Di Balik Kemudi: Melihat Jasa Angkut Bekerja Sebelum dan Semasa Pandemi Mojok.co
liputan

Di Balik Kemudi: Melihat Jasa Angkut Bekerja Sebelum dan Semasa Pandemi

Kalian bosan dan capek menjalani profesi? Ingin lebih termotivasi? Baca ini!

Kami tiba di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah usai menempuh perjalanan 89 kilometer. Saya dan seorang penyedia jasa angkut, Darun (40), mengangkut lebih dari lima ratus kilogram pupuk organik dari sebuah pabrik di Tembi, Bantul dan sebuah sofa bed titipan menggunakan mobil pikap GranMax 1.5 keluaran 2013. Jenis pupuknya beragam, mulai dari cair sampai kering. Semuanya dikemas menjadi dua belas karung dan delapan dus. Setiba di lokasi akhir, tepatnya di penjual pupuk, kami masih harus memindahkan barang-barang dari mobil ke gudang.

Sekarung beratnya 25 kilogram. Ketika memikulnya di pundak, langkah saya sedikit goyah. Jumlah muatan tersebut tidak terlalu banyak. Beberapa teman pernah kerja serabutan memindahkan barang yang dimuat penuh dalam satu kontainer, namun saat saya bawa ke gudang, barang itu rasanya tak habis-habis. Sok-sokan, saya sempat terpikir untuk mengangkat dua karung sekaligus. 

“Satu-satu aja,” Darun membaca pikiran saya. “Dua karung itu beratnya sama kayak kamu, loh.” Saya meringis.

Malam itu Kamis (30/9). Beberapa hari sebelumnya, saya dan salah satu reporter magang Mojok, Yoga, mendapat tugas liputan soal jasa angkut. Terdapat beberapa jasa angkut yang kami hubungi, tetapi tak semuanya merespons. Salah satunya Darun, pria asal Kasongan, yang dengan senang hati bersedia. Agar makin mendalami peran, saya menawarkan diri jadi helper-nya.

Alhasil dari Kamis sore sampai Jumat (1/10) dini hari, saya menemani Darun mengangkut barang dari Kabupaten Bantul ke Kutowinangun. Paginya badan pegal-pegal, saya syukuri saja. Saya tak pernah terpikir untuk kerja sekeras ini, namun masa depan siapa yang tahu?

Pesanan Datang

Saya menghubungi istri Darun, yang kontaknya saya dapat dari penyedia jasa angkut lain yang sudah tak bekerja sejak Selasa (28/9). “Bisa langsung hubungi Mas Darun aja,” balas istrinya. Ia pun memberi kontak Mas Darun.

Belum sempat mengirim pesan, keesokan harinya saya ditelepon. Darun mengajak saya untuk mengangkut barang saat itu juga, namun di hari itu saya sudah terlanjur punya agenda lain. Saya pun minta dikabari bila Darun mendapat order di kemudian hari. Kamis pukul 10.49 WIB, Darun kembali menghubungi saya. Ia berkata bahwa terdapat pesanan untuk mengangkut barang ke Kutowinangun pada pukul satu siang, lantas saya menyanggupinya.

Beberapa saat setelahnya, saya dapat kabar bahwa pesanan tersebut ditunda hingga Jumat pagi, namun saya tidak dapat menyanggupinya. Darun pun mencoba menghubungi kliennya agar barang bisa diantar sore itu juga.

Pukul dua siang, terdapat berita baru. Kata Darun, sore itu barang-barang jadi diangkut. Saya pun mendatangi titik lokasi yang ia berikan dan mendapati sebuah rumah dengan gerbang biru. Di sebelah rumah terdapat mobil terparkir di bawah atap kecil yang disangga tiang. Di mobil tersebut terdapat tulisan nomor telepon dan nama “Mas Daruns”. 

 

Bersiap menuju pabrik pupuk.

 

Di depan rumah berdiri seorang pria berbadan tambun mengenakan kaus Polo loreng. “Mas Darun, ya?” tanya saya. 

“Iya. Kita langsung berangkat aja, ya, Mas,” jawab Darun.

Kami lantas menaiki mobil dan pergi mengambil barang di pabrik pupuk.

