Jika Bandung terkenal dengan skena musik underground, mulai dari hardcore di ujung barat, alternative di tengah, sampai rupa-rupa aliran metal di ujung timur, maka saya tak menemuinya di Universitas Pendidikan Indonesia. Iya. UPI ada di utara kota Bandung, tapi tak ada Bandung di kampus ini. Tiada ciri gaya hidup urban di sekolah ini, mungkin karena pengisinya kebanyakan anak-anak desa yang punya cita-cita romantik menjadi guru.

Dari nasyid ke musikalisasi puisi

Tapi mungkin juga ini subyektif. Soalnya saya anak FPMIPA, fakultas yang di kampus manapun terkenal paling saintifik agamis. Dan, gedungnya cuma sepelemparan batu dari Daarut Tauhid, pesantren terkenal milik Aa Gym. Setiap minggu, mereka kami rajin ikut pengajiannya. Tak heran kalau sebagian pengurus himpunan nganggap musik beralat musik itu haram. Jadi, kalau ada acara, hiburannya nasyid lagi nasyid lagi.

Eh, tahu nasyid, kan? Itu lho, empat atau lima laki-laki menyanyikan lirik religius dan (ingat, ingat) tanpa alat musik. Kadang temponya cepat dengan lirik mengajak jihad. Tapi tak jarang begitu lambat mendayu-dayu sampai para vokalis seperti mau nangis (bahkan bisa nangis beneran).

Sebetulnya di SMA saya dulu juga ada grup nasyid. Tapi saya tak merasa sebel karena dulu nasyid bisa hidup damai dengan musik lain-lainnya. Masuk universitas, situasinya jadi benar-benar bikin frustrasi. Nasyid memonopoli kancah hiburan semua acara himpunan dan fakultas. Wajar sih, wong rapat himpunan saja dipisah antara laki dan perempuan ikhwan dan akhwat.

Apakah saya pernah usul hal yang beda? Oh, tentu. Di himpunan, saya pernah usul supaya acara diisi hiburan musik beneran. Tapi kandas. Penyebabnya bisa ditebak. Dari grup ikh-akh (ikhwan-akhwat), alasannya tetap satu kata ini: haram. Dari kelompok lain, pertanyaannya: “Memangnya siapa yang mau ngisi?”

Iya juga. Baru ingat kalau di angkatan saya nggak ada yang main musik. Yaaa, hafal kunci sih ada, tapi bukan performer. Untung situasinya agak membaik saat ada angkatan baru. Ada perempuan, nyaris akhwat (berkerudung panjang dan berbaju longgar), jago gitar dan keyboard, bisa bikin lagu. Nyanyinya juga bagus. Tapi… MIPA ya tetap MIPA. Sampai kapanpun tak bisa rock ‘n roll. Jadi, dalam rangka misi kebudayaan, saya melebarkan sayap ke fakultas lain.

Setelah lebih bergaul, ketemulah dengan musik non-nasyid. Tapi ternyata adanya ekstrem yang lain. Ekstrem itu bernama musikalisasi puisi. Setiap nonton acara rame-rame di Pentagon (gedungnya anak sastra dan beberapa UKM), apapun acaranya, musikalisasi puisi-lah hiburannya. Oya, sebetulnya fakultas sastra dulu gabung dengan seni.

BACA JUGA:  Benci tapi Rindu ITS

Anak seni rupa ini tiga tahun sekali bikin acara keren. Namanya Djamoe Tjap IKIP. Kegiatannya: pameran, seminar, konser musik. Tapi entah kenapa hanya sedikit anak seni yang aktif di UKM universitas. Atau bisa juga sebetulnya banyak, cuma mereka ketularan agama musikalisasi puisi juga. Jadi begitulah. Di luar Djamoe Tjap IKIP, UPI adalah nasyid dan musikalisasi puisi. Amor fati: saya akhirnya menerima suratan takdir ini.

