Sebuah Kolom tentang Kolom

merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya

merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya

Saat itu datang juga. Saya tak punya sesuatu yang ingin saya tulis. Atau mungkin lebih jauh dari itu: saya tidak sedang ingin menulis. Padahal saya harus menulis kolom.

Saya tidak buntu, hanya kosong. Ide-ide banyak. Tapi, jika Anda benar-benar tahu tentang menulis, sebuah ide ataupun banyak ide tak pernah cukup untuk sebuah tulisan. Ide tak akan jadi tulisan jika ia hanya berkelebatan, tak bisa Anda tangkap untuk ditenangkan, kemudian dibedah dan kuliti, lalu diolah. Agresif sebagai pemburu, atau hanya jadi penjebak yang diam (seperti yang saya bayangkan tentang diri saya selama ini), Anda haruslah seorang tukang jagal sekaligus juru masak untuk tulisan Anda.

Kondisi ini bukan sesuatu yang asing bagi saya, terlalu familiar malah. Pengalaman menulis saya, baik sebagai pergulatan emosional-spiritual maupun profesional, adalah tarik-ulur dan proses kalah-dan-mengalahkan kondisi ini. Kadang dengan alasan, tapi sering kali tidak.

Kali ini saya punya alasan. Saya baru saja menyelesaikan pertarungan melelahkan saya menaklukkan paragraf-paragraf terakhir sebuah novel yang saya kerjakan dalam dua tahun terakhir. Saya mesti melakukan pembacaan ulang, dan yakin akan dituntut untuk melakukan banyak perbaikan bahkan pembongkaran, tapi menyelesaikan sesuatu selalu adalah momen di mana kita berhak mendapat upah—seperti sepeda roda tiga untuk balita yang baru bisa berjalan, sepatu baru untuk anak SD yang naik kelas, kitab jurus rahasia untuk pendekar yang selesai bertapa, dst.. Saya tak cukup religius untuk merayakan “keberhasilan” dengan langsung bersungkur sujud sukur, juga tak terlalu gaul dan punya cukup uang untuk keluar dan mentraktir teman (lagi pula ini bukan waktu yang tepat, bukan?). Upah yang ingin saya tuntut tidak macam-macam, standar saja untuk pemalas seperti saya, yaitu berhak menjadi malas. Tak peduli bahwa hanya pemalas dan ketaklukan atas kemalasan demi kemalasan yang membuat sebuah novel tipis butuh waktu begitu lama untuk selesai, saya mau hak saya untuk bermalas-malasan diberikan.

Terdengar tak bertanggung jawab? Ya, betul. Dan—mungkin—karena itu saya jadi penulis.

***

Saya dulu merasa pintar. Namun, mungkin karena itu, saya selalu punya kecemasan tiba-tiba jadi goblok. Ketika pertama kali berhasil menghapal Juz Amma, ketakutan saya adalah bangun tidur dan tak mengerti satu huruf hijaiyah pun. Saat sedang getol-getolnya belajar catur, saya takut saya jatuh terbentur dan tiba-tiba tak bisa membedakan mana pion mana peluncur.

Di SMP, saya murid terpintar, meskipun saat itu saya sedang ada di fase sangat malas belajar. Namun, beberapa bulan menjelang ujian akhir, saya dihinggapi kecemasan tidak lulus. Itu nyaris tak masuk akal untuk waktu itu, karena sekolah swasta akan melakukan segala cara untuk mengkatrol murid-muridnya yang gagal. Sudah begitu, saya menemukan pertanda yang, meskipun bersikeras saya tolak, terlalu mencolok untuk tak dipercaya. Pada suatu senja saya memikul air dari sendang ke rumah. Persis di pikulan terakhir, tepat di tangga masuk rumah, tali timba saya putus, dan banjirlah teras rumah oleh air sepikul. Saya terduduk dan menangis. Saat itu saya berusia 15. Beberapa bulan kemudian, saya lulus ujian akhir dengan nilai tertinggi di sekolah. Cuma, nilai Matematika saya 3.

