merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya
merdeka sepakbola singkong menulis ironi sepakbola jendela sepeda zainuddin mz puasa tarawih kolom menulis tutur tinular penulis buku lagu tv rusak rebahan kolom mahfud ikhwan mojok.co ayam rumah kontrakan contoh esai bagus indonesia mojok.co putu wijaya

Kolom: Duaribu Duapuluh

Saya seharusnya menuliskan angka, 2020, tapi saya ingin melihatnya tampak istimewa dan tak akan dipertukarkan dengan angka-angka tahun lainnya, baik yang sebelumnya maupun yang akan datang. Tapi saya tak hendak menuliskannya dengan ejaan standar yang dianut oleh editor media tempat kolom ini tayang, Dua Ribu Dua Puluh, karena itu terlihat terlalu panjang dan bertele-tele. Saya pikir, itulah gambaran perasaan saya atas tahun ini.

Punya kolom sendiri, menulis dua ribu kata setiap akhir pekan, menyanggupi hal yang biasanya tak bisa disanggupi dan mampu, mendapat satu-dua pembaca baru yang menunggu, saya rasa itu bukan hal yang terlalu buruk bagi seorang penulis. Tapi bukan itu yang membuat saya lega di akhir tahun ini.

Nyaris sepanjang tahun kita hidup dalam kegentingan, perasaan tercekam, selalu merasa mesti siap sedia, waspada, bahkan ketakutan, dengan berita duka bertubi-tubi menimpa orang-orang yang kita kenal atau orang-orang di sekitar orang-orang yang kita kenal atau orang yang tidak kita kenal namun begitu penting bagi hidup kita. Dan, dalam keadaan demikian, orang macam saya masih bisa mengeluhkan hal remeh-temeh, membicarakan persoalan-persoalan tak signifikan, bahkan kadang tak membicarakan apa pun selain diri sendiri dan itu pun tak terlalu penting… maka, apa lagi yang diminta? Menjadi terasa nyata di tahun ini bahwa nikmat terbesar seorang penulis adalah masih terus bisa menulis. Oleh karenanya, saya harus bilang, dalam arti paling menguatkan, ini adalah masa yang sangat istimewa.

Tapi, bagaimanapun, ini adalah tahun yang seharusnya kita diberi sejenis kortingan; ini saat-saat yang begitu berat, dan sebagian dari kita kolaps—kehilangan pekerjaan, kehilangan rencana dan cita-cita, kehilangan orang tercinta, atau bahkan yang lebih subtil, katakanlah semacam, kehilangan harapan. Kita sekecil itu rupanya, selemah itu: di depan wabah, di depan alam yang membuat perhitungan, kita cuma hewan melata; kita adalah cacing kepanasan yang diguyur air sisa cucian. Dengan sisa-sisa daya, di tengah sedikit sisa-sisa pengharapan yang ternyata tak cukup kuat untuk jadi pegangan, yang bisa kita gumamkan cuma sejenis doa separoh putus asa: “Mbok sudah, cukup, hop!” Dan ketika terang di ujung lorong itu masih terlihat terlalu jauh dan terlalu kecil, dan kita masih terus meraba-raba dinding gelap yang bahkan belum tentu itu dinding, setidaknya kita sekarang berada di pengujung tahun yang amat menguji dan menguras kesabaran ini. Kita belum benar-benar keluar, ya, tapi bolehlah kita berhenti sejenak mengambil semacam jeda.


Baca juga:  Dia Nge-love Konten Anya Geraldine dan Itu Nggak Masalah

***

Saya tak biasa menjadikan pergantian tahun sebagai sesuatu yang mesti dihitung dan karena itu mesti dirayakan, juga sangat payah dalam hal menjadikan 12 bulan/365 hari itu sebagai kesadaran dan acuan waktu. (Saya membenci pesta tahun baru, dan saya tak antusias dengan segala tetek bengek tentang ulang tahun, dan menjaga diri dari segala kecengengan yang melekat kepadanya.) Tapi, untuk tahun ini, saya merasa perlu untuk sedikit berdamai. Saya ingin sedikit membuat semacam revisi.

Sebagai penggila bola, sesekali mungkin saya perlu memakai tahun sepakbola sebagai acuan: setiap setahunnya adalah satu musim kompetisi, dengan satu pemenang di akhir musim. Anda kalah di musim ini, dan mungkin di musim-musim sebelumnya, tapi setiap dimulainya musim baru Anda berhak membuat harapan baru, sekecil apa pun itu, sebab poin dimulai dari nol lagi.