Registrasi cukup bayar Rp 50 ribu

Bergaul dengan anak IPS, kesannya agak lumayan. Kalau main ke himpunan sejarah, pasti ketemu senior bernama El yang suka main lagu Pearl Jam. Luar biasa suaranya, benar-benar klon Eddie Vedder! Tapi yang mengesankan dari mereka bukan urusan gaya hidup macam begitu. Saya terkesan karena anak-anak sosial ini bener-bener sosialis (dalam soal bayar SPP).

Jadi begini. Saya kan anak MIPA angkatan 2001. SPP plus praktikum saya tiap semester itu Rp 550.000 saja. Di luar fakultas saya dan teknik, SPPnya lebih murah lagi. Sebagai pembanding, mulai 2002, ITB membuka jalur penerimaan mahasiswa baru yang biayanya 45 juta. Di UPI mah beberapa tahun kemudian baru buka jalur begini. Selama dua tahun kuliah di MIPA, saya selalu melihat teman-teman membayar SPP pada waktunya. Bukan, bukan karena semua mahasiswa kaya.

Satu teman perempuan saya dari Subang pernah bilang di satu musim registrasi bahwa ia bisa bayar SPP setelah bapaknya menjual kambing. Mahasiswa lain yang juga kesulitan biasanya meminjam uang demi bisa registrasi. Nantinya, mereka akan membayar utang dengan beasiswa yang telat datang. Pokoknya, anak MIPA itu relatif aman dan tertib.

Tapi, olala, di IPS lain lagi kejadiannya. Jika musim registrasi, beberapa teman seatap di Isola Pos yang anak IPS seringkali pamer secarik kertas. Kertas sakti. Mereka tetap bisa teregistrasi untuk kuliah semester depan meski tak ada duit. Caranya? Ya mesti bayar juga. Tapi mereka cukup bayar semacam cicilan “tanda jadi” sebesar Rp 50 ribu. Sisanya boleh dibayar kapanpun. Jelas saya bingung, ternyata bisa registrasi kayak gitu.

Bukan itu saja. Jika dalam satu semester mereka masih bokek, anak sejarah biasanya “pinjam” uang sama beberapa profesor. (Nggak akan saya sebut namanya karena beliau-beliau sudah pada pensiun, kasian kalo diutangi lagi sama anak UPI yang baca). Soal pinjam uang ini agak aneh. Yang semester lalu saja belum dikembalikan, semester depannya bapak profesor diminta pinjaman lagi. Ajaibnya, mereka selalu memberi, meski peminjamnya baru bikin ulah, entah demo atau bikin berita “kurang ajar.”

BACA JUGA:  Carilah Gebetan Hingga Paramadina

***

Sudah cukup romantismenya. Itu semua dulu. Masa lalu. Zaman mahasiswa masih doyan berbusa-busa ngobrol karena tak punya laptop dan gajet di tangan masing-masing. Bahkan dengan teman-teman pecinta nasyid pun saya akrab-akrab saja, meski ikhwa- ikhwan itu selalu ngobrol tanpa kontak mata. Well, it’s kinda cute actually.

Eh iya, soal ini, saya juga kadang melihat di gedung PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa): satu laki-laki dan satu perempuan duduk di kursi yang bentuknya bundar melingkari pilar. Mereka saling memunggungi. Karena kepo, saya amat-amati. Ternyata dua orang berpunggungan itu sedang ngobrol! Edyan. Itu mungkin yang namanya kencan diskusi tanpa mendekati zina. Geli sekali lihatnya. Tapi dipikir-pikir, manis juga ya?

Sekarang, di PKM orang duduk memangku laptop atau memegang gajet. Di luar gedung, udara sesak oleh suara orang bertransaksi dalam acara bazar dan…bunyi alat musik beneran, sodara! Maliq and d’Essentials konon pernah main juga di sini. Kemajuan, batin saya.

SPP sudah meningkat berkali lipat (melipat juga dari angka inflasi). Gedung lama dirubuhkan, yang baru berdiri megah. Meski tetap saja Vila Isola—sejak zaman Hindia—yang berdiri paling cantik. Saya bergumam, mungkin Indonesia sudah makmur. Toh yang masuk UPI saja tercukupi begini.

