[MOJOK.CO] “Kamu itu nggak tau apa-apa tentang gaya rambut Pasha, my love~”

Masyarakat kita ini agaknya memang masih susah move on. Suka betul terjebak dengan masa lalu. Salah satu contohnya, soal kejadian yang lagi menindih wakil walikota Palu, Sigit Purnomo Said alias Pasha ‘Ungu’. Ini gegara rambutnya yang dikuncir dengan karet gelang (kalau saya nggak salah lihat sih) itu kembali memancing komentar miring masyarakat bumi Tadulako.

Banyak yang bilang itu nggak etis lah, nggak mencerminkan seorang pejabat lah, apalagi saat itu Pasha sedang mengenakan pakaian dinas PNS. Itulah komentar-komentar yang terlalu wagu dan sudah bosan saya dengar. Tapi, emang kalau si Abang Pasha waktu itu lagi pakai baju koko plus kopiahnya, gimana? Etis apa enggak?

Agaknya mental masyarakat kita ini belum cukup mampu menerima kenyataan kalau saat ini memang lagi ramai artis yang sudah jadi pejabat negara. Harusnya kita bisa pahami lah kalau misalnya penampilan mereka ada yang nyeleneh. Lagian sih, toh saat menjabat ukuran keberhasilan itu bukan diukur dari penampilan semata, apalagi cuma sekedar kuncir rambut, kan?

Kalaupun misalnya pejabat seperti Pasha ini masih suka nyanyi dengan bandnya, itu cuma hobi saja kok. Emang apa salahnya kalau sesekali menyalurkan hobi? Toh ada pejabat yang hobi main perempuan futsal, ya ke lapangan futsal. Hobi memancing emosi ikan, ya ke kolam pemancingan. Jadi ya jangan disoalkan. Selama pejabat kita ini nggak memiliki hobi mengubah ideologi negara, itu fine-fine saja kok.

Sebelumnya Pasha juga pernah dicibir karena saat jam kerja, belio ternyata lagi asyik ngamen nyanyi sambil genjrengin gitar bareng ketua MPR RI Zulkifli Hasan di salah satu warung kopi di Palu. Padahal kan Bang Pasha cuma pengen menghibur tamu aja. Toh tidak dapat dipungkiri kalau masyarakat diam-diam ikut menikmati juga. Ya kan?

BACA JUGA:  Pasha 'Ungu' dan Kelatahan Jabatan

Terus sebelumnya lagi, waktu baru beberapa saat menjabat, penampilan belio pun sudah disenter. Kala itu dia mengenakan celana jeans dan jas yang lengkap dengan tongkat komandonya. Ini kenapa ya masyarakat terlalu posesif soal penampilan? Gini ya, Pasha itu bukan mantan aktivis dakwah yang cuma punya celana kain saja. Kali aja waktu itu Pasha baru punya satu atau dua pasang pakaian dinas yang kebetulan belum sempat dicuci. Sementara pas mau beli yang baru belum punya duit. Ya namanya juga barusan selesai kampanye. Mohon dimaklumi saja lah.

Lagipula apa yang dilakukan Pasha selama ini, menurut saya juga untuk kemajuan daerah. Kan di Kota Palu ini daerahnya lebih mengharapkan pemasukan dari sektor jasa doang. Pertanian, kelautan, lebih-lebih pertambangan itu nggak punya. Nah, untuk mensiasati kekurangan tersebut serta memaksimalkan sektor jasa, pertama-tama yang harus dilakukan adalah menjadikan daerahnya bisa dikenal luas.

Tapi masalahnya, masyarakat Indonesia ini belum terlalu kenal sama Kota Palu. Dulu, saya pernah kenalan dengan teman di media sosial. Pas saya bilang saya tinggalnya di Palu, dia jawab, “Wah, jauh banget tuh, itu di Papua, kan?” Hadeh, Palu disangka di Papua. Ya saya cuma bisa meluruskan dengan bilang, “Bukan, Palu itu di Solo kok, Solowesi Tengah”.

Nah, supaya seseorang atau sebuah daerah bisa terkenal, cuma ada dua pilihannya. Yakni ciptakan prestasi atau bikin sensasi. Dari beberapa kejadian yang telah meningkatkan kadar kepo masyarakat, itu sudah cukup terang untuk menjelaskan apa yang dipilih oleh Pasha. Tentu saja, bikin sensasi. Eh, tapi jangan langsung suudzon gitu dong. Santai lah~

Pasha memilih sensasi itu bukan tanpa alasan. Justru itu pilihan yang paling tepat. Abang Wawali ini begitu mahfum dengan kelebihan yang ia punya. Ketenaran keartisannya harus ia korbankan supaya bisa mengenalkan Kota Palu di kancah nasional hingga dunia. Ingat kan setelah terpilih, belio langsung berangkat ke Swedia? Sekarang kita semua sudah tahu maksud dibalik itu semua.

BACA JUGA:  5 Model Rambut Pria yang Populer, Diperagakan oleh Marno Blewah

Kemajuan zaman seperti sekarang ini memang menuntut kita untuk berfikir cepat dan tepat. Pilihan untuk bisa terkenal cuma dua. Kalau saja Pasha memilih untuk menciptakan prestasi daerah lebih dulu, itu butuh berapa lama lagi? Sementara para ulama memprediksi dunia ini nggak cukup 1500 Hijriah. Dan semua itu sudah dipertimbangkan masak-masak sama belio. Ya, kitanya aja yang belum mampu berpikir sampai ke sana dan bisanya cuma protes melulu.

Lagian buat apa pula kita berprestasi kalau toh nantinya nggak ada yang kenal. Nggak ada yang kenal, itu berarti nggak ada yang tahu. Berarti juga nggak ada yang memberikan pujian. Orang Palu ini kan gerbongnya puji-memuji. Atau lebih dikenal dengan istilah, baku tende. Tentunya ini sejalan dengan visi Pemerintah Kota Palu untuk menjadikan Palu sebagai kota yang berbudaya. Ya, budaya tende itu harus diperkenalkan kepada dunia!

Jadi mulai sekarang, nggak usah ngurusin penampilannya Pasha. Mending kita dukung saja. Siapa tahu gaya iconic belio ini bisa jadi trendsetter dikalangan para pejabat, sampai kemudian bisa dilegalkan. Kalau itu tercapai, kita sebagai masyarakatnya juga kan yang nantinya bangga. Bayangkan, kita punya pemimpin zaman now  yang millennial-able.

Tidak dapat dielak lagi, belio ini memang pemimpin yang sangat visioner. Melampaui pikiran zaman. Jadi sudahlah, kita dibandingkan dengan Pasha itu nggak ada apa-apanya. Mengomeli penampilan Pasha hanya akan membikin kita hancur berkeping-keping. Bagai debu tertiup anginnnnn~

Eh, tapi ngomong-ngomong, untuk menciptakan prestasi itu tugasnya masyarakat apa pemerintah, sih?

Komentar
Add Friend
No more articles