MOJOK.CO – Bagi seorang jenius seperti Muhammad Abdus Salam, penerima Nobel bukanlah hal yang mengherankan. Prestasinya memang luar biasa.

Abdus Salam tercatat sebagai muslim perdana yang menerima penghargaan paling bergengsi dalam bidang sains. Titimangsa 1926, dia lahir di sebuah desa kecil di wilayah Punjab yang ketika itu masuk bagian India, tapi saat ini termasuk wilayah Pakistan.

Salam mengeyam sebagian besar pendidikannya di daerah miskin tersebut. Namun, dia menunjukkan kejeniusannya sejak sangat dini, seperti tatkala memeroleh nilai tertinggi sepanjang sejarah dalam ujian matrikulasi di Universitas Punjab ketika usianya baru 14 tahun.

Salam selanjutnya meraih gelar Master dari universitas itu sekaligus beasiswa untuk belajar ke Universitas Cambridge, tempat dia menerima Prize Smith untuk karya pra-doktoralnya yang dianggap berkontribusi sangat luar biasa untuk bidang fisika. Di tempat yang sama, dia memeroleh PhD dalam fisika teoretis.

Ketika tesisnya (dalam bidang kuantum elektrodinamika) diterbitkan (pada 1951), Salam memeroleh penghargaan dan reputasi internasional yang amat bergengsi. Saat itu, dia baru berusia 25 tahun, dan hal ihwal itu hanya merupakan awal dari riwayat kesuksesannya.

Pasca beberapa tahun kembali ke Pakistan, Salam menyadari bahwa tanah kelahirannya itu tidak memungkinkan dirinya meneruskan penelitian yang sesuai dengan kapasitas dirinya, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke Cambridge.

Walaupun demikian, dia terus memberi sumbangan ilmiah dan pengembangan teknologi kepada negaranya, setidak-tidaknya dalam hal kebijakan. Salah satu hal yang dilakukan Salam adalah berpartisipasi aktif dalam melahirkan program teknologi nuklir Pakistan, program ruang angkasa, dan lembaga atmosfer Suparco (Fraser 2008).

Kontribusi-kontribusi utama Salam untuk sains, Dunia Ketiga, dan kemanusiaan mulai menonjol titimangsa 1960-an. Pada masa itulah dia—bekerja secara independen dari dua fisikawan Amerika (Sheldon Glashow dan Steven Weinberg), yang pada 1979 ketiganya serentak dianugerahi Peragih Nobel Fisika karena prestasi di bidang yang sama—mengembangkan teori electroweak di ranah fisika partikel, suatu sintesis matematika dan konseptual atas gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah, yang merupakan langkah signifikan dalam pencarian panjang para fisikawan ‘untuk menyatukan empat gaya fundamental alam semesta (gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir lemah, dan gaya nuklir kuat)’.

Baca juga:  Merasa Sia-Sia di Hadapan Mahasiswa S-1 Indonesia yang Terancam Dapat Nobel

Pada awal 1980-an, teori Salam-Glashow-Weinberg secara ekperimental diverifikasi oleh tim peneliti Conseil pour la Recherche Europeen Nucleaire (CERN, saat ini berganti nama menjadi Organisation pour la Recherche Europeenne Nucleaire) di Jenewa dan menghasilkan penemuan partikel W dan Z. Kiwari, teori ini menjadi bagian inti ‘model standar’ fisika energi tinggi (Guessoum 2011: 232-3).

Selain beberapa sumbangan berarti –yang bertahan lama dan bisa dikembangkan lebih luas–pada ilmu fisika, Salam juga memiliki dua kesibukan liyan: (1) membantu para ilmuwan Dunia Ketiga memaksimalkan potensi-potensi mereka dan memberi kontribusi bagi kemanusiaan, dan (2) menyelaraskan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan metode sains modern. Untuk itu, Salam menghabiskan paruh kedua dalam hidupnya dengan mengabdikan sebagian besar waktu dan energi untuk membantu para ilmuwan Dunia Ketiga.

Semula, tahun 1964, dia mendirikan International Centre for Theoretical Physics (yang berganti nama menjadi The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics setelah dia meninggal dunia pada 1996) di Trieste, Italia. Salam juga mendirikan Third World Academy for Sciences (TWAS) tahun 1983 (juga di Trieste) yang bertujuan memfasilitasi kontrak dan kerja sama penelitian-penelitian tingkat tinggi antara para ilmuwan Dunia Ketiga dengan beberapa organisasi tertentu.

Salam juga mendermakan semua uang dari Hadiah Nobel yang diterimanya untuk kepentingan fisikawan dari negara-negara berkembang dan tidak menyisihkan sedikit pun untuk dirinya sendiri atau keluarganya! Begitu pula dengan uang yang dia terima dari Atoms for Peace Award.

Selain itu, Salam selalu tampak sangat menjiwai keyakinan agamanya sebagai seorang muslim. Dia berasal dari komunitas muslim Ahmadiyah yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai aliran non-ortodoks alias sempalan dalam Islam. Faktor inilah yang membuat pemerintah Pakistan tidak pernah memberinya penghargaan yang selaiknya Salam dapatkan atas kontribusi luar biasa yang dia berikan.

Baca juga:  Apa yang Membatasi Manusia? Pikirannya Bahwa Ia Sudah Sampai di Batas

Salah satu pandangan yang sangat Salam yakini adalah tidak ada kontradiksi antara iman pribadinya (dan keimanan umat beragama kepada Tuhan secara umum) dan penemuan-penemuan sains yang dengannya manusia memafhumi alam dan jagat raya.

Dalam pidato acara perjamuan hadiah Nobel yang dia terima, Salam mengutip ayat-ayat Alquran berikut: “(Dialah) Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, dan kamu sekali-kali tidak melihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dan kamu tidak menemukan cacat apa pun, sedang penglihatanmu menjadi payah” (QS. Al-Mulk [67]: 3-4).

Dia juga menambahkan, “Inilah efek iman bagi semua fisikawan: semakin dalam kita mencari, semakin banyak keajaiban yang mencengangkan, semakin kita akan terpesona” (Fraser 2008).

Salam juga sering menekankan bahwa Alquran mendorong, bahkan memerintahkan, orang-orang beriman agar merenungkan susunan alam semesta, dan itulah yang bisa dilakukan sains saat ini dengan cara yang sebelumnya dianggap tidak mungkin. Generasi saat ini, menurutnya, diwarisi hak istimewa dengan anugerah ditemukannya seluk-beluk rancangan Allah Swt. atas alam semesta.

Salam tidak terlalu bergumul dengan isu-isu filosofis seputar upaya menyelaraskan iman dengan sains modern. Meski demikian, salah satu tulisannya yang menjelaskan visi tentang sains, agama, dan kemanusiaan diterbitkan ulang menjadi sebuah bab dalam Selected Essays of Abdus Salam, edisi yang diterbitkan pada 1987 dengan judul “Ideals and Realities”.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.