• 141
    Shares

MOJOK – Di antara beberapa agama yang diakui pemerintah, agama Buddha adalah salah satu agama paling asing karena jumlah pengikutnya yang sedikit. Meski begitu bukan berarti mereka tidak berhak mendapatkan penghormatan dari kita semua…. Cie, yang lagi Waisak, selamat yha~

Saat saya baru menginjak sekolah dasar, mendengar kata Buddha adalah sesuatu yang asing. Apa itu Buddha? Sebuah planet, makanan, atau agama?

Sampai suatu ketika, saya memperoleh pelajaran PPKN (kalo sekarang mungkin bernama Kewarganegaraan). Di dalam pelajaran itu, disebutkan bahwa Indonesia memiliki lima agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha (Konghucu belum dikenal karena baru diresmikan saat Gus Dur jadi presiden Indonesia tahun 2001).

Guru tak banyak menjelaskan apa itu Buddha, bagaimana ritualnya, atau pakaian yang dikenakannya apa saja. Yang jelas, guru hanya menjelaskan bahwa penganut Buddha beribadah ke vihara. Sudah itu cukup. Mentok sampai situ saja.

Di sisi lain, dari luar sekolah, memori masa kecil tentang Buddha hanya diperkuat dengan sebuah film yang selalu diputar sore hari. Film Sun Go Kong. Di film tersebut ada pria botak bernama Tom Sam Chong yang berperan sebagai penganut Buddha. Ada dua adegan yang selalu yang saya ingat pada diri Tom Sam Chong.

Pertama, ia selalu meletakkan kedua tangannya tepat di dada (bukan bersedekap ya) sembari berkata, “Amitaba” dan seraya menundukkan kepala ketika bertemu dengan orang lain. Kedua, ia selalu berkata kepada murid-muridnya pergi ke arah Barat. Entah ke mana yang ia maksud.

Bayangan saya tentang Buddha lekat dengan fisik dan tingkah laku Tom Sam Chong. Tak lebih dari itu. Sampai suatu ketika kakak sepupu saya menikah dengan seorang wanita beragama Buddha.

Melihat sepupu saya menikah dengan seorang penganut Buddha, saya baru menyadari bahwa ternyata penganut Buddha ada yang tidak botak ya? Saya kira baik perempuan atau laki-laki pun harus botak. Dan dari kakak sepupu saya itu pula akhirnya saya mengenal sedikit lebih jauh tentang Buddha.

Menurutnya, ada banyak yang tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia tentang Buddha. Seperti misalnya, kalau ditelisik lebih jauh ada banyak aliran dalam Buddha. Ada Theravada, Mahayana, Buddhayana, dan masih banyak lainnya. Dan itu punya tata cara dalam beribadah yang beragam.

Barangkali kalau mau dibandingkan dengan di Islam, bentuknya sedikit mirip macam ada NU, Muhammadiyah, LDII, dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Baca juga:  FPI Siapkan Kuasa Hukum untuk Bantu Sugi Nur Hadapi Kasus Dugaan Ujaran Kebencian

Saya pernah bertanya tentang gimana sih rasanya jadi kaum minoritas di Indonesia. Apakah dia tertekan? Apakah dia merasa tidak aman? Mengapa saya menyebutnya minoritas? Karena data BPS terakhir, jumlah penganut Buddha hanya 1% dari jumlah keseluruhan masyarakat Indonesia. Sedikit sekali.

Dengan jumlah penganut sekecil itu di Indonesia, saya pikir dia bakal tertekan dan merasa tidak aman. Ternyata anggapan saya salah. Dia justru tidak pernah merasa menjadi kaum minoritas. Selalu aman dan terlindungi berada di lingkungannya. Selain itu, di tempat di mana dia tinggal yaitu Tangerang, umat Buddha termasuk yang keberadaannya paling tinggi di Indonesia.

Saya kagum. Berarti memang tanah Indonesia adalah tanah yang menjunjung tinggi keberagaman. Tapi, ada perasaan unik, kalo tak mau dibilang aneh, ketika dirinya diketahui merupakan seorang penganut Buddha oleh orang-orang di sekitarnya. Pertanyaan yang sama seperti ketika saya SD dan mendengar apa itu agama Buddha untuk kali pertama.

Yang bertanya itu mungkin merasa heran hingga menumpahkan kalimat seperti ini,

“Kok bisa ya ada orang Buddha di sini?”