Tiba di Pabrik

Sesampai di pabrik, kami masih harus menunggu sekitar dua jam sebab barang-barang yang dipesan belum diberi label. Di situlah saya mulai mengenal Darun lebih dalam, terutama tentang jasa angkutnya.

Mobil pikap GranMax 1.5 yang Darun pakai ternyata belum berumur lama, baru dibeli pada 2018 hasil pinjaman dari bank. Sebelumnya, ia mengangkut barang menggunakan mobil pikap Zebra. Darun juga membantu istrinya berjualan sempol, bakso tusuk, jamur, dan lainnya. Semua jualan tersebut dititipkan ke beberapa sekolahan, semisal SMP Negeri 3 Sewon, dan ke pasar. “Dulu seribu tusuk sehari bisa (habis) itu,” jelasnya.

Rekam jejak jualan Darun terbilang bagus. Ia memberanikan diri meminjam uang sebanyak seratus juta rupiah di bank. Sekitar delapan puluh juta ia pakai untuk membeli mobil pikap baru, sisanya untuk kebutuhan lain. Sekitar setahun setelah membeli mobil, Darun mendapat musibah: Bisnisnya dihajar pandemi dan istrinya mengalami kecelakaan.

Praktis, penghasilan utama Darun kini adalah jasa angkut. Tatkala istrinya pulih, mereka melanjutkan berjualan di pasar, namun jajanan mereka tak selaku dulu saat mereka jajakan di sekolah-sekolah sebelum pandemi. Darun pun berusaha keras untuk mencari langganan. Beberapa kali ia menjual jasa angkutnya dengan harga di bawah standar. 

Biasanya jasa angkut Darun dibanderol dengan harga Rp80.000 untuk lima kilometer pertama. Bila lebih, terdapat tarif tambahan sebesar Rp5.000 per kilometer. Ketika pandemi menghantam semua sektor bisnis, Darun pernah menerima order seharga Rp50.000. Dalam keadaan sulit seperti itu, Darun merasa tak bisa menolak.

“Rezeki hari itu datangnya segitu, ya udah,” ujar Darun. “Saya juga lihat-lihat dulu orang ini menghargai jasa angkut, nggak? Kalau dia punya uang tapi nggak mau bayar harga pas, ya, berarti dia zalim. Soalnya kalau terlalu lunak atau empati, nanti dimanfaatkan orang.”

Kini, saat pandemi sudah berjalan lebih dari setahun, Darun mendapat pelanggan tetap: pemilik pabrik pupuk di Tembi yang rutin mengantar produknya ke Kutowinangun tiap minggu. Dari perjalanan 89 kilometer ini, Darun mengaku bahwa ia mendapat Rp500.000.

“Ini kalau jadi rutinan, ‘kan udah lumayan,” ucapnya.

Menanti Notifikasi

Selain jasa angkut mandiri seperti Darun, Yoga juga menghubungi penyedia jasa angkut yang mencari peruntungan lewat aplikasi pengiriman logistik, sebagai misal, GoBox. Mereka adalah Ahmad, Catur, Tukiyo dan Alfan yang ditemui di daerah Soropadan, Kelurahan Condongcatur, Kabupaten Sleman pada Rabu (29/9) siang.

Saat saya temui mereka sedang nongkrong di teras rumah Tukiyo (36), tempat mangkal beberapa pengemudi jasa angkut. Tukiyo mengaku senang rumahnya jadi tempat mangkal karena membuatnya bisa tetap terhubung dengan teman-teman yang memiliki pekerjaan sejenis. Sesekali mereka bisa saling bantu.

Saat itu pukul 11.00 WIB. Ahmad dan lainnya sudah nangkring di sana sejak pukul sembilan pagi. “Ini masih slow (santai), Mas,” kata Ahmad lewat pesan WhatsApp sembari mengirim video penampakan rumah Tukiyo dan sekitarnya.

Ketika meminta izin untuk ikut mengangkut barang, Ahmad enggan menyanggupinya. Katanya, ia tak bisa berjanji karena pesanan datang tak pasti. “Kalau GoBox, udah seminggu lebih nggak dapat order,” kata Ahmad.

 

Halaman depan rumah Tukiyo.