Saya diterima di SMA negeri yang saya inginkan, tapi saya tak pernah bisa betul-betul melepas kecemasan “timba yang tumpah di depan rumah” dari masa kecil itu. Saya takut tak lulus SMA. Saya takut tak masuk perguruan tinggi negeri dan terdampar di LPK menjahit. Saya takut tak bisa menyelesaikan kuliah di jurusan yang paling mudah masuknya dan paling gampang lulusnya di seantero UGM. Saya takut tak dapat pekerjaan dan jadi pengangguran penuh amarah. Ketika menjadi karyawan, saya takut akan menjadi pensiunan penuh sesal karena menghabiskan seluruh hidupnya untuk melakukan pekerjaan yang tak disukainya hanya agar bisa membayar cicilan. Ketika kemudian jadi penulis, ketakutan-ketakutan itu tetap nemplok, menyelusup, dan menyebar dalam banyak bentuk, sering kali dalam wujud-wujud yang sudah menjadi rumit untuk dijelaskan—dan diatasi.

Saya mungkin adalah penulis paling insecure yang bisa Anda temukan. Saya terus-terusan merasa rentan. Saya sering merasa batu pijakan saya goyah dan kapan pun bisa runtuh. Bahkan, di waktu-waktu tertentu, saya merasa saya adalah seseorang yang tergolek tidur dan melihat bayangannya sendiri berdiri, dalam bentuk hologram tipis dan kabur.

Tak semantap saat merasa pintar di usia SD dulu, saya tak pernah memilih menulis dengan kesadaran atas bakat dan kecakapan yang cukup. Dulu, saya mungkin tak lebih dari seorang anak desa yang ikut-ikutan mengirim tulisan ke koran agar dianggap keren. Saya ke mana-mana mengaku mengawali menulis dari keinginan untuk menambah uang saku dan beli buku. Tapi, bisa jadi, dan ini sangat mungkin, saya hanya terpicu oleh Darmanto, teman se-SMA dan sekamar kos, yang sudah bisa menerbitkan tulisan di tabloid GO hanya beberapa bulan saja setelah kami tiba di Jogja.

Saya tak berhasil menerbitkan cerpen yang pertama saya tulis—waktu itu saya kirim (dengan jalan kaki dari pondokan saya) ke Suara Muhammadiyah—dan itu membuat saya segera berpikir bahwa saya memang tak bisa menulis. Ketika cerpen saya berhasil masuk 10 besar kompetisi cerpen mahasiswa se-DIY, saya takut itu akan jadi satu-satunya cerpen yang “diakui”. Saat berhasil menembus media, dan itu adalah Annida (dan saya mengulanginya lagi), saya takut akan terpenjara di sana untuk seterusnya, dan akan dikenal sebagai “penulis islami”. Ketika berhasil menerbitkan cerpen di Minggu Pagi, saya takut tak seorang pun akan membacanya, karena orang akan lebih memilih memandangi gambar depannya yang aduhai. Saat bisa menembus Jawa Pos, saya takut itu akan jadi cerpen terakhir saya yang terbit di media massa. Ketika tiga bulan kemudian cerpen saya yang lain terbit di media yang sama, saya membayangkan akhir yang lain lagi.

Ketika memulai menulis novel di Jakarta, saya nyaris yakin naskah itu tak akan pernah terbit. Ketika naskah itu hampir selesai dan mungkin saja diterima penerbit, saya ketakutan ia hanya akan menjadi timbunan sampah berikutnya seperti kebanyakan fiksi yang terbit di masa itu. Ketika saya kemudian memenangi perhargaan ini-itu, saya memikirkan kemungkinan (dan kadang itu sangat beralasan) bahwa saya adalah bajingan beruntung yang menari di atas kemalangan orang lain.

Beberapa kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Sebagian yang lain, seperti yang saya perkirakan, tak lebih pengulangan-pengulangan kecemasan yang sama dari masa kecil, kecemasan yang tak pernah tumbuh dan belajar; kecemasan yang masih saja, kadang malah bersikeras, kekanak-kanakan. Dan saya tak perlu nasihat seorang psikolog atau guru spiritual untuk tahu bahwa saya mesti mengatasi itu; kecemasan bawaan saya lebih dari cukup untuk membuat saya tahu bahwa saya mesti mengatasi kecemasan tersebut.

