MOJOK.CO – Cassius Marcellus Clay, Jr., demikian Muhammad Ali pernah dikenal, diperkenalkan dengan dunia yang keras di Louisville, Kentucky sejak masa kecilnya.

Kota Louisville tempat kelahiran Muhammad Ali, atau lahir dengan nama Cassius Marcelus Clay, Jr., identik dengan kebijakan pemisahan (berdasarkan warna kulit) dalam fasilitas publik; terkenal dengan Kentucky Derby, mint julep—koktail yang dibuat dari daun mint yang dihancurkan, dicampur dengan air gula dan ditambahkan wiski—dan hal-hal liyan yang berkelindan dengan kaum bangsawan dari Selatan.

Orang kulit hitam tergolong kelas pembantu di Louisville. Mereka mengumpulkan tahi kuda untuk pupuk di dekat arena pacuan di Churchill Downs—arena yang paling masyhur untuk ajang Kentucky Derby setiap tahun—dan membersihkan rumah orang lain.

Tumbuh besar di Louisville, peluang terbaik yang realistis bagi kebanyakan orang kulit hitam untuk meningkatkan kehidupan sosial-ekonominya adalah menjadi pendeta dan guru di sekolah kulit hitam. Dalam masyarakat yang kerap menganggap kekuatan sebagai kebenaran, “kulit putih” identik dengan keduanya.

Ayah Ali, Cassius Marcellus Clay, Sr., menghidupi istri dan kedua anaknya dengan mengecat papan iklan dan penunjuk jalan. Ibunya, Odessa Grady Clay, kadang-kadang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

“Aku ingat suatu kali ketika Cassius masih kecil,” sang ibu mengenang, “kami sedang berada di kota, di sebuah warung. Dia ingin minum, tetapi mereka tidak mau memberinya minum karena warna kulitnya. Peristiwa ini sangat memengaruhinya. Dia sama sekali tidak menyukai itu, menjadi anak kecil dan kehausan. Dia mulai menangis, dan aku berkata, ‘Ayo pergi, aku akan mencarikan air untukmu.’ Peristiwa ini sangat menyakitinya.”

Saat Cassius Clay berusia 12 tahun, sepedanya dicuri. Kejadian ini membuatnya memutuskan untuk belajar bertinju di bawah asuhan polisi Louisville bernama Joe Martin.

Clay berkembang pesat, melewati kelas amatir, memenangi medali emas dalam Olimpiade 1960 di Roma, dan menjadi petinju profesional di bawah bimbingan The Louisville Sponsoring Group, sindikasi yang terdiri atas sebelas orang kaya berkulit putih.

“Cassius adalah orang penting saat itu.” Dokter lamanya, Ferdie Pacheco, mengingat.

Dia mulai berlatih di Miami bersama Angelo Dundee, dan Angelo menempatkannya di sarang penyamun, yakni Hotel Mary Elizabeth karena Angelo salah satu orang paling lugu di dunia dan hotel itu sangat murah.

Tempat tersebut penuh mucikari, maling, dan pengedar narkotika. Di sanalah Cassius, yang berasal dari keluarga baik-baik, langsung bersinggungan dengan sirkus orang jalanan ini.

“Mulanya, para bergajul itu mengira dia hanya seorang pekerja penatu; seseorang yang dapat dijadikan target pencurian; seseorang yang dapat ditawari obat bius; seseorang yang dapat disodori perempuan lonte. Dia luar biasa polos, tipikal orang yang dapat menjadi mangsa empuk di ghetto—wilayah kumuh perkotaan yang dihuni kelompok minoritas. Namun, kemudian para begundal itu jatuh cinta kepadanya, seperti setiap orang lainnya, dan mereka mulai merasa perlu melindunginya.”

Menurut Thomas S. Owens dalam bukunya, Muhammad Ali: Boxing Camp & Role Model (2011), pada tahap awal karier profesionalnya, Cassius Clay lebih dihargai karena pesona dan kepribadiannya tinimbang kepiawaiannya di atas ring.

Dia mengumumkan diri sebagai “Yang Terhebat” (The Greatest), tetapi kerasnya dunia tinju terkesan menyambut sebaliknya. Kelak, 25 Februari 1964, dalam salah satu kejutan berkesan dalam sejarah olahraga, Clay menganvaskan Sonny Liston untuk menjadi juara dunia kelas berat.

Dua hari berselang, dia kembali menghebohkan dunia dengan mendeklarasikan diri mengikuti ajaran agama kulit hitam yang menghendaki pemisahan diri yang dikenal dengan nama Nation of Islam.

Dan, titimangsa 6 Maret 1964, dia memakai nama “Muhammad Ali”, yang diberikan oleh mentor spiritualnya, Elijah Muhammad. Selama tiga tahun berikutnya, Ali mendominasi jagat tinju sepenuhnya dengan sangat menakjubkan tanpa ada bandingan sebelumnya. Di luar ring, pesonanya bahkan dibentuk dalam cara yang jauh lebih penting.

Ketika suasana 1960-an semakin halai-balai, Ali ibarat penangkal petir yang meredam perselisihan di Amerika Serikat. Pesannya ihwal kebanggaan dan perlawanan kulit hitam atas dominasi kulit putih merupakan pembaruan pada zamannya.

Anjurannya tidak melulu bijak, dan Ali sendiri kini menolak beberapa keyakinan yang dia taati waktu itu. Mungkin kita dapat menemukan alegori untuk hidupnya lewat pernyataan yang disampaikan kepada sesama atlet Olimpiade, Ralph Boston.

“Aku bermain golf,” tutur Ali, “dan aku memukul bolanya dengat kuat, tapi aku tidak pernah tahu ke mana bola itu menuju.”

