Rubrik: Kolom

Kolom: Ayam di Beranda

Kalau puan puan cerana
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki
— Pantun Melayu —

Pemilik kontrakan yang sekaligus tetangga rumah saya memelihara ayam. Cukup banyak. Namun, ia sepertinya tak ingin repot membuatkan kandang. Jika siang ayam-ayam itu meliar di pekarangan, saat malam mereka nangkring di atas dahan rambutan. “Lebih sehat,” kata si pemilik ayam dalam sebuah percakapan.

Untuk lingkungan kampung di sebuah desa di kedalaman Bantul yang tenang, di rumah-rumah dengan kebun dan pekarangan, tentu saja ayam-ayam itu pelengkap yang sempurna. (Dari sanalah kita dapat istilah ayam kampung—siapa tahu ada yang tidak tahu.) Suara kokok ayam jantan mungkin bisa Anda cari di YouTube, tapi induk ayam yang berkotek dan cericit anak-anak yang mengikutinya tak bisa Anda temukan di lorong-lorong apartemen atau kos-kosan mahal di Babarsari. Dan saya, sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, tak punya keluhan apa pun soal ayam-ayam itu.

Sampai kemudian musim hujan datang.

Meski kebanyakan kita suka main hujan-hujanan, saya rasa tak banyak orang yang suka kehujanan. Kambing juga demikian. Pun ayam. Tanpa kandang, saat malam ayam-ayam itu akan nangkring di atas dahan rambutan, sederas apa pun hujan. (Mungkin mereka tahu, ayam yang turun dan keluyuran malam-malam, apalagi saat hujan, bukan hanya mencurigakan tapi juga menakutkan.) Begitu pagi datang, mereka mesti turun ke pekarangan, cari makan. Itu panggilan alam. Bedanya, saat hari terang, ayam-ayam itu akan mencari tempat teduh ketika turun hujan. Tak seperti ibu atau istri Anda, yang akan memanggil pulang anak-anaknya saat turun hujan, memaksanya masuk rumah, bahkan kalau perlu memeriksanya dengan termometer (seperti ditunjukkan iklan-iklan sabun antikuman), induk ayam yang tak berkandang tak akan membawa anak-anaknya naik lagi ke dahan rambutan. Belum waktunya. Mereka masih butuh turun ke pekarangan untuk cari makan, sampai senja datang.

Ada empat rumah yang jadi semesta kecil ayam-ayam tak berkandang itu. Dua dihuni sendiri oleh tuan rumah, dua yang lain disewakan. Rumah saya adalah yang paling lapang beranda dan pekarangannya, juga paling dekat dengan kebun kosong, yang memisahkan rumah saya dengan kuburan. Di pekarangan dan kebun tersebut ayam-ayam itu biasa glidik. Dan, Anda bisa menebak, ketika hujan turun, di beranda rumah sayalah ayam-ayam itu akan berteduh.

Sejak satu setengah bulan lalu saya menyewa rumah mungil, setelah sebelumnya merasa tercekik justru karena tinggal di rumah yang agak besar. Dengan dua kamar berukuran kecil, kamar mandi dan dapur yang juga kecil, dan satu ruang kosong yang merangkap ruang tamu, ruang makan, sekaligus perpustakaan, saya tak bisa memasukkan balai-balai bambu ke dalam rumah. Saya taruh di beranda.

Kursi tamu di beranda banyak bagusnya. Di situ saya bisa sesekali nongkrong dengan pemilik rumah, seorang pematung (“tukang patung,” dia menyebut), mengobrolkan nyaris apa pun. Di situ juga saya menjamu teman-teman yang datang, biasanya dengan minum kopi Kapal Api sambil duduk jegrang. Tapi, obrolan dengan pemilik kontrakan dan tamu-tamu sering kali terjadi saat malam. Nyaris sepanjang hari beranda berbalai bambu itu lengang. Dan itu membuat satu-dua ekor ayam akan dengan nyaman, dan tanpa sungkan, numpang nangkring begitu hujan datang. Ketika hujan turun nyaris sepanjang hari, seperti yang terjadi di awal Januari ini, beranda dan balai-balai itu berasa kandang.

Pada akhirnya, secara keseluruhan, rumah saya pun berbau kandang.

