Kolom: Iri

merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya

merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya

Saya masih merasakan denyar itu. Seingat saya, itulah untuk pertama kali dan sekali-kalinya, setidaknya yang secara terang-jelas dan dengan jujur saya akui kepada orang lain, saya merasa iri dengan penulis lain yang seumuran saya. Saat itu saya ada di kos saya yang sempit dan panas di loteng sebuah rumah bertingkat di Gang Mede, Utan Kayu, Jakarta Timur, dengan gorengan berbungkus koran tergelar sisi kanan dan Kompas Minggu di sisi kiri. Saya sedang membaca “Air Raya” karya Azhari, yang saat itu adalah penulis baru yang sedang sangat produktif. Saya kira itu tahun 2004 (dan ketika saya tengok data di kumpulan Perempuan Pala, ingatan saya benar).

Jika dilihat dari sekarang, dengan konteks dan kerumitan hidup yang saat itu tengah saya hadapi, pasti penjelasan atas perasaan itu bisa lebih kompleks. Boleh jadi karena saya sedang sangat tak berbahagia dengan hidup saya: pekerjaan dengan gaji kecil dan kontrak pendek yang saya lakukan hanya karena saya mesti bisa makan dan bayar kos-kosan dan mengirim sebagiannya pulang; kota yang tak ramah dengan saya dan saya yang tak ramah dengannya; karier kepenulisan yang ke arah entah, dst.; bahkan, boleh jadi sungai bau yang membelah Utan Kayu—yang di atasnya nangkring gerobak Nasi Uduk Jepara Pak Bewok, tempat biasa saya makan pada larut malam sepulang kerja sif kedua—hari-hari itu membuat hati saya dalam kondisi tak enak. Tapi untuk saat itu, satu hal, dan satu-satunya hal, yang saya inginkan dari Azhari karena saya tak miliki adalah: betapa terasa mudahnya ia menulis dalam bahasa Indonesia.

Saya saat itu sudah merasa “selesai” dengan sastra koran. Cerpen terakhir saya nongol di koran sudah lewat setahun lebih, dan saya merasa sudah saatnya berhenti berusaha mengadu nasib di depan para redaktur yang mahakuasa itu. Jadi, “dominasi” Azhari di koran-koran Minggu pada tahun-tahun itu jelas bukan pokok masalahnya. Saya baru saja memulai menulis bagian-bagian awal novel saya, dan saya sedang semangat-semangatnya. Namun justru di situ masalahnya: bukan saja karena saat itulah untuk pertama kalinya saya baru menjajal diri menulis prosa dalam format panjang, saya juga baru pertama kalinya merasakan “tersengal” dengan penguasaan saya atas bahasa Indonesia setelah kurang lebih lima tahun menulis fiksi. Saya pasti termasuk dari minoritas penulis di Indonesia yang mencecap “pendidikan formal” Fakultas Sastra (meskipun saat itu tak ada mata kuliah Penulisan Kreatif, tapi setidaknya saya membaca novel, cerpen, dan puisi untuk bisa lulus ujian dan lulus kuliah), jadi saya cukup percaya diri dengan perangkat teknis dan tingkat kepengrajinan yang saya miliki. Tapi tidak dengan tokoh-tokoh saya. Mereka bukan saja tak cukup berpendidikan, tapi juga tak bicara dalam bahasa Indonesia. Dan itu membuat saya memaksakan sebuah dunia yang nyaris asing kepada mereka. Penguasaan teknis saya, kosakata saya, pemahaman saya terhadap sastra Indonesia, juga sedikit tentang sastra dunia, juga cita-cita kepengarangan saya (jika itu memang pernah ada) berada di universum yang berbeda dengan tokoh-tokoh yang hendak saya ceritakan.

Lalu coba tengok Azhari dan tokoh-tokohnya. Cerita, tokoh-tokohnya, ibu dan anak itu, pertanyaan-pertanyaannya tentang bapak yang hilang, bahasa yang mereka pakai untuk berpikir dan bercakap, dan tentu saja bahasa yang dipakai Azhari bercerita, adalah sebuah kesatuan himpunan yang tak terpisahkan. Saya ingin memiliki tokoh-tokoh seperti itu, percakapan-percakapan itu, bersatunya dunia rekaan yang hendak saya ciptakan dengan bahasa yang saya pakai untuk menceritakannya.