Toh, adakalanya Ali tahu persis ke mana haru menuju. Pada 28 April 1967, mengikuti keyakinan agamanya, Islam, dia menolak bergabung dengan Angkatan Bersenjata AS dalam perang besar-besaran di Vietnam.

Penolakannya itu disertai penyataan blak-blakan, diungkapkan 14 bulan sebelumnya, “Saya tidak punya masalah dengan Vietkong.”

Dan, pemerintah Amerika balas menanggapi dengan geram, menuntut, “Sejak kapan perang menjadi masalah pribadi? Perang adalah tugas. Negara menyerukan, Anda menjalankan.”

Tanggal 20 Juni 1967 Ali dihukum karena menolak bergabung dengan Angkatan Bersenjata AS dan divonis 5 tahun penjara. Empat tahun kemudian, dengan suara bulat, hukumannya dihapuskan oleh Mahkamah Agung AS.

Namun, untuk sementara gelarnya dicabut dan dia dilarang bertinju selama 3,5 tahun. “Dia tidak percaya bakal dapat bertinju lagi.” Istri Ali saat itu, Belinda Ali, menuturkan “pengasingan” suaminya dari jagat tinju. “Dia sangat ingin, tetapi juga sangat yakin tidak dapat bertinju lagi.”

Sementara itu, pengaruh Ali terus tumbuh—di kalangan kulit hitam, di antara mereka yang menolak perang di Vietnam, di antara setiap orang yang menentang sistem.

“Sulit membayangkan seorang olahragawan memiliki pengaruh politik yang luas terhadap banyak orang,” ungkap Julian Bond.

Dan, sekira Oktober 1970 ketika akhirnya Ali dibolehkan kembali naik ke ring. Empat bulan kemudian, kembalinya Ali ke atas ring tinju dinodai kekalahan dari Joe Frazer.

Ini pertandingan yang sungguh berimbang dalam sejarah. Tak seorang pun di Amerika bersikap netral malam itu.

“Ada bagusnya bagiku kalah satu kali setiap 10 tahun,” Ali berkelakar usai pertandingan.

Akan tetapi, secara fisik dan psikis, dia merasa kesakitan yang dahsyat. Selanjutnya, Ali membalas kekalahan atas Frazer sebanyak dua kali dalam pertarungan yang tidak kalah bersejarah. Pada akhirnya, dia tiga kali memenangi kejuaraan kelas berat dunia—hal ihwal yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Seiring waktu, pandangan keislaman Ali berkembang. Thomas Hauser dalam Muhammad Ali: A Tribute to the Greatest (2016), menyigi bahwa pada pertengahan 1970-an Ali mulai lebih berkanjang mempelajari Alquran, berfokus pada Islam ortodoks. Keyakinan sebelumnya terhadap ajaran Elijah Muhammad—bahwa orang kulit putih adalah “iblis” dan tidak ada surga atau neraka—digantikan sentuhan spiritual untuk semua orang dan persiapan untuk kehidupan akhiratnya.

Tahun 1984 secara terbuka Ali menentang doktrin separatis Louis Farrakhan, menyatakan, “Apa yang dia ajarkan bukanlah apa yang bisa kita yakini. Dia merepresentasikan masa kegelapan dalam perjuangan kita dan masa kegalauan dalam diri kita, dan kita tak ingin berpautan dengan perihal tersebut sedikit pun.”

Ali kini adalah sosok yang sangat religius. Walaupun fisiknya tidak sebugar dahulu, proses berpikirnya masih jelah. Dia masih sosok yang paling dikenal dan dicintai di dunia.

Namun, apakah Muhammad Ali tetap relevan pada era kiwari? Pada zaman ketika manfaat pribadi dan ketamakan menjadi dasar bagi kebijakan publik, apakah pria 54 tahun yang terjangkit sindrom Parkinson benar-benar penting?

Pada saat media elektronik-digital yang bising mendominasi seluruh dunia, dan status selebritas serta ketenaran secara keliru diterjemahkan sebagai kepahlawanan, apakah ada ruang untuk kepahlawanan nan sejati?

Ali jauh dari sempurna, dan akan merugikan dia jika tidak mengakui kelemahannya. Musykil membayangkan orang yang begitu kuat tetapi terkadang sangat naif, kira-kira mirip Forrest Gump.

Adakalanya Ali bersikap irasional. Dia menghargai kehormatan dan merupakan orang terhormat, tetapi terlalu sering bersikap tidak hormat kepada orang lain. Akan tetapi, hal-hal benar yang dilakukannya dalam hidup jauh lebih besar tinimbang kesalahan masa silamnya. Ali meninggal dunia pada 3 Juni 2016 di Scottsdale, Arizona, AS.

Sisi kelam dari tahun-tahun sebelumnya telah lama dimaafkan atau dilupakan. Yang tersisa kini warisan monumental dan pengingat tentang apa yang dapat seseorang lakukan.

Pengaruh Muhammad Ali di seluruh bangsa, kulit hitam dan putih, dan seluruh negara tak tepermanai. Dia bukan sekadar juara. Juara adalah seseorang yang memenangi kompetisi olahraga. Ali melampaui itu.

Ali ibarat harta berharga milik dunia. Lebih dari orang lain di generasinya, dia milik warga dunia dan dicintai oleh mereka. Apa pun yang terjadi pada tahun-tahun mendatang, dia telah menjadikan kita lebih baik.

Dia mendorong jutaan orang untuk percaya kepada diri sendiri, menyuarakan pandangan mereka, dan mencapai hal-hal yang tidak mungkin dicapai tanpanya. Dia bukan hanya mengusung panji kebebasan orang kulit hitam Amerika. Dia berjuang untuk semua manusia. Itulah arti penting sosok Muhammad Ali.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.



Tirto.ID
Loading...

No more articles