MOJOK.COSudah waktunya dominasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo di ajang Ballon d’Or diakhiri. Mohamed Salah lebih dari layak untuk menerima anugerah pemain terbaik di dunia.

Raja Mesir resmi menaklukkan Inggris. Pep Guardiola boleh saja berpendapat bahwa Kevin de Bruyne lebih layak mendapatkan gelar pemain terbaik Liga Inggris musim ini ketimbang Mohamed Salah. Pep bisa saja benar sebagaimana dia bisa bias. Yang jelas, suara mayoritas para pemain profesional Inggris tidak sependapat dengan pelatih Manchester City tersebut.

Minggu kemarin, Salah diganjar penghargaan Player of The Year musim ini berkat hasil pemungutan suara terbanyak dari para pemain profesional di bawah naungan The Professional Footballers’ Association (PFA). Salah resmi menjadi yang terbaik di (katanya) liga terbaik dunia.

Berhasil menapakkan satu kaki di final Liga Champions setelah Liverpool menang 5-2 dari AS Roma, ditambah 43 kali melakukan sujud syukur di bumi Eropa berkat selebrasi golnya, pertanyaan ambisius muncul: apakah Salah adalah “messiah” yang kita tunggu untuk menyelamatkan sepak bola dari feodalisme Messi-Ronaldo?

Apakah Si Raja Mesir siap menginvasi dunia dengan merenggut kesucian Ballon d’Or dari dua nama selama satu dekade?

Ketika Salah gagal di Chelsea, saya pribadi mengira Liga Inggris tidak cocok dengan pemain berumur 25 tahun ini. Postur tubuh yang kecilnya lebih bisa dihargai di liga sepak bola yang lebih selaw dan sans. Ora grusak-grusuk macam Inggris. Toh, buktinya Mohamed Salah bisa dibilang bersinar bersama Fiorentina dan AS Roma.

Baca juga:  Liverpool Dikalahin Tim Akademi Sendiri, Nggak Tahu Malu Minta Penalti karena Itu Jatahnya Manchester United

Ketika akhirnya Salah dijual Roma ke Liverpool, saya menganggapnya tak lebih dari usaha Roma menyeimbangkan neraca keuangan demi memenuhi aturan Financial Fair Play. Itulah alasan ia dijual sebelum 30 Juni 2017, tenggat waktu laporan keuangan Roma ke UEFA, pun hanya seharga 42 juta euro.

Jürgen Klopp sendiri mengakui bahwa pembelian Salah ke Liverpool dilakukan tanpa menyadari kemampuan mencetak golnya. Mantan pelatih Borussia Dortmund ini mengatakan bahwa kemampuan tersebut diketahui seiring waktu berjalan.

“Khususnya ketika aksi agresif Firmino yang ternyata memberikan Salah banyak kesempatan,” ujar pelatih asal Jerman tersebut. Setelah menengok prestasi yang dilakukan Salah musim ini, harga 42 juta uero terdengar sangat murah, terkhusus apabila mengetahui harga Ousmane Dembele mencapai 120 juta euro.

Syarat menjadi yang terbaik untuk Mohamed Salah

Menurut hemat saya, ada tiga hal yang perlu dilakukan apabila Salah ingin mendobrak dominasi Messi dan Ronaldo di gelaran Ballon d’Or. Hal ini bersifat jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Bukan apa-apa, sebagai sesama umat muslim, saya tergugah memberikan Salah wejangan. Saling mengingatkan, tidak lebih. Insya Allah.

Pertama, untuk jangka pendek. Salah wajib ain’ hukumnya memenangi Liga Champions 2017/18. Wajib ain’ artinya tidak bisa diwakilkan oleh orang lain, apalagi Cristiano Ronaldo.

Momentum menembus semifinal Liga Champions harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Terlebih spirit Liverpool musim ini, menurut Ian Rush, sama dengan spirit Liverpool tahun 1984. Pada tahun itu, Liverpool mampu mengalahkan Roma 1-0 di final Liga Champions. Padahal, pertandingan digelar di Stadion Olimpico, kandang dari AS Roma. Ian mengatakan persamaan spiritnya terdapat pada mentalitas pemain yang tidak takut melawan tim mana pun.

Baca juga:  PSS vs PSIM: Apakah Derbi di Indonesia Harus Selalu Tanpa Penonton?

Dua gol dan dua asis saat meluluhlantakkan AS Roma pada leg pertama semifinal Liga Champions musim ini membuat kans Salah menyejajarkan diri dengan Ronaldo dan Messi semakin nyata.

Melihat pengalaman yang sudah-sudah, trofi Liga Champions adalah satu tiket menuju setidaknya tiga besar nominasi Ballon d’Or. Pada titik ini, saya kembali mengingatkan Salah untuk tidak takabur dan terus fokus pada indahnya kemilau Piala Liga Champions.

Jangka menengah: apabila memutuskan tetap di Liverpool, The Reds wajib hukumnya membantu Salah. Pembelian pemain untuk menambah kualitas dan kedalaman skuat dibutuhkan untuk membuat Salah menuju level permainan terbaik.

Messi dan Ronaldo cukup beruntung karena Barcelona dan Real Madrid menyadari hal ini. Bahkan, sampai muncul perdebatan tentang apakah Messi dan Ronaldo mampu berada di level terbaik tanpa poros Xavi-Iniesta ataupun Casemiro-Kross-Modric di sisi mereka.

Saran saya, bek, kiper, dan gelandang kelas dunia masih dibutuhkan Liverpool, ditambah satu pelapis trio Mane-Firmino-Salah yang sepadan untuk musim depan.

Apabila Salah memutuskan pindah klub, Real Madrid saya kira adalah destinasi yang tepat. Dari 19 gelaran Ballon d’Or terakhir, hanya 5 kali jatuh ke bukan pemain Barcelona atau Real Madrid. Apalagi Madrid sudah memberikan kode-kode ingin meminang Salah. Pemain elite memang cocoknya bermain dengan klub elite. Tidak perlu merepotkan diri bersama para domba. Astagfirullah.

Terakhir, adalah hal yang perlu dilakukan Salah demi kesuksesan jangka panjang. Sederhana saja, saya sarankan Salah tetap mengingat bahwa 2,5% penghasilannya adalah bukan miliknya. Teruslah bersedekah, santuni anak yatim, dan rajin salat Jumat.

Baca juga:  Arsenal dan AC Milan Mengajarkan Bahwa Kemenangan yang Buruk Tetap Harus Dirayakan

Ganjaran jangka panjang di akhirat berupa kenikmatan surga adalah sebenar-benarnya kebahagiaan. Ballon d’Or fana, surga firdaus abadi. Subhanallah.

Hail the Egyptian King! Eh, maksudnya, Wassalamualaikum.