Saya saat itu punya beberapa teman asal Aceh di ruangan kantor kami yang sempit, dan saya senang mendengar “t” mereka yang tebal, yang sekilas terdengar seperti “t”-nya orang Bali, tapi berbeda. Dan setelah membaca “Air Raya”, saya ingin jadi orang Aceh. Saya ingin punya bunyi “t” itu di lidah saya. Saya ingin menjadi Azhari. Saya ingin bahasa ibu saya sejangkauan saja jaraknya dengan bahasa yang kemudian saya pakai untuk mengarang, tempat tokoh-tokoh cerita saya hidup dan saya ceritakan.

Ini pasti sangat bias Jawa, dan ini pasti bukan opini yang populer, tapi saya meyakini (masih sampai sekarang) bahwa para penulis asal Sumatera punya “privilese” lebih atas bahasa Indonesia dibanding penulis dari tempat lain, termasuk dari Jawa macam saya. Orang-orang Sumatera bersuku-suku, berbicara dengan bahasa ibu yang berbeda-beda, dan (mungkin) saling tak mengerti satu sama lain, sebagaimana kita semua di seantero Nusantara—dan karena itulah para pendiri negeri ini “menciptakan” bahasa “baru” untuk kita, agar kita saling mengerti satu sama lain, dan itulah bahasa Indonesia. Tapi, bagaimanapun, kita semua tahu dari lempung mana bahasa Indonesia dibentuk. Dan jika bicara tentang sastra Indonesia, kita tahu dari mana ia dimulai dan kepada siapa ia disandarkan. Mungkin mereka berbicara dengan bahasa ibu yang berbeda-beda, tapi bagi saya Azhari berbagi garis pantai, berbagi hulu sungai, berbagi jalan lintas, dan berbagi kedekatan jarak bahasa dengan para penulis Sumatra yang mendahuluinya, dari Tardji, Navis, Mochtar Lubis, Sitor, Chairil, Idrus, Hamka, Takdir, Amir Hamzah, hingga Marah Roesli.

Saya mungkin saja bisa menghibur diri: saya bukan saja satu pulau dengan orang-orang besar lain dalam sastra Indonesia, seperti Rendra, Subagio, Budi Darma, Kayam, Kuntowijoyo; saya bahkan berbagi almamater dengan mereka. Tapi, entah kenapa, dibanding menemukan tangga untuk naik, saya justru memijak punggung ular dan malah tergelincir turun. Saya menemukan bahwa sebagian dari mereka, jika bukan semuanya, punya persoalan yang kurang lebih sama dengan yang saya alami: memaksa menyatukan tokoh dan dunia rekaan mereka dengan bahasa yang mereka pakai untuk menulis.

Budi Darma dan Umar Kayam, misalnya. Karya-karya terbaik mereka adalah juga capaian-capaian tertinggi dalam sastra Indonesia. Tapi dengan penuh maaf, sebagai pembaca, tapi terutama sebagai pengarang (berbahasa ibu Jawa) yang ingin menyelinap dalam kerumunan di antara mereka, saya bahkan gagal masuk ke dunia cerita mereka. Saya selalu terpental keluar setiap ingin mencoba masuk ke dunia batin tokoh-tokoh bernama asing dan berdunia asing di cerita-cerita Budi Darma; saya sangat menyukai cerpen-cerpen Kayam di Seribu Kunang-kunang di Manhattan (siapa tidak?), tapi saya merasa sebagian besar dari cerita-cerita itu adalah sastra Amerika yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Tapi bukankah Kayam menulis orang-orang Jawa di Para Priyayi dan Sri Sumarah dan Bawuk (dan di kolom-kolomnya yang terkenal itu)? Justru persis di sanalah saya menemukannya. Ia, sebagaimana saya, membutuhkan upaya lebih untuk menyatukan karakter-karakter dalam ceritanya dengan bahasa yang ia pakai untuk bercerita. Itu kenapa ia membutuhkan terlalu banyak cetak miring untuk cerita-ceritanya; ia membutuhkan terlalu banyak ungkapan dan kosakata yang bukan berasal dari bahasa Indonesia untuk membuat tokoh-tokohnya yang memang tak berbahasa Indonesia bisa lebih “bicara”. Bagi saya itu mengganggu, bahkan untuk saya yang berbahasa Jawa. Dan dengan sepenuh takzim kepada Kayam, saya tak ingin menulis seperti itu—kalau bisa.

