[MOJOK.CO] “Jadi norak dan kampungan di bioskop adalah hak segala bangsa.”

Sebagai mahasiswa berdompet pas-pasan yang tngah magang jadi netizen, jujur saya agak panas baca tulisan Mbak Nia tentang kelakuan menyebalkan netizen di bioskop, terutama ketika aksi merekam film di bioskop disindir.

Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa orang suka merekam di bioskop lalu  membagikannya di media sosial. Lewat tulisan ini, saya mencoba menyusun pleidoi atas nama kaum-kaum kebelet eksis yang merasa tersinggung dengan tulisan Mbak Nia tersebut.

Jadi begini, Mbak, saya nggak habis pikir, kok ada ya orang yang punya pemikiran kayak kamu? Di Indonesia ini kan ada hukum tidak tertulis bahwa “aturan ada untuk dilanggar”, lha kok Mbak ini malah sok-sokan mau taat aturan? Jangankan kita netizen ecek-ecek, itu wakil gubernur kebanggaan Ibu Kota saja, jelas udah dibuatin aturan kalau harus pakai pantofel warna hitam, dia pakainya sepatu kets. See?

Begitu dikritik, apa jawabannya? Tepat, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, jawabannya mengesankan ia tidak tahu bahwa ada aturan yang mengatur soal sepatu. Itu jawaban wakil gubernur pilihan umat lho. Jelas nggak akan salah meski melanggar aturan.

Selain itu, saya ini masih kuliah. Tahu sendirilah, Mbak, mahasiswa itu uangnya pas-pasan. Buat makan aja, kalau bisa nyusup ke nikahan orang. Mana sempat saya mikir buat nonton di bioskop?

Tapi, ada sih golongan mahasiswa yang sesungguhnya mereka ini anak kos, tapi justru lebih hedon dari pada golongan mahasiswa yang anak rumahan. Dan dari golongan mahasiswa yang seperti itulah saya bisa nonton bioskop gratisan dengan bermodal wi-fi kampus. Bayangkan kalau semua orang taat aturan, mahasiswa macam saya mau dikemanain? Toh niat mereka juga baik, selain pamer kalo mereka lagi nonton di bioskop, juga beramal via media sosial untuk orang-orang susah macam saya.

Untuk perkara menaikkan kaki di atas kursi dan mainan hape di dalam bioskop, saya bingung, masalahnya di mana ya, Mbak? Masalah sopan santun? Kesusilaan? Emangnya di zaman yang udah serba-individualis ini, hal itu masih berlaku? Yang penting kenyamanan pribadi, Mbak.

Kita nggak tahu lho, yang suka naikin kaki di atas kursi itu sehabis nonton mau ngapain. Bisa aja setelah dari bioskop mereka mau main futsal atau main egrang. Jadi selama di dalam bioskop, kaki mereka kudu rileks, Mbak. Kan lumayan juga ada kepala, bisa buat latihan nendang bola. Yang punya kepala tersinggung? Bodo amat, toh masuk ke dalam juga sama-sama beli tiket. Beres.

Baca juga:  Embun Penyejuk dalam Diri Penjaga Loket Karcis dan Teater Bioskop

Kita tahu sama tahulah bahwa mereka yang suka mainan hape di dalam bioskop itu pengin dikit-dikit update kegiatan mereka biar eksis. Sekarang ini, kalau nggak eksis di media sosial, bisa disangka alien, Mbak. Mending kalau disangka alien, kalau disangka orang pintar? Bisa repot. Sudah jadi anggapan umum kalau orang pintar di negara ini selain mudah dimusuhi, juga susah dapat tempat, Mbak.

Banyak yang tahu, mereka yang sering dapat tempat ya orang yang keluarganya punya banyak koneksi di sektor pemerintahan atau sektor swasta, kayak Ibas. Mau bukti kalau orang pintar itu suka dimusuhin? Bisa Mbak googling sendiri kasusnya Alif dan Ibu Siami deh. Kasus itu bukti kalau di negara ini, jadi pintar itu sudah merupakan masalah, apalagi kalau ditambah punya sifat jujur, jadi kutukan namanya.

Terus mbaknya kok sewot kalau ada orang tua yang bawa anaknya nonton film di bioskop? Mana mau para orang tua itu sekadar membaca ulasan film sekilas. Bagi mereka, mereka itu datang, bayar, lalu nonton. Kalau ada konten yang tidak sesuai untuk anak di bawah umur, tinggal komplain, habis perkara. Dampak terhadap anak ke depannya? Ora urus, kan yang penting udah komplain ke pihak bioskop selaku pemutar film.

Yang penting nonton film yang ngehits di media sosial dan nggak dicap ketinggalan tren sama yang lainnya. 

Lagian, Mbak ini bawa-bawa kasus perusahaan film anime di Jepang sono yang katanya terpaksa menghentikan pemutaran film karena maraknya penyebaran film yang dibagikan di media sosial segala. Harusnya Mbak berterima kasih sama kami semua. Di Jepang orangnya rata-rata nggak seiman sama alumni. Yah, you know who, takut dipersekusi saya kalau nyebutin secara gamblang. Produk orang yang nggak seiman itu jelas harus diboikot. Dan karena produknya berupa film, cara boikotnya dengan direkam dan disebar di media sosial.

Semua ini demi kepentingan umat, dan ini langkah konkret biar nggak dicap boikot musiman yang cuma dikampanyekan waktu Palestina diserang Israel. Peduli setan kalau telepon genggam, kendaraan, bahkan makanan yang dikonsumsi itu kebanyakan justru diimpor dari negara-negara yang nggak seiman. Boikot adalah kunci.

Jadi begitu ya, Mbak. Semoga nggak ada lagi orang yang sok-sokan mau taat aturan kayak mbaknya. Mau jadi apa negara ini kalau orang yang taat aturan kayak Mbak Nia ini semakin banyak? Jadi makin maju?

Komentar
Add Friend
No more articles