Melihat pemandangan itu, saya jadi ingat teman-teman yang dulu bulukan di tempat rental komputer. Atau, ngantre di satu-dua tempat kos teman yang punya komputer meja. Saya mengira-ngira ada nggak sekarang anak petani dari pelosok Pasundan yang datang ke IKIP untuk jadi guru dengan modal ngajar ngaji di mesjid. Supaya mereka bisa tidur gratis tentunya. Apa masih ada juga mahasiswa yang “ngekos” di himpunan atau UKM? Kalau yang ini kayaknya hampir nggak ada. Kan sekarang kampus tak boleh dipakai kegiatan malam. Jadi, saya simpulkan UPI sekarang diisi anak kelas menengah.

Sampai kemudian saya baca berita:

Puluhan mahasiswa dicutikan paksa karena tidak membayar SPP sampai tenggat yang ditentukan.

Nah, loh. Di UPI bukan tidak ada anak miskin. Melainkan, tak ada yang menandatangani secarik kuitansi cicilan SPP senilai Rp 50 ribu. Kalau mahasiswa nggak bayar sesuai jadwal, dia diminta cuti—bahkan drop out kalau dua bulan luput. Kalau begini, mungkin tak ada pentingnya kampus jadi modern atau jadi urban seperti (cita-cita) Bandung.

  • iriliril

    Oalah mz ceritanya kok ngeri gini ya, aku kira uin bdg sudah paling islami. haha ternyata tidak. Di uin bandungku, musik-musik keras masyhur berbaur dgn aliran musik lain seperti blues dan etnik. Malah nasyid mungkin hanya ada di acara bernuansa islam saja seperti PHBI atau acaranya anak Lembaga Dakwah Mahasiswa.

  • iriliril

    Oalah mb ceritanya kok ngeri gini ya, aku kira uin bdg sudah paling islami. haha ternyata tidak. Di uin bandungku, musik-musik keras masyhur berbaur dgn aliran musik lain seperti blues dan etnik. Malah nasyid mungkin hanya ada di acara bernuansa islam saja seperti PHBI atau acaranya anak Lembaga Dakwah Mahasiswa.

  • zsoeteja

    itu khan zamannya ibu maulida…..hehehe

    • lidalida

      Kang Zack yang ngutangin? :p

  • Kabarudin H

    UPI …, lain dulu lain sekarang, kampus religi dengan sekelumit Program Tutorialnya,kampus misteri di gang gang sempit Negla Sarinya, kampus kenangan antara mahasiswa dan mahasiswinya yang berlindung di Gedung Pentagon dan Taman Parternya, Kampus sejuta impian untuk mengharumkan bangsa,kampus tuk menjadi guru guru idola murid muridnya… Kampus dipinggir Setia Budi” Terminal Ledeng”, Saya berterimakasih padamu, Terminal yang membuka diriku tuk mengerti akan kerasnya dunia… terminal dengan lika liku kaki lima dan para calo angkotnya…UPI akan terukir dalam detak nadiku, harumlah namamu Himasra..

  • Sukur Wi

    ayo disundul,,,, biar teteh menghasilkan karya yang bagus, kok ga ada stat jumlah yang ngeshare ya??

  • Miftahul Hidayah

    Di ITB bayaran 45 jutanya bisa NOL kok.

    Oia, SPP ITB keliatannya mahal, tapi beasiswanya banyak banget. Trus tiap awal semester ada fasilitas “penangguhan pembayaran” uang kuliah dengan 0 rupiah, dibayarnya terserah asal masih di semester yang sama. Telat bayar ga pernah ditagih cuma registrasi semester depannya ga bisa online aja, harus manual. Ga punya duit lagi? Penangguhan lagi aja. Tiba2 utang semester kemaren udah lunas dibayarin ITB sendiri.

    ITB itu GA PERNAH satu kalipun MEN-DO atau mencutikan mahasiswa karena urusan finansial, sejak pertama kali ITB berdiri

  • Bagus sekali UPI skr, kadang suka di Bandung banyak keprihatinan kampus 😀 salam https://www.pulsel.com

No more articles