Rubrik: Esai

Mualaf kayak Ignatius Yohannes itu Boleh Aja, tapi Mbokya Jangan Kebangetan Jualannya

MOJOK.COSampai kapan sih mualaf kayak Ignatius Yohannes bakal terus ngeracunin kehidupan umat antar-agama di Indonesia?

Suara Billie Joe Amstrong waktu lagi nyanyi “Boulevard of Broken Dream” nemenin saya yang masih ngakak setelah dengerin ceramah seorang mualaf bernama Ir. Ignatius Yohannes, Sth.

Blio mengaku putra dari Kardinal Prof. Dr. Ir. Ignatius Sastrowardoyo, Mth dan Ir. Maria Laura, Mth. Mereka sekeluarga mendapat gelar sarjana dan master teologi yang berasal dari sekolah yang sama, yaitu IVS, Injil Vatican School, Roma, Italia.

Silakan lihat langsung di bawah ini aja kalau mau ngakak bareng.

Duh, sampai kapan sih orang yang ngaku mualaf kayak gini bakal terus ngeracunin kehidupan aman-damai-tentram-sehat-sentausa antar-umat beragama di Indonesia?

Heran saya, kok ya masih ada mualaf  kayak gitu. Niat banget jualan abab berisikan dongeng abal-abal alias hoaks hanya demi mendulang rupiah dari orang-orang gumunan yang nggak lebih pintar dari smartphone-nya.

Maaf yak, itu yang punya smartphone, punya kuota data, mbokya buat gugling sebentar apa itu Kardinal, mumpung pakai gugel belum kena cas pajak 10% lho. Masih gratis-tis-tis.

Terus terang saja, awal dengerin omongan si insinyur Ignatius Yohannes esteha yang katanya anak Kardinal ini saya sudah mau nyemlong kasar loh.

Wong Kardinal kan selibat, boro-boro nikah, kawin aja ngga boleh kok. Plus, Kardinal mana bin Kardinal yang mana kok namanya Ignatius Sastrowardoyo? Apanya Dian Sastrowardoyo nih kalo leh tau?

Eh ha kok habis itu si insinyur teologi ini ngomong lagi kalau ibunya itu seorang “Evangelist” jugak. Okelah, faiyn, keren yak, ada Kardinal menikah dengan Evangelist? Semoga Orthodok nggak pada koprol dah denger klaim ambyar semacam ini.

Sik, sik, sebelum kalian pada protes kalau saya ini asal ngoceh aja dan iri dengki karena belum mendapatkan hidayah seperti komentar kalian di tulisan saya sebelumnya, tolong yak, dibaca pelan-pelan jangan cuma dieja beberapa fakta yang bakal saya tulis.

Gini lo cyyynnn, perkara sekolah IVS saja dulu yak, yang kata Ignatius Yohannes adalah kependekan dari Injil Vatican School.

Nama sekolah ini bolak-balik saya denger dari celotehan mereka yang mengaku mualaf terus jualan abab buat ngaku-ngaku ustaz. IVS itu ndak ada di Vatikan sana cintakuh sayangkuh negrikuh.

Karena istilah “Injil” itu ndak dikenal di dunia Barat sono, mereka kenalnya
“Bible”. Be i be el e, alias bible yang diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi Injil atau Alkitab.

Jadiii, meski belakangnya pake embel-embel school ala-ala bahasa Inggris, dan nulis nama Vaticannya (pakai “c” bukan pakai “k”) pakai ejaan mamaz-mamaz bule, bukan Vatikan ala ejaan mamaz-mamaz kang siomay, tetep aja ndak mungkin ada Injil Vatican School di sana.

Kalau toh ada, harusnya ya namanya Bible Vatican School. Nah, masalahnya lagi, sekolah semacam itu faktanya blas ndak ada juga di Vatikan.

Bahkan Paus yang baru, Paus Fransiskus aja nggak sempet kepikiran buat bikin sekolah semacam itu di sana. Beliau lagi konsentrasi ngurus bagaimana gereja Katolik menyikapi pandemi dan ngurus Komisi Kepausan bagi Perlindungan Anak dan Orang Dewasa.

