Setelah 411, lalu 212, kemudian muncul 412 dan mungkin bakal ada gerakan-gerakan lain bersimbol angka lagi. Kalau ada, saya berharap semoga itu adalah 1212. Bukan untuk saing-saingan. 1212 bukan simbol angka yang merujuk ke lawan pemilik kapak geni 212. Di kalender, tanggal 12 Desember ini dicetak dengan warna merah dengan keterangan bahwa libur hari itu untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ya, tanggal 12 bulan 12 nanti bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Nabi Muhammad. Umat Islam di Indonesia menyebutnya bulan mulud atau maulud yang berarti bulan kelahiran.

Angka yang indah. Dalam pesan viral, angka tersebut kemudian dijejerkan dengan peristiwa penting lain yang juga jatuh pada angka cantik di tahun ini, 55: Isra’ Mikraj, 66: awal puasa, dan 77: Idul Fitri. Tapi bukan itu yang membuat saya kepincut dengan 1212, melainkan sebuah tulisan dari Dea Anugrah tentang Pablo Picasso.

Dea menulis bahwa seniman yang lahir pada 25 Oktober 1881 dan meninggal pada April 8 1973 itu terus dirayakan kelahirannya hingga saat ini. Pada Oktober kemarin dunia merayakan ulang tahunnya yang ke-135. Dea lalu membuat kesimpulan menyentuh, “Jejak sebesar itu tentu hanya mungkin ditinggalkan oleh hidup yang besar pula.”

Apakah saya cuma iri dengan Picasso? Mungkin. Perayaan maulud Nabi juga pernah dikatakan hanya ekspresi iri hati terhadap kelahiran Kristus yang juga diperingati pada bulan ini. Tapi apa salahnya iri dengan tokoh-tokoh yang memiliki jejak besar?

Beberapa kali saya ikut bertugas menunggu jenazah tetangga yang menginap. Untuk membunuh waktu, banyak penunggu mengisinya dengan bermain kartu dan berbagi cerita lucu. Gelak tawa meledak dari jarak tak jauh dari jenazah dibaringkan. Seperti tidak ada yang perlu disedihkan dari meninggalnya seorang kawan. Tiga hari atau seminggu berikutnya, nama kawan tersebut mungkin sudah dilupakan. Jadi jika ada yang lahir ratusan tahun lalu dan tetap harum hingga sekarang tentu ia istimewa.

Baca juga:  Bunuh Diri dan Kita yang Terlalu Asyik Dengan Diri Sendiri

Al-quran menyebut Nabi Muhammad sebagai uswah, teladan. Nabi tidak hanya menyampaikan ajaran tapi juga mencontohkan. Ketika Nabi mengajarkan kejujuran, ia terbukti tak pernah berdusta. Ketika Nabi mengajarkan kesederhanaan, ia tidak pura-pura dalam laku sederhananya. Ketika Nabi mengajarkan toleransi beragama ia tidak pernah memerintahkan membubarkan ibadah agama lain. Juga dalam hal-hal lainnya.

Nabi seolah menegaskan bahwa kebenaran tidak cukup hanya diceramahkan atau dipidatokan layaknya anak-anak dalam perlombaan pildacil. Kebenaran harus diejewantahkan dalam perilaku. Mungkin karena itu pengaruhnya begitu dahsyat. Segala ucapan, perbuatan, dan sikap Nabi dijadikan rujukan, bahkan untuk hal-hal yang terlihat remeh seperti hari dan cara Nabi memotong kuku atau mencukur kumis.

Saat ini, bukannya tokoh-tokoh agama telah habis. Mereka makin berkecambah. Televisi dan media-media memproduksi tokoh dalam jumlah yang makin banyak. Mereka rutin tampil di sinetron, sosial media, menyebar kultum lewat twitter, hadir melalui video streaming, instagram, wibesite atau fanpage. Tapi umat sepertinya kekurangan teladan. Mengapa? Entahlah.

