah seorang muslim.

Awalnya, saya memulai kebiasaan puasa dengan orientasi yang cukup materialistis: uang. Saat itu, saya selalu dijanjikan uang jajan saat lebaran kalau saya bisa nutug puasa 30 hari, sehingga saya selalu punya alasan untuk semangat menunaikan puasa. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan puasa itu kemudian mendarah daging, dan uang bukan lagi menjadi motivasi utama untuk menjalaninya. Kenapa? ya karena memang sudah nggak ada yang kasih uang lagi walaupun saya nutug puasa 30 hari, sebab nenek saya sudah meninggal dunia.

Kini, ada beberapa motivasi di luar uang jajan yang membuat saya tetap berusaha menjalankan puasa secara penuh.

Pertama, Saya berpuasa untuk mengenang dan menghormati almarhum nenek saya tercinta. Ini motivasi terbesar saya, karena ndilalah saya adalah putu kesayangan nenek. Saya dan nenek memang sudah memiliki ikatan batin yang sangat kuat, dulu waktu saya kecil, nenek lah yang mengasuh saya saat kedua orang tua saya bekerja. Belio sudah seperti orang tua ketiga saya. Mangkanya, saya selalu berharap bisa mempersembahkan puasa saya untuk nenek di “sana”.

Kedua, Saya berpuasa untuk menemani teman-teman saya berpuasa. Bagi saya, lapar adalah sesuatu yang menyiksa, tapi ketika ia dijalani bersama-sama, ia bisa menjadi sesuatu yang sangat asyik dan menggembirakan. Hal ini saya rasakan betul ketika saya kuliah di Jogja, dimana saya dan teman-teman seperjuangan asyik menahan lapar sambil menunggu azan maghrib yang kehadirannya terasa lebih indah ketimbang kunjungan penghuni kos putri sebelah. Kami semua unya keyakinan, Revolusi selalu berawal dari sekumpulan mahasiswa yang rela menahan lapar bersama-sama.

Ketiga, Saya berpuasa untuk mendapatkan kepuasan batin. Entah mengapa, ketika bisa berpuasa sampai nutug, ada semacam kepuasan tersendiri yang saya rasakan, saya serasa sukses mengemban tugas yang maha berat. Kepuasaan yang mungkin hanya bisa disamai oleh para mahasiswa saat sukses melengserkan Soeharto dari tampuk kepemimpinan. Dan kita semua tahu, kepuasan semacam ini sangat mahal harganya. Dan saya bisa mendapatkannya dengan berpuasa.

Nah, tiga motivasi itulah yang sampai sekarang terus membuat saya tetap berpuasa, walaupun saya adalah seorang kristen. Lagipula bagi saya, puasa itu sifatnya universal, ia tidak terbatas hanya pada satu agama tertentu.

Saya begitu menikmati puasa, karena dalam puasa, saya menemukan kenangan, kebersamaan, dan kepuasan. Kenangan akan nenek tercinta, kebersamaan bersama para teman, dan kepuasan batin atas suksesnya menahan lapar dan dahaga.

Selamat menunaikan ibadah puasa hai kawan-kawanku. Semoga kita senantiasa terhindar dari godaan iklan sirup yang kurang ajar dan tidak tahu diri itu.

Shalom

No more articles