 

Benar saja, dari awal hingga akhir pertemuan, tak terdengar sedikit pun bunyi notifikasi dari GoBox. Sepi. Sekali waktu, saat pandemi, Tukiyo mengaku pernah kebanjiran pesanan. Itu datang dari pemilik warung atau pengusaha yang terpaksa mengangkut jualannya untuk dibawa pulang karena bangkrut. 

“Banyak yang kukut karena enggak sanggup bayar biaya kontrakan. Akhirnya tutup, barang dibawa pulang,” kata Tukiyo yang dua minggu terakhir tak kunjung mendapat pesanan dari GoBox.

Ia mengenang masa kejayaan GoBox, tiga tahun pertama setelah aplikasi tersebut diluncurkan pada 2015. Di tahun peluncuran ia langsung mendaftarkan diri menjadi mitra jasa angkut di aplikasi tersebut. 

Tukiyo mengaku banjir pesanan kala itu. Ia bahkan pernah menerima delapan pesanan dalam sehari. Setelah mengangkut barang di satu tempat, ponselnya berbunyi lagi. Itu artinya ada pesanan baru yang masuk.

“Walah, Mas, dulu itu sebulan pernah dapat total lima belas juta,” katanya sambil mengelap lampu kiri pikapnya dengan minyak kayu putih.

Kliennya juga beragam. Menurut penuturan Catur (32), sebelum pandemi, mahasiswa lah yang paling sering memesan jasa angkut. Bagi mahasiswa, jasa angkut memang sangat dibutuhkan saat pindah indekos atau kontrakan. 

Ia bahkan pernah mengangkut barang-barang dari empat mahasiswa dalam satu pikap dengan sekali antar. “Biar hemat biasanya, ya nggak salah juga, asal muat,” katanya. Sebaliknya ia juga pernah menerima pesanan jasa angkut sebanyak dua dus saja. Padahal jika pesan melalui GoBox, harganya dihitung berdasarkan jarak tempuh pengantaran barang: Rp87.000 untuk tiga kilometer pertama.

Selain itu, pesanan paling banyak datang dari penyelenggara pameran. Catur mengingat-ingat kembali saat ia mendapat pesanan untuk mengangkut barang di Jogja Expo Center (JEC). Katanya, loading barang saat itu menghabiskan waktu berjam-jam karena banyak pikap dan truk mengantre. 

“Pernah masuk ke sana jam 12 siang, keluar baru jam 1 malam,” kenangnya.

Akan tetapi, pandemi membuat Tukiyo dan teman-temannya menjual jasa angkut secara mandiri. Klien bisa langsung memesan jasanya dengan menghubungi nomor ponsel yang tertera di plang depan rumahnya.

Tak jarang mereka saling berbagi dan lempar pesanan. Misalnya, Catur mendapat pesanan, tetapi ia ada urusan lain yang juga mendesak. Ia melempar pesanannya kepada Tukiyo. Selanjutnya, ketika Tukiyo mendapat pesanan dan tak bisa mengambilnya, ia akan memberikannya kepada Catur sebagai ganti pesanan sebelumnya.

Hal tersebut menjadi lumrah bagi mereka. “Itu gunanya punya tim kecil kayak gini: saling membantu satu sama lain,” kata Catur.

Selain melayani jasa angkut, Catur juga membuka usaha rental mobil, baik yang berjenis pikap maupun Multi Purpose Vehicle (MPV atau minivan). Ia juga melayani jasa city tour, perjalanan luar kota, hingga antar-jemput bandara. Semua itu ia upayakan agar tetap berpenghasilan di kondisi sulit seperti saat ini.

Darun, Tukiyo, dan teman-temannya termasuk penyedia jasa angkut yang “beruntung”. Menurut Darun, ada juga jasa angkut yang bangkrut. Karena sepi pesanan, beberapa jasa angkut menggadaikan mobilnya dengan harga murah ke unit bisnis yang membutuhkan pengangkut barang. Nasib nahas, banyak pemilik mobil yang tak bisa melunasi barang gadaiannya.

Cerita Satu Aspal

Usai menunggu barang ditempeli label, saya dan Darun pun memulai perjalanan ke Kebumen, menyusuri Kabupaten Kulon Progo dan Jalan Pantai Selatan (Pansela).