Beberapa waktu lalu, KH Anwar Zahid mengisi tausiyah di dusun tetangga. Kyai kemenyek itu mencemaskan perilaku kita yang mirip daun kering. Diilustrasikan bahwa daun kering adalah sesuatu yang mudah dikumpulkan, diterbangkan angin, dan juga gampang disulut. Satu lagi, daun kering tidak pernah bisa disatukan. Upaya menyatukan daun kering dalam satu ikatan hanya akan menyebabkan kerusakan. Miris, tapi sejumlah fakta menunjukkan demikian.

Nabi mengajarkan agar umat Islam berlaku layaknya tubuh yang satu, tapi ada saja kelompok yang justru berusaha mengamputasi anggota tubuhnnya sendiri untuk dibuang. Maka, 1212 barangkali bisa jadi momen penting. Dua tanggal merah, 11-12, yang berdampingan jangan-jangan juga sebuah pesan agar kita bisa memanfaatkanya sebagai jeda bagi pikiran. Syukur-syukur bisa untuk memikirkan kembali sikap keberagamaan kita.

Bukannya selama ini belum ada perayaan atas kelahiran Nabi. Dalam penelusuran Annemarie Schimmel, perayaan tersebut setidaknya sudah dilakukan sejak abad 8 M dan mulai muncul kecenderungan untuk melakukannya secara besar-besaran pada era Fathimiyah di Mesir (969-1171 M). Awalnya berlangsung dalam suasana biasa, dengan khotbah dan pembagian sedekah. Kemudian makin ramai, termasuk dengan melibatkan pesta lilin, perjamuan musikal, dan pembacaan puisi-puisi mistik-ekstatik.

Baca juga:  Mereka yang Hidup di Atas Tiang-Tiang Kehormatan

Lalu muncul kontroversi. Para teolog ortodoks melarangnya karena menganggap pembacaan gazal-gazal dan prosa berseloka tentang sejarah Muhammad sebagai sesuatu yang tak berguna. Hiperbolik dan kultus yang kelewat batas. Tapi bagi pendukungnya bacaan-bacaan tersebut justru menggugah emosi-emosi religius. Toh bacaan-bacaan tersebut bukan sesuatu yang merusak iman tapi justru mendekatkan mereka didekatkan dengan figur pujaan.

Nah, terserah bagaimana cara Anda melakukannya. Apakah dengan cara yang lebih modern dan ilmiah atau tidak melakukannya. Sebagai orang dusun, biasanya saya akan larut dalam kumpulan warga yang bersemangat melagukan Barzanji atau Burdah, berusaha mereguk kecintaan dan mengajarkan anak-anak untuk mengukir citra yang indah tentang Nabi. Sambil membayangkan kisah-kisah imaji tentang kelahiran Nabi; saat kawanan burung dan ternak berebut untuk dapat mengasuh Nabi Muhammad pada saat kelahirannya, tapi semuanya harus menyerah karena takdir memutuskan Halimah yang harus mengasuhnya.

Atau tentang jin, manusia, binatang dan bintang yang saling mengucapkan selamat pada saat kelahiran Nabi, dan tentang langit menjadi dekat dengan bumi ketika tubuh mulia itu menyentuh bumi. Atau hanyut dalam baris-baris kata seperti, “Arsy bergetar suka cita demi mendengar kabar gembira, Kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena kemuliannya, langit-langit dipenuhi cahaya, dan suara malaikat bergemuruh membaca tahlil, tamjid, dan istigfar….”

Lalu mahal qiyam, momen di mana semua orang berdiri. Sebuah sikap simbolik untuk menyambut kedatangan Nabi. Bukan hanya secara imajinatif, dalam mahal qiyam Nabi juga dihadirkan dalam kesadaran dengan harapan ajaran-ajarannya juga akan terus dihidupkan dalam perilaku.

Selamat ulang tahun, ya Rasul.

Komentar
Add Friend
No more articles