Marseille vs Salzburg: Jadwal, Prediksi, dan Hasil Pertandingan Semifinal Liga Europa

MOJOK.CO Laga semifinal Liga Europa antara Marseille dan RB Salzburg tak kalah seru dibandingkan Arsenal vs Atletico Madrid.

Jadwal Pertandingan

Leg 1 Semifinal Liga Europa antara Marseille vs RB Salzburg, Kamis (27/4) pukul 02.05 WIB akan digelar di Stadion Velodrome. Alhamdulillah, rezeki Salzburg jalan-jalan ke Prancis.

Pertandingan akan dimulai pukul 02.05 WIB. Untuk masyarakat Indonesia, walaupun SCTV hanya menayangkan laga Arsenal vs Atletico Madrid karena dianggap lebih menjual, janganlah bersedih.


Kita masih bisa menonton pertandingan ini dari layanan televisi kabel. BeIN Sports 1 dan 2 seperti biasa akan menayangkan dua pertandingan semifinal Liga Eropa secara berbarengan. Bagi yang tidak punya tivi kabel, bisa segera pergi ke warnet terdekat untuk mencari link streaming. Bagi yang tidak bisa ke warnet, bisa menyimak laporan langsung di Twitter @mojokdotco.

Fakta Pra-pertandingan

Di babak perempat final Liga Europa, Marseille dan Salzburg sama-sama berhasil melakukan comeback ciamik. Juara Liga Champions musim 1992/1993 ini menang 5-2 setelah kalah 0-1 di leg pertama dari RB Leipzig. Sedangkan Salzburg mengangkangi Lazio 4-1 setelah kalah 2-4 di leg pertama.

Sebagai catatan, Salzburg hanya kalah 2 kali dalam 21 pertandingan tandang terakhir. Klub asal Austria tersebut mampu mencetak masing-masing 2 gol dari 3 pertandingan tandang terakhir. Mengingat tidak segannya Salzburg untuk keluar menyerang, calon juara Bundesliga Austria itu dipastikan akan mengincar kemenangan meski bertindak sebagai tim tamu.

Marseille sendiri punya rekam jejak menjanjikan di Stadion Velodrome. Tim besutan Rudi Garcia ini hanya kalah 1 kali dari 21 pertandingan kandang. Bahkan, Marseille mengoleksi 10 gol hanya dari 2 pertandingan kandang terakhir.

Marseille akan menjamu Salzburg tanpa Hiroki Sakai akibat cedera lutut sejak pekan lalu. Sakai menyusul Boubacar Kamara dan Steve Mandanda yang lebih dulu menepi. Salzburg lebih beruntung dari segi kedalaman pemain sebab tidak satu pun pemainnya cedera. Diadie Samassekou, yang pada perempat final tidak bisa dimainkan karena larangan, sudah diizinkan merumput kembali.

Baca juga:  Persija 1928 Tahu Bagaimana Meneladani Long March Sultan Agung 1628

Prediksi Pertandingan

Cenayang yang disewa Mojok Institute untuk meramal pertandingan mengatakan bahwa penguasaan bola masih akan menjadi menu andalan Marseille. Poros serangan yang bertumbu pada poros Payet-Thauvin-Ocampos akan sibuk mencari celah melalui umpan-umpan pendek cepat ke tengah dan sayap sebelah kanan.

Payet dan Thauvin yang masih berharap terbang ke Rusia (atau naik kereta juga bisa) untuk bermain di Piala Dunia 2018 mempunyai motivasi lebih untuk bersinar. Saat ini, Marseille duduk di peringkat keempat klasemen sementara Ligue 1. Artinya, Marseille harus menjuarai Liga Europa apabila ingin bermain di Liga Champions musim depan.

Sementara itu, Salzburg diduga akan bermain agresif lewat pressing dengan garis pertahanan tinggi ketika mengeliminasi Lazio. Hwang Hee-chan, striker masa depan Korea Selatan, dan Munas Dabbur masih akan didapuk menjadi ujung tombak.

Apabila Marseille mampu menjaga penguasaan bola dan meminimalisir kesalahan tak perlu, anak asuh Rudi Garcia berpeluang memaksa Salzburg pulang tanpa gol tandang. Namun, apabila kesalahan terjadi dan Salzburg memanfaatkan momentum, seperti 3 golnya ke gawang Lazio dalam rentang waktu 4,5 menit, mimpi Marseille menjuarai Liga Europa akan sirna.

Kami memprediksi Marseille akan memenangkan laga ini.

Hasil Pertandingan Marseille 2-0 Salzburg

Marseille tampil percaya diri di depan 62.000 penonton yang memadati stadion Velodrome.

Seperti biasa, trio Thavin-Payet-Ocampos sebagai kreator serangan menjadi pusat permainan Marseille. Yang berbeda hanyalah Valere Germain yang tidak dimainkan sebagai starter. Pos striker tunggal justru diisi oleh Konstatinos Mitroglou.

Baca juga:  Bunuh Diri ala Arsenal, Bertahan Hidup Seperti Willian

Datang jauh-jauh dari Austria, Salzburg langsung menekan Marseille di 5 menit pertama lewat pressing pertahanan tinggi. Untungnya, Marseille tidak panik dan menunjukkan ciri khas mereka: penguasaan bola dan umpan pendek cepat. Terkhusus Dimitri Payet, ia diberi keleluasaan untuk berkreasi dengan umpan-umpan panjang kepada Mitroglou ketika sedang ingin. Nomor 10 mah bebas.


Kepercayaan diri tim asal Perancis ini berbuah manis. Pada menit ke-15, tendangan bebas Payet dari sisi kiri pertahanan Salzburg ditanduk oleh Thauvin yang beridri bebas untuk membuka tabungan gol Marseille.

Ini merupakan asis keenam Payet untuk 10 gol terakhir Marseille. Kombinasi Payet-Thauvin seakan menegaskan bahwa duet ini cukup menjanjikan bagi Prancis di Piala Dunia 2018 nanti.

Lewat tayangan ulang, terlihat sundulan Thauvin ternyata mengenai tangannya sendiri sebelum masuk ke gawang. Tapi yasudahlah, kita pura-pura tidak tahu saja.

Ketinggalan satu gol, Salzburg merespons dengan pressing yang lebih intens. Permainan menjadi semakin terbuka.

Peluan-peluang pun hadir bagi klub asal Austria itu. Pada menit ke-26 misalnya, Munas Dabbur mendapatkan kesempatan emas tinggal berhadapan dengan kiper Marseille, Yohann Pele. Sayang, sudut yang terlalu sempit membuat Dabbur kesulitan menceploskan bola ke gawang. Ketidakberuntungan berlanjut ketika sundulan Caeta-Car memanfaatkan sepak pojok beberapa menit berselang masih melebar.

Melihat potensi bahaya yang ditimbulkan Salzburg, Rudi Garcia, pelatih Marseille menginstruksikan para pemainnya untuk bertahan lebih dalam. Duet Adil Rami dan Luis Gustavo sebagai bek tengah patut kita berikan acungan jempol.

Duet ini terlihat saling melengkapi dan menyayangi, membuat Salzburg kesulitan menyuplai bola untuk duet penyerang Hee-Chan Hwang dan Munas Dabbur. Babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk Marseille.

Baca juga:  5 Adaptasi Arsene Wenger Agar Arsenal Keluar dari Zona Medioker

Babak kedua dimulai, tuan rumah bernasib buruk. Baru lima menit berjalan, Ocampos terlihat kesakitan dan meminta pertolongan kepada tim medis. Melihat peristiwa ini, Rudi Garcia akhirnya memutuskan menarik Ocampos dan memasukkan Zambo Anguissa.

Di babak kedua, Salzburg mencoba menggunakan umpan-umpan panjang seperti layaknya timnas Indonesia. Sayang, duet Rami dan Gustavo lagi-lagi terlalu disiplin.

Yang menarik adalah dinamisnya strategi menyerang Rudi Garcia. Meski menjadikan 4-2-3-1 sebagai formasi resmi dengan Mitroglou di pos penyerang tunggal, pada praktiknya, Payet dan Thauvin maju sebagai duet striker sedangkan Mitroglou bergeser ke sayap kanan. Strategi ini cukup merepotkan Salzburg, terutama karena sulit menjaga pergerakan Payet.

Njie Clinton (tidak ada hubungan darah dengan mantan Presiden Amerika Serikat), yang masuk menggantikan Lopez di menit ke-60, langsung memberikan hasil tiga menit berselang.

Visi apik Njie membuatnya mampu membebaskan Payet yang berlari dari sisi kanan pertahanan Salzburg. Payet, yang menahan bola sebentar, segera mengirim operan balik kepada Njie yang tanpa penjagaan berlari dari tengah lapangan. Dengan tenang, Njie yang hanya berhadapan dengan kiper menambah keunggulan Marseille menjadi 2-0.

Peluang terbaik Salzburg justru hadir dari kaki pemain pengganti, Fredrik Gulbrandsen. Mendapatkan umpan dari sisi kanan pertahanan Marseille, sontekan Guldbrandsen mengenai mistar gawang. Andai saja Guldbrandsen adalah Budi Sudarsono, pasti lain ceritanya. Sayang sekali.

Hingga peluit panjang dibunyikan, Skor 2-0 tetap bertahan.

Marseille menang, unggul dua gol, dan tanpa kebobolan. Hasil ini membuat kami puas akan kinerja cenayang dan berencana kembali menyewa cenayang yang sama untuk prediksi Mojok Institute di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Hidup Karma ANTV!