Ketika saya pernah menulis ingin menghijaukan dapur baru berwastafel saya dengan kaktus atau kecipir di kolom ini, tentu saja saya bercanda. Saat kemudian pandemi datang, dan orang-orang ramai berkebun dalam ruangan (atau hal-hal semacam itu) sebagai upaya kecil-kecilan pertahanan pangan, saya jadi sama sekali tak menginginkan candaan itu terwujud. Seperti biasa, tanpa harus mencibir upaya-upaya kecil orang-orang mengatasi persoalan, saya akan mundur teratur dari hal-hal yang dilakukan orang secara massal, apalagi mengingat “rencana” ini diawali sebagai sekadar candaan. Lagi pula, bibit kecipir yang saya pikir masih tersisa di kantong bibit teman serumah saya ternyata sudah gabuk. Juga karena, pada masa ketika orang menahan diri keluar rumah, saya tak tahu ke mana dan kepada siapa mesti bertanya tentang bibit, pot, media tanam, dan serba-serbinya. Ya, mungkin juga karena mencari itu semua terlihat lebih merepotkan dibanding mencari sayur di kios terdekat. (Jika ada yang mengatakan dengan membeli bibit, pot, media tanam, rabuk, dst. kita sedang mengupayakan untuk terus memutar roda ekonomi, biarlah saya ikut serta melakukan itu dengan dua-tiga hari sekali berbelanja di warung sayur terdekat.) 

Lalu adik perempuan saya bergabung ke rumah, setelah kantornya diliburkan dan teman-teman kosnya memilih pulang kampung atau, sebaliknya, tak bisa balik ke Jogja, dan ia sendirian di kosnya. Dibawanya serta sebatang pandan dalam pot. “Kalau-kalau butuh bikin kolak,” katanya. Meskipun tak jadi ada kaktus, tak juga ada kecipir, dapur saya akhirnya ada “hijau-hijau”-nya. Hijau pandan memang lebih fungsional dibanding rekreasional, juga tak terlalu membanggakan jika diunggah ke dinding media sosial, tapi itu tetap saja sedikit lebih baik dibanding tak ada apa-apa, bukan? Malah saya kemudian memberinya ajang. “Kalau ada pot lain yang takut telantar, bawa sini saja,” kata saya. Tapi sampai berminggu-minggu kemudian, tak ada pot berikutnya. Pandan yang malang. Ia memang hijau, namun sendirian.

Dalam sebuah kesempatan berbelanja, saat saya hendak mencari dingklik plastik untuk dipakai di dapur, saya melihat setumpuk pot plastik mungil, dan saya mengejutkan diri sendiri dengan membawa beberapa ke kasir. “Ah, cuma seribuan,” pikir saya. Kalau tak berfungsi sebagaimana mestinya, mungkin nanti bisa jadi asbak cadangan untuk teman-teman yang datang—nanti, setelah pandemi usai. Sampai di rumah saya ditertawakan adik saya karena membawa pot-pot mungil yang belum tahu hendak diapakan.

Tak menunggu terlalu lama, saya segera tahu apa yang bisa membuat pot-pot itu berguna. Saat hendak membuat teh (saya selalu minum teh tubruk, meski tak pernah lupa menyetok teh celup, untuk mengantisipasi ada tamu yang tak suka kopi dan tak tahan dengan “keburukan” teh tubruk), saya menemukan bahwa ampas teh saya sebelumnya masih di mug yang biasa saya pakai. Ketika dalam kondisi abai atau sama sekali tak peduli, saya kadang dengan enteng membuang ampas teh saya keluar jendela atau ke lobang toilet, sementara saat sedikit lebih teratur saya akan pastikan ampas itu kering kemudian saya masukkan ke bak sampah. Dan sore itu saya melihat pot-pot kosong itu tampak menginspirasi. Saya memungut salah satu pot itu, menatanya di bawah keran wastafel, dan memindahkan ampas dari mug ke sana.