Matahari mulai terbenam. Sambil menyetir, Darun sesekali menatap langit, berharap hujan tak datang dan mengguyur barang angkutannya. Barang-barang tersebut memang sudah kami lapisi terpal. Bila hujan datang, ia mesti berkali-kali mengecek barang angkutannya dan memastikan tak ada yang kuyup atau rusak. Pokoknya, bagi penyedia jasa angkut yang hanya bermodal pikap, hujan sangatlah merepotkan.

Selain hujan, terdapat hambatan lain bagi orang seperti Darun, yang menghabiskan waktu kerjanya di jalan. Begal, misalnya.

Suatu waktu Darun pernah berhadapan dengan gerombolan berengsek macam itu di jalan. Salah satu dari mereka membawa kayu balok dan ingin menghadang mobil Darun. Melihat gerombolan tersebut, Darun melambatkan mobil hingga salah satu dari mereka, yang membawa balok, menaiki bak angkutan. Darun langsung menancap gas, tak membiarkan gerombolan lain naik ke bak angkutan. Si pemegang balok panik. Takut berhadapan dengan pengemudi sendirian, ia loncat dari atas mobil dan jatuh terguling-guling.

“Pasti takut, lah. Waktu itu sama temanku. Mau dia kayak bagaimana kalo lawan dua orang, ‘kan susah juga,” kenang Darun.

Darun mengenalkan jenis-jenis pengendara di jalur lintas provinsi. Berjalan di satu aspal bersama ragam karakter pengendara jadi tantangan tersendiri baginya. Salah satunya adalah pengemudi yang enggan mobilnya disalip. Pengemudi jenis ini, bila hendak disalip, akan terus menggeser mobilnya ke ruas kanan jalan.

Selain itu, ada juga sopir truk yang gemar membuat barisan panjang. Pengguna jalan semacam ini adalah tokoh antagonis bagi mereka yang buru-buru sampai ke tempat tujuan, sementara Darun… saya kira ia bukan pengendara yang tergesa. Sebelumnya, Darun bilang perjalanan kami akan sedikit lebih lambat dari biasanya. Jalanan gelap dan barang muatan cukup banyak. Ngebut di jalan justru berisiko.

Saya percaya saja sampai Darun menginjak pedal gas dalam-dalam dan menyalip tiga baris truk di depan. Ia melaju sama kencang dengan mobil dari arah berlawanan, lalu kembali menggeser pikapnya ke lajur kiri. 

Terkesiap, sontak saya berseru, “Wuih!”

Didesak Kebutuhan

Setelah tiga jam perjalanan, saya dan Darun tiba di toko pupuk, Kutowinangun. Sesampai di sana, saya mengangkat barang ke gudang. Usai memindahkan semua barang, kaus saya basah. Darun berbincang dengan pemilik toko di dalam rumah, sementara saya menunggu di luar sembari menghisap rokok.

Pekerjaan yang melelahkan, pikir saya. Saat di mobil saya bertanya pada Darun apakah ia tak pernah bosan dan capek menjalani profesi sebagai jasa angkut. Tentu saja tidak!

Rasa bosan hanya ada di benak kelas menengah seperti saya. Darun, yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tak sempat memikirkan hal semacam itu. Ia punya keluarga yang juga punya kebutuhan sehingga mencoba berbagai cara, salah satunya yakni menjalankan berbagai usaha. Darun bahkan mengaku siap sedia mengantar barang selama dua puluh empat jam. Tak ada libur, kecuali ada uzur yang mendesaknya tak mengantar barang.

Usai menumpang mandi di toko pupuk, kami pulang ke Jogja. Darun mengantar saya ke Jalan Wates, di mana saya janjian dengan seorang teman baik hati yang bersedia menjemput. Darun sama baiknya. Katanya, saya bisa jadi helper-nya lagi bila ada waktu luang dan keinginan, serta nanti ia beri makan dan uang untuk beli rokok.

Saya tak pernah membayangkan diri menjalani pekerjaan semacam ini, namun kalau kelak perut kelaparan atau dompet menipis, saya tahu saya harus datang ke mana.

Reporter: Sidra Muntaha dan Yogama Wisnu Oktyandito

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *