MOJOK.CO Lagu “Bella ciao” populer di Indonesia bersamaan dengan masuknya serial Spanyol produksi Netflix, La casa de papel. Apa yang dikisahkan lagu tua ini sehingga ia bolak-balik diangkut ke layar kaca?

Menurut hipotesis yang paling populer, “Bella ciao” berawal dari lagu protes para mondina, buruh tani perempuan musiman di Lembah Po, Italia utara, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Tugas para mondina antara lain, menanam padi dan membersihkan gulma yang mengganggu pertumbuhan padi. Aliran sungai Po memang menguntungkan budidaya padi, sesuatu yang tidak biasa di Eropa, yang membutuhkan banyak air. Dalam “Bella ciao”, perjuangan mereka sehari-hari digambarkan secara gamblang.

Stanza pertama mengisahkan bagaimana seorang mondina mesti bangun pagi untuk berangkat ke sawah. Di sawah, si mondina mesti bekerja keras (un dur lavoro) meski diganggu bahkan digigit serangga dan nyamuk (e fra gli insetti e le zanzare). Informasi tersebut kita peroleh dari stanza kedua. Para mondina, yang seharian bekerja membungkuk (noi curve a lavorar), diawasi oleh bos mereka dengan tongkatnya (il capo in piedi col sue bastone). Di stanza ketiga tersebut, pengalaman pribadi telah berpindah menjadi pengalaman kolektif. Perjuangan pribadi adalah perjuangan kelas, “aku” menjelma jadi “kami”. Meski kemudian di stanza kelima, tampak nada penyesalan dalam lirik “ed ogni ora che qui passiamo noi perdiam la gioventù” (setiap jam yang kami habiskan di sini juga mengambil masa muda kami), tersimpan harapan akan kebebasan di stanza terakhir: “ma verrà un giorno che tutte quante lavoreremo in libertà” (tetapi akan datang hari saat kami semua bekerja dalam kebebasan).

Karena lagu tersebut mengisahkan perjuangan para mondina, “Bella ciao” (berarti “selamat jalan, Cantik”, bisa juga berarti, “halo, Cantik”) adalah sapaan bagi diri sendiri. Kehidupan para mondina, yang digambarkan dalam lagu tersebut, dipotret juga dalam film Italia La risaia (1956) karya Raffaello Matarazzo dan Riso amaro (1949) karya Giuseppe De Sanctis. Di pembuka film La risaia, kita bisa saksikan seorang anak menangis karena dipisahkan dari ibunya. Nama mereka dimasukkan ke dalam daftar hadir, dan dipanggil oleh pengawas yang ditugaskan majikan (il padrone). Dari jejeran para buruh yang berdiri menunggu giliran nama mereka dipanggil, adegan berpindah ke ruangan majikan yang memiliki furnitur mewah: visualisasi singkat dan jelas tentang ketimpangan buruh dan majikan.

Lirik “Bella ciao” kemudian disesuaikan untuk digunakan sebagai lagu perlawanan oleh Resistenza italiana, kelompok penentang Nazi dan Republik Sosial Italia selama Perang Dunia II. Enam stanza liriknya tidak lagi bercerita tentang suka duka para mondina di bawah terik matahari, dengan upah rendah dan jam kerja panjang. “Bella ciao” para pejuang (partigiano; partisan) menjelma jadi lagu tentang Daud melawan Goliat. Enam stanzanya bercerita tentang perjuangan melawan musuh/penjajah (invasor), tentang kematian demi kemerdekaan. Di berbagai belahan dunia, lagu tersebut diadaptasi dan dinyanyikan sebagai pernyataan perubahan, perlawanan atau resistensi terhadap kekuasaan dan penindasan: entah oleh orang-orang yang menjalani karantina selama masa korona di Italia dan Jerman, oleh demonstran penentang kelompok Sayap Kanan di Brasil, maupun oleh para aktivis lingkungan sebagai bentuk permintaan dukungan politik melawan pemanasan global. Pada akhir 2019, lagu tersebut juga dinyanyikan oleh para pengujuk rasa di Bologna sebagai bentuk protes terhadap mantan Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini.

Lalu bagaimana jika lagu “Bella ciao” versi kelompok perlawanan ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Saya mencoba melakukannya dan berikut hasilnya. Semoga dapat menjadi gambaran tentang pesan yang disampaikan lagu ini.

Una mattina mi son svegliato,
o bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao!
Una mattina mi son svegliato
e ho trovato l’invasor.

Suatu pagi, aku terbangun,
oh bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao!
Suatu pagi, aku terbangun
dan kutemukan musuh.

O partigiano portami via,
o bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao
o partigiano portami via
che mi sento di morir.

Duhai pejuang, bawalah aku,
oh bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao
duhai pejuang, bawalah aku
kumerasakan maut.

E se io muoio da partigiano,
o bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao,
e se io muoio da partigiano
tu mi devi seppellir.

Jika kumati, s’bagai pejuang,
oh bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao,
jika kumati, s’bagai pejuang
maka kuburkan aku.

Seppellire lassù in montagna,
o bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao,
seppellire lassù in montagna
sotto l’ombra di un bel fior.

Kuburkan aku, di atas gunung,
oh bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao,
kuburkan aku, di atas gunung
terbayang setangkai bunga.

E le genti che passeranno,
o bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao,
e le genti che passeranno
mi diranno «che bel fior.»

Dan orang-orang yang melintasi,
oh bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao,
dan orang-orang yang melintasi
mengagumi “sang bunga”.

Questo è il fiore del partigiano,
o bella ciao, bella ciao, bella ciao ciao ciao,
questo è il fiore del partigiano
morto per la libertà.

Inilah kuntum bunga pejuang,
Oh bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao,
Inilah kuntum bunga pejuang
Gugur agar merdeka.

Asal-muasal lagu “Bella ciao” jadi perdebatan tersendiri. Dalam buku Song That Made History Around the World, Jerry Silverman memberi keterangan bahwa “Bella ciao” yang dinyanyikan selama Perang Dunia II di Italia sebagai simbol antifasis berasal dari lagu para mondina. Pendapat ini tidak disetujui oleh Cesare Bermani. Menurut Bermani, dalam esainya yang berjudul “La ‘vera’ storia di ‘Bella ciao’” (Sejarah Bella ciao yang Sesungguhnya), “Bella ciao” para mondina diciptakan setelah perang oleh Vasco Scansani, sesuai pengakuan Scansani dalam surat yang dikirimnya ke koran L’Unità pada Mei 1965. Bagi Bermani, pola lirik “Bella ciao” lebih menyerupai lagu “Fior di tomba”, sedangkan musiknya berasal dari lagu anak yang populer di bagian utara, “La me nòna l’è vecchierella”.

Terlepas dari perdebatan originalitas tersebut, kedua “Bella ciao,” milik para mondina maupun para pejuang, pada dasarnya memuat gagasan tentang perjuangan, resistensi, dan harapan, tiga hal yang membuat lagu tersebut cocok dengan tema serial yang memopulerkannya kembali: La casa de papel.

Premis La casa de papel sederhana: merampok adalah melawan, merampok adalah tindakan resistensi. “Somos la resistencia” beberapa kali diucapkan dalam La casa de papel. Tokio, narator La casa de papel, memberi tahu kita pada episode ke-13 bagian 1 musim 1 tentang alasan dipakainya lagu “Bella ciao” oleh kelompok mereka. Lagu tersebut pertama kali diperoleh Profesor dari kakeknya, yang berperang melawan fasisme di Italia, kemudian diturunkan oleh Profesor kepada kelompok mereka.

Dalam La casa de papel, “Bella ciao” bisa punya beragam makna. Ketika stanza kedua dinyanyikan Berlín di malam menjelang aksi perampokan Percetakan Uang Spanyol, Profesor hanya menatap gamang. “Che mi sento di morir,” nyanyi Berlín, “betapa kurasakan kematian.” Berlín belakangan gugur ketika menahan para polisi agar kawan-kawannya yang lain dapat lolos. Sebuah aksi yang juga menggemakan baris terakhir stanza terakhir lagu tersebut, “morto per la libertà,” mati demi kebebasan.

Kematian Berlín menjamin kebebasan kelompoknya sekaligus membebaskan Berlín dari penyakit yang dideritanya. Ketika galian Moscú dari dalam gedung percetakan menyentuh tanah, lagu “Bella ciao” yang dinyanyikan saat itu jadi penunjuk harapan, simbol terbukanya jalan untuk memperpanjang perlawanan, sekaligus jadi sejenis ramalan perpisahan untuk Oslo, Moscú, Berlín, dan (yang paling dicintai) Nairobi. Kesuksesan serial La casa de papel membuat “Bella ciao” jadi begitu populer.

“Bella ciao” juga jadi salah satu soundtrack dalam film The Two Popes (dinyanyikan The Swingle Sisters). Film tersebut adalah film drama biografis tentang perjalanan dua orang pengganti Paus Yohanes Paulus II, yakni Paus Benediktus XVI (diperankan oleh Anthony Hopkins) dan Paus Fransiskus (diperankan oleh Jonathan Pryce).

Stanza kedua “Bella ciao” muncul pertama kali ketika helikopter Kardinal Bergoglio dan Benediktus mendarat di depan Istana Paus. Stanza kelima muncul saat Kardinal Bergoglio keluar dari bar setelah menonton bola bersama para pendukung timnas Argentina lainnya. Bagi Benediktus, yang telah mempertimbangkan meletakkan jabatan paus, “Bella ciao” adalah salam perpisahan. Bagi Kardinal Bergoglio, seorang uskup yang menolak tinggal di istana uskupnya, sebuah kawasan hunian mewah di Buenos Aires, yang membaur saja dengan para pendukung timnas Argentina di bar, dan sangat berpihak kepada kaum miskin, lagu tersebut menggarisbawahi perjuangan imamatnya. E tutti quelli che passeranno, mi diranno, che bel fior—Dan semua yang melintas akan berkata, “Bunga yang indah!”

BACA JUGA Ada Dukacita dalam Kisah Natal, tapi Cerita Ini Tak Kita Kenal dan esai MARIO F. LAWI lainnya.