Ini komisi anyar yang konsentrasinya mengurusi mereka-mereka yang menjadi korban kejahatan kaum Klerus.

Apa itu kaum Klerus? Jawabannya nantikan kapan-kapan kalau ndak nyasar. Halah.

Oke, balik lagi ke perkara bapaknya Ignatius Yohannes yang katanya menjabat Kardinal pada tahun ini. Kalian pada ngerti nggak sih apa itu Kardinal? Siapa dan bagaimana caranya menjadi seorang Kardinal?

Percaya deh, jadi seorang Kardinal itu panjang dan lama prosesnya. Lebih panjang dari Jalan Daendels dan lebih lama (proses pembuatannya) dari Jembatan Suramadu.

Kardinal itu jabatan atau pejabat senior dalam hierarki kepemimpinan gereja Katolik. Mereka berada langsung di bawah Paus, dan ditunjuk langsung oleh Paus menjadi anggota dewan Kardinal.

Tugas Kardinal itu banyak, nggak cuma menghadiri rapat dewan suci Vatikan, tapi juga memimpin suatu keuskupan.

Urutan hierarkinya begini: dari level terendah yaitu Romo/Pastor, mereka semua berada di bawah kepemimpinan Uskup. Lalu para Uskup yang ada berada di bawah kepemimpinan Kardinal. Kemudian Kardinal-Kardinal yang ada berada di bawah kepemimpinan Sri Paus langsung.

Itu semua boleh dibilang sebagai jenjang karier juga dalam hierarki kepemimpinan gereja Katolik.

Jadi bisa dipahami kan, kalau seorang Kardinal itu ya hidup selibat, alias tidak berkawin dan tidak menikah? Ndak usah bilang saya kasar yak, karena saya memakai kata kawin, wong itu memang penjelasan sesuai dengan ketentuan kanonik kok.

So, tidak mungkin kan, seorang Romo yang kemudian sedang menjabat jadi Kardinal kok menikah lalu punya anak seorang insinyur teologi?

Lagipula saya kok baru denger yha, ada Kardinal di Indonesia namanya Kardinal Ignatius Sastrowardoyo.

Karena hingga saat ini di Indonesia baru ada 3 orang Romo yang menjabat sampai Kardinal. Yaitu Mgr. Justinus Darmojuwono, lalu Mgr. Julius Darmaatmaja, dan  yang sekarang menjabat menjadi Kardinal Indonesia yaitu Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmojo, yang ditahbiskan langsung oleh Sri Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus, Vatikan pada tanggal 5 Oktober 2019.

Lah kalau yang katanya Kardinal Ignatius Sastrowardoyo terus menjabat menjadi Kardinal Indonesia tahun ini, itu yang melantik siapa, kapan dan di mana cobak?

Kayak lagunya KanGen ben gak sih, kamu di mana, dengan siapa, semalam berbuat apa. Berbuat hal yang aneh lah, melantik bapaknya sendiri menjadi Kardinal.

Lalu perkara Kardinal yang menikah dengan seorang Evangelist.

Duh, ini jelas mumet bin ruwet judulnya. Sudah jelas kan, seorang Kardinal itu tidak berkawin dan tidak menikah, karena hidup selibat, menjauhkan diri dari hal duniawi terutama perempuan apalagi harta tahta dan sepeda. Jadi tidak mungkin mereka menikah dan punya anak, dengan Evangelist pula.

Gini ya, yang namanya Evangelist itu identik dengan gereja Kristen, massay mbaksay, bukan gereja Katolik.

Biasanya para Evangelist ini juga seorang pejabat gereja Kristen, entah PakGem (Pendeta), BuGem (Pendeta Perempuan), atau aktivis gereja Kristen.

Baik Gereja Protestan maupun gereja Karismatik, biasanya penuh dengan para Evangelist. Mereka, para Evangelist ini adalah orang-orang yang bertekun dengan doa, dan seringkali mewujudkan keajaiban doa menjadi kesembuhan bagi orang-orang yang sakit.

