Setiap 28 Oktober terjadi polemik di Twitterland, yaitu soal kesahihan Sumpah Pemuda. Polemik ini seperti biasa akan jadi bahan kultwit, bahkan twitwar. Sama seperti hari-hari peringatan lain.

Kadang saya berpikir, apa sih guna dari penetapan peringatan hari ini dan hari itu. Mungkin gunanya memang agar para #KelasMenengahNgehe terlihat pintar di Twitter. Setidaknya, peringatan hari ini-itu membuat mereka bisa pamer opini dan wawasan di sana.

Kontroversi Sumpah Pemuda itu simpel saja. Menurut sejarawan muda yang sering saya juluki sebagai The Next Anhar Gonggong, yaitu JJ Rizal (entah apa hubungannya dengan JJ Royal), berdasar bukti otentik sejarah, tidak pernah ada yang namanya Sumpah Pemuda. Apa yang disebut sebagai Sumpah Pemuda di buku sejarah sekolah sebenarnya adalah Putusan Kongres yang diadakan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) saat Kongres pemuda II di gedung Indonesische Clubgebouw, Jakarta, 27-28 Oktober 1928.

Putusan Kongres itu berbunyi:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

Dan tidak diucapkan dengan lantang oleh sejumlah anak muda berbusana daerah seperti yang digambarkan di beragam buku sejarah atau poster-poster propaganda.

Adalah Mohammad Yamin, yang mengaggap bahwa Putusan Kongres kurang kurang sensasional. Perlu dibumbui dengan kosa kata yang lebih menjual, agar lebih heroik, kharismatik, dan happening alias ngehits. Maka diubahlah oleh Yamin menjadi Sumpah Pemuda. Dua penggal kata sakti ini pun baru dipakai di Kongres Bahasa Indonesia Kedua yang diadakan di Medan pada 28 Oktober 1954. Setidaknya begitulah menurut Erond Damanik, Peneliti Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial (Pussis), Universitas Negeri Medan.

BACA JUGA:  Asmara Sumpah Pemuda: Yamin Menang Banyak, Wage Tidak

Selain menciptakan kata “Sumpah Pemuda”, Yamin juga sangat kreatif memodifikasi larik Putusan Kongres menjadi lebih dramatis:

  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tiga baris sumpah tersebut identik dengan ilustrasi barisan pemuda-pemudi berbusana daerah, yang membacanya dengan khidmad. Pastinya juga, tiga baris kalimat itu membuat siswa SD di Indonesia ketambahan tugas untuk menghafalkannya. Setidaknya itu terjadi di era Orde Baru. Saya kurang paham apakah anak SD masa kini masih harus menghapalkan teks Sumpah Pemuda atau tidak.

Banyak yang menduga, Yamin terinspirasi oleh Sumpah Palapa milik Gajah Mada. JJ Rizal dan saya pun demikian. Walau saya lebih penasaran, apa sebenarnya kepanjangan JJ di depan nama mas Rizal ini.

Di situs SumpahPemuda.Org, disebut posisi M. Yamin saat Kongres Pemuda II sebagai sekretaris. Tapi perannya melebihi peran seorang sekretaris. Lebih seperti copywriter atau konseptor teks propaganda yang fantastis. Dan itu sangat ampuh.

Berkat M. Yamin, hasil Putusan Kongres yang hanya tulisan di atas secarik kertas saja bisa disulap menjadi sebuah momen bersejarah luar biasa, yang masih terus diperingati sampai 87 tahun kemudian. Bayangkan kalau tidak ada M. Yamin, bisa jadi peristiwa Kongres Pemuda itu hanya jadi sekadar acara ngopi-ngopi cantik para pemuda masa itu.

Nah, di Twitter banyak sekali yang komentar soal ini setiap 28 Oktober. Bahkan ada yang mencela-cela Yamin sebagai otak propaganda nggak pentinglah. Atau bahwa Sumpah Pemuda sudah dilupakan pemuda masa kini yang lebih suka berbahasa alay. Bagi saya, itu semua tidak masalah. Yang perlu diingat adalah betapa hebatnya M Yamin, sosok yang oleh majalah Tempo sampai dibuatkan cover edition, saking kontroversialnya pria asal Sawahlunto, Sumatera Barat ini.

BACA JUGA:  Berterima Kasih kepada Bahasa Indonesia Setahun Sekali

Bayangkan, tanpa M Yamin, tidak akan ada berbagai acara peringatan Sumpah Pemuda. Otomatis para Event Organizer (EO) manyun, penyewa pakaian daerah gigit jari, instansi pemerintah puyeng memikirkan penghamburan anggaran, partai-partai kehabisan ide untuk mencari perhatian media massa, bahkan para jurnalis merasa garing karena kurang liputan bertema nasionalisme.

Maka tak berlebihan jika saya mengusulkan agar Mohammad Yamin ditetapkan sebagai Bapak Copyrwiter Nasional. Yes, para copywriter seantero Indonesia wajib angkat topi ke beliau. Berkat kreativitas tulisan dan inspirasinya, momen yang biasa saja menjadi sangat luar biasa dan berdampak signifikan pada nilai-nilai nasionalisme seluruh bangsa.

Apa ada copywriter lain di Indonesia yang sanggup melampaui kedigdayaan M. Yamin? Jelas belum ada.

Saya berfantasi, andai M. Yamin hidup di masa kini, Indonesia pasti bisa melampaui Amerika Serikat. Ya, itu tidak berlebihan. Seperti kita ketahui, Amerika Serikat itu paling jago berpropaganda. Semua produk Amerika bisa disulap menjadi seolah-olah luar biasa hebat. Bahkan ayam goreng anyep penuh suntikan bahan kimia pun bisa laku keras berkat dicap merk buatan Amerika, dan digilai orang di seluruh dunia.

“Amerika Serikat dibesarkan oleh iklan,” begitu jurnalis senior Peter A Rohi pernah berujar. Ini berarti untuk melampaui Amerika, Indonesia butuh copywriter hebat sekampiun M. Yamin. Demi memotivasi para copywriter masa kini agar sehebat beliau, mari kita tetapkan M. Yamin sebagai Bapak Copywriter Nasional.

 

*sumber gambar: akukamuindonesia

No more articles