***

Hubungan saya dengan unggas tak terlalu manis. Melihat orang-orang tergila-gila memelihara burung atau ayam jago—dan terlihat begitu berbahagia karenanya—sepertinya menyenangkan, tapi saya tak ingin seperti mereka. Jika harus punya kukila untuk jadi orang Jawa seutuhnya, saya jelas tak masuk di dalamnya. Di umur delapan tahun, saya pernah memelihara tiga bayi pentet, dan saya menyaksikan mereka mati satu per satu. Saya sangat sedih dan merasa bersalah, dan saya berjanji untuk tak coba-coba memelihara burung lagi.

Ayam punya tempat khusus dalam kepala saya. Meski tak sampai takut ayam, seperti seorang teman dari Jakarta, saya menganggap induk ayam yang dikerumuni anak-anak kecilnya adalah makhluk yang patut diwaspadai. Di usia empat atau lima, seekor induk ayam tiba-tiba menerjang saya. Saya kaget dan mencelat, kehilangan keseimbangan, tergelincir di tangga batu, dan babak belur.

BACA JUGA Narator Serbatahu, tapi Dia Menunggu

Saya belajar naik sepeda agak telat, yaitu di usia dua belas. Jika kebanyakan anak berkorban dengkul, siku, atau selangkangan untuk bisa lancar bersepeda, saya mengorbankan semua itu ditambah dua unggas. Seekor menthok dan seekor ayam. Ya, sepeda pinjaman yang saya pakai belajar melindas keduanya, salah satunya sepertinya mati. Saya mesti sembunyi sebelum dicari pemiliknya.

Kakek memberi seekor ayam setelah saya kehilangan kambing gembalaan yang banyak memberikan pengalaman menyenangkan. Saya bersemangat, sebagaimana ketika memelihara kambing. Saya buat kandang sendiri. Sebisanya, sebagusnya. Saya kasih dia makan yang baik. Dan ayam itu bertelur banyak. Bertekad membiakkannya, saya tak mengambil sebutir pun untuk dimakan, meskipun telur adalah lauk langka di dapur kami. Saya buatkan petarangan yang nyaman untuknya, dan kemudian membiarkan ia mengerami semua telurnya. Namun, ketika beberapa hari kemudian saya menengoknya, separoh dari telur itu dihancurkannya sendiri. Sebagian lagi rusak membusuk. (Apakah ia adalah ibu muda yang enggan, atau adakah semacam baby blues pada ayam, saya tak tahu.) Meski dongkol, saya mencoba lagi, memulai dari awal lagi. Kandang saya perbaiki—siapa tahu kegagalannya mengerami anaknya karena faktor eksternal. Dan ayam itu bertelur lagi. Banyak lagi. Namun, tindakan merusak-diri-sendiri itu juga dilakukannya lagi. Telur-telurnya sendiri dihajarnya, sementara sebagian yang lain telantar. Baik, cukup. Saya marah. Saya tutup buku dengan ayam itu. Saya tak ingat apakah berakhir dengan menyembelihnya atau tidak, tapi saya tak pernah lagi mau memelihara ayam sejak itu.

Di salah satu rumah kontrakan yang pernah saya tinggali sebelumnya, kira-kira tujuh tahun lalu, saya juga pernah punya sedikit urusan dengan ayam. Rumah itu berhalaman sempit dan berpagar, dan mungkin saja sudah agak lama kosong sebelum kami huni. Ayam-ayam tetangga senang sekali di pekarangan sempit itu. Bukan hanya banyak ayam saat siang, beberapa ayam bahkan berumah di situ kalau malam. Ketika halaman yang sempit itu menyemak (tentu karena kemalasan para penghuninya), ayam yang datang semakin banyak. Sebuah ceruk hangat di pojok rumah bahkan dipakai bertelur. Tidak hanya satu induk, tapi beberapa. Dan seperti naturnya kaum ibu, demi masa depan anak-anaknya kelak, mereka bersaing untuk bertelur di tempat hangat itu, dan berakhir dengan saling membenci satu sama lain: induk ayam yang kalah duluan membongkar telur-telur induk lain untuk memberi tempat bagi telurnya; induk yang telurnya dirusak melakukan perusakan yang sama untuk menelurkan telur-telur yang baru; lalu datang induk ketiga, dan percaturan di petarangan alam yang sempit itu semakin rumit. Mereka tidak tahu, salah satu penghuni rumah itu adalah penulis tak laku yang kurang gizi. Awalnya ia cuma mengamati, sampai kemudian ia menemukan pembenaran untuk campur tangan sekaligus memberi jalan keluar. Seperti Amerika dan Misi Perdamaiannya, si penulis kurang gizi mengamankan telur-telur yang berpotensi dirusak oleh induk lain, lalu begitu seterusnya, dan begitu seterusnya, sehingga keadaan bisa menjadi lebih tenang. Sebagian besar telur sengketa itu berakhir di penggorengan. Lumayan.