Dalam hal menulis, saya mengatasi ketakutan dan kekalutan itu dengan tidak membebani diri “menciptakan mahakarya”: saya menulis skripsi yang biasa saja, cerpen-cerpen tak istimewa, dan novel-novel yang sederhana. Saya menulis tema-tema yang saya sukai, teknik yang saya kuasai, bahasa yang dipakai dan diucapkan orang-orang, dan tak memikirkan apakah editor koran-koran besar cocok atau tidak, juri-juri penghargaan berkenan apa tidak, apakah KPG tertarik, apalagi untuk membuat anggota Akademi Nobel terkesan. Kalau itu tak cukup, saya akan mengecilkan arti penulis dan menulis. Jika itu masih terlalu besar, saya akan menganggap enteng fiksi dan sastra. Saya awalnya ingin mengubah dunia dengan menulis, tapi saya segera menyadari bahwa itu adalah keinginan semua orang, apa pun bakat, keahliannya, dan pekerjaannya; jadi, saya mending minggir, biar orang lain saja yang melakukannya. Saya tidak mau ngoyo. Mungkin tak akan Anda temukan di Teasurus-nya Eko Endarmoko, tapi sinonim “tidak ngoyo” yang paling pas bagi saya adalah “bekerja dengan malas-malasan”.

Resep “tidak ngoyo” itu kadang berhasil. Saya jelas jadi lebih santai, tapi terutama saya bisa melihat dari kursi malas saya betapa seriusnya orang-orang yang menulis, dan itu menyenangkan. (Rhoma Irama terdengar konyol karena mesti berkelana hingga ke ujung dunia untuk mencari cinta sejati, sementara beberapa penulis kita melakukannya bahkan hanya untuk menulis.) Tapi, kecemasan saya kadang membisiki: “Jangan-jangan kamu masih terlalu keras bekerja.” Karena itu, sebisa mungkin, setiap ada kesempatan untuk malas, saya akan manfaatkan. Jika pun kesempatan itu tak ada, saya akan ciptakan. Dan jika kemalasan itu benar-benar berhak saya nikmati, saya akan mempertahankannya.

Ya, fiksi sering tidak penting, para pengarang boleh jadi tak lebih dari “tukang ngarang” (seperti yang pernah saya sampaikan), dan sastra kadang hanya hasil pertukangan yang didempul terlalu tebal. Tapi, menyelesaikan pekerjaan setelah dua tahun tetap saja sesuatu yang besar. Saya dulu mengerjakannya dengan malas-malasan, sekarang saya ingin merayakan selesainya dengan bermalas-malasan juga.

Tapi, sialnya, saya sudah mengikatkan diri dengan setan bernama kolom; baiklah, saya adalah Faust yang malang, yang bahkan tak tahu kejayaan macam apa yang dijanjikan di depan sana dengan melakukan ini semua.

Kolom adalah semua hal yang melanggar gambaran ideal saya tentang menulis yang “tidak ngoyo”. Sebab, pertama-tama, menulis kolom haruslah ngoyo. Harus tepat waktu, berulang-ulang, kadang mengulang-ulang, adalah hal-hal tak menyenangkan lainnya yang akan menyusul. Menulis kolom membuat menulis menjadi sesuatu yang paling tidak saya sukai, yaitu sebagai pekerjaan.

(Dengan segala hormat, saya tak bersepakat dengan Luis Sepulveda, yang baru saja mangkat. Membanggakan kepenulisannya sebagai pekerjaan itu oke, tapi menertawakan mereka yang menulis dengan penuh penderitaan sebagai para masokhis itu sudah kelewatan. Bagi saya, semua pekerjaan adalah masokhisme. Dan orang yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan adalah para masokhis paling telanjang sekaligus paling tidak jujur. Lagi pula, Anda punya nama Latin yang keren dan indah, Don Luis—mungkin tak seindah Valderrama atau Maradona atau Batistuta, tapi Sepulveda tetaplah jauh dari buruk. Coba bayangkan jika saja dia bernama Arab, itu pun mesti dieja dalam cara Melayu. Satu lagi, Sepulveda pasti juga tak pernah mendengar tentang para penulis yang membolak-balik nama aslinya bukan karena tak ingin dikenali, tapi karena kuatir nama itu terlihat begitu buruk kalau dicetak di kolom kebudayaan Kompas.)

Saya suka menulis, tapi saya selalu membenci bekerja. Saya sering menyebut menulis sebagai pekerjaan biasa tentu saja agar saya tidak terlihat sepenuhnya menganggur. Menulis kolom membuat saya harus menulis sekaligus bekerja.

Karena itu, para penulis kolom pastilah orang-orang hebat. Saya menghormati mereka lebih dari sekadar penulis.