Di akhir tahun ini, kita boleh jadi tak lebih dari tim gurem yang selamat dari degradasi di beberapa pertandingan terakhir kompetisi, dengan kondisi compang-camping, sebagian besar pemain cedera dan kehabisan stamina, mungkin dengan kondisi finansial memprihatinkan, dan boleh jadi kita tak punya manajer di pinggir lapangan—ia, mungkin saja, diam-diam melipir pergi setelah merasa tak mungkin bisa menyelamatkan kita, dan memilih menyelamatkan diri sendiri. Tapi, toh, kita selamat. Dan, seburuk apa pun kondisi kita, kita berhak memulai lagi.

Baca juga:  Jika Tuhan Maha-Kuasa, Lantas Kenapa Manusia Menderita?

“Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, nyaris putus asa—yang jika kita mendengarnya di sepanjang tahun ini, kalimat itu benar-benar terdengar sama sekali tanpa pengharapan. Tapi saya pikir, setidaknya, menunda adalah kata kerja; ia, bagaimanapun, juga sebentuk ikhtiar, mungkin dari upaya yang paling kecil dan paling penghabisan. Maka, berhasil mengupayakannya, dan itu berarti terus mengupayakannya, patut juga dirayakan.

Kita mungkin tak akan juara di pengujung musim, dengan piala atau trofi di kuade, dengan medali di leher, dengan konfeti bertaburan dan kembang api berhamburan, tapi terus bertahan, terus menunda kekalahan, adalah juara itu sendiri.

***

Tahun 1999, Jimmy Glass, seorang kiper cadangan pinjaman yang baru direkrut agak terlambat, dan nyaris tak dikenal oleh rekan setimnya, menyelamatkan Carlisle United, klub di divisi empat Inggris, dari terjungkal ke sepakbola amatir. Ia tak menyelamatkan gawang sendiri sebagaimana seorang kiper, melainkan mencetak gol ke gawang lawan layaknya seorang striker. Melawan Plymouth Argyle, Carlisle hanya punya 10 detik lagi untuk memenangkan pertandingan, dan hanya itulah satu-satunya cara mereka menyelamatkan diri dari degradasi. Ketika di detik-detik terakhir Carlisle mendapatkan sepak pojok, Glass meninggalkan kotak penaltinya untuk maju menuju kotak penalti lawan. Dan sedetik ke depan, menyeruak di antara kerumunan 21 pemain lain, ia menyepak bola muntah dari kiper lawan, dan masuk, dan menyelamatkan klub yang baru diperkuatnya hanya dalam tiga pertandingan. Seluruh penonton di stadion tumpah ke lapangan, dan Jimmy Glass digotong di atas pundak ratusan orang, dielu-elukan sebagai pahlawan. Lalu, layaknya pahlawan-pahlawan di komik, setelah kisah penyelamatan yang gemilang itu, Jimmy Glass menghilang tanpa kabar. Hingga sekarang, kisah Jimmy Glass dianggap sebagai salah satu keajaiban sepakbola.

Baca juga:  Kolom: Festival

Meski saya sering mengatakan bahwa sepakbola seperti hidup (dan saya tak jarang betul-betul melihat hidup saya seperti itu), saya harus bilang bahwa Jimmy Glass hanya ada di sepakbola, tidak di kehidupan nyata—maksud saya, yang benar-benar nyata. Ia tak bisa diharapkan kedatangannya, dan lebih baik kita tak mengharap kedatangannya. Anda harus menyelamatkan diri dari kebobolan, sering kali sendirian, dan Anda juga yang mesti maju ke depan, mengambil sekecil apa pun kesempatan, untuk Anda sendiri. Bahkan itu masih bukan berarti kemenangan, apalagi juara, melainkan sekadar untuk tetap bisa bertahan—seperti tim gurem macam Carlisle. Bahkan, itu boleh jadi tak sepenuhnya berhasil—seperti Jimmy Glass sendiri, yang pensiun di usia 27 karena tak ada klub yang mempekerjakannya.

Selamat Tahun Baru 2021, terutama untuk Anda yang selamat di tahun 2020.

BACA JUGA Berbeda dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN