[MOJOK.CO] “Smartphone warna-warni yang tak punya kamera depan dan sulit untuk Youtube-an.”

Memasuki tahun 2017, Nokia kembali mentas di persaingan bisnis gajet setelah sempat tumbang pada tahun 2015. Kali ini Nokia tampaknya sudah benar-benar mulai berbenah dan belajar dari kesalahan. Beberapa seri Nokia Android yang mulai beredar sejak awal tahun ini meliputi Nokia 3, Nokia 5, dan Nokia 6. Semua ponsel tersebut sudah menggunakan sistem operasi Android secara penuh.

Dunia juga tahu, salah satu kesalahan Nokia pada tahun 2014 lalu adalah malu-malu menjadi pengagum Android OS lantaran ia sudah telanjur menjalin kerja sama ekslusif dengan Windows Phone. Hasilnya adalah sebuah ponsel Android rasa Windows Phone yang diberi nama Nokia X.

Kenapa kok namanya harus dimulai Nokia X (dibaca ‘nokia eks’ atau ‘nokia sepuluh’)? Kok nggak sekalian diawali dengan Nokia 1, Nokia 2, dan seterusnya? Kok tiba-tiba pula tahun ini muncul seri Nokia 3, Nokia 5, dan Nokia 6 yang angkanya tidak berurutan? Saya juga tidak tahu. Mungkin Nokia sedang bermain-main dengan bilangan random biar nggak mudah tertebak seperti kehadiran Nokia X.

Nokia X saat itu sudah menggunakan sistem operasi Android yang bersifat terbuka (open source), tetapi belum menyertakan aplikasi dan layanan dasar dari Google. Antarmuka yang digunakan pada ponsel tersebut mirip dengan antarmuka yang diusung pada kebanyakan antarmuka ponsel Windows Phone, yaitu seri Asha dan Lumia, yang kini sudah tak terdengar lagi kabarnya.

Bagi saya, ponsel ini adalah ponsel unintended alias ponsel yang tidak diharapkan. Bukti konkretnya adalah meskipun Nokia seri ini menggunakan sistem operasi Android yang memang sedang jadi primadona ketika itu, tetapi tidak membuat konsumen setia Nokia seperti saya tertarik untuk CLBK mengenang sebegitu berharganya merek Nokia sebagai punggawa ponsel non-smartphone.

Nokia X terdiri dari tiga macam varian. Nokia X sebagai perangkat yang paling bungsu, punya abang bernama Nokia X+ dan yang seringkali jadi andalan adalah si sulung Nokia XL. Lagi-lagi penamaan seri gajet Nokia tak tertebak dan mbulet. Sudah ada seri X+, seri lainnya malah dinamai XL.

Ketiga macam varian Nokia X tersebut sama-sama dibekali sistem operasi Android Jelly Bean (4.1.2). Perbedaannya hanya terletak dari sisi spesifikasi perangkat kerasnya.

Sebagai smartphone Android pertama Nokia yang sempat terkenal dengan Symbian OS, nyatanya Nokia X ini tidak lebih dari sekadar ponsel blasteran. Lha kok bisa?

Dengan tampilan yang menyerupai tampilan Windows Phone, Nokia X cukup menipu para penggemar smartphone Android. Selain itu, pemakai baru Nokia X perlu beradaptasi terlebih dahulu dengan tampilan yang dibawa oleh Nokia X. Terlebih bagi pengguna yang sedari awal sudah terbiasa dengan tampilan dan cara kerja smartphone Android yang diadopsi oleh Samsung, Sony, HTC, dan produsen ponsel lainnya.

Salah satu penyesalan saya menggunakan ponsel ini adalah tidak bisa menikmati layanan dari Play Store. Nokia X masih menggunakan layanan Nokia Store yang jumlah aplikasinya tak sebanyak Play Store. Kendati Nokia sudah menyematkan aplikasi bawaan seperti BBM Messenger, WhatsApp, Facebook, Twitter, Skype, dan beberapa aplikasi permainan lainnya, tetapi itu belumlah cukup.

Kemenangan smartphone Android atas smartphone Nokia pada awalnya adalah karena pengguna smartphone Android bisa bebas mengunduh ribuan aplikasi secara gratis. Hal ini sebenarnya sudah disadari pihak Nokia, sehingga Nokia melibatkan aplikasi store pihak ketiga semisal 1Mobile Market, Yandex Store, SlideMe Market dan Aptoide Appstore yang semuanya dapat digunakan untuk memperbanyak aplikasi tambahan yang diperlukan Nokia X. Tapi, bagi saya kehadiran aplikasi-aplikasi store pihak ketiga semacam itu menjadi tidak efisien.

Buat kalian para Youtuber, saya jamin bakal langsung mentalak tiga Nokia X ini, karena sebagaimana pengalaman saya sendiri yang dua hari dua malam mencari aplikasi Youtube di Nokia Store tak ketemu-ketemu. Berbekal bantuan aplikasi Shareit dan pengaturan tetek bengek yang bikin jempol kusut akhirnya saya bisa memasang aplikasi Youtube.

Tapi tunggu dulu, setelah dijalankan ternyata aplikasi pemutar video favorit sejuta umat ini diam saja. Bodohnya, saya baru sadar jika gawai menggemaskan bernama Nokia X ini ternyata tidak mendukung Google Service. Sampai lebaran kuda pun nggak mungkin bisa lihat video Via Vallen lewat Youtube. Terpaksa saya harus membuka browser internet yang cukup merepotkan, karena setiap kali harus mengetikkan alamat www.youtube.com.

Berbagai pilihan warna yang tersedia untuk Nokia X.

Secara perangkat keras, Nokia X memiliki desain yang unik jika dibandingkan dengan kebanyakan smartphone Android merek lain. Jika diperhatikan, Nokia X ini mirip dengan gajet Nokia Asha, smartphone bersistem operasi Symbian OS yang terbilang cukup laris di pasaran kala itu.

Desain body-nya berbentuk persegi panjang, terlihat kokoh dan kaku –bak kalkulator, dengan berbagai pilihan warna yang unyu-unyu, dari warna merah, kuning, hijau, putih, hitam, dan biru.

Casing bagian luar Nokia X dilengkapi dengan permukaan material dof yang kesat dan nyaman saat digenggam. Sangat berbeda dengan kebanyakan material casing yang diterapkan pada smartphone lain, yang biasanya memakai bahan dengan tekstur glossy yang terlihat lebih mengkilap, tetapi agak licin saat digenggam.

Teknologi layar yang digunakan yaitu Nokia Glance dengan resolusi layar berkualitas WVGA (800 x 400 piksel), truecolor 16 juta warna, serta kepadatan warna mencapai 233 pixel per inch. Teknologi Nokia Glance membuat gambar tampilan pada layar terlihat lebih bagus dan natural dengan tingkat detail gambar yang cukup tinggi. Ditambah lagi dengan fitur auto brightness-nya yang membuat layar Nokia X masih terlihat jelas meski sedang berada di bawah paparan sinar matahari yang terik. Sayangnya, kelebihan semacam itu tidak banyak mencuri hati konsumen baru.

Layar sentuh Nokia X hanya dapat menerima sentuhan maksimal dua jari saja, alias tidak mendukung multi touch. Selain itu, Nokia X hanya dibekali kamera utama sebesar 3 MP tanpa fasilitas LED flash. Dengan kisaran harga yang hampir sama, kebanyakan gajet Android merek lain telah mengadopsi resolusi kamera utama lebih dari itu. Lalu bagaimana dengan kamera depannya? Tidak ada sama sekali, gaes.

Berikut adalah spesifikasi lengkap Nokia X:

  • Layar: IPS LCD 4.0 inches
  • Resolusi Layar: 480 x 800 pixels
  • Chipset: Qualcomm MSM8225 Snapdragon S4 Play
  • CPU: Dual-core 1.0 GHz Cortex-A5
  • GPU: Adreno 203
  • Memori Internal: 4 GB, 512 MB RAM
  • Memori Eksternal: microSD, up to 32 GB (dedicated slot)
  • Kamera Belakang: 1/5″ sensor size, panorama, face detection
  • Kamera Depan: No Baterai: Removable Li-Ion 1500 mAh

Saya memang sedang tidak membujuk Anda untuk memiliki ponsel seharga 1,5 juta yang punya banyak kekurangan ini. Saya hanya ingin memberi tahu Anda jika saya masih memakai ponsel ini sampai sekarang.

Sebagai catatan, semenjak tahun 2016, aplikasi WhatsApp dan beberapa aplikasi lainnya sudah tidak bisa lagi digunakan pada ponsel ini karena sudah tidak kompatibel dengan versi maksimal Android yang bisa diinstal pada Nokia X ini.

Barangkali ada pembaca Mojok yang berbaik hati menghibahkan gajetnya agar saya bisa WhatsApp-an lagi lewat smartphone?
Komentar
Kirim Artikel
No more articles