***

Ini sudah Sabtu sore. Dan saya mesti bekerja, mesti lebih keras dari biasanya. Kemalasan harus dihalau, kalau perlu dibantai. Ia mungkin bisa ngendon nyaman bersama seorang novelis, tapi ia tak bisa berdampingan dengan penulis kolom. Saya mesti menangkap ide, membedel dan mengulitinya, lalu mengolahnya.

Kemarin saya mendengar seorang redaktur yang mengeluhkan banyaknya penulis yang mengirimkan tulisan tentang wabah dan tetek bengeknya. Apa saya bilang, semua orang memang ingin mengubah dunia, bukan? Jadi, saya tak akan seperti mereka; saya tak mau seperti mereka.

Saya suka menulis hal-hal remeh: tahi ayam, wastafel, TV rusak, bonsai, dst.. Adakah hal remeh lain yang bisa saya tulis? Saya sudah mencarinya dalam seminggu terakhir. Tidak ketemu. Rumah saya terlalu kecil untuk menyimpan lebih banyak hal untuk dibicarakan. Hidup saya juga terlalu datar dan terlalu lurus untuk menemukan lonjakan atau kelokan. Mungkin belum. Tapi menulis kolom tak boleh mendengar kata belum. Bagaimana kalau mengolah-teruskan ide lama? Mari kita periksa.

1. Ayam-ayam itu tampaknya tak bisa diatasi. Mereka akan terus buang tahi di beranda, sekeras apa pun upaya menghalaunya. Tapi, setidaknya saya bisa sedikit memperbaiki hubungan dengan mereka. Tepat di samping dapur, ada jendela yang menghadap ke tanah kosong di samping rumah. Ada sebuah pot pecah tepat di bawah daun jendela. Saya pertama kali menemukannya sebagai tempat pembuangan sisa makanan secara diam-diam. Kini, pot pecah itu menjadi tempat ayam-ayam berkumpul, yang dengan sabar menunggu apa yang akan saya lempar dari dapur. Saya mulai suka dengan mereka, dan sepertinya mereka juga mulai menyukai saya. Sayangnya, mereka masih saja buang tahi di beranda.

2. TV di rumah Lamongan rusak, sedangkan TV di kontrakan Bantul belum. Tapi apa guna TV yang belum rusak di masa wabah? Liga sepakbola dihentikan, Piala Eropa ditunda, terus untuk apa TV tanpa siaran sepakbola? Untuk terus update berita-berita mengerikan dari seluruh dunia? Betapa bodohnya. Maka, daripada bikin sempit ruang tengah yang sudah sempit, TV itu saya ringkus masuk kardus.

3. Kran wastafel saya mampet. Airnya tak cukup kuat untuk mendorong dirinya naik ke kran yang melengkung tinggi itu. Kata pemilik kontrakan, menara airnya sedikit diturunkan agar pompanya bisa bekerja lebih baik.

Setidaknya saya dapat tiga hal. Saya baca ulang, apa yang bisa diolah-teruskan dari ide-ide itu. Saya baca ulang lagi, dan saya tak menemukannya. Semua hal berkait soal itu sudah saya pakai untuk tulisan sebelumnya. Lagi pula, ketiga hal itu sepertinya bukan ide, tapi paragraf berita yang sudah selesai, tak bisa diapa-apakan lagi.

Apakah memang saya harus tetap membicarakan wabah, setidaknya dari perspektif yang sepele, misalnya? Kemarin saya persilakan seorang teman bertamu ke rumah, dan kami berkeluh kesah tentang betapa tak jelasnya masa karantina ini; kedatangan ini kemudian disusul oleh kedatangan berikutnya, dan keluh kesah yang lain. Tadi pagi, saya dikirimi tangkapan gambar sebuah warung kopi yang didatangi polisi karena masih ramai pengunjung, di jam empat pagi; padahal, di warung kopi yang sama itulah saya dan teman yang berkunjung itu merencanakan mengakhiri masa karantina yang tidak jelas ini. Saya menemukan ironi yang lucu, tapi apakah ia cukup matang untuk dieksekusi?

Bagaimana kalau dibaca dari awal apa yang sudah saya lakukan sejauh ini? Ah, ternyata saya sudah menulis cukup banyak. Saya sepertinya sudah menyelesaikan sebuah kolom. Dan, ya, ini sebuah kolom.

BACA JUGA Tiga Jumat dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.

Exit mobile version