Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Gen Z Lulusan UGM Pilih Jualan Keris, Tepis Gengsi dari Kesan Kuno dan Kerja Kantoran karena Omzet Puluhan Juta

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Desember 2025
A A
Gen Z fresh graduate lulusan UGM pilih bisnis jualan keris dan barang antik di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Gen Z fresh graduate lulusan UGM pilih bisnis jualan keris dan barang antik di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gen Z, fresh graduate lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), menepis gengsi untuk menekuni bisnis jualan keris dan barang-barang antik lain di Jogja. Namun, bisnis yang identik dengan kesan “kuno” tersebut nyata-nyata memberinya omzet hingga puluhan juta perbulan.

***

Saya bertemu Ardhani Sofani dalam sebuah workshop optimalisasi perangkat digital untuk para pelau UMKM di Jogja pada Kamis (19/11/2025). Di antara peserta lain, Fani—sapaan akrabnya—memang menjadi peserta termuda.

70 pelaku UMKM yang ikut workshop tersebut kebanyakan adalah bapak-bapak dan ibu-ibu berusia 30-40-an tahun. Sementara Fani, saya tahu kemudian, masih berusia 23 tahun. Ia baru saja lulus dari UGM.

Saat memperkenalkan diri, banyak peserta yang menaruh respek pada pemuda tersebut. Sebab, sebagai Gen Z, ia memilih menekuni bisnis jualan keris. Bagian yang kerap diidentikkan dengan kesan “kuno”.

Fani Gen Z fresh graduate lulusan UGM yang pilih bisnis jualan keris di Jogja MOJOK.CO
Fani Gen Z fresh graduate lulusan UGM yang pilih bisnis jualan keris di Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Bisnis turun-temurun yang sayang kalau tak diteruskan

Sehari-hari Fani membuka toko jualan keris dan barang antik di Pasar Beringharjo, Jogja. Bisnis tersebut sebenarnya sudah dirintis oleh sang bapak sejak 1998.

Sudah sejak kecil Fani akrab dengan keris dan barang-barang antik yang sang bapak jual. Lalu di masa kuliahnya, terutama menjelang kelulusan, ia mulai memiliki kecondongan untuk turut menekuni bisnis tersebut.

“Saya mulai in-charge itu tahun 2021. Saya melihat peluang, makin ke sini habit konsumsi orang beralih ke platform digital. Saya juga merasakan, nggak semua orang beli keris atau barang-barang antik ke toko langsung,” ungkap Fani.

Dari situ lah Fani lantas mencoba merambahkan bisnis rintisan bapaknya tersebut ke e-commerce. Dan benar saja, meski sebenarnya toko keris dan barang antik keluarga Fani sudah punya pelanggan loyal, namun pelanggannya juga banyak yang bertransaksi melalui toko online. Nama toko rintisan bapak Fani tersebut adalah Intan Pusaka Jaya.

Awalnya gengsi sebagai lulusan UGM saat teman banyak memilih kerja kantoran

Sebagai lulusan kampus sekaliber UGM, Fani mengaku awalnya sempat merasa gengsi sebelum benar-benar memutuskan menekuni bisnis keris dan barang antik tersebut.

Apalagi ia juga terbawa FOMO dengan beberapa temannya—sesama Gen Z—yang lulus kuliah bisa bekerja di perusahaan.

“Tapi di samping itu saya juga berpikir, di tengah sulitnya para fresh graduate mencari kerja, saya sebagai fresh graduate harusnya malah memanfaatkan privillege untuk meneruskan usaha. Jadi kenapa tidak saya teruskan saja?,” tutur Fani.

“Toh juga jika usaha saya semakin besar dan semakin luas, akan membuka lapangan kerja baru untuk para pencari kerja yang lain,” sambung pemuda asli Jogja, fresh graduate lulusan Sosiologi UGM itu.

Terlebih, jika berkaca dari sang bapak, usaha jualan keris dan barang antik itu nyata-nyata bisa mencukupi kebutuhan materiil keluarga. Bahkan bisa menyekolahkan Fani hingga lulus dari UGM.

Iklan

Salut dari orang-orang, lulusan UGM berani “ambil risiko”

Nyaris tidak ada yang meremehkan pilihan Fani untuk menekuni bisnis jualan keris dan barang antik. Hatta temannya yang sudah bekerja di perusahaan.

Kata Fani, kebanyakan orang malah salut dengannya. Sebab, di tengah preferensi pekerjaan serba kekinian di kalangan Gen Z, Fani justru memilih “jalan berisiko”.

“Karena orang-orang tahu bahwa jalan yang saya ambil kan nggak ada penghasilan yang tetap. Bisa naik dan turun kapan pun,” ucap Fani.

Hanya saja, penghasilan tidak tetap Fani, senaik-turun apa pun, ternyata bisa melebihi gaji fresh graduate yang bekerja di perusahaan. Apalagi jika kerjanya di Jogja dengan gaji UMP DIY.

Omzet Rp30 juta-Rp40 juta perbulan

Pelanggan di toko rintisan bapak Fani datang dari kalangan beragam. Kelas penyuka barang antik biasa, penyuka klenik, kelas kolektor, hingga pejabat. “Dari Kementerian pun ada yang pesan. Misalnya pesan tombak dan lain-lain,” jelas Fani.

Fani mengaku dalam sebulan toko rintisan bapaknya tersebut bisa meraup omzet hingga Rp30 juta-Rp40 juta. Cukup untuk pemasukan keluarga dan menggaji tukang.

Karena ternyata bapak Fani juga mempekerjakan beberapa orang tukang. Tukang-tukang tersebut bisa dibilang pandenya: Bertugas mengurus pembuatan pesanan barang tertentu.

“Sekarang ini saya sedang belajar-belajar lagi soal digital market. Sejak masuk e-commerce ngaruh ke omzet 10%-20%. Jadi kalau lebih optimal lagi, keterjangkauannya barangkali bisa lebih luas,” terang Fani.

Kerja kantoran memang masih masuk dalam standar umum perihal kemapanan sosial. Atau jika berwirausaha, standar umum menuntut seseorang harus memiliki bisnis start up yang mentereng.

Namun, hidup untuk memenuhi standar dan gengsi tak akan ada habisnya. Fani mencoba tidak terbawa arus dengan standar-standar umum nan relatif itu. Ia memilih percaya dan menekuni jalan pilihannya sendiri.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 3 Bisnis Sarjana yang Sangat Diremehkan padahal Cuannya Tak Kalah dari Gaji PNS dan Kerja Kantoran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Desember 2025 oleh

Tags: bisnis di jogjabisnis gen zfresh graduateGen ZJogjajual barang antikjual barang antik jogjajual kerisjual keris jogjalulusan ugmpekerjaan gen zpilihan redaksiUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Kalau Bobby di Buku Karya Aurelie Mooremans Iblis, Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia MOJOK.CO
Esai

Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Kalau Bobby Iblis Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia

21 Januari 2026
indonesia masters, badminton, bulu tangkis.MOJOK.CO
Ragam

Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora

20 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO
Catatan

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Adalah Daihatsu Sigra MOJOK.CO

Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat

20 Januari 2026
Kalau Bobby di Buku Karya Aurelie Mooremans Iblis, Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia MOJOK.CO

Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Kalau Bobby Iblis Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia

21 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026

Video Terbaru

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.