(Dalam sebuah perbandingan singkat dan jauh dari memadai, saya mencoba menyandingkan “penyimpangan kaidah” yang dilakukan Umar Kayam dan A.A. Navis akibat bayang-bayang bahasa ibu yang menaungi tokoh-tokoh yang mereka ceritakan, yang dengan mudah saya tahu mana yang “menyimpang terlalu jauh”. Ketika menemukan Navis menulis “Ingin aku maafmu, Nak”, saya membutuhkan beberapa waktu untuk mengerutkan kening sampai kemudian saya memahami bahwa itu adalah variasi dari “Aku menginginkan maafmu, Nak”. Bandingkan dengan Kayam yang menulis: “Itu sudah janjiku kepada bapakmu yang—oh Allah, kok ngenes betul lelakonmu—sudah meninggal.” Tak ada yang sulit dipahami dari kalimat itu, kecuali jika ada yang mengatakan bahwa itu kalimat berstruktur bahasa Indonesia. Anak kalimat yang diapit tanda panjang jelas adalah bahasa Jawa yang disalin, bahkan dengan tak sempurna; pada saat yang sama, meskipun dilahirkan dari gestur dan ekspresi yang sangat berbeda, seruan “oh Allah” yang terapit di tengah-tengah kalimat langsung jelas terlalu dekat dengan “for God’s sake” dalam bahasa Inggris.)

Itulah kenapa saya cemburu dengan Azhari. Saya tahu bahwa rasa iri itu bisa saja salah sasaran atau bahkan sama sekali tak berdasar. Tapi, bukankah memang demikian rasa isi itu biasa muncul? Ia bahkan tak semestinya dijelaskan sebagaimana yang kali ini saya lakukan.

Oh ya, tentu saja, “Air Raya” adalah cerpen terbaik yang terakhir saya baca di koran. Boleh jadi karena itulah, sejak itu, saya merasa tak perlu menulis cerpen lagi.

***

Mau tahu dari mana kalimat-kalimat bahasa Indonesia (atau yang saya anggap sebagai bahasa Indonesia) yang pertama saya dengar dan sampai hari ini bisa dengan gampang saya hapal ulang? Dari dialog tokoh tentara Kompeni di kaset-kaset ludruk. “En kamu orang tidak bisa kerja yang betul!” begitu bentak Kapten Van Drewen kepada antek-anteknya dalam cerita ludruk Jaran Putih Mayang Seto. Film-film bertema perjuangan yang diproduksi sepanjang masa kekuasaan Orde Baru kemudian menguatkannya. Baru menyusul sandiwara radio. Lalu guru-guru SD, yang semuanya adalah para pendatang. Lalu buku-buku pelajaran di sekolah.

Dimulai oleh “orang-orang Belanda” yang bicara pelo, bahasa Indonesia kemudian masuk ke kehidupan kami, secara resmi dan memaksa, dari sekolah-sekolah negeri. Di pertengahan tahun ‘80-an, di sebuah desa santri di kawasan Pantura Jawa, ia bukan saja mewakili kekuasaan, tetapi juga mewakili anasir-anasir sekuler (terutama karena SD itu segera berhadap-hadapan langsung dengan dua sekolah agama yang sudah berdiri sebelumnya). Manakala bahasa Jawa kami pakai untuk bicara dan berpikir, bahasa Arab tak tergantikan dalam aktivitas keagamaan sekaligus menjadi inti dari ekspresi kebudayaan, maka bahasa Indonesia hadir dalam upacara-upacara resmi (dan militeristik) yang biasa dilakukan dalam sikap enggan sekaligus rasa takut.