Pot-pot kecil itu biasanya akan penuh oleh empat hingga lima mug ampas teh. Maka, setelah sekitar sebulan, saya bisa membuang ampas teh saya ke tempat yang jauh lebih ideal dibanding keluar jendela atau lobang toilet atau bak sampah kering, memfungsikan benda yang sebelumnya tak tahu untuk apa, sekaligus membuat ampas itu punya harapan lain setelah menjadi ampas. Ia jelas bukan atau belum jadi media tanam yang ideal, tapi setidaknya saya sudah bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan di atasnya atau bersamanya. Sambil menunggu waktu itu tiba, saya meletakkan cabai-cabai busuk di atasnya. Pasti tak akan segera bertunas, lalu mekar menyemarakkan hati, tapi setidaknya saya membayangkan cabai dan ampas teh itu akan membusuk bersama-sama. Alangkah indahnya. Setelah itu, biarlah mereka akan menjelma apa—atau tak menjadi apa-apa.

Pada pot lain, di atas tumpukan ampas teh yang juga masih baru, saya membenamkan pangkal daun loncang yang masih segar dan berakar. Loncang, menurut pengamatan saya, paling tinggi daya hidupnya di dalam kulkas, kenapa tak dicoba ditancapkan saja? Lalu, kalau sama-sama tak terlalu penting berhasil atau tidak, kenapa tak dicoba bonggol sawi juga?

Dalam dua-tiga hari, harapan yang memang tak tinggi itu rupanya jadi kenyataan, meskipun komposisinya sedikit berkebalikan. Pangkal batang loncang yang bisa kuat di atas seminggu pada suhu kulkas, rupanya dengan segera mengering begitu bertemu ampas teh yang masih berbau gula, yang mungkin saja terlalu panas untuk sebuah kehidupan baru. Bonggol sawi, yang sebenarnya jauh lebih kurang meyakinkan, justru tak sedrastis itu. Lewat tiga hari, kuncup daunnya yang paling tengah bukan hanya bertahan tetap segar, tapi bahkan sempat mendesak keluar, dan tumbuh nol koma sekian milimeter di atas pangkasannya. Tapi begitu lewat seminggu, pelepah-pelepahnya mulai membusuk satu demi satu, dimulai dari yang paling luar kemudian lebih ke tengah, dan akhirnya menghabisi pucuknya. Sementara cabe belum sepenuhnya selesai dengan pembusukan kulitnya, apatah lagi bersemai bijinya.

Tapi tunggu… lalu yang hijau segar ini apa?

Rupanya adik saya menyisipkan tiga batang kangkung (satu batang dan dua pucuk) yang dianggapnya tak layak ditumis. Dan, rupanya, tiga batang gulma rawa yang kelihatan ringkih itu dengan cepat beradaptasi. Ketika yang lain tampak berjuang keras untuk bertahan di bidang tanam yang belum lagi layak sebagai bidang tanam, batang-batang kangkung itu langsung hidup begitu ia ditancapkan. Dua pucuknya menambah daun-daun dengan cepat, sementara yang batang terpangkas, begitu bisa menumbuhkan tunas baru di ruasnya, ia sepertinya tak terbendung untuk tumbuh. Saya terpana. Meski tak terisolasi, dapur saya hanya punya jendela yang menghadap ke sebelah barat. Dari mana kangkung-kangkung muda ini menghimpun energi untuk berfotosintesis?

Hingga jelang dua pekan sejak ditancapkan, kangkung itu terus tumbuh, segar, menghijau, bahkan mulai bersulur, dan saya tiba-tiba bisa memikirkan mau diapakan tiga batang kangkung penuh harapan ini nanti. “Foto, kirim ke Ma’e,” kata saya kepada adik saya, sembari membayangkan bahwa ibu saya akan melihat tiga tunas kangkung tersebut sebagai anak-anaknya yang jauh di mata dan, yang lebih penting, sedang baik-baik saja. Beruntung, foto itu tak jadi diambil dan tak pernah dikirimkan.