Begitulah, sekumpulan orang yang menyebut diri sebagai penyayang binatang biasanya mengabaikan hewan ternak dan unggas, lebih-lebih cuma ayam kampung. Tapi, kadang saya bisa lebih abai dan lebih jahat dari mereka. Dan meskipun saya punya obsesi aneh untuk membuat dadar gulung yang tebal dan besar dan sempurna, juga pemakan telur yang rakus, saya rasa saya dan ayam sebaiknya tak berurusan.

***

Saat ayam-ayam itu menyulap beranda dan kursi bambu saya menjadi kandang, saya membaca berita-berita tentang banjir di Jakarta dan Jawa Barat. Beberapa orang terendam rumahnya dan mesti mengungsi. Beberapa teman yang saya kenal mesti kehilangan buku-buku kesayangan karena terendam. Seorang teman memasang gambar mobil yang hanyut nangkring di atas pagar di laman media sosialnya. Sementara video-video menakutkan tentang banjir bandang di beberapa tempat di Jawa Barat tak tertanggungkan untuk ditonton, lebih-lebih dialami. Dan saya, di sini, di Bantul yang tenang, jauh dari marabahaya, mengeluhkan ayam-ayam yang kehujanan.

Dari jendela kamar, persis di samping meja kerja saya, saya melihat ke luar, ke langit yang kelabu, ke hujan tak lebat namun enggan berhenti, ke pekarangan yang becek, ke ayam-ayam yang nangkring di atas meja, kedinginan dan termangu, ke lantai beranda yang kotor dan bau. Saya tak mungkin mengusir ayam-ayam itu; mereka akan pergi untuk kembali. Saya bisa mengepelnya kalau ingin. Dan jika pun saya malas, tak apa juga, toh kalau hujan lagi mereka akan nangkring dan buang tai di situ lagi.

(“Kenapa tidak meminta yang punya ayam membuat kandang?” mungkin seseorang akan berbisik begitu. Tidak, itu pikiran yang terlalu egois. Tapi, terutama, terlalu urban untuk saya. Saya sejak awal tak memilihnya.)

Dan saya memang akhirnya mengepelnya, ketika seorang teman, editor yang ingin menulis novel, datang bertandang, lalu menginap. Saya tak ingin teman yang berkunjung menginjak tai ayam di rumah saya. Saya tak ingin, dalam proses kreatifnya yang ditulisnya nanti, ia bercerita bahwa salah satu alasan novelnya telat selesai adalah karena ia pernah menginap di rumah kontrakan seorang penulis lain yang bau kandang ayam, yang menghancurkan mood-nya, dan akhirnya merusak ritme menulis yang tengah bagus-bagusnya.

Ketika hari sedikit terang, saya mengangkat kursi yang penuh tai dari beranda ke halaman, sementara sang aspiran novelis merenung-renung di depan laptopnya: mungkin untuk bab-bab berikutnya, mungkin juga telah membayangkan ke mana nanti ia akan mengajukan residensi, ke Tanjung Verde atau ke Samoa. Dan, seperti yang saya rencanakan, ia pasti akan ikut membantu (apakah karena tak enak atau karena bersolidaritas, itu tak penting). Ia bangkit, membawa alat pel dan pembersih lantai. Karena ia lebih muda dari saya, ia pasti tak akan memberikan alat pelnya ke saya jika saya minta. Maka, saya pikir sebaiknya saya biarkan saja ia mengepel, sementara yang balik masuk ke rumah, menuju dapur untuk memasak air dan, demi kesopanan, menanyakan kepada si novelis muda apakah ia mau bikin kopi atau tidak.

Pada akhirnya, ketika saya membuat kopi, dan kemudian menulis kalimat-kalimat ini, saya bisa membuat simpulan: selama masih ada orang-orang yang ingin menulis novel, tak apa juga ayam-ayam buang tai di beranda.

Kan, sudah saya bilang, saya bisa sangat abai dan jahat. Kadang kepada ayam, kali lain kepada mereka yang ingin jadi novelis. Kenapa tidak?

Artikel ini adalah rilis perdana kolom REBAHAN yang akan rutin diisi oleh MAHFUD IKHWAN. Tayang saban Jumat kalau tidak kehabisan kopi.

Leave a Comment