Maka, kira-kira dari mana sikap takut-takut kami ketika diminta tampil di depan kelas, atau menjadi petugas upacara, atau mewakili sekolah dalam lomba cerdas-cermat? Saya menduga, salah satunya dari keberjarakan kami dengan bahasa “baru” ini. Dalam kondisi batin semacam itu, mendengar ada seorang siswa yang mengaku menyukai pelajaran bahasa Indonesia pastilah sebuah penyimpangan yang jarang.

Jangankan mencipta pengarang sejak dini, pelajaran Bahasa (dan Sastra) Indonesia di sekolah bahkan lebih banyak berusaha menghalanginya. Bukan saja ia adalah sisipan tak terlalu penting di antara Matematika dan IPA dan Bahasa Inggris, ia juga terlihat seperti jalan setapak sempit bersemak penuh onak dan penuh papan peringatan bahwa jalan itu penuh jebakan, dengan binatang buas dan hantu-hantu gentayangan yang siap menerkam. Percaya atau tidak, hal yang sama masih terasa di semua kelas bahasa Indonesia di semua kelas di perguruan tinggi—sampai saat ini.

Dan coba buka Kamus Besar. Sementara jumlah halamannya tak ada apa-apanya dibanding, katakanlah, Tetralogi Buru, buku yang sangat tak menarik itu pun dipenuhi kata-kata yang ditandai sebagai arkais dan cakapan dan/atau diserap secara tak resmi dari bahasa daerah, yang kesemuanya terdengar sebagai anjuran untuk tak dipakai. Maka tak mengherankan jika kosakata yang familier bagi para pemuja sajak-sajak Chairil Anwar bisa disebut sebagai “tidak baku” di situ; atau kata-kata yang dipakai Rendra di sajak-sajaknya atau di karya terjemahannya yang indah atas drama-drama Sophokles sama sekali tak ditemukan; atau diksi-diksi kuat dari cerpen-cerpen Pram dihalau sebagai “tercemar” oleh bahasa daerah. (Saya baru saja mengetik kata “pohonan” [kata yang sangat dominan dari Oedipus Sang Raja, terjemahan Rendra yang berarti “permohonan”] di kolom KBBI daring, dan seperti saya duga kata itu hanya menghasilkan tanda seru merah dengan tulisan “Entri tidak ditemukan”.) Maka tak mengherankan, kita tak lagi memakai kata “percuma” yang berarti “gratis”, dan kita hanya tahu bahwa “piala” adalah “trofi” dan bukan lagi “sejenis cangkir”.

Bahasa Indonesia (dan sastra yang diciptakan dari atasnya) yang sampai ke kita pertama-tama adalah bahasa pengendalian, yang dipakai untuk memilah mana “bacaan rakyat” dan mana “bacaan liar”. Menapis, membatasi, menyensor, melarang, atau kata kerja serupa lain yang bernada menegasikan adalah bawaan lahirnya. (Bahwa ia kemudian dipakai oleh para perintis kemerdekaan kita untuk menjembatani “kebinekaan” dan menjadikannya alat perlawanan terhadap penjajahan jelas bukan tujuan awal bahasa ini diciptakan.) Ketika kita merdeka, dan bahasa ini menjadi cerminan nasionalisme kita (ke luar di masa Presiden Sukarno dan ke dalam di masa Orde Baru), ia juga mewarisi jenis nasionalisme kita, yang selalu waspada, selalu curiga. Dan seperti juga nasionalisme kita, ia mudah dipakai oleh kekuasaan (jargonistis di masa Sukarno dan eufemistis di masa Orde Baru, dan keduanya sekaligus di masa sekarang). Dengan sikap itu, kepada penuturnya, ia lebih terasa memelototi dibanding memberi rasa nyaman. Para penjaganya (dulu para akademisi dan birokrat lembaga bahasa, sekarang bisa siapa pun) selalu siap sedia menghalau semua hal yang tidak “baik” dan tidak “benar”, dan itu bisa saja semua hal yang baru atau yang dianggap asing. Karena lebih sering menolak, ia akhirnya cenderung tidak diacuhkan kalau bukan ditolak. Ketika bahasa Indonesia masih memiliki persoalan dengan sebagian besar rakyat Indonesia yang tak mampu menuturkannya (karena kurangnya pendidikan), ia kini mesti berhadapan dengan mereka yang berbahasa asing (karena tingginya pendidikan).