Dua hari kemudian, ketika bangun agak kesiangan, saya melihat dua pucuk kangkung yang selama dua pekan ini memberi kesegaran di seluruh ruangan dapur, jatuh terkulai. Pucuknya menekuk, seperti mencium batangnya sendiri. Daun-daun mudanya terjuntai, layu. Saya memeriksanya, apakah siraman air akan menolongnya? Saya melakukannya, tapi saya kira air tak akan lagi berdampak. Lagi pula dasar pot bahkan cukup basah. Saya menanggalkan daun-daun yang paling tua dan berharap (meskipun tak juga terlalu berharap) itu mengurangi beban tumbuh mereka dan siapa tahu, secara ajaib, membuat dua batang itu bisa segar kembali esok paginya. Dan benar, itu sama sekali tak menolong. Besoknya saya melihat kedua batang itu sudah betul-betul terkulai.

Ini bukan perasaan terburuk yang pernah saya alami, tapi bisa saya katakan, ketika dua batang kangkung mati itu saya cabut dari pot, dan saya buang ke keranjang sampah (tempat yang seharusnya telah dihuninya dua pekan lalu jika adik saya tak iseng menancapkannya di ampas teh dalam pot plastik kecil seharga seribuan), saya merasa kehilangan harapan kecil yang sempat saya pelihara beberapa hari sebelumnya. Kehidupan kangkung-kangkung itu lebih panjang dari yang sempat saya bayangkan. Tapi, ketika ia kemudian akhirnya mati terkulai, saya merasa itu seperti datang terlalu tiba-tiba.

Masih ada sebatang lagi. Tapi saya merasa lebih sedih lagi justru karena ia tampak masih cukup segar. Kematian dua batang kangkung itu sudah cukup memberi pelajaran: berharaplah secukupnya, sepantasnya. Maka, sebelum saya mencabut kangkung ketiga, saya cabut rencana-rencana saya sebelumnya. Dan, begitulah, batang kangkung ketiga terkulai dua hari berikutnya.

***

Apakah lagi-lagi saya sedang bercerita tentang hal-hal sia-sia yang biasa kita alami? Saya memang memikirkan itu. Tapi, sejujurnya, saya ingin mengatakan bahwa ini sepertinya, dan seharusnya, tak sesia-sia itu.

Sebelum memulai tulisan ini, saya dibayangi oleh sebuah paragraf kesayangan saya di Pater Pancali-nya Banerji. Berikut akan saya kutip utuh dari terjemahan Koesalah Soebagio Toer:

“Seorang ibu mencurahkan seluruh kecintaan dalam membesarkan anaknya, dan berabad-abad lamanya keajaiban tentang cinta ibu itu telah dinyanyikan dalam semua bahasa. Tetapi apakah yang diberikan oleh anak itu kepada ibunya tak ada artinya? Benarkah bahwa ketika anak itu datang, seolah-olah ia tidak membawa serta apa pun, padahal siapakah yang dapat memberikan nilai pada tawanya yang menawan hati ibunya itu, memberikan nilai kepada perubahan-perubahan selera yang bersifat anak-anak, memberikan nilai pada wajahnya yang tampak seolah-olah terbuat dari bulan, dan kekikukan usahanya untuk berbicara? Semua ini merupakan kekayaannya dan ia mempertukarkannya dengan perawatan yang penuh cinta yang dilakukan oleh ibunya. Ia tidak datang kepada ibunya dengan tangan kosong seperti pengemis.”

Saya tidak tahu kenapa mengingat paragraf ini—paragraf yang, seingat saya, begitu melegakan untuk saya, seorang yang selalu dihantui ketakutan “tak sanggup membahagiakan orangtua” ketakutan yang juga diidap jutaan anak di dunia. Saya tak ingin membandingkan apa yang saya alami dengan pot-pot berisi ampas daun teh dan sisa-sisa sayur yang coba saya “hidupkan” dengan hubungan ibu-anak yang digambarkan begitu indah oleh Banerji, yang memang selalu lihai mewakili sudut pandang anak. Saya hanya tertarik dengan kata kerja yang jadi inti paragraf ini: “mempertukarkan”.

