Mari kita bicara tahi. Atau, pinjam kata dari Pramoedya Ananta Toer, berak. Tentu kamu selalu ingat kata berak itu karena diucapkan Pram dengan suara yang berat dan penuh penekanan di film dokumenter buatan Yayasan Lontar: “Kau tidak menulis Pram. Kauberak!”

Pram mengingat betul kata-kata prosais Idrus yang ditujukan untuknya itu. Dan, berak pun menjadi bagian dari memori dan memoir prosais kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 ini. Berak tak hanya ada di ingatan saat ia menjadi pekerja buku di Balai Pustaka, tapi juga terus menguntit ke mana pantat Pram berpindah dan bergerak.

Bacalah roman Di Tepi Kali Bekasi. Di roman yang merupakan “memoir” Pram di kancah revolusi yang membakar Jakarta dan kota-kota sekitarnya itu, soal tahi masuk dalam salah satu skena cerita. Kamu bisa bayangkan, saat perut kelaparan dan kamu menyerbu di dapur, di belanga nasi kau temukan tahi. Nasi kemudian bukan lagi seperti ta(h)i, sebagaimana metafora yang dipopulerkan film Istirahatlah Kata-kata, tapi setahi-tahinya tahi. Saya kadang bergumam, para laskar revolusi ini kalau bercanda enggak hitungan betul.

Saya tidak tahu persis apa yang terjadi sebetulnya hubungan antara Pram dengan tahi. Tapi, saya kira ini soal serius. Sangat serius malahan.

Saya lama tertegun membaca cerita Koesalah Toer di buku Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006). Terutama soal tahi ini.

Pram, cerita Koesalah, selalu menyalakan alarm untuk dirinya sendiri untuk tak berlama-lama di rumah orang lain. Di rumah siapa pun, bahkan kerabatnya sendiri. Nyaris menjadi “panduan moral”-nya untuk selalu mempercepat jam bertamu.

Baca juga:  Voormannen Elf’tal, Pertandingan Orang-orang Terkemuka

Untuk menghormati si tamu? Mungkin. Tapi, ada alasan lebih darurat dari semua itu, yakni Pram takut cepirit. Pram sadar kerap saluran pencernaannya tak bisa ia kontrol jadwal keluarnya. Soal waduk ambrol di tempat yang salah ini yang membuat heran Koesalah pada suatu hari saat Pram gelisah dalam duduknya dan meminta cepat-cepat balik kiri untuk kembali. Pram rupanya sudah tak tahan. Ia sudah basah kuyup.

Itu kejadian di Jakarta. Cerita yang sama terjadi dalam lawatan Pram ke Amerika Serikat dan Kanada pada 1999. Di New York City semua aman-aman saja. Semua terkontrol dengan baik. Tapi, tidak ketika di Kanada. Kisah ini saya tahu dari buku Alfred Ticoalu berjudul Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer (2017). Saat itu “panitia” yang mengantar Pram mengagendakan kunjungan di rumah seorang tokoh. Mereka mengendarai mobil dalam waktu yang tak bisa dibilang sebentar. Tiba-tiba saja mobil berbelok masuk ke pom bensin terdekat pada kesempatan pertama.

Rupanya, Pram sudah gelisah luar biasa. Dan, si pengantar baru bertanya apakah Pram butuh ke toilet saat benteng pertahanan sang pujangga sudah retak. Mereka yang punya pengalaman kebelet dan sedang dalam bus-tanpa-toilet pasti bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Pram itu. Terutama saat keringat dingin yang bergumpal-gumpal.

Masalah belum selesai walau sudah berhenti. Sebab satu-satunya WC di pom bensin itu sedang terisi. Dan, Pram mesti menunggu lagi. Kamu tahu apa yang terjadi? Pintu WC digedor-gedor si pengantar yang memang berwajah sangar. Nyaris terjadi duel dengan si bule pemakai WC yang merasa diperlakukan dengan tak baik.

Baca juga:  Indonesia Tunabaca: Logika Rusak Ayat-Ayat Pencela Ahok

Singkat kata, Pram menyelesaikan hajat yang tak biasa itu. Tapi, masalah belum selesai juga. Pram rupanya tidak mau turun dari mobil saat perjalanan berjam-jam itu sudah sampai di lokasi tujuan. Dan, kamu tahu sebabnya. Pram basah. Rombongan balik langsung ke penginapan.

Demikianlah, Pram dan berak memang bukan sekadar soal ungkapan dan kutipan yang layak dicuitkan di Twitter atau dibuatkan dinding foto lengkap dengan untaian kata-kata di Instagram. Termasuk ketika ia mengibaratkan perkawinan dengan tahi. Berkatalah Pram, sebagaimana diriwayatkan Koesalah: “Kawin itu seperti orang berak!

Nah, bayangkanlah bagaimana perkawinan yang selalu dimpi-impikan lajang-perawan (baca: jomblo) itu di hadapan Pram tak lebih tak kurang seperti berak saja.

Moral cerita ini sederhana saja: bersyukurlah kamu yang dianugerahi sistem pencernaan yang baik dan bisa mengontrol jadwal tutup buka bendungan secara normal. Namun, bila kehidupan pencernaanmu tak jauh beda dengan Pram, hanya satu yang saya sampaikan: kamu potensial menjadi prosais nasional. Bekerja yang keras saja.

Akur!

Komentar
Add Friend
No more articles