Di luar itu, ia masih begitu muda. (Kakek saya yang lahir kira-kira bersamaan dengan lahirnya bahasa ini dan meninggal tahun dua puluh tahun lalu hakul yakin tak akan mengerti satu patah pun kata dalam bahasa Indonesia.) Ia masih tertahan di buku-buku yang dicetak, lemari-lemari perpus sekolah yang terkunci, laci-laci guru yang jarang dibuka, koran yang kini semakin tak laku, dan sedikit acara berita di televisi (dengan tajuk dalam bahasa Inggris). Ia memang mempertemukan orang-orang yang punya bahasa ibu yang berbeda-beda, memberi suara bagi mahasiswa-mahasiswa daerah di seminar-seminar dan diskusi-diskusi, tapi saya kira tak pernah terlalu jauh dari situ. Ia belum mampu mewakili ekspresi-ekspresi paling personal, dan mungkin tak akan pernah.

Semua orang saat ini boleh jadi memakai kata “Anjing!” (dan segala variannya) untuk memaki di media sosial. Tapi coba bayangkan jika dalam satu kesempatan, di satu ruas jalan di Jakarta, enam orang dari Medan, Padang, Bandung, Jogja, Malang, dan Manado kena macet dan kepanasan, dan mereka tak tahu kepada siapa memaki kecuali ke arah lampu merah dan diri sendiri, apakah mereka akan mengumpat dengan kata dan logat yang sama? Saya agak yakin yang keluar adalah makian-makian yang mereka dengar dan sering ucapkan di masa kecil atau dalam bahasa kesehariannya. Atau, kalau tidak, agar merasa keren, boleh jadi mereka memaki ala anak muda Ibu Kota seperti Nicholas Saputra di film Joko Anwar: “Damn!

Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan ke bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar bacaan Anda. Itulah kenapa Umar Kayam meminjam ungkapan prihatin yang sekaligus rasa syukur untuk seorang ibu Jawa dari kalimat yang berstruktur bahasa Inggris.

Sebagai orang Jawa kebanyakan dengan bacaan bahasa asing yang sangat terbatas, yang saya punya tinggal bahasa Indonesia sekolahan dengan segala keterbatasannya. Dan keterbatasan itu menjadi semakin terasa ketika yang ingin saya hadirkan adalah sebuah dunia yang tak berbahasa Indonesia.

Dan karena itulah saya pernah menatap Azhari dengan rasa iri.

 ***

Seorang teman, dalam sebuah kolom bahasanya, mengutip salah satu kata di novel saya untuk memberi contoh apa yang ia sebut sebagai “percampuran tanpa sadar bahasa Indonesia dan bahasa ibu”. Saya agak telat membacanya, tapi saya segera tahu bahwa simpulannya salah.

Pertama, saya “mencampur” dua bahasa yang paling saya kuasai itu dengan sadar—sesadar-sadarnya. Kedua, “percampuran” itu tak hanya terjadi di kata dan kalimat yang dikutipnya, tapi bisa ditemukan di banyak sekali bagian dari novel itu. Bisa saya katakan, nyaris semua kalimat langsung yang diucapkan oleh tokoh-tokoh saya terasa sebagai hasil terjemahan dan, oleh karena itu, sedikit banyak ia merupakan hasil percampuran. Sebagian dengan sadar saya lakukan, sebagian lagi dengan penuh keterpaksaan. (Kira-kira, apakah dalam bahasa Indonesia [yang baik dan benar] bisa diolah kalimat langsung seperti: “Kalian pikir yang benjol di pantat ini bisul”?)

Maka, jika ada yang bilang bahwa secara keseluruhan novel tersebut didominasi oleh hasil “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, saya kira itu tak benar-benar salah. Demikian juga novel-novel saya yang lain.

Barangkali juga beberapa kata dan kalimat di kolom ini.

BACA JUGA Merdeka dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.

Exit mobile version