Para aktivis mahasiswa di masa saya, sekitar dua puluh tahun lalu, suka sekali menghadap-hadapkan istilah “proses” dan “hasil” sembari membayangkan bahwa nyaris semua hal (belajar di bangku kuliah, berorganisasi, membaca, berjejaring, diskusi, dst.) adalah serangkaian upaya yang nanti berujung kepada sesuatu yang besar di suatu masa nanti (ijazah, pekerjaan atau karier yang diimpikan, masa depan cerah, buku yang dicita-citakan, dst.), dan itu merupakan ganjaran atas semua jerih-payah dan kesakitan yang telah dilewati. Cara berpikir ini seingat saya kemudian membagi mahasiswa dalam tiga kelompok besar: (1) yang berorientasi hasil; (2) yang bersetia dengan proses dan percaya bahwa hasil tak mengkhianati proses; (3) yang begitu menikmati proses meski tak yakin semua itu ujungnya ke mana. Jenis yang pertama jika tak disebut pragmatis, ia mendapat cap yang lebih buruk: oportunis; jenis kedua adalah yang paling diidealkan; jenis ketiga sering kali dengan berlebihan, dan sering kali secara salah, disebut sebagai idealis, tapi kadang kala—dan ini sering benar—sebenarnya tak lebih dari tak bertanggung jawab atau sepenuhnya disorientatif.

Mungkin tak separah itu, tapi saya, tanpa perlu terlalu jelimet, jelas ada di jenis ketiga—dua puluh tahun lalu, juga hari ini. Dulu, jika dianggap tak taktis dan kurang praktis, atau kadang secara lucu disebut terlalu idealis, saya, biasanya dengan nada defensif, hanya akan bilang secara berulang-ulang, kerap dengan setengah putus asa, bahwa “proses” itu juga ada asyiknya, ada nikmatnya. Lalu saya temukan paragraf dari Banerji itu, dan sejak itu saya bisa bilang: sebagaimana ibu yang “mempertukarkan” kasih sayang kepada anaknya dengan kebahagiaan yang setiap saat didapatkannya dari perkembangan istimewa dan ajaib anaknya, sebenarnya pada setiap “proses” diperoleh “hasil” tanpa harus menunggu ganjaran besar di masa depan.

Dan, sebenarnya, itulah yang hendak saya bicarakan tentang saya, pot plastik, dan sampah sisa sayuran yang diperpanjang umurnya itu: saya mungkin belum memanen selembar sawi atau seuntai kangkung atau seiris loncang pun dari pot itu, dan mungkin saja tak pernah akan mendapatkannya, tapi itu tak berarti saya sama sekali tak mendapatkan apa-apa.

***

Ketika saya belum memutuskan untuk mengganti batang-batang kangkung yang mati itu dengan batang kangkung berikutnya, saya sedang menunggui perkembangan bongkol sawi ketiga saya. Saya tak begitu yakin dengannya, seperti dengan sawi-sawi sebelumnya, tapi selalu menyenangkan melihat ia menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dengan mendesakkan pucuknya yang pucat naik nol koma sekian mili dari pangkasannya.

Di pot kecil yang lain, belasan batang cabe muda menyembul berdesakan dari bekas cabe tua yang telah sepenuhnya membusuk. Mereka membutuhkan waktu tak kurang dari sebulan untuk melakukan itu. Saya tak yakin dan bahkan menolak membayangkan salah satu dari batang cabe muda itu beberapa bulan ke depan akan memberi satu segenggam atau bahwa seiris buah cabe keriting. Tapi saya sudah merasa mendapatkan sesuatu bahkan sebelum sampai sana.

BACA JUGA Iri dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.

Baca juga:  Kolom: Membaca Ulang ‘Hujan Kepagian’