“Kamu penganut Buddha? Wah, gimana sih itu agamanya?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seperti pertanyaan default yang berseliweran ketika tahu kalau kakak sepupu saya ini penganut Buddha. Seolah-olah menjadi penganut Buddha itu menjadi orang yang punya pengalaman paling berbeda sehingga perlu dikorek-korek, bagaimana sih rasanya? Apa saja sih yang dilakukan? Gimana ya ritus ibadahnya? Apa bener harus sepasrah seperti Tom Sam Chong kalau lagi kena musibah? Dan lain-lain.

Saya pernah bertanya kepadanya soal itu dan jawabannya, kira-kira seperti ini. “Tentu saya bisa jelaskan. Cuman tak mungkin yha dalam forum ini. Lain kali sadja~. Tak baik di mata masyarakat.” Hm, jangan-jangan sepupunya SBY ini yang jawab.

Intinya, sepenangkapan saya dari jawabannya, mereka tidak begitu nyaman ditanya-tanya begitu. Sudah deh, mari kita hormati saja dan jangan anggap bahwa mereka adalah astronot yang baru pulang dari Asgard, sehingga perlu ditanya-tanya bagaimana rasanya.

Saya pernah bertanya pula, apakah dia makan daging, karena kalau kalian melihat film Sun Go Kong, si Tom Sam Chong tak pernah makan daging. Hal yang membuat saya berkesimpulan bahwa semua penganut Buddha adalah seorang vegetarian semuanya.

Baca juga:  Poros Ketiga di Pilpres 2019: Jadi Nggak, Nih?

Jawabannya, ya sepupu saya tetap makan daging. Makan kambing, makan sapi, makan ayam. Sebab, seperti yang telah saya sebutkan di atas, ada banyak aliran Buddha yang menganut tata cara berbeda.

Nah, bagi penganut Buddha, waisak adalah perayaan hari besar. Mungkin seperti lebaran besar (iduladha). Seperti musim haji di Islam mungkin bagi mereka. Kalau di Indonesia atau sekitaran Asia Tenggara, pusatnya ya ada di Borobudur.

Kalau Anda berkenan atau sempat datang ke Borobudur ketika Waisak, Anda akan menemukan situasi banyak penganut Buddha yang berbondong-bondong ke sana dari berbagai negara. Tidak hanya dari Asia Tenggara, tapi juga dari India atau Nepal juga. Mereka semua menggunakan seperti baju ihram warna cokelat semu kuning, lalu mengitari Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam. Ritual yang kemudian saya tahu, namanya pradaksina.

Ketika saya tanya kakak sepupu saya bagaimana rasanya melakukan perayaan Waisak di Borobudur?

Jawabannya, sederhana. Capek tapi magis. Dibilang capek karena jalannya jauh tapi saya kira wajar karena itu dia lakukan saat masih kecil mungil. Cuman perasaan magis itu masih lekat hingga saat ini.

Bunyi lirih yang dilantunkan secara berjemaah hingga pelepasan seribu lampion ke langit adalah suatu bentuk perayaan magis yang tak mungkin dilupakan seumur hidup. Baginya, saat itu, ia seperti sangat dekat sekali dengan pencipta-Nya.

Hari ini, perayaan Waisak 2562, yang kalo dikonversi ke tahun Masehi adalah tahun 2018. Dengan mengusung tema “Bertindak, Berucap, Berpikir Baik Memperkokoh Keutuhan Bangsa”, kakak sepupu saya berharap bahwa kebaikan selalu hadir dari, oleh, dan untuk masyarakat Indonesia.

Mengurangi keburukan dan menyebarkan Dharma adalah hal yang selalu digaungkan dan wajib dilaksanakan tidak hanya penganut Buddha semata, melainkan juga masyarakat Indonesia.

Meningkatkan kesadaran untuk terus melakukan kebaikan itu sangat penting sebab seringkali kita tidak sadar terkadang kita menyebarkan keburukan. Dan lagi, kesadaran untuk memperkokoh keutuhan bangsa sangat laik dilaksanakan, bukan kericuhan seperti yang ada di Lombok beberapa saat lalu.

Dan kalo boleh berkata, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta (Semoga Semua Makhluk Berbahagia) karena Bahagia kotanya, Bahagia warganya. Eh. Bahagia Indonesia, Bahagia bangsa Indonesia.

Selamat Hari Raya Waisak 2562 untuk kakak sepupu saya, sekaligus penganut Buddha lain yang juga merupakan saudara saya.