Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 Februari 2026
A A
Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Ilustrasi - Jakarta membunuh nurani kemanusiaan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai orang Jawa desa yang baru pertama kali ke Jakarta di usia 26 tahun, nurani saya justru terganggu dengan pemandangan sehari-hari selama seminggu di Ibu Kota. Gemerlapnya biasa saja. Realitas sosialnya yang mengiris sisi kemanusiaan. 

***

Pertengahan Januari 2026, kantor mengirim saya untuk bertugas di Jakarta. Beberapa teman mengira saya antusias menjejak Ibu Kota. Karena itu memang momen pertama kali saya ke sana. 

Tapi sejujurnya, saya tidak pernah tertarik dengan kota tersebut. Kalau hanya persoalan gedung-gedung tinggi dan gemerlap citylight di maalm hari, rasa-rasanya tidak jauh berbeda dengan Surabaya.

Saya tujuh tahun merantau di Kota Pahlawan. Jadi sepertinya saya tidak akan kaget-kaget amat jika menjejak Jakarta. Yang terjadi selama seminggu di Jakarta, nurani saya justru terasa teriris. 

Jika kamu jatuh di Jakarta, kamu hanya bisa menolong dirimu sendiri

Pada pagi yang sedikit gerimis, saat saya berjalan kaki dengan agak tergesa di kawasan Sudirman, saya dikagetkan suara “grubyak” di arah jalan raya. Ternyata seorang driver ojek online terserempet bus TransJakarta dan terguling ke aspal. 

Tubuh di driver masih tersungkur tertimpa motor. Namun, suara-suara klakson sudah saling bersahutan dari arah belakang. 

Deretan pengendara motor dari arah belakangnya seperti memberi isyarat agar driver yang jatuh itu lekas bangun. Karena gara-gara ia tersungkur, laju kendaraan lain jadi tersendat. Sementara para pejalan kaki, hanya menoleh saat mendengar bunyi “grubyak”. Setelahnya, mereka langsung melangkah lagi dengan tergesa. 

Si driver dengan tergopoh-gopoh lantas mencoba keluar dari timpaan motor, mengangkat motornya menepi dengan kaki agak pincang. Para pengemudi lain melewatinya begitu saja, tanpa peduli sama sekali. Paling mentok hanya melirik. 

Di Jakarta, orang lebih memilih memberi makan anak kucing ketimbang anak manusia yang kelaparan

Di hari lain, juga saat berjalan di kawasan Sudirman, pemandangan saya tercuri oleh seorang anak jalanan yang menentang karung lusuh. Baju anak itu lusuh, tanpa alas kaki. 

Ia sempat duduk agak lama di bawah gerimis. Mengamati seseorang berbaju rapi yang tengah khusyuk memberi makan seekor anak kucing. 

Anak jalanan itu, bocah tujuh tahunan, tampak menatap lekat-lekat. Seperti berharap: kalau ada makanan untuk anak manusia, bagilah juga. 

Sayangnya, si pemberi makan kucing itu bergeming. Ia tidak memalingkan wajahnya ke bocah jalanan yang menatapnya itu sama sekali. Tak lama berselang, bocah itu beranjak pergi. 

“Lihatlah, di Jakarta, orang lebih ringan ngasih makan anak kucing ketimbang anak manusia yang kelaparan,” celetuk rekan kerja saya.

Iklan

Nurani telah “mati” untuk selamatkan diri sendiri

Dua pemandangan yang saya lihat itu saya ceritakan kepada seorang kenalan, fotografer perempuan dari sebuah brand olahraga, yang kebetulan turut memotret dalam sebuah event yang saya liput. 

“Begitulah Jakarta. Memang bisa mematikan nurani. Tapi kamu juga harus lihat sudut pandang lain,” ujar perempuan asli Jakarta tersebut. 

Sudut pandang lain yang ia maksud: jika saya fokus ke driver yang jatuh, coba geser juga sudut pandangnya ke pejalan kaki dan pengendara lain yang terus mengklakson alih-alih menolong. 

Mereka bisa jadi begitu (tidak mau repot-repot menolong) karena juga harus buru-buru mengejar waktu. Barangkali, kalau mereka telat datang ke tempat kerja, mereka akan kena muntaban atasan, atau yang lebih mengkhawatirkan: kena potong gaji atau bahkan ancaman surat peringatan (SP). 

“Mereka awalnya mesti punya nurani. Tapi lama-lama nurani harus dimatikan karena kondisi Jakarta seperti itu,” ucapnya. “Mereka harus menolong diri sendiri dulu. Kalau merek saja belum dalam posisi aman, nggak ada waktu buat nolongin orang lain.” 

“Bisa jadi, orang lebih sayang ke kucing karena di kantornya ia sudah amat muak dengan rekan kerja toxic. Sementara kucing masih menjadi makhluk tulus yang bisa dijadikan teman.” 

Halal/haram jadi urusan kesekian demi uang

Pada hari terakhir menjelang kepulangan ke Jogja, saya bertemu dengan seorang teman yang juga merupakan pekerja di Jakarta. 

Ia bercerita, ia mengaku tahu beberapa orang asal daerah kami (Rembang, Jawa Tengah) yang merantau di Ibu Kota. Awalnya bekerja halal dan normal, tapi kemudian terpaksa menutup nuraninya usai dikalahkan nasib berkali-kali: memilih menjadi penjarah rumah atau copet. 

“Tahu mereka kalau itu salah. Tidak bisa dibenarkan. Tapi mereka seperti tidak punya pilihan. Pulang ke kampung, di samping malu karena gagal, juga takut. Di Rembang mau kerja apa, bos?” ujarnya. 

Sementara di Jakarta, pekerjaan kasar yang halal juga sulit didapatkan. Alhasil, karena godaan dari orang-orang yang terlebih dulu menceburkan diri di dunia gelap itu, akhirnya mereka terpaksa mengenyampingkan soal benar/salah dan halal/haram. Yang penting dapat uang untuk hidup dan dikirim ke rumah. Sebagai tanda kalau mereka kerja di Jakarta ada hasilnya (di tulisan lain akan saya tulis lebih detail soal ini). 

Kabar buruk datang lebih dekat

Meski mengaku nyaman kerja di Jakarta, teman saya itu mengamini bahwa dalam beberapa hal, kebanyakan orang memang hidup dengan menekan nurani masing-masing. 

Situasi diperparah dengan kabar buruk yang datang lebih cepat—mengingat Jakarta sebagai pusat birokrasi tempat banyak kebijakan merugikan rakyat kecil disusun. Setiap kebijakan baru yang merugikan rakyat kecil, orang-orang di Jakarta lah yang akan terimbas paling awal. 

Itu pelan-pelan mengikis nurani, akibat keputusasaan yang terus-menerus diberikan negara kepada mereka. “Orang-orang merasa tidak dipihak atau dibela oleh negaranya sendiri. Mereka hanya bisa bergantung pada diri sendiri,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Toilet Umum di Jakarta Jadi Tempat Cowok Tolol Numpang Masturbasi, Cuma karena Nonton Girl Band Idola dan Alasan Capek Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2026 oleh

Tags: jakartakerja di jakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living
Urban

Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai

2 Maret 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

9 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)

Makanan Khas Jawa Timur di Jogja yang Paling Bikin Perantau Surabaya Menderita: Kalau Nggak Niat Mending Nggak Usah Jualan, Bikin Kecewa

14 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.