Jadi kalau ada yang bilang kalau bapaknya Kardinal terus ibunya Evangelist njuk anaknya mualaf, rasanya kelucuan alasan DPR RI menarik RUU PKS dari daftar Prolegnas nggak ada apa-apanya deh.

Terus yang terakhir, perkara gelar yang berderet yang dipakai oleh tukang insinyur teologi ini dalam menggambarkan betapa pinternya keluarga mereka dalam memahami Injil. Si tukang insinyur teologi ini kan bilang kalau gelar bapak ibu serta dirinya itu STh dan MTh alias Sarjana Theologi dan Master Theologi (pakai ”h” biar internasiyonal).

Gelar-gelar semacam itu biasanya dipakai oleh para pendeta atau pengurus gereja, terutama gereja-gereja Protestan yang ditunjuk oleh yayasan pengelola gereja.

Beda dengan gereja-gereja Karismatik yang kadang pendetanya bahkan baru belajar di sekolah teologi setelah menjadi gereja. Ya kalau gereja-gereja Karismatik sifatnya lebih private si, tergantung kebijakan si pemilik gereja saja.

Sementara para romo di Indonesia sini rata-rata hanya memakai embel-embel Mgr. alias Monsigneur bagi seorang Kardinal, Uskup, atau Rm bagi para Romo/Pastor.

Lalu di belakang nama mereka, biasanya hanya ada embel-embel Ordo mereka. Meski tak sedikit juga dari para romo ini yang menempuh pendidikan tinggi dan mempunyai gelar berderet seperti almarhum Romo Mangun yang juga tukang arsitek.

Tahu apa itu Ordo? Ordo atau juga yang dikenal sebagai Tarekat/Kongregasi adalah lembaga religius Katolik, sebuah komunitas sosial khusus dalam gereja Katolik. Di mana anggota-anggotanya berisikan orang-orang yang mengikrarkan kaul kekal kemiskinan, selibat, dan ketaatan.

Nah, para anggota Ordo ini semuanya hidup selibat, tidak berkawin, dan tidak menikah. Tapi tak semua anggota Ordo bakal ditahbiskan menjadi seorang imam/romo/pastur. Karena ada juga Ordo-ordo yang membawahi para suster, atau bruder yang lebih banyak melakukan pelayanan sosial masyarakat atau di bidang pendidikan.

Hanya satu kesamaannya yaitu semua anggota Ordo, bakal memakai embel-embel nama asal Ordo mereka di belakang nama mereka.

Ya kalau kalian pernah membaca baik-baik nama Romo Magnis alias Franz Magnis Suseno, pasti kalian sering melihat ada tambahan inisial ”S.J.” di belakang nama beliau. Inisial di belakang nama Romo Magnis itu ya berasal dari singkatan Ordo beliau, yaitu Serikat Yesus.

Di Indonesia sekarang ini kurang lebih ada 20 Ordo yang menjadi rumah bagi para calon imam. Masing-masing Ordo mempunyai inisial sendiri, contoh lainnya selain S.J. ada O.M.I. (Oblat Maria Imamaculata), ada Pr. (Praja/Imam Deosesan), M.S.F. (Misionaris Keluarga Kudus), S.V.D. (Serikat Sabda Alah), dan masih banyak lagi.

Gugling aja kalau mau, siapa tahu terus tertarik sekolah seminari. Eh.

See, dengan penjelasan panjang kali luas kali kopi segelas dari seorang Katolik NaPas semacam saya ini, apa iya kalian masih bakal percaya bahwa Ignatius Yohannes si tukang insinyur teologi yang jualan abab ini?

Ya maaf-maaf aja yak, soalnya absurd banget mualaf kayak Ignatius Yohannes yang berasal dari Katolik sampai nggak paham tentang hal sesimpel ini.

Atau masnya tukang insinyur teologi itu ndak lagi ngepromoin merek pakaian tertentu kan yha, dengan bawa-bawa kata Kardinal?

Endorse bilang, Bosss!

BACA JUGA Enaknya Orang Kristen, Begitu Mualaf Langsung Jadi Ustaz Seribu Umat atau tulisan Margaretha Diana lainnya.

Leave a Comment